
Kayla kembali ke Surabaya, dirinya berencana akan berangkat ke Paris mencari anaknya. Ia akan mulai kembali dari nol mencari keberadaan anaknya meskipun tanpa petunjuk sedikit pun.
Kayla mengetuk pintu rumah orang tuanya, ralat mantan orang tuanya dengan setitik harapan berharap mereka akan berbelas kasih padanya dan memberikan sedikit petunjuk.
"Bu, kenapa sepi. Apa Papah bekerja?" Tanya Kayla setelah masuk.
Plak!
"Kau masih tidak tau malu memanggilku Ibu setelah semua yang terjadi pada kami! Kau juga tau suamiku bukan Ayah kandungmu, jadi berhenti memanggilnya Papa! Kau malah berbuat ulah, kau berjanji akan meminta dana pada Rico tapi nyatanya kau malah cerai dengannya tanpa sepengetahuan kami! Dasar anak tak tau terimakasih, sudah untung saat kecil suamiku tidak membuangmu! Kau tau sekarang suamiku di penjara karena Perusahaan terlilit utang!" Ucap Reni berapi-api.
Kayla tak ingin menahan kesabarannya lagi, selama ini ia selalu bersabar menghadapi cercaan dari wanita di depannya. Jika Ayahnya dipenjara, kenapa dirinya harus disalahkan!
"Beruntung katamu? Apa kau sudah melupakan sejak kecil kamu sering memukulku tanpa alasan yang jelas! Kamu selalu memfitnahku di depan Papa kalau aku sering mencuri uangmu, aku sering kelayapan dengan lelaki, bahkan kau sering memfitnahku menyakiti Stella putrimu! Bahkan sejak kecil kau hanya memberikanku makanan sisa dan pakaian bekas putrimu! Sejak remaja aku bersusah payah menghidupi diriku sendiri!" Kayla meraung marah dan maju mendekati Reni.
Reni tersentak mundur, tak menyangka sekarang Kayla berani melawannya.
"Mama!" Stella datang dengan cepat mendekati Ibunya. "Kayla! Sekarang kau berani melawan Mama!"
Kayla mencengkram dagu Stella kasar, "Ah... dan kau adikku tersayang. Dulu kau pernah menyakitiku di sebuah hotel sampai aku hampir saja diperkosa. Jika tak ada Radit yang menolongku, maka hidupku sudah pasti akan hancur! Bahkan kau memutarbalikkan fakta dan bilang pada Papa jika aku adalah wanita panggilan dan akulah yang mengajakmu kesana! Sialan kau!"
Plak!
Kayla menampar Stella dengan keras sampai terjengkang ke lantai.
Reni menghampiri Stella dan memeluknya. Ia menatap ngeri pada Kayla.
"Jangan pikir selama ini aku diam karena takut pada kalian, aku diam karena demi adikku Billy. Meskipun sekarang aku tau, jika dia bukan adikku. Tapi kebenarannya takkan merubah apapun, bagiku sejak dulu dia dan Radit adalah segalanya bagiku! Disaat kalian sering menyiksaku, dia lah satu-satunya di rumah ini yang menjagaku."
"Kak Kayla!"
Kayla mengenali suaranya, ia berbalik tenyata benar itu adalah Billy adik kesayangannya.
"Bill, aku-"
Kayla ingin menjelaskan perbuatannya yang baru saja ia lakukan pada Stella dan Ibunya kepada Billy, tapi Billy malah tersenyum.
"Gak usah kakak jelaskan, kakak tau kan sejak kecil aku selalu mendukungmu. Jadi lampiaskan saja amarahmu, aku tak akan membela Ibuku dan kak Stella mesti mereka keluarga kandungku."
__ADS_1
Kayla berjalan mendekati Billy, "Aku sudah selesai, mari kita pergi dan bicara. Sudah dua tahun aku tidak bertemu denganmu. Ayo pergi kita bicara diluar rumah saja."
Sebelum pergi Billy menatap benci pada Ibu dan Kakak kandungnya.
Kayla menyatukan kedua tangannya, menahan dagunya dengan kepalan kedua tangannya itu. Dia duduk di dalam kafe dekat rumahnya, memandang dari balik jendela orang-orang yang berlalu lalang diluar kafe.
Kaca jendela memantulkan wajahnya, seketika ia mengingat kebersamaannya yang sering bertemu di kafe ini bersama Radit.
*
Flashback On 6 tahun lalu...
Setelah pengenalan hari pertamanya dengan Radit sebagai Dosennya, di hari-hari berikutnya Kayla hanya berani menatapnya dan tak berani mendekati Radit seperti mahasiswi yang lain. Sebenarnya ia sangat ingin mencoba mendekat tapi ia tak punya banyak keberanian.
Malam harinya seperti biasa, Kayla akan bekerja di hotel sebagai cleaning service. Bayaran dari kafe tempatnya bekerja tak mencukupi biaya hidupnya jadi ia menambah beberapa pekerjaan, Ayahnya sama sekali tak pernah memperdulikannya.
Setidaknya saat lulus kuliah, ia bisa mencari pekerjaan tetap dan bisa pindah dari rumah orang tuanya dan memulai hidup baru. Karena itu Kayla masih berusaha bertahan dengan semua perbuatan jahat Ibu dan adik perempuan tirinya padanya.
Malam tragedi itu pun terjadi, adik perempuannya Stella sedang kencan dengan seorang lelaki di hotel tempatnya bekerja.
Stella tau tentang pekerjaannya di Hotel, dengan sengaja membawa beberapa teman lelakinya dan berusaha menyakitinya.
Saat baru saja masuk, tiba-tiba pintu kamar dikunci. Stella tertawa bersama teman-teman laki-lakinya.
"Boy, kau boleh lebih dulu mencipipinya. Dia masih perawan, kau pasti akan menikmatinya. Haha... " Stella menyuruh salah satu temannya.
Pria yang bernama Boy berjalan perlahan mendekati Kayla, dia menatap rakus tubuh Kayla yang terbilang molek.
Kayla mengambil pengepel lantai yang ada di trolley dan menjadikannya senjata, ia mengacungkannya ke arah Boy.
"Berani mendekat, aku tak segan memukulmu," Kayla mengancamnya.
"Wow... ternyata dibalik kelembutannya ada wanita liar di dalamnya. Menggoda sekali, yuhuu... manis kemarilah. Jangan galak-galak, aku akan melakukannya dengan pelan," Boy mengusap bibir bawahnya, sudah mulai terangsang.
"Pergi! Jangan mendekat!" Kayla tetap mempertahankan pertahanannya.
Boy dengan cepat maju menyerang, meraih pegangan pel di tangan Kayla dan melemparkannya ke lantai.
__ADS_1
Boy menarik tubuh Kayla dan menjepitnya di dinding. Satu tangannya mulai meraba ke dalam balik baju Kayla.
"Uh kulitmu sangat lembut, wajahmu dari dekat terlihat semakin cantik. Darling, aku jamin kau takkan menyesal bersetubuh denganku! Haha... "
Kayla tak habis akal, dia menggigit lengan Boy dan menendang bagian bawah tubuh lelaki itu yang sudah menegang.
"Aww!!" Boy menjerit kesakitan.
Kayla yang terlepas dengan cepat mengambil master key hotel yang ada diatas trolley. Ia berlari ke pintu dan menggesek kuncinya.
Boy berteriak, "Tangkap dia! Beraninya menyakitiku!"
Teman-teman Boy segera berlari mengejar Kayla dan berhasil menangkap tubuhnya membuat baju atasan Kayla sobek di beberapa bagian, tepat saat itu Kayla berhasil membuka pintu.
"Tidak! Tolongggg!!!" Kayla berteriak kencang meminta pertolongan.
Bugh!
Seorang pria menarik tubuhnya keluar dan menendang tubuh pria-pria teman Stella hingga terjengkang ke belakang.
"Kalian ingin aku laporkan ke polisi!" Ancam pria yang menolong Kayla yang tak lain adalah Radit.
"Sialan! Ayo pergi!" Ajak Stella yang tak ingin berurusan dengan pihak berwenang.
Setelah mereka semua pergi, Radit membuka kemeja luarannya dan memakaikannya pada Kayla. Ia hanya menyisakan kaos oblong putih di bagian atas tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Kayla menunduk tubuhnya gemetar, dia masih belum mengenali pria yang menolongnya.
Radit melihat tubuh gemetar Kayla, "Kamu mau aku bawa ke Rumah Sakit?"
Kayla menggeleng tapi seketika ia mengangkat wajahnya karena merasa mengenal suara pria yang menolongnya.
"P-pak Radit."
Radit juga akhirnya mengenali Kayla, karena di kelasnya mengajar, Kayla selalu mendapatkan nilai paling tertinggi dalam tes yang diberikannya.
__ADS_1
"Kayla."
Kayla merapatkan kemeja Radit yang membungkus tubuhnya, merasa malu Radit melihat keadaannya yang sangat kacau.