
Paginya Renata sudah berpakaian lengkap, Jarvis pun demikian.
Renata meremas rambutnya, ia kesal pada dirinya sendiri, semalam ia benar-benar tak sadar sudah tidur dengan Jarvis. "Jarvis... a-aku... maaf... semalam adalah kesalahan. Apapun yang terjadi antara kita tolong lupakan, aku tak bisa melepaskan Kak Melvin."
Jarvis menipiskan bibirnya, ia juga tau diri. Cinta Renata pada kakaknya takkan hilang hanya karena mereka berdua sudah bercinta.
"Aku tau, aku takkan mengganggumu dengan kejadian semalam. Tapi aku adalah seorang Dokter, sebaiknya kamu jangan banyak bergerak Ren. Semalam adalah yang pertama bagimu, bukan? Apa aku menyakitimu?"
Renata menggeleng, "Kamu boleh pergi, aku akan pergi setelah kamu pergi."
Jarvis memandang sedih Renata, memang seharusnya hal seperti semalam tak pernah terjadi. "Baiklah, aku pergi. Telepon aku kalau bagian tubuhmu sakit, aku akan memperkenalkan temanku padamu. Dia seorang Dokter wanita, dan bisa memeriksa tubuhmu."
Jarvis tak mendapat balasan dari Renata, wajah Renata tertunduk. "Aku pergi."
Jarvis membuka pintu kamar hotel dan pergi dari sana.
Renata menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis karena kecerobahan dan amarahnya malah menyebabkan musibah yang besar. Jarvis adalah calon adik iparnya, bisa-bisanya dirinya melakukannya dengan Jarvis.
***
Tak terasa sudah lima hari Kayla tinggal bersama Tristan, mereka hanya bertemu saat pagi dan malam. Tristan sibuk dengan pekerjaan proyek barunya, Kayla pun mulai menelusuri lagi jejak tentang keberadaan anaknya.
Hari ini dia sudah meminta ijin kembali untuk melihat Cctv Rumah sakit tempatnya tiga tahun lalu melahirkan tapi dia belum mendapatkan ijin lagi.
Tristan membuka pintu, dia baru saja pulang. Melihat wajah lesu Kayla, ia tau hari ini Kayla gagal lagi.
"Mari kita jalan-jalan, mencari angin malam. Aku akan berganti baju dulu, kamu jangan lupa pakai syal dan sweater."
Kayla ingin menolak, tapi sepertinya ia memang butuh penyegaran agar tidak stres.
Mereka berdua naik taksi, berhenti di sungai Seine. Tristan mengajak Kayla berjalan kaki dan menikmati angin sungai Seine saat malam.
Tanpa mereka berdua sadari, sebuah mobil mengikuti mereka sejak dari Apartemen.
Tristan berjalan berdampingan dengan Kayla, tangannya gatal ingin sekali menarik tangan Kayla lalu menggenggamnya untuk menyemangati.
"Masih belum ada hasil?" tanya Tristan.
__ADS_1
"Belum, aku masih harus berusaha."
"Aku juga sedang berusaha menghubungi kenalanku, semoga ada kabar baik dan bisa membantumu memeriksa Cctv. Itu juga pasti butuh waktu, kejadiannya kan tiga tahun lalu."
"Makasih Tris, untuk semuanya."
Di dalam mobil mata Melvin menyorot kebersamaan Kayla dan Tristan. Saat ia tau Kayla tinggal dengan Tristan dalam satu atap, ingin sekali mendobrak masuk dan membawa Kayla bersamanya. Tapi ia tau, kearoganannya tidak akan menghasilkan apapun yang baik.
"Bos, masih mau tetap disini? Anda belum makan hari ini, bahkan kemarin Anda hanya makan sedikit."
"Ayo, pergi."
Rian menyalakan mobil dan membawa pergi mobil dari pinggiran sungai Seine yang sangat indah.
*
Keesokan lusanya Perusahaan yang akan diajak kerjasama oleh Melvin dan Tristan mengadakan jamuan para pembisnis.
Tristan tidak tau jika ada Melvin di pesta itu, jika tau dia tidak akan mengajak Kayla ke pesta.
"Kamu tidak apa-apa, bukankah dia pria yang waktu itu datang ke depan Perusahaan dan memperlakukanmu buruk dengan menciummu di depan semua orang. Dia adalah Melvin Mahendra, putra sulung dari keluarga Mahendra. Melvin sudah masuk jajaran pemuda berbakat dalam berbisnis, kabarnya dia juga penerus Ayahnya karena adik lelakinya seorang Dokter dan tidak berminat pada bisnis."
"Aku tidak apa-apa. Kami tidak ada hubungan apapun, dia akan menikah sebentar lagi," ujar Kayla.
"Ya, kabar itu sudah tersebar luas. Apalagi sudah diberitakan beberapa hari ini di televisi dan internet. Calon istrinya adalah putri dari seorang Pengusaha batu bara dan berlian," balas Tristan.
Keluarga calon istrinya ternyata orang kaya, mereka sama-sama dari keluarga berada dan sukses. Pantas saja dia bilang padaku, jika aku tak pantas untuknya.
Kayla menatap nanar sosok Melvin yang berjas rapi dan terlihat seperti seorang Rich Man.
Melvin sedang berbicara dengan salah satu kenalan bisnisnya, sesekali tersenyum sopan. Ia menggoyangkan gelas di tangannya yang berisi alkohol, sesekali mengedarkan padangan ke sekeliling ruangan.
Tatapannya bertemu dengan tatapan Kayla, sepersekian detik mereka mengunci tatapan mereka. Kayla mengalihkan tatapannnya lebih dulu, berbisik di telinga Tristan.
Melvin tak menyangka Kayla akan ada di pesta ini, Tristan berani sekali mengajaknya ke pesta. Apa hubungan mereka sudah ke tahap serius?
Melvin mengangkat gelas di tangannya, meminum isi gelas dengan sekali teguk. Lalu mengambil satu gelas berisi alkohol lagi saat pelayan lewat dan meminumnya sampai habis. Melihat kedekatan Kayla dengan Tristan membuat tenggorokannya kering.
__ADS_1
Kayla berbisik di telinga Tristan mengatakan dia ingin ke toilet.
"Tunggu sebentar," Kayla berlalu berjalan pergi mencari toilet.
Melvin yang sudah sedikit mabuk setelah meminum habis alkohol dua gelas, segera pamit pada kolega bisnisnya untuk pergi sebentar.
Melvin membuntuti Kayla ke dalam toilet, menunggunya diluar.
Kayla selesai merapikan make-up di wajahnya dan buang air kecil. Ia keluar toilet, tiba-tiba Melvin menghalangi jalannya.
Melvin maju mendekati Kayla membuat Kayla mundur menabrak dinding terpojok. "Apa yang kau lakukan! Kau sudah berjanji takkan mencariku lagi! Minggir! Aku sedang bersama seseorang!"
Kayla menatap tajam Melvin.
"Ah... Tristan. Apa lepas dariku kini kau juga bercinta dengannya? Semurah itukah tubuhmu?" Sindir Melvin.
Plak! Kayla menampar Melvin.
"Jaga mulutmu! Kau yang memaksaku berhubungan denganmu! Jika kau pikir aku wanita murahan, kenapa sekarang kau masih menggangguku!"
Melvin mengusap bekas tamparan Kayla, ia tersenyum tipis. "Jangan merasa bangga aku mendekatimu! Aku hanya ingin melihat bekas mainanku dan memeriksanya apa masih bisa digunakan."
Ucapan Melvin membuat hati Kayla terluka, ia menahan air matanya agar tak jatuh.
Tiba-tiba tubuh kekar Melvin yang mengungkung tubuh Kayla terjengkang ke belakang.
Tristan maju dan memukul wajah Melvin dengan sekuat tenaga.
Darah keluar dari sudut bibirnya, Melvin mengusapnya. Bibirnya tersenyum sinis, "Wah, ada pahlawan kemaleman. Haha... Apa kau menyukai Kayla? Tapi bagaimana ya... hubungan kami bahkan sudah sangat panas di atas ranjang."
Tristan menarik kerah Melvin, tapi tubuhnya dipeluk Kayla dari belakang. "Jangan Tris! Ayo pergi! Jangan ladeni dia, aku mohon." Kayla menangis di punggung Tristan.
Melvin melihat Kayla menangis, ia maju ingin menarik Kayla tapi terhalang tubuh Tristan yang berbalik badan dan langsung memeluk tubuh gemetar Kayla.
"Baik, ayo pergi. Jangan menangis lagi Kay... "
Tristan dengan langkah besar segera berjalan pergi masih dengan memeluk tubuh Kayla.
__ADS_1
Melvin menonjok dinding, ia tak bermasud seperti itu. "Sialan! Kenapa aku harus banyak minum tadi! Aku jadi kehilangan akalku. Ahhhggrrttt!! Sial! Sial!" Melvin terus menerus menonjokkan kepalan tangannya sampai berdarah.