
Kayla berjalan ke arah meja, melihat makanan kesukaannya ada disana.
"Kenapa? Kenapa Melvin! Jelas-jelas kau bukan Radit, aku melihat tubuh kakunya dengan kedua mataku sendiri. Bahkan aku memeluk tubuh dinginnya dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Radit sudah meninggal, kenapa kau mengingatkanku padanya. Kenapa... ?"
Kayla menatap makanan di meja dengan sedih, itu adalah makanan yang Radit pernah masak untuknya. Ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, bercampur dengan air matanya.
"Setidaknya untuk mencari anakku, aku harus makan bukan," ucapnya, air matanya terus saja mengalir.
*
Sudah 3 minggu lebih sejak Kayla terakhir kali melihat Melvin. Ia sendiri disibukkan dinas ke berbagai luar kota karena pekerjaannya.
15 hari ia habiskan di Lombok, menyurvei lokasi yang akan dijadikan lahan proyek Perusahaannya berikutnya, sisanya beberapa hari di kota lainnya.
Kini Ia sedang duduk di kursi kantornya, mencatat jadwalnya berikutnya. Jabatannya adalah seorang Kepala Divisi Regional.
"Hai cantik, kau masih ingat padaku?"
Suara seorang wanita yang dikenalnya membuat ia menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
"Thania!" Kayla benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sahabatnya sekaligus penolongnya ada di depan matanya.
Kayla berdiri lalu berjalan menghampirinya, segera memeluknya.
"Agghh, ada apa ini? Kau tak mengangkat teleponku selama beberapa minggu ini! Bak ditelan bumi dan sekarang ada disini." Kayla mencecar Thania dengan banyak pertanyaan.
"Wow... wow... tahan. Kau selalu tak sabar Kayla. Haha... "
"Pertama, aku tak ada kabar karena sedang sibuk membereskan semua pekerjaanku disana untuk mulai bekerja disini. Kedua, aku disini karena 2 orang. Satu untukmu sahabatku, aku terlalu merindukanmu dan tak tahan bila berjauhan lebih lama. Dua aku disini karena seorang Pria, dia bekerja di Perusahaan ini. Aku akan mengejarnya." Kata Thania menjelaskan kedatangannya dari Prancis ke Indonesia.
Kayla terharu mendengar perkataan sahabatnya itu. Thania adalah penolongnya yang mungkin tanpanya, dirinya sudah meninggal dan menyusul Radit.
Tapi saat itu malah dirinya yang terkena kejutan, untuk selamanya dirinya ditinggalkan oleh Radit.
Setelah pulang ke rumah setelah mengantarkan Radit ke tempat pembaringan terakhirnya, ia dibawa paksa oleh Ayahnya ke Prancis. Ayahnya bilang ia sudah memalukan keluarga dengan kehamilannya, ia harus melahirkan anak yang tanpa Ayah diluar negeri agar orang lain tidak mengetahuinya.
Ia yang sudah kehilangan separuh jiwanya, hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Saat itu dirinya hanya memikirkan anaknya yang sedang tumbuh dalam rahimnya.
Tapi saat ia dibuang ke Prancis, dirinya bahkan tak dibekali dengan uang yang cukup. Sehari-hari ia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah Restoran meskipun gajinya tidak cukup. Terkadang ia makan dari sisa-sisa makanan pengunjung. Bahkan untuk tidur saja terkadang dirinya berpindah-pindah karena tak cukup uang.
__ADS_1
Kehamilannya semakin membesar, saat itu musim dingin. Ia sangat kelaparan dan kedinginan, mencoba untuk terus bertahan.
Sampai akhirnya waktu untuk melahirkan tiba. Ia mengalami pendarahan hebat saat melahirkan anaknya dan baru tersadar setelah tiga hari tak sadarkan diri.
Saat dirinya menanyakan anaknya, pihak Rumah Sakit mengatakan anaknya sudah dibawa oleh pihak keluarganya.
Saat mendengarnya seketika dirinya menjerit seperti orang gila mencari di seluruh Rumah Sakit. Sampai akhirnya ia mencari-cari anaknya di jalanan yang bersalju.
Jahitan sehabis melahirkan terasa sakit, ia sangat kesakitan dan tiba-tiba pandangannya seketika gelap.
Saat tersadar kembali, dirinya sudah berada di kamar Rumah Sakit dengan Thania berada di samping ranjangnya. Thania menolongnya saat ia tergeletak di jalanan bersaju, dirinya hampir mati membeku.
"Hei! Kau melamun!" Thania menyadarkannya dari lamunan tentang ingatan masa lalunya
"Kau mengingat anakmu lagi, apa belum ada petunjuk. Bagaimana orang tuamu, mereka sudah berjanji bukan. Kau bahkan sudah lebih dari 2thn menikah dengan Rico, kenapa mereka tetap tak mengatakannya?"
"Itulah, mereka bilang aku harus bertahan dengan Rico. Karena Perusahaan Ayahku sedang mengalami masa krisis dan membutuhkan dana untuk berinvestasi pada Perusahaannya. Mereka kemarin meneleponku, kata mereka sekali ini aku harus merayu Rico agar mau memberikan dana itu, baru mereka akan mengatakan dimana anakku. Uang simpananku tak cukup, sepertinya aku harus melakukan kemauan mereka."
Thania merasa kasihan pada Kayla, kehidupan menyedihkan dirinya bahkan tak sebanding dengan kehidupan menyedihkan Kayla. Kisah mereka berdua hampir sama, diabaikan oleh keluarga.
__ADS_1