
Selama belasan jam berada dalam pesawat, akhirnya Kayla sampai di bandara Paris. Ia turun dengan menenteng kopernya, sudah pagi waktu setempat di Paris.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang, kepalanya berbalik melihat ke belakang.
"Surprise... " Tristan tersenyum manis, dengan kacamata hitam bertengger diatas hidung mancungnya dan koper di tangannya.
"Tris?" Kayla melongo tak percaya.
"Yeah... aku ada kerjaan di Perusahaan cabang. Jadi, disinilah aku sekarang," Tristan nyengir merentangkan kedua tangannnya.
"Kenapa tak bilang kemarin malam?"
"Kejutan Kay, sekarang kamu mau kemana?"
Kayla mengangkat bahunya, "Entah, mungkin mau cari hotel dulu. Cari Apartemen harus teliti juga, gak bisa asal sewa kan."
"Kalau begitu ayo, aku antar cari hotel," ajak Tristan seraya mengambil koper dari tangan Kayla.
"Hei, aku tak mau merepotkanmu Tris," Kayla mengejar Tristan yang sudah berjalan di depannya.
"Aku tidak merasa direpotkan, lagian aku mau pergi ke Apartemen. Kamu tau kan, saat kerja dapat sarana dari Perusahaan. Kita bisa naik taksi bareng, kamu bisa menghemat uang," tangan Tristan melambai memanggil sebuah Taksi.
Kayla menghela nafasnya, menyerah.
Taksi meluncur di jalanan kosong, Tristan melirik ke arah sampingnya menatap Kayla yang memandang keluar jendela.
Kayla larut dalam kenangan buruknya, di kota inilah ia diasingkan oleh keluarganya dan juga tempat ia kehilangan anaknya. Tak terasa air matanya menetes tanpa bisa ia hentikan.
Tristan mengambil saputangan dari sakunya, memberikannya pada Kayla tanpa bicara.
Kayla mengambilnya, "Terimakasih."
Taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah Hotel. Tristan memaksa ingin mengantar Kayla sampai dalam tapi ditolak olehnya.
"Baiklah, jika ada apa-apa telepon aku," ujar Tristan saat Kayla sudah turun dari dalam Taksi dengan kopernya.
"Ok, sekali lagi makasih."
Taksi pun berlalu pergi dari depan Hotel, Kayla bebalik badan masuk ke dalam Hotel.
__ADS_1
Kayla berjalan melewati lobi Hotel, tapi saat di depan resepsionis ia panik karena dompetnya hilang.
"Ya ampun, dimana aku menjatuhkan dompetku?"
Kayla mencari dompetnya sepanjang jalan di lobi tapi dompetnya tak bisa ia temukan.
"Apa di dalam taksi ya? Tapi aku lupa menyimpan nomer Tristan di ponsel baruku. Bagaimana ini?"
"Ah, aku telepon Thania aja."
Saat panggilan tersambung, suara ceria Thania terdengar. "Kay? Kamu sudah sampai?"
"Ya, baru saja sampai di hotel. Itu Than... dompetku sepertinya ketinggalan saat di dalam taksi. Aku mau minta bantuanmu."
"Bantuanku, mana bisa Kay. Aku di Indonesia, kamu jauh disana, haha. Canda, jadi bantu gimana?"
"Begini... aku sebenarnya juga kaget, saat turun dari pesawat Tristan ternyata datang juga ke Paris katanya ada kerjaan disini. Kamu tau dia datang kesini?"
Lama tak ada jawaban dari sahabatnya itu.
"Tau, Tristan mengajukan proposal sejak lima hari lalu dan di Acc oleh atasan kami. Sorry... tak bilang padamu dulu. Apa kamu gak enak Tristan juga datang kesana?"
"Sebentar, aku kasih alamat Apartemennya sekalian. Jadi kalau dia tak angkat telepon darimu, kamu bisa ke tempatnya."
"Ok Thania, aku tunggu."
Tak lama Thania mengirimi Kayla nomer ponsel dan alamat Apartemen Tristan.
Kayla mencoba menghubungi nomer Tristan tapi mencoba beberapa kali tak diangkat. Akhirnya ia memutuskan naik taksi ke alamat yang diberikan Thania dan akan membayar ongkos taksinya disana.
Dua puluh menit akhirnya Kayla sampai, ia meminta supir taksi untuk menunggu.
Kayla memijit bel pintu, menunggu.
Tak lama, Tristan membuka pintu. Begitu pintu terbuka Kayla langsung mengangkat tangannya menutup matanya, Tristan hanya memakai handuk di bagian bawah tubuhnya tanpa memakai sehelai benangpun di tubuh bagian atasnya.
"Maaf, aku tak sengaja melihatmu," ucap Kayla.
Wajah Tristan pun memerah menahan malu, "K-kay, sebentar. Tunggu sebentar, aku baru selesai mandi," Tristan tak menutup pintunya, ia masuk ke dalam kamar dan memakai T-shirt putih berlengan pendek dan celana panjang.
__ADS_1
Tristan kembali menghampiri Kayla yang masih berada di depan pintu, "Kamu kehilangan dompetmu kan? Ini dompetmu."
"Makasih Tris," Kayla mengambilnya.
"Masuklah dulu, istirahat. Kamu sudah capek berjam-jam di pesawat. Sekarang bolak-balik ke Hotel, masuklah dulu."
Kayla menggigit bibirnya, memang ia merasa kelelahan, "Baiklah, sebentar aku harus membayar taksi dibawah dulu, koperku juga ada di dalam taksi."
Tristan menarik lengan Kayla, "Masuklah, aku yang akan kebawah."
Tristan membawa Kayla masuk dan menyuruhnya duduk. Ia masuk ke kamarnya dan mengambil dompetnya lalu pergi kebawah.
Tak selang berapa lama, Tristan kembali dengan koper Kayla di tangannya.
"Aku buatin dulu teh ya, atau mau kopi? Sebentar, apa ada persediaan disini gak ya?" Celoteh Tristan sambil berjalan ke ruang penyimpanan.
Tristan membuka pintu lemari atas lalu membuka pintu lemari lain, ternyata lemarinya kosong. Ia membuka lemari dingin dan hanya ada botol air mineral.
"Maaf, kamu tau aku juga baru datang. Jadi, hanya ada minuman ini. Sepertinya pegawai Perusahan cabang yang menyimpannya untukku saat tau aku akan tinggal disini."
Kayla tersenyum dan mengambil botol membuka penutup botol lalu meminumnya. "Ini sudah cukup, makasih."
Tristan sedikit gugup karena tak menyangka akan berdua saja bersama Kayla di dalam Apartemen.
"Kay, untuk menghemat uangmu. Gimana kalau kamu tinggal bersamaku disini? Tunggu, jangan salah paham," Tristan buru-buru berkata saat melihat Kayla membuka mulutnya, pasti ingin menolak.
"Aku tak akan macam-macam Kay, lagipula disini ada dua kamar. Kamu tidak tau kan sampai kapan kamu akan mencari anakmu, kamu bisa menghemat uang."
Kayla memainkan tangannya, disatu sisi perkataan Tristan benar karena ia juga belum punya pekerjaan lagi. Tapi ia juga tau perasaan suka Tristan padanya, ia hanya tak ingin terlalu memberi harapan.
Tristan melihat kebingungan Kayla, "Aku takkan berharap apapun padamu Kay, aku memang menyukaimu tapi jika kamu tak ingin aku mendekat dan hanya ingin terus berteman aku takkan melewati batasan itu."
Kayla bimbang tapi akhirnya mengangguk, "Baiklah, aku tinggal disini. Tapi, aku tak ingin memberimu harapan apapun Tris."
Tristan tersenyum, dengan Kayla menerima ajakannya tinggal bersama pun sebenarnya sudah memberikannya harapan.
"Tentu saja, baiklah kamarmu di sebalah kiri. Istirahatlah."
Kayla sekali lagi berterimakasih, berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjuk.
__ADS_1