CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
Pengecut?


__ADS_3

Rico menarik kopernya turun dari pesawat, dia ada pekerjaan di Jakarta selama seminggu lebih. Dia menarik kopernya sambil bertelepon.


Tapi matanya fokus melihat ke depan, tiba-tiba dia merasa mengenali sosok seorang wanita yang berjalan di depannya, membelakanginya. Tadi Rico sempat melihat wajahnya sekilas.


"Kayla!"


Rico berjalan cepat menyusul, menepuk pundak wanita di depannya, sudah lama dia tak tau kabar tentang mantan istrinya itu.


Wanita itu berbalik, membuka kacamatanya dan menatap heran kepada Rico. "Maaf?"


Ternyata Rico salah orang, tapi wajah wanita di depannya benar-benar sangat mirip Kayla. "Maaf, sepertinya saya salah orang."


Wanita itu tersenyum ramah, "Tidak apa-apa, wajah saya mungkin pasaran."


"Kalau begitu permisi," si wanita berbalik pergi melanjutkan langkahnya.


"Tunggu!"


Wanita itu berbalik kembali, "Ya?"


"Boleh minta nomer handphone? Jika boleh?"


Sabrina menatap lama wajah pria di depannya, menimbang dia baru saja datang lagi ke Jakarta setelah tinggal lama di AS. Menurutnya mempunyai teman baru di Jakarta boleh juga tapi di zaman sekarang yang banyak modus penipuan, ia juga harus berhati-hati.


"Ulurkan tanganmu," ucap Sabrina.


Rico menurut, mengulurkan tangannya.


Sabrina mulai menulis sebuah nomer di telapak tangannya dengan jari telunjuknya.


Rico menatap wanita di depannya dengan tatapan tertarik yang tak disembunyikan.


Wanita yang unik!


"Sudah kan," Sabrina tersenyum usil lalu pergi dari hadapan pria di hadapannya.

__ADS_1


Rico tertawa, nomer yang ditulis wanita tadi menggunakan jari tangan langsung dia ingat-ingat, meskipun ada kemungkinan dia salah mengingat salah satu nomer tapi dia mempunyai perasaan akan bertemu lagi dengan wanita barusan. "Biarlah, kalau jodoh takkan kemana."


Sabrina segera memanggil taksi, menuju rumah orang tuanya. Dia akhirnya pulang setelah menempuh S2 di AS dan kebetulan kakak sepupunya Melvin akan menikah.


"Mah." Sapanya saat pintu rumah dibuka.


Debbi Ibunya tersenyum bahagia melihat putrinya pulang. "Masuklah, kamu pasti capek."


"Ho'oh, capek pake banget. Dimana papah?"


"Jam segini lagi di Perusahaan lah, kamu emang gak telepon papa kamu dulu?"


"Gak, Sabrina pengen kasih kejutan, hehe... ah nanti malam saja ya ke rumah tante Anaya, mau istirahat dulu."


"Tantemu pasti senang kamu pulang. Ah... ada kabar Renata sudah hamil, Jarvis ada telepon kamu?"


Saat mendengar nama sepupunya Jarvis, Sabrina menghela nafas. Sabrina adalah tempat curhat abang sepupunya itu. Sejak kecil memang mereka berdua sudah seperti anak kembar, sepupuan tapi terasa saudara kandung. "Bang Jarvis emang ada nelepon tapi gak cerita apa-apa."


Sabrina mengunci mulutnya rapat-rapat tak ingin kelepasan membongkar rahasia abang sepupunya itu.


Sabrina masuk ke kamarnya, melempar tubuhnya ke atas kasur. Tapi tiba-tiba wajah pria di bandara tadi terlintas di benaknya. "Hm, ganteng sih tapi sudah terlihat bad boy. Mana minta nomer segala padahal baru ketemu."


Sabrina menutup kedua matanya merasa mengantuk karena perjalanan panjang tadi.


*


Saat tantenya menelepon dan memberitahukan sepupunya Sabrina pulang, Jarvis menyelesaikan pekerjaannya di Rumah sakit dan langsung mendatangi rumahnya.


"Dimana dia tante? Jarvis kangen pengen jitak dia," Jarvis tertawa keras.


Debbi menggeleng dengan keakraban mereka, "Kalian tuh ya kapan berubahnya. Dia sejam lalu masuk kamar sekarang entah lagi apa, periksa aja sendiri sana."


"Jarvis masuk ya tan."


Jarvis membuka pintu yang tak terkunci, mengendap mendekati ranjang Sabrina.

__ADS_1


Jarvis mengambil salah satu syal Sabrina yang berbulu, ia lalu menggesekkan syal itu ke hidung sepupunya itu. Menjahili sepupunya selalu ada kepuasan tersendiri bagi Jarvis.


Dahi Sabrina berkerut tapi matanya masih menutup, hidungnya kembang kempis akhirnya dia bersin.


"Hastciwww..."


Mata Sabrina terbuka, berteriak kaget saat melihat wajah seram di hadapannya.


Jarvis tertawa terbahak-bahak sambil membuka topengnya yang sengaja dia bawa. "Hahahaha... kena kau!"


Sabrina cemberut melempar bantal ke arah Jarvis. Jarvis menangkapnya, "Abisnya kalau kagak dibangunin, lu kalo molor udah kayak kebo."


"Sialan, apes banget gue punya sepupu kayak lo. Udah mah kagak punya kakak cowok biar dia membalaskan dendam gue sama lu, eh pacar pun kagak punya."


"Jadi ceritanya lu jomblo teraniaya gitu, cih drama banget. Udah bangun, kita cari makan enak, gue kangen sama lu," Jarvis menarik lengan Sabrina lalu mendorong tubuh Sabrina ke arah kamar mandi.


"Sana masuk, gue tau lu paling males mandi. Seminggu paling tiga kali mandi, jadi cuci muka aja sana gih! Jadi cewek ko jorok!"


Sabrina memutar bola matanya malas, "Mending gue lah, daripada lu cinta mati sejak dulu sama cewek tapi gak mau memperjuangkannya, pengecut lu!"


Sabrina menutup mulutnya, memaki mulutnya yang terlepas rem-nya. Seketika suasana sunyi, merasa tak ada tanggapan dari Jarvis Sabrina merasa bersalah.


"Sorry."


"Udahlah, sana masuk! Gue tunggu diluar, sambil ngobrol sama tante."


Jarvis meninggalkan Sabrina keluar, tapi sepanjang jalan perkataan Sabrina padanya terus terngiang.


"Apa aku memang pengecut? Haruskah aku memperjuangkan Renata? Tapi bagaimana pandangan semua orang nanti? Bukankah mereka akan memandang hina Renata karena berselingkuh dari abang? Aku tak perduli perkataan orang tentangku, tapi aku tak bisa terima orang menjelekkan Renata," gumamnya.


*


*


*

__ADS_1


CATATAN : Happy ending bagi Kayla dan Radit/Melvin palsu akan segera mendekat, jadi saya akan mulai menceritakan tokoh-tokoh lainnya disini semoga masih suka ceritanya ya.


__ADS_2