CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
Mencoba Membuka Hati


__ADS_3

Tristan berdiri di balkon kamar Apartemen, memandang kerlap-kerlip cahaya lampu di gedung-gedung tinggi lain.


Setelah puas menangis, Kayla menenangkan diri dikamarnya. Saat ingin bersiap tidur, ia mengurungkannya merasa harus menjelaskan sesuatu pada Tristan.


Kayla membasuh wajahnya, matanya terlihat mengerikan. "Besok pasti akan semakin bengkak."


Kayla mencari keberadaan Tristan di ruang tamu dan dapur tapi tidak ada. Akhirnya Kayla mengetuk pintu kamar Tristan.


Tristan membuka pintu kamarnya, wajahnya terlihat kusut.


"Bisa kita bicara Tris?"


Tristan melihat mata Kayla yang memerah, "Ayo, bicara di dapur. Kompres dulu matamu agar besok tidak bengkak."


Kayla mengikuti Tristan berjalan ke dapur.


Tristan memasukkan es batu ke dalam sebuah kain dan memberikannya pada Kayla.


Kayla mengambilnya, "Makasih," seraya menempelkannya bergantian ke mata kiri dan kanannya.


Kayla mencuri pandang ke arah Tristan, melihat apakah memang sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.


"Kay, bicaralah. Aku tidak akan menjudge-mu. Jika kau butuh bercerita dan meluapkan isi hatimu aku akan mendengarkan." Tristan merasakan keragu-raguan Kayla.


Kayla menurunkan tangannya dari matanya, menaruh kain berisi es batu di atas meja.

__ADS_1


"Aku ingin menjelaskan perkataan Melvin tadi di Pesta. Mulanya aku salah mengira Melvin adalah Radit. Wajah mereka sama bahkan ciri-ciri tubuhnya. Tapi setelah mengenalnya, mereka dua orang yang sangat berbeda, sifat dan perilaku mereka berdua tidak sama. Radit begitu lembut dan penuh perhatian, dia tidak pernah ingin menyakiti apalagi memperlakukanku dengan buruk. Melvin berbeda, dia bahkan selalu sengaja mempermalukanku." Kayla mulai menceritakan awal pertemuan sampai terakhir kali Melvin berjanji tidak akan menemuinya lagi.


Tristan memijit keningnya, mendengarkan cerita Kayla tapi dia tidak berpikir sama dengan Kayla. Ada beberapa point penting terdapat kesamaan tentang Melvin dan Radit.


"Kamu yakin dia bukan Radit?"


Kayla menggeleng, "Bukan, Radit takkan pernah menyakitiku seujung rambut pun."


Meskipun Tristan mempunyai pemikiran sendiri dan beberapa kecurigaan, tapi dia memang tak mengenal Radit aslinya bagaimana. Dia hanya mengenalnya dari cerita Kayla padanya. Jadi dia hanya bisa mempercayai penilaian Kayla.


"Kamu sudah merasa lebih baik?" Tristan menatap Kayla penuh kasihan.


"Kamu tidak jijik padaku? Aku bahkan tega membunuh janinku."


Tristan menggeleng, ia melihat air mata menggenang di mata Kayla. Memikirkan semua penderitaan yang harus dialami Kayla terus menerus malah membuatnya semakin jatuh hati padanya, mana mungkin ia merasa jijik.


Tristan menarik kedua tangan Kayla dan menggenggamnya.


Kayla merasa terharu, kenapa hatinya tidak bisa menerima Tristan sedikit saja? Kenapa harus Melvin yang memasuki hatinya sekarang? Kenapa harus lelaki brengsek itu?!.


"Tris, bisakah kamu memberikanku waktu lagi? Aku bukan menolakmu, hanya berikan aku waktu lagi untuk memikirkannya. Aku akan mencoba membuka hatiku untukmu, saat itu aku akan memberikan jawaban."


Tristan tersenyum lebar, "Ya, tentu saja Kay. Aku akan menunggumu, menunggu jawabanmu."


Tristan mengeratkan pegangan tangannya pada Kayla, hatinya merasa bahagia.

__ADS_1


*


Seminggu setelah kejadian, hampir 2 minggu lebih Melvin di Paris, dia tak pernah membuntuti Kayla lagi. Cukup buruk perbuatannya hari itu, dia tak ingin kembali menyakiti Kayla.


Pernikahannya dengan Renata pun tinggal seminggu lebih lagi, dia tak ingin memperumit masalah.


Ponsel Melvin berdering, ia melihat Ibunya yang menelepon. Ia mengambil ponselnya menekan jawab. "Ya, Mah."


"Pulanglah segera, kami ingin bicara padamu. Apalagi pernikahanmu sebentar lagi, meskipun Mama dan calon Ibu mertuamu yang menyiapkan pernikahan ini tapi kamu juga harus ikut andil di dalamnya."


"Aku masih belum bisa pulang Mah, tunggu tiga hari lagi." Melvin sebenarnya berhasil mendapatkan tender proyek dan mengalahkan para pesaingnya termasuk menang dari Perusahaan Tristan, tapi dirinya masih butuh memantapkan diri untuk menikah.


"Melvin, bertanggung jawablah sedikit jadi laki-laki! Tadinya mama dilarang mengatakannya oleh Renata, tapi sepertinya mama harus mengatakannya. Renata hamil, jadi segera pulang!"


Ponsel meluncur jatuh dari tangannya, Melvin tak percaya apa yang di dengarnya.


"Melvin! Nak! Halo, kamu masih disana!"


Melvin tersadar dari rasa terkejutnya, ia mengambil ponselnya kembali. "Ya, aku masih disini."


"Jadi, kamu pulang kan?"


"Besok aku langsung pulang, aku akan memesan tiket sekarang."


"Baiklah, Mama tutup. Semua keluarga sudah menunggumu, kami semua sangat bahagia."

__ADS_1


Setelah sambungan terputus, Melvin hanya bisa menduga-duga yang terjadi. Hamil? Bahkan saat ingatannya masih hilang dan menjadi Melvin, dirinya tak pernah mencium Renata sekalipun! Apalagi setelah ingatannya pulih, dirinya lebih tak bisa lagi menyentuh Renata. Bagaimana Renata bisa mengandung anaknya?!


__ADS_2