
Melvin mendapatkan alamat Rumah sakit dari Thania. Saat ia menghubunginya, Thania memberikan alamat Apartemen dan alamat Rumah sakit tanpa mempersulitnya.
Melvin langsung membawa Daffin ke Rumah sakit tempat Tristan dirawat, ia juga menyuruh Rian untuk mencari Dokter tulang terbaik untuk merawat Tristan sampai sembuh. Melvin berhutang budi pada Tristan, apalagi ia berniat akan mengambil Kayla dari Tristan. Sampai ke pelosok dunia, ia akan mencari Dokter tulang terbaik agar hati Kayla bisa tenang dan tidak berat akan pengorbanan Tristan padanya.
Melvin mengetuk pintu kamar rawat, tak lama pintu terbuka.
Kayla tak percaya apa yang sedang dilihatnya, pria brengsek yang bahkan tidak mau ia lihat. "Sedang apa kau disini? Pergi! Jangan buat masalah!"
Kayla mencoba menutup pintu tapi tangan besar Melvin menahan pintunya, "Dengarkan aku dulu Kay, lihatlah ke bawah, aku membawa anakmu. Anak kita."
Tatapan mata Kayla beralih ke bawah, seorang anak kecil lelaki sedang mengemut jempolnya dan menatap Kayla dengan mata bulatnya.
Tapi tak terduga oleh Melvin, Kayla malah tertawa, "Haha, Apakah kau sedang melucu Melvin? Jika benar, kau salah alamat. Anakmu bersamaku bahkan belum sempat aku lahirkan, jadi anak siapa dia?" Ia menatap Melvin sinis.
"Pergi! Jangan membuatku marah," Kayla menutup pintu.
Melvin ternganga, ia ingin membuka pintu kembali tapi sepertinya ia harus bicara lagi dengan jelas pada Kayla. Memang kesalahannya sangat besar dan tak mungkin Kayla semudah itu percaya padanya.
Melvin akhirnya pergi dari Rumah sakit, membawa anaknya.
Saat di dalam mobil, anaknya tak berhenti mengoceh. "Pelmen, ciapa pelempuan tantik tadi. Apin suka, hihi... "
Melvin tak menyangka Daffin bisa langsung lengket padanya, padahal mereka berdua baru bertemu. Celotehan anaknya membuatnya lebih bersemangat mendapatkan Kayla kembali. "Nak, Papa akan membawa Mamamu kembali pada kita. Ok." mengelus rambut putranya.
"Oce," Daffin mengangkat tangannya meminta tos.
"Haha... anak pintar. Sekarang panggil papa. Coba... pa pa."
Daffin hanya memperlihatkan giginya, tak menuruti perkataan Melvin.
"Baiklah, papa akan tunggu kamu memanggil dengan sebutan papa. Dan semoga saat itu, mamamu sudah bersama kita."
__ADS_1
Saat sampai di Hotel, Daffin sudah terlelap tidur. Untung saja adik perempuannya dengan senang hati ikut bersamanya, Selvi tak banyak bertanya dan hanya membantu dirinya.
"Aku akan menidurkannya bang, kamu juga istirahatlah. Setelah kamu beristirahat, baru ceritakan semuanya padaku. Bahkan mama meneleponku terus menerus tapi aku sendiri tidak tau harus berkata apa padanya. Pernikahanmu sebentar lagi tapi kamu malah pergi, pantas jika Mama marah padamu."
"Makasih, abang istirahat dulu. Abang janji akan menceritakan semuanya."
Melvin pergi ke kamarnya sendiri bersama Rian mengikutinya di belakang.
"Bos, apa rencana Anda selanjutnya?"
"Apa lagi? Aku harus bicara dengan Kayla lagi, aku takkan menyerah walaupun dia akan menolakku terus menerus."
*
Keesokan paginya, Melvin menceritakan semuanya pada Selvi dan adik perempuannya itu mengerti. Melvin merasa bersyukur memiliki keluarga yang sangat begitu pengertian, mereka tidak marah atau membencinya karena sudah menggantikan posisi Melvin yang sudah tiada.
Melvin menguntit Kayla seharian di Rumah sakit, ia menyogok perawat yang sering mengurus Tristan. Mengorek informasi tentang kegiatan Kayla seharian dan mendapatkan info yang membuatnya senang.
Melvin sudah mengantongi kode kunci Apartemen Tristan dari Thania. Melvin sempat bertanya pada Thania alasannya membantu Melvin, Thania hanya bilang jika Melvin berhasil mendapatkan ampunan dari Kayla dan bisa mendapakan hati Kayla kembali, itu adalah kesempatan dia untuk mengejar cintanya.
Akhirnya Melvin mengerti, Thania menyukai Tristan lebih tepatnya mencintai Tristan.
Melvin melihat Kayla sudah masuk ke dalam Apartemen, ia menaiki tangga dan langsung membuka sandi pintu dan segera menyelinap masuk ke dalam saat pintu berhasil terbuka.
"Melvin! Apa yang kau lakukan?! Kau menguntitku?!"
Melvin maju mendekati Kayla, tindakannya malah membuat Kayla mundur. Melvin berhenti melangkah, "Aku bukan Melvin, aku Radit... Kay."
Kayla hanya diam menatapnya, tak mengucapkan sepatah katapun. Lalu seperti di Rumah sakit kemarin, Kayla menertawakannya.
"Aku serius Kay, aku Radit. Kau butuh aku membuktikannya, bagaimana jika tentang kita empat tahun lalu? Atau tentang kita saat aku memintamu jadi pacarku?"
__ADS_1
Kayla menggeleng, "Mas Radit sudah meninggal dan aku ikut menguburkannya, kau gila! Pergi!"
Kayla maju mendorong tubuh Melvin agar pergi, tapi Melvin mencekal tangan Kayla ke belakang tubuhnya dan menahannya disana.
"Melvin! Aku peringatkan, jangan macam-macam. Aku bahkan berani membunuhmu!"
"Ohya, kamu bisa membunuhku? Kalau begitu lakukan, tapi aku takkan menyerah padamu!"
Melvin membopong paksa Kayla membawanya masuk ke dalam kamar, dengan cepat menindihnya. "Kay, aku Radit. Kau ingat saat aku melamarmu untuk menjadi istriku, saat itu hujan dan kita kebasahan. Besoknya kita sama-sama kena flu, tapi karena kamu bahagia akan segera menjadi istriku saat itu kamu bilang padaku, bahkan jika aku terkena penyakit menular pun kamu rela berbagi penyakitku denganmu."
Kayla berhenti memberontak, semua ucapan Melvin hanya ia dan Radit yang tau. Bagaimana mungkin Melvin mengetahuinya?
"Kamu benar-benar Radit? Tapi kenapa selama ini kamu berbohong! Kenapa!? Kau tidak tau apa yang sudah kualami, bahkan kamu selalu membuatku menderita! Sialan kau! Aku membencimu! Pergi! Bagiku kini Radit sudah benar-benar mati! Kau hanyalah lelaki bajingan!" Kayla tak bisa menerima pengakuan Melvin, ia memberontak kembali.
Melvin menahan tubuh memberontak Kayla, mencium bibirnya dengan paksa. Kayla menggigit bibirnya, dengan sekuat tenaga menendang tubuh Melvin dari atas tubuhnya dan akhirnya terlepas.
Kayla berlari ke dapur, mengambil pisau dan mengacungkannya pada Melvin saat dia mendekat. "Aku benar-benar akan membunuhmu! Aku gak perduli kamu Melvin atau Radit, pergi!"
Melvin menaikkan kedua tangannya ke atas, menandakan menyerah, "Baiklah, tapi letakkan pisau itu Kay... aku takut kau terluka."
"Tidak! Sebelum kau pergi dari hadapanku untuk selamanya!"
Melvin menurunkan tangannya perlahan, ia merogoh ponsel dari kantong celananya, "Lihat anak ini, dia mirip denganku bukan? Dia anak yang kamu cari selama tiga tahun ini, adik perempuanku mengadopsinya dari sebuah panti asuhan di Zurich."
Sebelah tangan Melvin lainnya merogoh saku Jas nya, mengeluarkan sebuah kertas, " Dan ini adalah hasil tes DNA kami, aku dan anak ini adalah Ayah dan anak. Kamu juga bisa tes DNA dengan anak ini jika tak mempercayaiku."
Kayla mulai melemah, pegangan tangannya pada pisau mulai mengendur. Dia maju mengambil ponsel dan kertas dari Melvin. "Dia anakku?"
"Ya, anakmu. Dia anak kita, namanya Daffin. Kamu mau bertemu dengannya dan mencoba tes DNA?"
Kayla menangis sejadi-jadinya, "Huwaaa... Anakku... anakku. Akhirnya aku menemukanmu."
__ADS_1
Melvin menghembuskan nafasnya yang tertahan, akhirnya merasa lega Kayla bisa mempercayainya.