CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
BAB.41


__ADS_3

Sore itu dua insan manusia yang masih merasa kehilangan sosok pria penting dalam hidup mereka berjalan beriringan meninggalkan tempat per istirahatan terakhir pria itu dengan wajah sendu mereka.


Dengan menyeret kakinya tak rela Renata meninggalkan kuburan Melvin, dadanya masih terasa sesak mengingat pria yang dicintainya sudah tak ada di dunia lagi.


"Hati-hati, berpegangan lah padaku," di depan mereka sudah terlihat turunan, Jarvis mengingatkan Renata. Demi menghargai Jarvis Renata akhirya tak menghindarinya dan menerima bantuan Jarvis lalu berpegangan padanya.


Jarvis tersenyum lega, dengan hati-hati dia membantu Renata menuruni bukit meskipun jalanan tak licin tapi tetap saja ia khawatir akan keselamatan Renata dan janin dalam kandungannya.


Setelah sampai di bawah Jarvis lupa tidak menyewa mobil ia tadi malah naik taksi langsung dari bandara, Renata memberikan kunci mobil dari dalam tas nya. "Ini kunci mobil, aku menyewanya," Seakan Renata mengerti apa yang sedang dipikirkan Jarvis.


Jarvis mengambilnya lalu membantu Renata naik ke dalam mobil, nada dering ponsel dalam saku celana Jarvis berbunyi ia langsung mengangkat nya. "Iya bang, aku sudah menemukan Renata. Ya, seperti dugaanmu, sekarang kami baru akan pergi dari kuburan."


Jarvis mendengarkan perkataan Radit di dalam sambungan, sesekali menjawab atau hanya sekedar mengangguk, "Ok, aku mengerti. Sekarang Renata sepertinya capek, nanti aku akan bicara padanya. Baiklah bang, sudah dulu ya." lalu Jarvis menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


Renata sudah duduk di jok depan, ia sesekali melirik Jarvis meskipun tidak mendengar apa yang dibicarakan Jarvis dan Radit tapi mendengar keperdulian untuknya dari nada suara Jarvis saat berbicara di telepon membuat Renata mau tak mau menatap bibir Jarvis saat bicara, saat menatap bibir Jarvis membuat Renata mengingat kembali tentang malam panas yang dilalui nya bersama Jarvis.


Saat tiba-tiba Jarvis selesai bertelepon dan berbalik padanya, Renata tergagap karena ia merasa terpegok. "Aku tidak mendengarkan pembicaraan kalian, aku juga tidak sedang menatap bibirmu," Renata menggeleng membantah padahal Jarvis belum berkata apapun.


Jarvis berusaha menahan senyum tapi tatapan Jarvis yang senang tak bisa ia sembunyikan, membuat Renata semakin salah tingkah, "Benar ko, jangan menatapku seperti itu!"

__ADS_1


"Hm, oke deh. Kamu tidak sedang menatapku, lagipula wajahku sangat jelek saat ini bukan? Jadi mana mungkin kamu mau sama aku, tapi ini semua karena ulahmu, aku terlalu mengkhawatirkanmu sampai wajah tampanku tirus begini jadi terlihat sangat jelek, hehe..." canda Jarvis agar Renata tak salah tingkah lagi.


Renata menggeleng dengan cepat, "Gak lah, masih cakep ko. Masih Jarvis yang aku kenal," secercah senyuman muncul di bibir mungil Renata.


Jarvis merasa lega bisa melihat Renata bisa tersenyum kembali, "Ren... Aku ingin anak kita perempuan biar cantik sepertimu, karena di dunia ini belum ada yang bisa menyaingi kecantikanmu. " sanjung Jarvis membuat wajah pucat Renata bersemu merah.


"Ayo pergi, disini mulai mendung," Renata mengalihkan pembicaraan, ia merasa aneh mendengar gombalan Jarvis kali ini membuat jantungnya berdebar.


Tak lama Jarvis membawa mobil itu melaju ke tempat Renata menginap, Jarvis berjanji dalam hatinya akan bersemangat dalam memperjuangkan Renata.


*


Selesai menelepon Jarvis, Radit mengelus kepala Ibunya yang sedang terbaring di ranjang karena pingsan saat mendengar pengakuannya kalau ia adalah saudara kembar Melvin dan juga Radit memberitahu juga kebenaran tentang kematian Melvin. Hal itu seketika membuat shock Ibunya, tapi semua keluarga akhirnya menerima termasuk keluarga Renata.


Ibu Radit lalu menelepon dan meminta putranya itu datang ke rumah. Radit segera datang dengan membawa serta anaknya dan Kayla, bahkan saat masuk ke dalam rumah Radit dengan jelas menggenggam tangan Kayla.


Saat melihat putranya itu menggandeng tangan wanita yang pernah ia usir pergi untuk menjauh dari putranya membuat amarah Ibu Radit memuncak. Dengan wajah marahnya, ia mengangkat tangan untuk menampar Kayla tapi tangannya ditahan oleh Radit. "Mah, aku akan menjelaskan semuanya. Jangan emosi dulu, Kayla tidak bersalah."


Anaya masih menatap marah pada Kayla, tapi sifatnya bukan orang yang keras kepala. Dia menahan emosinya dan langsung duduk bersama orang tua Renata yang sudah berkumpul disana.

__ADS_1


"Om, tante. Pah, mah," Radit mulai bicara ingin cepat meluruskan semua masalah. "Daffin sebenarnya adalah anak kandungku dan Kayla, kami adalah orang tuanya. Aku bukan Melvin tapi Radit saudara kembar Melvin, aku juga anak kalian."


Mata Anaya membulat penuh, menatap tak percaya pada putranya. "Kau apa?!"


Radit menyerahkan Daffin pada Kayla, dia mendekati Ibunya lalu mulai menjelaskan semuanya, akhirnya membuat Ibunya pingsan saking shock nya mendengar putranya Melvin sudah meninggal.


Radit juga meminta maaf pada keluarga Renata dan memberitahu siapa ayah kandung sebenarnya dari janin yang sedang dikandung anak mereka Renata.


Setelah semuanya jelas keluarga Renata undur diri dan menerima permintaan maaf Radit dan akan menunggu putrinya pulang dan akan meminta kejelasan dari putrinya itu.


Sekarang Radit sedang menunggu Ibunya siuman di dalam kamar di lantai atas, sedangkan Kayla menunggu di bawah dan menjaga Daffin.


Mahendra menatap Kayla, ibu dari cucu kandungnya. Sebenarnya dia sudah merasakan keanehan dengan sikap Radit yang berbeda dari Melvin dan sekarang akhirnya semuanya terjawab sudah.


"Kayla, apakah kamu mencintai putraku Radit?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Mahendra.


Mulut Kayla terbuka kaget karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan sangat pribadi dari Ayah Radit. Ia memikirkan jawaban yang tepat tapi tak ada lagi yang bisa ia pikirkan selain menjawab jujur.


"Jujur saja om, saya masih mencintainya terlepas dia pernah menyakiti hati saya saat berpura-pura sebagai Melvin. Tapi jika melihat dari sisi Radit, dia menyakiti saya karena rasa sakitnya juga. Jadi sebenarnya semua yang terjadi selama ini bukan lah kemauan kami, tapi memang sudah nasib kami harus seperti itu. Saya sudah memaafkan Radit dan masih sangat mencintainya," Setelah mengatakan seluruh isi hati yang sebenarnya, akhirnya hati Kayla terasa lega. Tanpa ia ketahui Radit juga mendengar pengakuannya, membuat Radit seketika merasa dunia telah berbaik hati padanya karena Kayla sudah memaafkan dan bahkan mengatakan masih mencintainya.

__ADS_1


Mahendra sudah melihat sosok putranya di undakan tangga sejak tadi, jadi dia sengaja bertanya seperti itu pada Kayla. Dia menatap Radit, ikut tersenyum melihat wajah bahagia putranya, "Kau begitu sangat bahagia putraku? Lihatlah senyum bodohmu!"


Refleks kepala Kayla berputar ke arah tangga saat mendengar perkataan Ayah Radit, di sana lah berdiri pria yang dicintainya sedang tersenyum bodoh dan sedang menatapnya dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


__ADS_2