
Kayla sudah seminggu menginap di Apartemen Thania, ia akan berangkat ke Paris besok lusa.
"Kay, besok malam kita makan-makan dulu ya sama Tristan, bawa adikmu juga. Besok lusa kamu berangkat, kapan lagi kan kita bisa ketemu. Haish, aku datang kesini pengen sama kamu eh kamu sekarang malah pergi."
"Kamu kan bisa sesekali pergi ke Paris, ya kalau ada libur atau lagi ada kerjaan di Paris kan. Lagian Perusahaan ada cabang juga disana, kamu bisa mengajukan diri jika ada kerjaan yang mengharuskan kamu kesana," ujar Kayla.
"Iya sih, kamu nanti tinggal dimana?"
"Entahlah, berangkat dulu aja entar udah sampai sana tinggal cari tempat tinggal. Lagian banyak sewaan Apartemen zaman sekarang apa-apa gak susah asal ada uang."
"Uang simpananmu kalau gak cukup, nanti jangan segan minta sama aku," Thania bukan orang kaya tapi dari hasil kerja kerasnya bekerja selama bertahun-tahun, ia punya tabungan yang lumayan.
"Gampanglah itu, nanti aku bisa atur-atur dulu uang yang ada."
"Sini peluk, ini malam terakhir kita tidur bareng," Thania merentangkan tangannya.
"Ogah, sana tidur. Haha... " Kayla melempar guling ke arah Thania.
Mereka tertawa bersama.
*
Esok malamnya, Kayla serta Thania dan Tristan berkumpul bersama sebelum besoknya Kayla berangkat. Tapi yang tidak diketahui Kayla, jika Tristan sudah mengajukan proposal pada atasannya agar bisa mengerjakannya di cabang Perusahaan di Paris.
Sebenarnya saat mendengar Kayla sudah bercerai, ia mempunyai harapan dan akan mulai mendekati Kayla. Tapi saat Kayla tiba-tiba menghilang, Tristan hanya bisa menunggu.
__ADS_1
Kini Tristan tidak akan melepaskan kesempatannya, jika sudah berusaha mendapatkan hatinya tapi Kayla memang bukan jodohnya ia akan menerimanya dengan lapang tanpa penyesalan. Karena ia tau bertarung memperebutkan hati Kayla dengan pria yang sudah tidak ada di dunia itu lebih sulit.
"Hei, bengong aja," ujar Thania pada Tristan.
"Kamu lagi ada masalah Tris?" tanya Kayla.
"Tidak. Jadi besok kamu berangkat pukul 4 sore?"
"Hum, sepertinya akan menjadi perjalanan panjang, fiuhh... " memikirkan harus mencari anaknya mulai dari nol lagi tanpa ada petunjuk membuatnya sedikit pesimis.
"Kamu pasti bisa Kay, Tuhan tidak tidur," Thania menepuk tangan Kayla menyemangati.
Kayla hanya tersenyum penuh syukur bisa mendapatkan sahabat seperti Thania.
"Ibunya lagi sakit, katanya banyak rentenir yang nagih hutang sama mereka. Semenjak Perusahaan Papa mengalami kejatuhan, biaya hidup mereka hanya mengandalkan uang yang ada dan bagi Stella dan Ibunya yang sering hidup mewah uang itu pasti tidak cukup. Apalagi setelah lulus kuliah, Stella malas bekerja. Aku ingin membantu, tapi Billy melarangku."
"Billy sudah benar, menurutku Stella dan Ibunya sedang mendapatkan karmanya," ujar Thania puas, ia tau betapa jahatnya mereka pada Kayla. Kayla tak menutupi sedikitpun kehidupannya dari Thania dan bercerita semuanya padanya.
"Aku kebelet, aku tinggal bentar," Thania bangun dari kursinya dan berjalan pergi ke toilet.
Tristan menatap intens Kayla yang sedang melamun melihat ke arah jendela, "Kamu masih mencintainya?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibrnya.
Kayla memalingkan wajahnya dari jendela dan menatap Tristan, "Siapa?"
"Radit? Kamu bilang tidak akan pernah bisa melupakannya. Tapi jika nanti kamu menemukan anakmu, apakah kamu akan membuka hatimu untuk pria lain?"
__ADS_1
Kayla tak menyangka mendapat pertanyaan itu, ia memikirkannya sebentar sebelum menjawab Tristan.
"Sebelum aku menemukan anakku, sepertinya aku takkan bisa membuka hatiku untuk pria lain. Tapi... bukankah Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Jadi siapa yang tau bukan?"
Tristan senang mendengar jawaban Kayla, sepertinya masih ada harapan untuknya. Ia tersenyum, tatapan matanya tak menyembunyikan rasa sukanya pada Kayla.
"Bos, ada Non Kayla disana. Dia sedang makan berdua dengan seorang pria." Ujar Rian saat melihat Kayla di salah satu meja Restoran dari jauh.
Melvin mengedarkan pandangannya ke arah tatapan Rian, ternyata benar ada Kayla sedang makan disana bersama seorang pria.
"Bos, mau menemuinya?"
Melvin tak menjawab, ia mengenali pria yang bersama Kayla. "Untuk apa? Aku sudah berjanji tidak akan menemuinya lagi. Lagipula, sepertinya dia sedang bersenang-senang sampai membuat pria itu tersenyum bahagia dan menatap Kayla dengan pandangan seolah-olah hanya Kayla satu-satunya wanita dalam hidupnya."
Tak dapat dipungkiri Melvin sangat cemburu melihat kedekatan Kayla dengan Tristan, tapi ia sendiri bukan siapa-siapanya bagi Kayla.
"Ayo masuk, Pak Rahmat pasti sudah menunggu," Melvin tak ingin lebih lama melihat kemesraan Kayla dengan pria lain, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan privat tempatnya akan bertemu Klien Perusahaan.
"Radit!" Seorang wanita paruh baya memanggilnya.
Langkah Melvin terhenti, ia memalingkan wajahnya pada sumber suara dan seketika terkejut.
Melvin dengan cepat berbalik badan, mencoba menghindar dengan cepat berjalan pergi dan masuk ke ruangan yang sudah ia pesan.
Wanita paruh baya itu berlari mengejar tapi langkahnya terhenti saat seorang pegawai Restoran menghalanginya untuk masuk.
__ADS_1