
Akhirnya Radit mengangkat wajah gantengnya, mengalihkan tatapannya dari buku yang dibacanya ke arah Kayla yang duduk di sebelahnya.
"Kayla."
Kayla tersenyum kikuk, tadi keberaniannya menggebu-gebu tapi setelah Radit mulai bicara padanya Kayla ingin sekali kabur.
"Pak, eh Mas."
Radit tersenyum, "Maaf, apa kamu sudah lama duduk disebelahku? Aku sedang membaca puisi salah satu penulis favoritku jadi kadang lupa akan sekitarku."
Ah jadi dia suka puisi, lelaki yang romantis sekali. Pikir Kayla.
"Baru saja ko, Mas."
"Kenapa kita bisa satu bis ya? Kita sebelum ini belum pernah bertemu di dalam bis kan?"
"Saya biasanya naik ojek online Mas untuk ke kampus biar lebih praktis. Tapi anehnya hari ini saya ingin sekali naik bis, eh ternyata ketemu Mas Radit."
"Wah, kita pasti jodoh nih," canda Radit membuat pipi Kayla bersemu merah.
"Kita juga memang pernah bertemu sebelumnya, tapi bukan di bis. Mas Radit waktu itu menolong saya di Kafe saya bekerja dari Nona kaya yang sedang memarahi saya. Mas ingat?"
Radit mengingat-ngingat perkataan Kayla, dan akhirnya mengingatnya. "Ah, ternyata itu kamu."
Kayla mengangguk, "Makasih Mas, waktu itu kamu keburu pergi, aku belum sempat mengucapkan makasih."
"Sudahlah, tak apa-apa. Saat itu padahal aku mencari Kafe secara random ingin santai sejenak sebelum datang ke kampus. Eh ternyata kafe tempat kamu bekerja. Kenapa banyak sekali kebetulan-kebetulan kita bertemu, hem?"
"Seperti kata Mas Radit, mungkin kita jodoh," Kayla terkekeh bercanda seperti Radit tadi padanya.
Tak disangka ucapannya malah dianggap serius oleh Radit, "Hm, kalau kita jodoh gimana?"
__ADS_1
"Gi-gimana maksud Mas?" Kayla tergagap tapi hatinya berharap lebih akan ucapan Radit.
Radit memang serius dengan ucapannya tapi menilik mereka berdua adalah Dosen dan mahasiswi yang tak boleh ada hubungan asmara, ia mengurungkan niatnya yang ingin mendekati Kayla.
"Tidak apa-apa, maksudku jika kita jodoh bertemu terus, kita bisa menjadi pengajar dan murid yang baik." Radit mencoba menekan perasaan suka yang mulai timbul di hatinya untuk Kayla.
"Oh begitu," Kayla sedikit kecewa, tapi ia tak akan pantang menyerah. Hanya akan mundur sedikit untuk maju lagi.
Keduanya turun bersamaan dari dalam bis saat sudah sampai di depan Kampus. Radit menjaga jarak aman dengan Kayla, bukan apa-apa Radit hanya tidak ingin nama Kayla jelek jika terlihat berdua dengannya yang adalah seorang Dosen.
"Aku duluan ya," Radit bersiap pergi.
"Tunggu Pak, tadinya saya ingin berbagi makanan dengan Anda dan mengajak Anda makan bersama, tapi sepertinya Bapak risih dengan saya. Ini Bapak makan saja untuk makan siang. Saya permisi," Kayla mengambil kotak makan bekal dari dalam tasnya dan memberikannya pada Radit lalu berjalan pergi dengan wajah sedihnya. Ia sengaja memanggil Radit dengan panggilan Bapak lagi.
Radit menatap kotak bekal di tangannya, lalu menatap arah perginya Kayla, tadi ia melihat ada raut kekecewaan di wajah Kayla hingga membuatnya merasa bersalah.
Saat jam mengajarnya tiba, Radit tak fokus mengajar hari itu. Ada saja kesalahannya, entah itu dalam memanggil nama mahasiswa atau keliru dalam menjelaskan tentang materi pelajarannya.
Ada apa denganku hari ini?
Jam pelajarannya akhirnya selesai, Radit berpura-pura membereskan makalah-makalah di mejanya. Ia menunggu mahasiswa lain keluar, menunggu peruntungannya berharap Kayla keluar kelas paling akhir.
Tapi peruntungannya hilang, Kayla ikut keluar bersama dengan Mahasiswa lainnya.
"Padahal aku ingin menjelaskannya, ingin minta maaf tapi tak punya nomer ponselnya. Ah iya, informasi data di ruang Dosen pasti tercantum nomer ponselnya."
Benar saja Radit berhasil mendapatkan nomer ponsel Kayla di informasi Mahasiswa di ruang Dosen.
Malamnya Radit benar-benar sangat gugup, jarinya sudah akan menekan tombol panggil tapi ia urungkan. Lalu beberapa kali seperti itu lagi, "Haish, terserah lah. Aku coba saja."
Radit akhirnya menekan tombol panggil ke nomer ponsel Kayla.
__ADS_1
"Assalamualaikum? Halo, siapa ya?"
Radit semakin gugup saat panggilannya sudah dijawab Kayla.
"Waalaikumsalam. Kayla, ini aku Radit."
Lama tak terdengar balasan dari Kayla, membuat jantung Radit berdebar-debar tak karuan.
"Ya Pak."
Radit mendengar nada suara Kayla dingin padanya saat menjawabnya. "Begini, tadi aku ingin bicara padamu setelah materiku selesai. Tapi kamu keburu pergi."
"Ada apa Pak? Diantara kita memang ada yang harus dibicarakan?"
Radit mengambil rokoknya dan menyalakannya lalu menghisapnya, baru kali ini dirinya merasa gugup berbicara dengan wanita.
"Aku hanya ingin minta maaf, tadi aku menjauhimu saat sampai di Kampus. Aku hanya tak ingin orang lain melihatmu berdua saja denganku. Aku hanya takut kamu akan digosipkan kalau kamu sengaja mendekatiku agar nilaimu bagus, padahal kamu adalah mahasiswi paling pintar dalam materi pelajaranku dan mendapatkan nilai bagus karena kerja kerasmu sendiri dalam belajar."
"Sekali lagi maafkan aku Kay, besok aku bawa kotak bekalmu, tadi sudah aku cuci. Makasih makanannya sangat enak sekali, kamu pintar sekali masak," puji Radit.
"Sama-sama Pak. Jika Bapak tidak ingin terlihat orang lain berdua denganku, bapak simpan saja kotak bekalnya."
"Tidak, tidak... aku akan menemui di kafe saja di tempatmu bekerja, gimana? Pukul berapa kamu kerja?"
"Besok saya libur kerja Pak, dalam seminggu saya libur satu hari. Kalau bapak mau, kita bisa bertemu di kafe dekat rumah saya, gimana?"
"Baiklah, tapi apa kamu masih marah? Kenapa masih manggil aku bapak, panggil Mas lagi ya."
"Aku sudah maafkan ko, Mas."
Radit tersenyum, "Kalau begitu aku tutup teleponnya. Selamat tidur Kay... "
__ADS_1
"Selamat tidur, Mas Radit."
Radit mematikan panggilannya, ia berteriak senang dan bersemangat kembali karena Kayla sudah tak marah lagi padanya.