CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Thania beberapa hari ini tinggal di Apartemen Tristan, ia bolak-balik ke Rumah sakit membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Kayla. Ia berusaha menyampingkan perasaanya sendiri, mengurus kedua temannya adalah yang terpenting saat ini.


Thania menjinjing paper bag dan kotak makan di tangannya. Ia membuka pintu kamar rawat Tristan, saat masuk Tristan menaruh jari di bibirnya, menyuruh Thania jangan berisik.


Thania mengangguk, ia mencari keberadaan Kayla tenyata dia sedang tidur di sofa. Pantas saja Tristan menyuruh dirinya diam. Ia masuk dan menaruh dengan pelan papar bag dan kotak makanan di atas meja.


Ia mendekati Tristan di ranjangnya, "Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Sudah semakin baik, hanya saja kakiku sering terasa sakit. Kadang saat tengah malam, rasa sakitnya tak bisa tertahankan. Tapi aku tak ingin membuat Kayla cemas, jadi hanya bisa menahan rasa sakitnya sendirian."


"Tris, jika sakit jangan tahan sendiri. Kayla benar-benar menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang menimpamu. Jika nanti dia tau kamu sengaja menahan rasa sakitmu dan tak memberitahunya dia akan semakin menyalahkan dirinya sendiri."


"Aku terlalu mencintainya, rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa cintaku padanya."


Thania tersenyum getir, betapa beruntung Kayla jika mendapatkan lelaki sehebat Tristan.


"Uhm..."


Tristan dan Thania menengok ke arah Kayla saat mendengar gumamannya.


"Sayang, ini mama. Kemarilah... peluk mama."


Kayla mengigau dalam tidurnya, matanya basah oleh airmata.


"Kau lihat kan, Kayla sendiri sedang bertarung dengan penderitaannya. Mana mungkin aku menambahkan beban padanya dengan rasa sakitku."


Tristan menatap Kayla penuh cinta, membuat Thania tak sanggup menatap wajah Tristan lebih lama.


"Aku akan keluar, jika nanti Kayla bangun suruh dia makan dan mandi. Di dalam paper bag ada baju ganti untuknya."


Thania dengan cepat keluar, setelah diluar ia menutup pintu dan menyenderkan kepalanya di pintu, menahan airmatanya. "Kenapa sesakit ini?"


Kayla memakan masakan Thania sedikit, dia tak punya selera untuk makan. Jika Tristan tak memaksanya makan, mungkin dia akan membiarkan perutnya kelaparan.


Kayla menelepon Thania saat tak melihatnya di sekitar kamar rawat, tapi ponselnya tak aktif. Mencoba meneleponnya sampai esok harinya masih tetap tak ada kabar dari Thania.


"Tris, aku harus kembali ke Apartemen. Aku mencoba menghubungi Thania, nomernya tak aktif. Aku hanya khawatir."


"Pergilah, jika perlu apa-apa aku akan memijit tombol memanggil perawat."

__ADS_1


Kayla bergegas pergi ke Apartemen, tapi tak menemukan keberadaan Thania.


*


Melvin mengikuti permintaan Ibunya, ikut andil dalam persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Mencoba beberapa jas pengantin yang akan dipakainya nanti.


Melvin juga mengantar Renata mencoba gaun pengantinnya. Renata terlihat cantik dengan gaun putih pengantinnya. Melvin masih menunggu kejujuran Renata, ia tak ingin memaksa Renata.


"Hari ini sudah cukup, aku akan mengantarmu pulang," nada bicara Melvin sedikit ketus.


Renata menatap punggung Melvin yang berjalan di depannya, sikap Melvin padanya terlihat hangat diluar tapi Renata terkadang bisa merasakan sikap dinginnya.


*


Setelah mengantar Renata pulang, Melvin mendapat telepon dari rekan bisnisnya untuk bertemu membahas pekerjaan.


"Rian, ke Restoran MV."


"Baik bos."


Melvin berjanji bertemu di ruangan privat, setelah selesai menyepakati kerjasama barunya Melvin berjalan keluar dari ruang privat.


Sebuah suara wanita memanggilnya, ia berbalik dan mengenalinya. "Ya, Nona Thania."


Thania tak menyangka setelah kembali ke Indonesia semalam, hari ini ia akan bertemu dengan Melvin. Pria yang dibilang Kayla sangat mirip Radit. Thania sebenarnya sudah mengikhlaskan Tristan bersama Kayla tapi jauh di dalam lubuk hatinya ada suatu perasaan yang tidak bisa ia diartikan.


Thania menggigit bibirnya, ia sempat ragu tapi akhirnya memberanikan diri bicara pada Melvin.


"Bisa sebentar saja kita bicara?"


Melvin menatapnya tajam. "Jika tentang Kayla sepertinya tidak usah, aku sudah tak perduli padanya." Melvin menolak lalu mulai melangkah pergi.


"Ini tentang kisah hidupnya, apa kau tau alasan Kayla tak mempertahankan anakmu yang dikandungnya?"


Langkah Melvin terhenti. Ia berbalik badan, "Baiklah, mari bicara di dalam."


Melvin kembali memesan ruangan dan masuk bersama Thania.


Melvin tak ingin duduk, ia berdiri di depan jendela restoran, matanya tertuju ke jalan yang dipadati mobil dibawah sana. Melvin memegang sebuah gelas berisi air, terus menerus meminumnya karena gugup, tiba-tiba hatinya merasakan perasaan aneh.

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"


Thania menarik nafas panjang, "Kayla berbuat seperti itu agar bisa menemukan anaknya yang hilang tiga tahun lalu. Anaknya bersama tunangannya yang bernama Radit, seorang pria yang berwajah sama denganmu."


Prang!


Gelas meluncur dari tangan Melvin, hancur berkeping-keping. Pecahan beling tertancap di punggung tangan Melvin tapi tak membuatnya meringis kesakitan.


Melvin berbalik badan menatap Thania dengan pandangan mengerikan. Sorot mata Melvin penuh kesakitan, jantungnya seperti baru saja ditusuk sebuah pisau.


"Ka-katakan sekali, anak? Anak kami?"


Melvin sudah kehilangan akal, tak sadar membongkar identitasnya sendiri sebagai Radit.


Kedua mata Thania membulat, tak mempercayai pendengarannya "Anakmu? Apa maksudnya kau adalah Radit?!"


"KATAKAN! Apa maksudmu anaknya?"


"Dulu saat Kayla bertunangan dengan Radit, ia sedang mengandung anaknya bersama Radit. Tapi saat Kayla akan memberitahu Radit, sebuah kecelakaan membuat Radit meninggal dunia, meninggalkan Kayla bersama anak dalam kandungannya."


"Ah, hah... ahhfgtt" Melvin menekan dadanya, jantungnya terasa sangat sakit.


"Tuan Melvin! Kau tidak apa-apa?"


"Lanjutkan... " lirihnya.


Kemudian Thania mulai menceritakan semuanya dari saat Kayla ketahuan hamil oleh orang tuanya dan akhirnya dibuang ke Paris tanpa uang yang memadai untuk bertahan hidup. Bahkan saat mengandung anaknya, Kayla sempat kelaparan tapi tetap mencoba bertahan. Thania juga menceritakan tentang bagaimana anaknya diambil dari Kayla oleh orang tuanya saat baru saja dilahirkan, hingga membuat Kayla hampir meninggal membeku di jalanan saat mencari anaknya.


Thania menatap Melvin yang terduduk menangis mendengar ceritanya, ia kini yakin Melvin adalah Radit.


Thania melanjutkan ceritanya, jika Kayla dipaksa menikah dengan Rico karena dijanjikan orang tuanya akan mengembalikan anaknya. Tapi ternyata orang tuanya berbohong.


"Cukup!! Cukup! Hiks... hiks.. "


Melvin menangis seperti anak kecil, ia menggenggam pecahan kaca di lantai membuat darah mengalir deras dari telapak tangannya.


"Jika kamu memang Radit, temui Kayla. Mohon ampunan padanya, dia pergi ke Paris untuk mencari anaknya, anak kalian. Tapi, sepertinya sekarang sudah terlambat jika kamu ingin mendapatkan hatinya. Seorang pria sudah rela mengorbankan nyawanya menolong Kayla, kini pria itu sedang di Rumah sakit karena tak bisa berjalan."


Thania menatap Melvin yang masih menangis, tapi tak ada rasa kasihan di hatinya. "Kau pantas mendapatkannya!"

__ADS_1


Thania pun pergi meninggalkan Melvin yang terpuruk dengan segala penyesalan dan kesedihannya.


__ADS_2