
Setelah mendengar kehidupan Kayla selama empat tahun ini, apalagi tentang anaknya. Melvin menaruh kecurigaan pada putra adopsi adik perempuannya. Dengan cepat ia memeriksa DNA miliknya dengan anak itu.
Melvin meminta satu hari harus selesai, saat ini ia sedang memegang hasil tes DNA di tangannya. Tangan Melvin gemetar saat menarik kertas hasil DNA dari dalam amplop map.
Hasil tes DNA 99,99% sobyek A dan subyek B cocok. "Anakku! Kayla! Dia anak kita!" Melvin berseru senang.
Melvin tak sabar bertemu anaknya, ia menyuruh Rian mengebut agar segera sampai dirumah orang tuanya.
Melvin berlari masuk ke dalam rumah mencari keberadaan anaknya, mendapati Daffin sedang bermain di kamar Selvi. "Anakku!" Seraya merangkul putranya menangis haru.
Selvi menutup mulutnya dengan kedua tangan, semalam saat kakaknya itu meminta rambut Daffin, Selvi memberikannya dan hanya menaruh kecurigaan tanpa bertanya apapun. Melihat kakaknya berteriak memanggil Daffin anaknya, sepertinya Daffin benar-benar putra kakaknya.
"Sel, makasih. Atas ijin Tuhan, kamu membawa anak abang pulang. Dia anak abang, anak abang... tunggu! Abang harus cepat menemui Ibu kandung Daffin. Sel, siapkan barang-barang kebutuhan Daffin dan pakaiannya. Abang akan menjelaskannya nanti, abang harus segera pergi membawanya," Melvin menggendong Daffin lalu membawanya ke kamarnya untuk mengepak pakaiannya sendiri.
Selvi bingung tapi melihat Kakaknya seperti itu, ia hanya menuruti permintaan kakaknya dan mulai mengepak semua kebutuhan Daffin.
Saat selesai mengepak pakaiannya ke dalam koper, Melvin baru teringat empat hari lagi dia akan menikah. "Renata!"
Melvin mencari ponselnya, memijit nomer Renata, "Halo, bisakah kamu datang ke rumahku. Aku akan menunggumu dirumahku. Bukan, jangan datang ke rumah mamaku. Iya, ok aku tunggu."
Melvin menatap layar ponselnya, " Maaf Renata, aku tak bisa lagi melanjutkan semuanya. Aku akan jujur tentang Melvin padamu, meskipun aku tau hatimu akan terluka. Tapi demi kamu, aku juga sudah menyakiti wanita yang aku cintai."
__ADS_1
Melvin membawa Daffin ke rumahnya sendiri, memanggil Bi Titin untuk mengurusnya saat Renata datang.
Renata menatap Daffin, "Keponakanmu ada disini, dimana Selvi?"
Melvin menarik nafas, menyiapkan mentalnya. "Dia anak kandungku."
Renata awalnya mengira Melvin bercanda, tapi saat melihat raut wajah Melvin yang serius ia tau Melvin mengatakan kebenaran.
"Kak Melvin!" Renata seketika berdiri, menatap marah pada Melvin.
"Renata... dengarkan ceritaku dulu, duduklah. Kamu sedang hamil, tidak baik untuk janinmu jika marah."
Renata menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, menenangkan dirinya. Ia duduk kembali, tapi telapak tangannya terasa dingin.
Renata menatap Melvin seolah Melvin gila, tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya. "Apa sebenarnya maksudmu mengarang semua cerita ini kak? Kamu tidak ingin menikahiku jadi membuat alasan konyol seperti ini!"
"Aku berkata jujur, dengarkan ceritaku sampai selesai dan kamu juga pasti merasa bukan? Kalau aku tak sehangat dulu lagi padamu. Apa kamu tak merasakan perbedaannya?"
Melvin kemudian mulai menceritakan tentang dirinya dan Kayla yang sudah bertunangan dan berencana akan menikah sebelum kecelakaan itu terjadi. Kemudian menceritakan saat ingatannya yang baru pulih beberapa bulan lalu, sampai akhirnya sekarang dia menemukan anaknya dengan Kayla.
"Tidak! Kau bohong! Kak Melvin belum meninggal, tidak!" Renata memegang perutnya yang terasa sakit, ia meringis kesakitan.
__ADS_1
Melvin panik, ia hanya teringat Jarvis lalu meneleponnya, "Jarvis! Cepat ke rumah abang! Bukan rumah mama, iya Renata meringis kesakitan sambil memegang perutnya, abang takut dia kenapa-napa. Cepat!"
Sekitar lima belas menit Jarvis datang masih dengan mengenakan mantel Dokternya, dia membawa seorang Dokter wanita spesialis kandungan, "Ada apa? Dimana Renata?"
"Dikamar bawah, masuklah cepat periksa dia."
Tubuh Jarvis bergetar hebat, memikirkan keadaan Renata dan anaknya.
Setelah Dokter kandungan memeriksa keadaan Renata dan berkata jika semuanya baik-baik saja, dan mengatakan jika Renata hanya terlalu shock.
Jarvis segera mendekat dan menggenggam tangan Renata yang sedang berbaring. "Renata, anak kita akan baik-baik saja."
Saat mendengar ucapan Jarvis, Melvin menatap bergantian Jarvis dan Renata, akhirnya dia mengerti apa yang terjadi diantara mereka berdua.
Renata hanya menangis, menatap nanar ke arah samping. Tatapan matanya kosong, tak ingin menatap siapapun karena hatinya sangat berduka.
*
Melvin kini sudah berada dalam pesawat menuju Paris membawa serta anaknya, ia tak ingin berlama-lama dan ingin segera menyelesaikan semua masalah.
Sebelum pergi Melvin menjelaskan semuanya juga pada Jarvis, awalnya respon Jarvis sama seperti Renata tak percaya perkataannya. Tapi saat Melvin mulai menjelaskan perbedaannya, Jarvis akhirnya percaya. "Aku pergi, jaga Renata. Sekarang dia adalah tanggung jawabmu, gentle lah menjadi laki-laki. Aku juga akan pergi memperjuangkan cintaku, kamu juga perjuangkan Renata. Abang tau, hati Renata masih untuk Melvin dan sekarang adalah masa duka untuknya. Dia telah kehilangan pria yang dicintainya sejak kecil untuk selamanya, tapi jangan menyerah mendapatkan hatinya. Perjuangkan dia, bantulah hatinya sembuh."
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa tak tega di hati Melvin melihat kesedihan di mata Renata, tapi ada rasa lega juga saat bisa jujur tentang dirinya. Sekarang ia hanya akan mencoba meminta ampunan pada Kayla, meskipun ia tau tak berhak mendapatkan kata maaf dari wanita yang dicintainya itu.