
Rumi Ibu angkat Radit tak menyerah, dia yakin itu adalah anaknya. Mana mungkin seorang Ibu yang merawatnya dari bayi tak bisa mengenali Putranya.
"Ijinkan saya masuk mba, itu anak saya yang masuk."
Pegawai itu merasa kasihan, "Kalau begitu tunggu sebentar ya, Bu."
Pegawai itu pergi memanggil Manajer Restoran.
Manajer itu masuk ke dalam ruangan, "Permisi Tuan, ada seorang Ibu diluar yang ingin bertemu Anda."
Melvin sedang menyapa Klien Perusahaannya, saat mendengar perkataan Manajer sepertinya ia memang tak bisa menghindar lagi dari Ibunya.
Melvin menyuruh Rian mendekat dan berbisik padanya.
Rian mengangguk dan berjalan keluar ruangan bersama Manajer.
Rian menghampiri Ibu angkat Bosnya, "Mari Bu, saya asisten Tuan Melvin. Silahkan ikut saya dan menunggu di ruangan lain."
"Tolong siapkan satu ruangan lagi," ujar Rian pada Manajer Restoran.
Rumi mengikuti Rian dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya.
"Tunggu disini Bu, Tuan saya sedang ada meeting," Rian undur diri akan keluar.
"Nak, apa namanya Melvin? Bukan Radit?"
__ADS_1
Rian sengaja tak menjawab pertanyaannya, "Ibu bisa menunggu Tuan sambil makan, saya akan pesankan nanti akan ada pegawai restoran yang akan melayani Anda," Rian lalu keluar ruangan.
"Itu adalah anakku Radit, aku tak salah mengenalinya," gumamnya yakin.
Setengah jam kemudian, pintu ke ruangan Rumi terbuka. Melvin melihat ada beberapa makanan di meja, tapi sepertinya Ibu angkatnya tidak menyentuhnya sama sekali.
Rumi bangun dari duduknya saat melihat anaknya masuk, "Kamu anakku Radit, bukan?"
Melvin berjalan mendekat dan duduk di seberang meja, "Duduklah."
Rumi pun duduk, air matanya membasahi wajahnya.
Melvin menatap Rumi dengan datar, tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Selama menunggu anaknya tadi, Rumi sudah berpikir terus menerus apa yag terjadi pada putranya selama ini. Dengan kedua matanya sendiri dan tangannya dia menguburkan tubuh dingin putranya di dalam tanah merah empat tahun lalu.
"Aku tidak akan mengelak, aku memang Radit. Tapi sekarang aku adalah Melvin, bukan lagi Radit putramu," Melvin bagai menjatuhkan sebuah bom pada Rumi.
Kedua mata Rumi melebar, seketika menangis tersedu-sedu lalu bangkit dari duduknya ingin memeluk putranya.
Tapi tangan Melvin terangkat, menghentikan gerakan Rumi.
"Duduklah, aku belum selesai bicara."
Rumi terduduk kembali, ia menatap Melvin bertanya-tanya melihat sikapnya padanya seperti itu.
__ADS_1
"Aku tau Ibu bukan Ibu kandungku, aku juga sudah memeriksa perihal kelahiranku. Aku sudah memafkan Ibu atas semuanya, dan menghargai semua jasamu membesarkanku. Tapi sekarang akan ada banyak hati orang yang terluka jika tau aku adalah Radit. Mereka adalah keluarga kandungku, mereka pasti akan bersedih jika tau Melvin putra yang sudah mereka besarkan selama berpuluh-puluh tahun sudah meninggal."
"Lalu Ibu? Aku juga kehilangan putra yang kusayangi dan kubesarkan dari bayi," Rumi terisak menangis.
"Ingatanku baru pulih beberapa bulan ini, selama empat tahun setelah kecelakaan itu aku kehilangan semua ingatanku. Aku tidak melupakan jasa-jasamu, bukankah beberapa bulan ini Ibu mendapatkan kiriman uang?"
Rumi mengangguk, "Ya, apa itu darimu nak?"
"Ya, aku tau Ayah masih berobat jalan dan membutuhkan banyak uang. Bahkan pekerjaanku dulu saat menjadi Dosen dan Arsitek tak bisa mencukupi hidup kita. Dengan aku menjadi Melvin sekarang, jika Ayah ingin berobat ke luar negeri pun aku akan sanggup membiayainya. Jadi Ibu, Radit sudah mati. Mengerti?"
Rumi akhirnya mengerti keputusan putranya tidak kembali menjadi putranya setelah ingatannya pulih, ternyata putranya masih sayang padanya dan suaminya.
"Baiklah nak, aku akan mendengarkanmu. Tentang uang itu, Ibu berterimakasih. Ibu juga sekarang bekerja menjadi agen polis asuransi, untuk menyambung hidup setelah kamu meninggal. Sekarang Ibu disini sedang bertemu Klien, mungkin memang sudah Takdir bertemu denganmu disini."
Melvin menghembuskan nafasnya lega, untung saja Ibu angkatnya bisa mengerti.
"Nak, sebenarnya Ibu punya dosa padamu yang sampai sekarang Ibu masih menyesalinya. Gara-gara itu kamu akhirnya mengalami kecelakaan."
Melvin mengerutkan keningnya, "Dosa apa?"
Saat ingin mengatakan kebenarannya, Rumi seketika ketakutan jika putranya tau sekarang bukankah putranya akan membencinya dan marah padanya? Tidak! ia akan kehilangan putranya lagi, biarlah semua dosanya di masa lalu terkubur.
"Ti-tidak... Ibu hanya mengingat dosa Ibu yang tidak mengenali itu bukan kamu saat Ibu memeriksa tubuh yang meninggal. Maafkan Ibu."
"Sudahlah Ibu, sekarang makanlah. Makanannya sudah dingin."
__ADS_1
Rumi tak ingin membahasnya lagi, bahwa dirinya dulu berbohong tentang Kayla yang akan menikah dengan pria kaya. Orang tua Kayla mengiriminya uang yang banyak saat itu, agar dirinya mau bekerja sama memisahkan mereka berdua. Orang tuanya bilang, Kayla akan mereka jodohkan dengan pria kaya. Ia saat itu hanya tidak ingin putranya menikah dengan Kayla, yang hubungan mereka tak pernah direstui orang tuanya.