
Catatan : Author mulai pakai nama Radit lagi ya.
...*******...
Radit membawa Kayla ke Hotel untuk bertemu anak mereka, tapi sikap Kayla padanya masih menjaga jarak. Radit juga tak ingin memaksa Kayla untuk menerimanya dengan cepat, ia sendiri belum bisa memaafkan kesalahaannya pada Kayla selama menjadi Melvin.
Pintu kamar hotel terbuka, Kayla merasa dirinya masih bermimpi karena anaknya sekarang ada di depan matanya.
Kayla memeluk anaknya erat, tak berhenti menangis membuat Daffin ikut menangis walaupun dia tak mengerti kenapa wanita yang memeluknya menangis.
"Ah, maaf sayang. Mama tidak menangis lagi, maafkan mama ya. Jangan menangis, maaf... kamu kaget ya."
Kayla menggendongnya, menenangkan Daffin sampai anaknya tertawa lalu meminta susu. "Cucu... Momi cucu... " Daffin menatap Selvi Ibu adopsinya, menjulurkan kedua tangannya minta digendong.
"Sebentar sayang, mommy buatkan dulu ya. Daffin coba panggil tante ini mama, ok. Daffin nurut sama mommy ya dan panggil paman ini papa." Dengan suara bergetar menahan tangis, Selvi mencoba membantu Kakaknya, meskipun berat baginya memberikan putra adopsinya itu walaupun pada kakaknya sendiri.
Kayla tersadar jika dia mengambil Daffin anaknya, akan ada hati seorang Ibu yang akan tersakiti, "Selvi, maafkan aku. Sekarang aku gak tau harus gimana, aku hanya merasa bahagia bertemu anakku setelah tiga tahun telah melahirkannya tapi baru memeluknya sekarang. Maaf."
Selvi tersenyum menguatkan, "Aku tidak apa-apa, aku memang sudah ingin mengadopsi anak karena sudah lima tahun menikah aku dan suamiku belum bisa memiliki anak. Tapi sebenarnya kami hanya tidak sabar untuk punya seorang anak, padahal aku dan suamiku sama-sama sehat untuk mempunyai anak kandung kami sendiri."
Kayla memeluk Selvi, "Kamu telah berbuat baik. Tuhan akan membalasmu, terimakasih."
Rian melihat Bos-nya menatap mereka berpelukan, dia menyenggol lengan Radit, "Bos, kalau mau berpelukan aku siap dipeluk," ucapnya sambil nyengir.
Radit hanya fokus menatap Kayla dan anak mereka, bahkan celotehan Rian tak dia gubris.
"Hais, aku pergi saja lah. Susah ya ngadepin Bos yang lagi super duper bahagia," Rian berceloteh sendiri lalu pergi keluar.
*
__ADS_1
Setelahnya Kayla pergi ke Rumah sakit, ia terlalu lama meninggalkan Tristan. Meskipun Radit bilang dia sudah menitipkan Tristan pada seorang perawat tetap saja hatinya tidak bisa tenang. Apalagi dia harus memperjelas hubungannya dengan Tristan, dia tak ingin memberikan harapan palsu.
Di dalam mobil, Kayla terus memeluk anaknya. Menyalurkan rasa rindunya selama tiga tahun ini.
"Daffin, mau mama cium gak?"
"Mau," Radit menjawab cepat, dia merasa sedikit kesal terus didiamkan Kayla.
Mata bulat Daffin menatap mereka berdua bergantian.
Kayla tak menghiraukan Radit. "Nanti malam, Daffin tidur sama mama ya."
"Aku gak diajak?" celetuk Radit lagi.
Akhirnya Kayla mengunci mulutnya, merasa sebal karena Radit seperti anak kecil. Ia memang sudah memaafkan kebohongan Radit selama ini, tapi ia masih punya rasa tanggung jawab pada Tristan, ia tak bisa bersikap kejam pada Tristan saat tau Tristan mencintai dirinya. Kayla hanya ingin meluruskan sesuatu dengan Tristan, jika pun akhirnya ia akan membuka hatinya kembali untuk Radit tapi setidaknya Tristan butuh kejelasan.
Tristan sedang membaca buku, dia mengangkat wajahnya melihat ke arah suara pintu yang terbuka.
Terkejut? Itu sudah pasti saat melihat Kayla menggendong seorang anak kecil, tapi lebih terkejut lagi akan keberadaan Melvin di belakang Kayla.
Kayla maju mendekat, "Tris, aku menemukan anakku. Namanya Daffin, sepertinya nasib mempermainkan kami. Saat kita mencarinya disini, anakku sudah berada di tangan Ayah kandungnya."
Tristan belum mengerti yang dibicarakan Kayla, "Aku tidak mengerti Kay, jelaskan lebih ringkas."
Kayla menggigit bibirnya, "Melvin sebenarnya adalah Radit, mereka berdua saudara kembar dan selama ini dia hilang ingatan lalu menjadi Melvin. Itu bukan kehendaknya, ingatannya juga pulih baru-baru ini saat itulah dia sengaja mendekatiku. Dia pikir selama ini aku mengkhianatinya karena itu dia selalu menyakitiku. Tentang bagaimana Radit menjadi Melvin, aku akan menjelaskannya nanti. Tris... aku sudah menemukan anakku, ternyata dia di adopsi adik perempuan Radit."
Tatapan Tristan mengarah ke sosok Radit di pintu, "Jadi selama ini kau adalah Radit?"
Radit menghampiri Kayla dan Tristan, "Baru beberapa bulan ini aku ingat siapa diriku, selama hampir 3 tahun lebih aku kehilangan ingatan. Dulu saat aku mengemudi untuk menemui Kayla , aku tak sengaja bertabrakan dengan mobil Melvin yang sedang berada di Surabaya. Keluarga kami salah membawa anak-anaknya. Keluarga angkatku menguburkan Melvin, sedangkan keluarga asliku merawatku dan membawaku ke Jakarta."
__ADS_1
"Kenapa kau menyakiti Kayla, apakah selama ini kau sengaja mendekatinya?" Cecar Tristan, dia langsung tersadar jika cintanya sudah kalah dari cinta mereka berdua. Bagaimana tidak? Radit yang selalu dicintai Kayla sekarang ada di hadapan Kayla. Tristan tau meskipun ia terus berjuang, cintanya takkan pernah terbalas.
"Ya, aku sengaja. Aku ingin membalas sakit hatiku, dulu saat kami akan menikah Ibu angkatku bilang kalau Kayla akan menikah dengan orang kaya. Saat itu lah aku mengalami kecelakaan, saat ingatanku pulih benar saja Kayla menikah dengan Rico. Aku dulu hanyalah orang biasa, yang hanya berprofesi seorang Dosen."
"Tunggu! Ibumu bilang apa? Aku akan menikah dengan pria kaya?" Kayla menatap Radit tak mengerti.
Tristan membuka mulutnya kembali, ingin menanyakan sesuatu tapi terpotong ucapan Kayla.
"Mungkin itu sebuah kesalahpahaman Ibuku, tapi Kay tidak mungkin kan Ibuku berbohong padaku?"
"Radit! Dan kau percaya Ibumu begitu saja?" Kayla tak habis pikir ternyata dulu rasa percaya Radit padanya begitu tipis.
"Bukan aku tak percaya, Ibuku memberikan foto kau sedang bersama Rico di satu ruangan. Bahkan aku masih ingat, saat kita menghadiri ulang tahun salah satu temanmu, Rico terus saja memandangimu sampai acara selesai! Meskipun aku baru pertama kali melihatnya, tapi aku masih ingat dengan wajah Rico karena wajahnya membuatku jengkel!"
Tristan terjebak ditengah-tengah pertengkaran sepasang kekasih.
"Tunggu! Bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian diluar sana. Dan lihat, anak kalian sampai kaget."
Kayla baru tersadar, benar saja Daffin sedang menatapnya dengan bibirnya yang akan menangis. "Maaf sayang. Daffin tunggu dulu sama Papamu diluar, mama harus bicara dengan Paman ini ya," Kayla sebenarnya masih kesal dan masih ingin berdebat dengan Radit tapi sekarang tujuannya datang adalah bicara dengan Tristan. Kayla memberikan Daffin ke pelukan Radit.
Radit segera menggendongnya, "Ayo, sama papa tunggu mama galakmu diluar," Radit lalu kabur keluar.
Tristan menghela nafasnya, melihat tingkah Kayla dan Radit serta anak mereka yang sudah berada ditangan Kayla, sekarang dia sudah tak ingin berharap lagi pada Kayla. Dengan ditemukannya anak Kayla, sudah membuatnya merasa lega dan ikut bahagia. "Selamat Kay, kamu akhirnya menemukan anak yang selama ini menjadi penyemangat hidupmu."
Kayla menarik tangan Tristan menggenggamnya, "Tris, aku tau sekarang permintaan maaf dan rasa terimakasihku takkan cukup untuk menebus semua kebaikanmu untukku. Tapi setiap manusia mempunyai takdir dan jalannya masing-masing. Jodohmu bukan aku, tapi aku yakin jodohmu sedang mendekat padamu. Contohnya Thania, apa kamu tidak tau jika selama ini Thania menyukaimu?"
Kayla tadi menginterogasi Radit sebelum datang ke Rumah Sakit darimana Radit mengetahui kode pintu Apartemen, dan mengatakan jika dia tau dari Thania.
Bahkan Radit mengatakan jika Thania lah yang menceritakan kisah Kayla selama empat tahun ini. Radit juga bilang, sepertinya Thania menyukai Tristan, saat Radit mengatakannya Kayla mengingat kembali perkataan Thania saat pertama kali datang ke Indonesia dan bilang dia datang untuk mengejar seorang pria, jadi Kayla pikir mungkin pria itu adalah Tristan.
__ADS_1