CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
DIBALIK TRAGEDI ADA BERKAH


__ADS_3

Radit melihat pergerakan kecil Kayla, merasa kasihan dan juga merasa marah pada orang-orang tadi yang membuat Kayla seperti sekarang .


"Mau masuk ke kamar hotelku, ettss jangan berpikir macam-macam. Kamu tidak mau ke rumah sakit, aku hanya ingin memberimu minum. Kamu pasti sangat ketakutan."


Kayla menggigit bibir bawahnya, tapi akhirnya mengangguk.


Radit membuka pintu kamar hotelnya yang kebetulan persis disamping kamar hotel yang dipesan Stella.


"Duduklah, aku akan ambil minum untukmu."


Radit berjalan ke lemari pendingin dan mengambil satu botol air putih lalu menuangkannya di gelas.


"Ini, minumlah."


Dengan tangan masih gemetar, Kayla mengambil air minum yang diberikan Radit. "Makasih."


"Kamu bekerja disini?" tanya Radit


Kayla mengangguk.


"Apa kamu mengenal mereka?"


"Tidak, tapi ada saudara perempuanku diantara mereka."


"Apa kalian tidak akur? Dia sengaja melakukan semua ini padamu?"


Kayla menunduk, menahan isak tangisnya tak ingin Radit melihat air matanya.


Radit tak bertanya lebih banyak lagi, ia tak mau Kayla sampai trauma.


"Baiklah, sebaiknya kamu jangan melanjutkan bekerja. Telepon atasanmu dan minta ijinlah."


Kayla tak menjawab, sebenarnya dirinya masih shock dengan yang terjadi barusan.


"Kamu masih takut untuk pulang?"


Kayla mengangguk lagi.

__ADS_1


"Hm, baiklah begini saja. Beristirahatlah dulu disini, aku akan keluar mencari makanan, jadi kamu bisa istirahat dengan tenang."


Kayla tak menjawab. Radit berdiri dan mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Kayla.


"Aku pergi."


Radit berjalan ke pintu membukanya, berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya.


Kayla memalingkan wajahnya ke arah kepergian Radit, lalu menatap sekeliling kamar hotel Radit.


"Sedang apa dia disini?" Gumamnya.


Kayla merasa lelah, ia merebahkan tubuhnya ke sofa memejamkan kedua matanya.


Satu jam kemudian Radit kembali, dia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Karena khawatir, dia membuka pintu.


Saat masuk Radit melihat Kayla yang meringkuk di sofa, wajah Kayla penuh dengan air mata.


Radit menutup pintu berjalan masuk dan mendekati sofa. Merasa iba melihat keadaan Kayla, ia mengambil tisu untuk menghapus air mata di wajahnya.


Tangan Radit sedang menghapus air mata di pinggir wajah Kayla, saat mata Kayla terbuka dan menatapnya.


Kayla perlahan bangun, ia malah tersenyum. "Saya tau Pak, bapak bukan orang seperti itu."


Radit merasa lega, ia berdiri dan duduk di depan Kayla, diantara mereka hanya terhalang oleh meja kecil.


"Makanlah, aku bawa makanan dari luar. Meskipun aku menginap di Hotel tapi uangku tak banyak untuk memesan makanan Hotel."


Radit mengambil bungkusan dari dalam kantong, membuka bungkusan itu dan ternyata itu nasi padang.


Kayla terkekeh, membuat Radit menatapnya. "Kamu mengejekku?"


Kayla langsung menggeleng, "Tidak Pak, hanya saja jika Bapak tidak banyak uang, sedang apa Bapak di hotel. Disini lumayan mahal."


"Ooh kamar hotel ini, kemarin malam aku bertemu dengan klien yang ingin melihat sketsa bangunan. Selain menjadi Dosen, aku juga seorang arsitek. Kebetulan Klienku dari luar negeri, dia menginap di hotel ini dan ini adalah kamarnya. Kami bertemu disini, tapi karena dia mendadak ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan harus kembali ke negaranya, akhirnya kami hanya berbincang sebentar. Dia bilang sudah menyewa kamar hotel ini dan langsung membayarnya selama dua hari, jadi dia bilang sayang jika tidak ditinggali dan akhirnya dia menawariku tinggal di kamar hotel ini."


"Ahh," Kayla mengerti.

__ADS_1


"Makanlah, aku bawa dua bungkus."


Kayla berterimakasih dan mulai memasukkan nasi padang ke dalam mulutnya.


Radit tersenyum dan mulai ikut memakan nasi padangnya sendiri. Sesekali sudut matanya melirik ke arah Kayla, mulai tertarik ingin tau kehidupan yang dijalani Kayla.


Setelah selesai, Kayla berterimakasih kembali. Ia sangat menghargai kebaikan Radit. "Makasih, Pak."


"Tak usah sungkan, jika diluar kampus jangan panggil aku bapak terkesan aku sudah tua. Aku belum setua itu, hehe."


Kayla ikut tersenyum.


"Sekarang gimana? Sudah merasa baikan? Mau aku antar pulang?"


"Pak Radit tidak keberatan mengantarku pulang?"


"Bapak lagi, panggil sebutan lain. Dan tentu saja aku tak keberatan mengantarmu."


"Saya panggil Mas Radit, gak apa-apa kan?"


Radit tertawa, "Cukup enak di dengar. Ayo bersiaplah, kamu harus ambil barang-barangmu juga kan. Kemejaku pakailah dulu."


Kayla mengangguk dan mengancingkan kemeja Radit dan memasukkan ujung kemeja ke dalam celana panjangnya.


Radit menahan rasa gelinya melihat Kayla yang memakai kemejanya yang kebesaran, tangan Kayla bahkan tak terlihat karena termakan kemejanya.


"Kayla, sebentar." Radit menggulung kedua lengan kemeja yang dipakai Kayla, akhirnya memperlihatkan tangan kurusnya, "Selesai. Ayo," ajaknya.


Kayla mengambil tasnya di ruangan pegawai, berjalan keluar hotel bersama Radit.


Radit memanggil sebuah taksi yang sedang mangkal diluar hotel dan menaikinya bersama Kayla.


Setelah sampai di depan rumah Kayla, Radit tidak ikut turun.


"Sekali lagi, terimakasih Mas."


"Aku pergi, jaga dirimu," balas Radit.

__ADS_1


Kayla menatap taksi yang membawa Radit pergi, bibirnya tak kuasa menahan senyum. Tanpa disangka dibalik tragedi tadi, ia bisa bersama dengan Radit.


__ADS_2