CINTAKU HANYA SANG MANTAN

CINTAKU HANYA SANG MANTAN
SEPARUH JIWA SUDAH PERGI


__ADS_3

Di kamarnya Kayla pun melakukan hal yang sama, dia berteriak senang karena Radit meneleponnya dan berani menjelaskan tentang sikapnya padanya tadi siang. Saat memikirkan pertemuan mereka berdua besok, jantungnya berdebar kencang.


"Jantungku," Kayla memegang dadanya yang berdebar-debar.


Kayla mencoba untuk tidur dan menutup kedua matanya, tapi karena jantungnya tak berhenti berdebar, tengah malam akhirnya dia baru bisa terlelap dan masuk ke alam mimpi indahnya.


Paginya, Kayla menerima chat di WhatsApp nya. Ternyata dari Radit, ia langsung save nomernya. Radit ingin bertemu dengannya di Kafe dekat rumahnya pukul 9 pagi.


Kayla dengan cepat bangun dan berlari ke kamar mandi. Karena tak berhati-hati, kakinya terantuk pintu kamar mandi membuat mata kakinya membiru.


"Aih, ada-ada aja. Bodo ah, nanti aja aku obatin."


Kayla kini sudah siap dengan dress selututnya, ia hanya punya dres cantik itu satu-satunya. Harganya sedikit mahal dari semua bajunya yang murah, tapi ia membelinya dari hasil keringatnya bekerja.


Untung saja ia pernah menabung untuk membeli dress yang dipakainya sekarang, saat membelinya ia berpikir dress-nya hanya untuk berjaga-jaga saja tak taunya akhirnya dirinya memakainya untuk bertemu Radit. Ia merasa pertemuan sekarang seperti sebuah kencan.


Kayla melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.45 pagi. Ia bergegas turun kebawah, berjalan kaki ke kafe dekat rumahnya yang hanya berjarak 5 menit.


Kayla masuk ke dalam kafe, mencari tempat duduk yang kosong. Ia menemukan tempat duduk di dekat jendela, ia lalu berjalan ke arah meja itu lalu duduk dan menunggu Radit.


Beberapa menit kemudian, Kayla melihat Radit dari balik jendela, penampilan Radit saat itu takkan pernah bisa ia lupakan. Penampilan Radit mampu membuat semua wanita rela bertekuk lutut di kakinya, membuat jantung Kayla kembali berdebar tak karuan.


FLASHBACK OFF.

__ADS_1


"Kak Kayla!"


Kayla tersentak dari lamunannya, menatap wajah yang memanggilnya. Ternyata Billy adiknya, seperkian detik tadi ia sempat membayangkan itu adalah Radit.


"Maaf, Kakak sedikit melamun."


Billy duduk di seberang Kayla duduk. Dia memberikan kopi kesukaan Kayla.


"Ini, aku gak tau selera kakak sekarang. Hanya kopi ini yang aku tau, jadi kalau kakak mau yang lain pesan lagi aja."


"Makasih Bill, gak lah. Selera kakak dalam hal apapun takkan pernah berubah." Kayla tersenyum, ucapannya penuh dengan makna.


Billy tau apa yang dibicarakan kakaknya. "Kak Radit kah? Kakak masih belum bisa melupakannya? Aku bahkan dengar kakak sudah bercerai dari Kak Rico."


Billy menghela nafasnya, "Lepaskan orang yang sudah meninggal kak, tak bisakah kakak melepaskan masa lalumu?"


Kayla menggeleng.


"Sudah, jangan bicarakan tentang kakak. Kapan kamu pulang dari Jerman?"


"Dua hari lalu, skripsiku sudah selesai. Aku sedang mencari pekerjaan di berbagai Perusahaan kecuali Perusahaan Papa, aku tak ingin bekerja disana. Eh saat aku pulang, ternyata Papa dilaporkan karena Perusahaan Papa tak bisa membayar dana proyek barunya. Papa dituntut oleh mereka, aku baru saja pulang dari penjara."


"Hm, kakak akan menemui Papa nanti."

__ADS_1


"Jangan, kakak sudah tak ada tanggung jawab lagi pada kami. Jalani hidup kakak dengan baik, menjauh dari Papa dan Mama. Sudah waktunya kakak terbebas dari mereka, kakak sudah terlalu banyak menderita."


Kayla tersenyum pahit, "Separuh jiwa kakak sudah lama pergi, saat ini kakak bahkan sudah tak tau rasanya bahagia itu bagaimana. Kini kakak hanya ingin menemukan anak kakak yang hilang."


Kayla mengalihkan tatapannya ke arah jendela lagi, pandangannya menerawang jauh.


*


Malam itu, Melvin gelisah dalam tidurnya. Baru saja sehari ia ditinggalkan oleh Kayla rasanya seakan lehernya tercekik, susah sekali bernafas.


Melvin akhirnya bangun, berjalan keluar kamarnya dan masuk ke ruang kerja Ayahnya. Biasanya Ayahnya selalu menyimpan minuman di dalam lemari rak nya.


"Kamu mencari apa?" tanya Ayahnya yang baru saja masuk.


"Aku hanya sedikit banyak pikiran Pah, mencari minuman yang mungkin bisa menenangkan pikiranku dan membuatku bisa tidur."


Mahendra melihat wajah putra sulungnya yang kusut, benar-benar seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Mahendra berjalan ke meja kerjanya, menarik laci bagian bawah dan mengambil wiski dari dalamnya.


"Ini, minumlah. Setelah selesai amankan, jangan sampai Ibumu tau. Minumanku sudah Ibumu sita, hanya tinggal ini satu-satunya."


Kemudian Mahendra pergi keluar meninggalkan putranya dengan kegalauannya. Ia juga tau apa yang terjadi pada putranya beberapa hari ini, tapi dirinya tak ingin ikut campur jika sudah menyangkut masalah perasaan.


Melvin langsung membuka tutup botol wiski, menelan wiski di dalamnya dengan cepat sampai akhirnya tersedak. "Uhuk... Uhuk.. "

__ADS_1


Melvin terbatuk parah, air matanya mengalir deras. Dia belum sadar dirinya menangis bukan karena tersedak tapi karena dirinya sudah kehilangan Kayla. Saat menyadarinya, dia akhirnya ambruk ke lantai menangisi kepergian Kayla.


__ADS_2