
Aldi memeluk Okta yang tak sadarkan diri. Cepret cepret seseorang mengambil foto.
"Cepeten bawa ke gudang belakang Sekolah." Perintah Aldi.
"Ok, lakukan sesuai rencana, kita ketemu di sana." Ana bergegas menuju lapangan basket.
TIT! TIT! Notifikasi pesan.
Jimmy membuka pesan yang masuk dikirim nomor privasi. Foto-foto Okta berpelukan dengan cowok lain. Gemetar tangannya menahan emosi.
Ana masuk ke lapangan basket.
"Ana kok sendiri, Okta mana?" Jimmy mencari Okta.
"Hmmmm..hmmm, anu Kak Jimmy bisa ngomong bentar." Bisik Ana.
Jimmy mendekat menundukkan kepalanya mendengar bisikan Ana. Wajah Jimmy memerah segera menuju ke gudang belakang Sekolah.
Dilfa, Ferdy, Nata, Enny, Via ikut berlari di belakang Jimmy.
Tiba lah mereka di gudang Sekolah. Nampak Okta sedang duduk berpelukan dengan cowok yang bernama Aldi. Posisi Okta membelakang yang terlihat cuman punggungnya. Aldi sesekali mengelus rambut Okta.
"Okta, Okta apa yang kamu lakukan!" teriak Jimmy. "Oktaaaaaa." Jimmy menendang meja . BRAAAKK! Okta pun tersadar.
"Aldi, kamu kenapa disini? Apa yang terjadi?" Okta melepaskan pelukannya. Okta berbalik mendapati Jimmy yang wajahnya memerah, maju dan memegang kerah baju Okta.
__ADS_1
"Okta berani kamu bermain di belakangku!" bentak Jimmy.
"A...a aku ti...dak Kak." Okta memegang kepalanya.
"Jimmy hentikan!" Dilfa melepaskan pegangan Jimmy. "Dek tenang ini Kakak." Dilfa menenangkan Okta.
"Kurang ajar!" PLAK! PLAK! PLAK! Jimmy menampar pipi Aldi.
"Jim, sabar." Nata memegang Jimmy.
BRUUKK! Tubuh Okta lemas, keringat dingin bercucuran, tubuhnya bergetar hebat. Dilfa pun menyadari penyakit Okta kambuh.
"Tolong panggil ambulans!" teriak Dilfa.
Di dalam pelukan Dilfa lirih terdengar suara Okta "Am...pun a...ku ti...dak sa...lah."
Di sudut gudang Sekolah Ana mengedipkan matanya ke Aldi.
Dilfa mengangkat tubuh Okta. "Fer, siapin mobil!"
"Enny, Via kalian ikut kami, Nat loe tenangin Jimmy." Ferdy bergegas ke parkiran.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisi Okta semakin mengkhawatirkan. Dilfa, Via, Enny pun menangis, tak tega melihat.
Sekarang Okta berada di dalam ruangan. Setelah diberi obat penenang, di infus Okta pun tertidur. Dokter menyarankan untuk beberapa hari Okta beristirahat di rumah sakit.
__ADS_1
"Kak kalo boleh nanya Okta kenapa?" tanya Enny
"Okta mengalami trauma akibat kekerasan, karena dibentak Jimmy Ingatan masa lalunya kembali."
"Kekerasan apa Kak?" Via ikut bertanya.
"Sewaktu kecil Okta dibully temen-temennya." Jawab Dilfa. Maaf gue gak bisa jujur sama kalian. Batin Dilfa.
Di lain tempat Jimmy kayak orang gila, teriak-teriak melempar semua yang ada di hadapannya.
"Jim, sadar woyyyy." Nata mengguncang tubuh Jimmy.
"Loe boleh emosi, tapi jangan begini juga kaleeeee."
Jimmy mengambil ponsel dan menunjukkan foto Okta berpelukan dengan Aldi.
"Jadi gara-gara ini loe marah sama Okta." Nata melempar ponsel Jimmy." Loe sadar gak sih musuh loe di luar sana banyak. Dan tidak sedikit dari mereka yang suka Okta. Yang ngirim foto juga nomornya di privasi."
Jimmy diam rupanya akal sehatnya hampir kembali.
"Jujur ya, pertama kali gue lihat temannya Okta yang namanya Ana gue gak suka. Rasa pertemanannya tidak tulus, ada perasaan iri. Ini cuman perkiraan gue ya, gue rasa si Ana suka sama loe." Nata ngomong sampai berapi-api.
"Loe bener Nat, waktu kita mau ke Camping Ground gue pernah lihat tatapan si Aldi kayak bermaksud jahat. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan si Ana."
"Itu tugas loe buat nyelidikin. Jangan sampai loe nyesel. Sekarang Okta di rumah sakit."
__ADS_1
"Bego amat gue Nat." Jimmy memukul-mukul kepalanya. Dalam hati Jimmy berkata Okta maafin aku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...