
"Yank, kamu kenapa?" Jimmy mengkhawatirkan Okta.
"Kak Jimmy, saat ini aku gak tau apa yang ku rasakan. Yang pasti aku merasakan akan kehilangan sesuatu, tapi aku gak tau apa itu."
Tiba tiba dari arah depan BEEP! BEEP! BEEP! Sebuah mobil melaju dengan cepat dan kencang kemudian BRAAKK! Tabrakan tak dapat dihindari.
WIU! WIU! WIU! Ambulance membawa Korban kecelakaan.
"Mba ini ada korban kecelakaan, tolong segera ditangani." Kata sopir ambulans.
"Baik pak." Perawat membawa korban ke ruangan UGD.
"Assalamualaikum , apa benar ini dengan saudara Dilfa?" Sopir itu menghubungi nomor terakhir panggilan di ponsel korban.
"Wa'alaikum salam, iya benar, maaf ini dengan siapa?" Dilfa menjawab panggilan.
"Mohon maaf sebelumnya, saat ini pemilik ponsel dan juga salah satu temannya mengalami kecelakaan, mohon segera datang ke RS Sari Mulia secepatnya. Korban sekarang berada di UGD."
"Ba...baik, makasih infonya pak." Dilfa kaget, takut, panik, campur jadi satu.
"Kenapa Dil?" tanya Ferdy.
"Okta dan Jimmy tabrakan."
"Apaaaaaa, dimana?" Nata juga kaget mendengar.
"RS Sari Mulia," Dilfa merasakan tubuhnya seperti tidak ada tenaga.
"Kita kesana." Ferdy mengemudikan mobil menuju Rumah Sakit.
Mereka tiba di rumah sakit , langsung menuju ruang UGD.
"Permisi mba, apa ada pasien yang bernama Jimmy dan juga Okta yang baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Nata.
"Sebentar saya cek dulu. Iya benar mereka masih di dalam. Mohon ditunggu." Kata perawat.
"Makasih." Nata, Ferdy, dan Dilfa menunggu di depan ruang UGD.
Pintu ruang UGD terbuka. Perawat mencari keluarga pasien.
"Permisi apa ada keluarga pasien bernama Okta."
"Itu Adik saya." Dilfa menghampiri perawat.
"Apa anda juga keluarga pasien bernama Jimmy?" tanya perawat itu lagi.
"Dia sahabat saya." Kata Dilfa.
"Kalo begitu mereka akan kami tempatkan di ruangan yang sama. Silakan ke bagian administrasi ." Perawat itu mengantar Dilfa ke ruang administrasi.
Okta, Jimmy masih belum sadarkan diri. Mereka sekarang di dalam ruangan yang sama. Luka mereka tidak terlalu parah hanya saja terjadi benturan cukup keras di bagian kepala.
Dilfa, Nata, Ferdy, Via, Enny masih setia menunggu di ruangan Okta dan Jimmy.
Jimmy membuka perlahan kelopak matanya.
"Agghhhh." Jimmy memegang kepalanya.
"Jim, loe sudah sadar." Dilfa menghampiri Jimmy.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Jimmy memandang asing orang yang ada di sebelahnya saat ini.
"Jim, jangan becanda loe, ngerjain kita loe ya." Nata memukul pelan kaki Jimmy.
Namun Jimmy diam dalam kebingungan.
Okta juga tersadar, sambil memegang kepalanya dia mengedarkan pandangannya.
"Okta," Enny ingin memeluk Okta tapi langkahnya terhenti Okta ketakutan melihatnya.
"Si...si...apa ka...mu ?" Okta menyembunyikan wajahnya dalam selimut.
Ferdy yang melihat keanehan, segera memanggil dokter dan perawat.
"Permisi, silakan tunggu di luar." Perawat dan Dokter memeriksa Okta dan Jimmy.
"Kak Farrel." Dilfa melambaikan tangannya . Farrel melihat dan menuju ke arah Dilfa.
"Bagaimana Okta?" Farrel mengintip Okta dari luar pintu.
"Okta takut lihat temannya Kak, Jimmy juga tidak mengenali kami." Dilfa terlihat sedih.
"Bang Keenan gak bisa ikut karena banyak urusan, biar Kak Farrel yang menemani kalian di sini." Farrel menenangkan Dilfa. Farrel juga menyapa sahabat Okta dan Jimmy.
"Bagaimana Adik saya Dok?" tanya Farrel.
"Saat ini kedua pasien mengalami amnesia, karena benturan keras di kepala mereka. Dan untuk pasien Okta apa sebelumnya memiliki riwayat penyakit tertentu?" tanya Dokter.
"Dulu pernah mengalami PTSD Dok." Jawab Farrel
"Pasien Okta mengalami amnesia retrograde. Memori yang terlupakan adalah memori yang baru saja terjadi, sedangkan memori dari masa kecil masih bisa diingat. Baiklah nanti akan kami kabari lagi lebih lanjut, permisi." Pamit Dokter.
"Kak Farrel." Panggil Okta.
Farrel mendekat Okta memegang erat tangan Farrel.
"Jangan takut, mereka semua di sini sahabatmu." Tunjuk Farrel. Dan yang berbaring di sebelahmu ini pacar kamu."
Okta menoleh ke samping, Jimmy juga. Mereka saling bertatapan. Tapi mereka terasa asing.
Jimmy berusaha mengingat tapi kepalanya terasa berat.
"Kak Dilfa mana?" Okta mencari Dilfa.
Dilfa dengan mata sembab menghampiri Okta.
"Kamu mengenali Kak Dilfa dek?" Dilfa menangis memeluk Okta.
"Iya Kak." Okta menatap orang-orang yang ada dihadapannya.
"Maaf, maafin aku, bukannya aku melupakan sahabatku, tapi untuk sekarang aku belum mengingat kalian. Aku mohon pengertian kalian." Okta merasakan sakit di seluruh badannya.
"Iya gak apa, istirahatlah dulu kami permisi Okta, Jimmy." Nata, Ferdy, Via, Enny pamit, Dilfa mengantar mereka sampai depan.
"Masih sakit?" Farrel melihat Okta kesakitan.
"Iya Kak." Okta memejamkan matanya.
"Jim, kamu perlu sesuatu?" tanya Farrel.
__ADS_1
"Tidak, makasih . Boleh tau kenapa aku disini Kak?" tanya Jimmy.
"Kamu dan Okta mengalami kecelakaan, yang menabrak kalian meninggal di tempat kejadian, dia penderita epilepsi."
"Dia siapa?" Jimmy mencari tau.
Farrel menatap Jimmy, "Dia namanya Okta, Adik Kak Farrel, Adik Dilfa teman kamu yang tadi dipeluk Okta. Dia itu kekasih kamu."
"Apa kami sudah lama pacaran?" Jimmy berusaha mengingat.
"Mungkin 1 tahun." Farrel kemudian berdiri dari tempat duduknya."Jim, Kak Farrel ke Kantin bentar, mau nitip sesuatu?"
"Gak Kak, makasih." Jimmy memandangi Okta dari tempat tidurnya.
Okta merubah posisi tidurnya berbalik ke arah kanan. Pandangannya bertemu dengan Jimmy.
Gantengnya, benar ini pacarku? Okta bicara dalam hati.
Aku ingin tau seberapa besar rasa sukanya kepadaku . Batin Jimmy.
......................
Seminggu berlalu, Jimmy kembali ke Apartemen ditemani Nata dan Ferdy.
"Ini tempat tinggal loe Jim, istirahat dulu di kamar. Kalo perlu apa panggil gue atau Nata." Ferdy bantu membereskan Apartemen Jimmy .
Di dalam kamarnya banyak foto-foto Okta, Sebegitu cintanya kah gue sama ini cewek ?
Kemudian dia masuk ke ruangan yang berada di seberang kamarnya. Kok banyak baju cewek, apa Okta tinggal disini ? Sejauh mana hubungan kami ? Jimmy merasakan sakit di kepalanya.
Nata mencari Jimmy dan melihatnya menahan rasa sakit.
"Kenapa Jim, apa perlu gue panggil dokter?" Nata mengkhawatirkan sahabatnya.
"Gak apa Nat, gue baik."
"Apa gue anter ke rumah orang tua loe aja Jim, disanakan banyak asisten loe biar mereka nyiapin semua kebutuhan loe."
"Gue suka sendiri, gak apa." Jimmy menyandar ke headboard. "Nat, seberapa cinta gue ke Okta?"
"Yang gue tau selama ini loe cinta mati sama Okta, kenapa?" Nata menarik kursi dan duduk diatasnya.
"Gue masih gak yakin dengan perasaan gue."
Nata mengerutkan dahinya. "Maksud loe?"
"Gue merasa biasa saat melihat Okta, gak ada perasaan bahwa gue suka apa lagi jadi pacarnya."
"Serius loe? Apa karena benturannya terlalu keras otak loe jadi geser kali ya." Nata kaget mendengar pengakuan Jimmy.
"Gue harus mencari tau perasaan gue dan seberapa sukanya Okta ke gue."
"Jim, dulu loe pernah salah paham sama Okta. Loe cemburu lihat Okta dengan cowok lain. Gue harap loe jangan melakukan hal yang sama. Okta sangat menderita. Jangan sampe kejadian lagi." Nata mengingatkan Jimmy.
"Salah paham?"
"Intinya yang suka loe banyak, yang suka sama Okta juga banyak, yang benci dan ingin ngancurin hubungan kalian juga banyak . Gue harap loe gak melakukan hal yang sama dan bikin loe menyesal." Nata berdiri. "Oh ya satu lagi, jangan sampai Ferdy apa lagi Dilfa tahu masalah ini, gue gak jamin keselamatan loe." Nata berlalu pergi meninggalkan Jimmy yang masih meragukan perasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1