
Setelah mendapatkan ijin Farrel, dari rumah sakit Jimmy ingin mengajak Okta jalan-jalan. Tapi sebelumnya Jimmy mampir dulu ke Apartemennya.
"Aku ingin ajak kamu ketemu Ayah dan Bunda, boleh ya." Jimmy memohon. "Besok Ayah dan Bunda pergi ke luar negeri".
"Hmmmm aku takut Kak." Okta menolak.
"Sama calon mertua kok gitu,"
"Emang Kak Jimmy pacar aku?" ledek Okta
"Bukan pacar, tapi calon suami ," Jimmy menarik Okta ke kamar mandi.
"Sudah mandi dulu sana, dandan yang cantik, semua keperluan kamu ada di kamar, aku tunggu ya."
Okta memakai blouse bermotif bunga-bunga dengan bawahan celana pensil berwarna polos senada dengan blousenya. Dan tas selempang kecil untuk ponsel dan dompetnya.
Jimmy dengan kemeja putih dan denimnya.
"Udah siap?" Jimmy mengagumi kecantikan Okta dengan make up yang natural.
"Aku mau pulang aja Kak." Okta terlihat gugup.
"Sini aku antar pulang." Jimmy membukakan pintu mobil untuk Okta.
"Akhirnya." Okta merasa lega.
Jimmy dengan santai mengendarai mobil, melewati jalan rumah Okta.
"Lho Kak kita mau kemana?" Okta melihat ke jalan yang belum pernah dia lewati.
"Ke rumah mertua kamu." Jimmy tersenyum.
"Mertuaku siapa Kak?" Okta berlagak oon.
Jimmy menepikan mobilnya, membuka seat belt . Ditatapnya kedua mata Okta, Jimmy menahan dagu Okta kemudian mencium bibirnya. Ini bukan kecupan tapi sebuah ciuman yang mendalam.
Mata Okta membulat, jantungnya seperti meledak.
Jimmy melepaskan ciumannya. Dan mengusap lembut bibir Okta. "Mertua kamu Tuan Saguna, dan Nyonya Amira."
Okta hanya terdiam, napasnya seolah berhenti.
Jimmy tersenyum dan melajukan kembali mobilnya.
Tibalah mereka di rumah keluarga Saguna. Rumah yang begitu besar sama seperti kediaman Kakeknya Arshaka. Okta merasa gugup, tangannya berkeringat dingin. Jimmy menyadari itu, tangan Okta digenggamnya.
"Assalamualaikum, Ayah, Bunda." Jimmy menghampiri orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka.
"Wa'alaikum salam." Jawab mereka
"Assalamualaikum, Om , Tante." Okta pun melakukan hal yang sama.
"Cordelia." Ayah dan Bunda berbarengan.
"Cordelia, Om dan Tante mengenal bunda ku?" tanya Okta
"Yank, ternyata Jimmy selama ini bersama dia." Kata Saguna kepada Amira.
Jimmy dan Okta berpandangan tidak mengerti.
__ADS_1
"Sayang, jangan panggil Tante, panggil kami Ayah dan Bunda." Amira memeluk Okta.
Okta masih dalam kebingungan.
"Kita makan dulu, ayo silakan!" Saguna memulai makan.
"Makan yang banyak." Amira mengambil beberapa lauk dan sayuran untuk Okta.
"Bund, aku juga mau." Jimmy menyodorkan piringnya.
"Sudah besar ambil sendiri." Amira menjulurkan lidahnya ke Jimmy.
"Nih Ayah ambilin." Saguna mengambil dua ekor ikan, satu ekor ayam, berbagai macam sayur. "Apa sudah cukup?"
"Tolong dibungkus." Kata Jimmy.
"Ok siap, semua 2 juta." Ayah meminta bayaran kepada Jimmy.
"Yah jangan pelit, itu semua untuk mantu ayah."
"Siapa mantu ayah?" tanya Ayah.
"Tuhhhhh." Jimmy menunjuk ke arah Okta.
UHUK! UHUK! Okta tersedak. Amira mengambilkan minum untuk Okta.
"Mau ya jadi mantu Bunda." Amira mengedip ngedipkan matanya ke Okta.
UHUK! UHUK! Okta memukul-mukul dadanya.
"Kalian ini, kasian Okta, ayo kita bawa dia ke Penghulu." Saguna ikutan bercanda.
Kini mereka berada di ruang tamu. Amira membuka sebuah album foto dimana di sana banyak tersimpan kenangan masa mudanya.
"Ini foto Bunda dan Bunda Cordelia waktu camping, saat itu Bundamu menghilang, entah bagaimana tiba-tiba Bundamu sudah berada di rumah." Amira coba mengingat.
Sama seperti aku yang waktu itu hilang ketemu Lian. Batin Okta.
"Nah coba lihat ini mirip sekali dengan kamu sayang, Bundamu Cordelia sangat pandai bernyanyi, suaranya sangat merdu. Setiap kali ada pesta Sekolah pasti Cordelia yang diminta nyanyi."
"Okta juga bagus nyanyi bund," Jimmy duduk di samping Okta.
"Oh ya, sudah pasti begitu, kan anak Bundanya." Amira memeluk kembali Okta.
"Begini sayang, sejak dulu Bunda dan Bunda Cordelia pernah membuat kesepakatan. Jika anak kami Cowok dan Cewek akan kami jodohkan. Tapi dengan catatan tidak ada paksaan. Meskipun kami ingin anak kami dijodohkan tapi kami tidak ingin memaksakan kehendak kami. Semua biar anak-anak kami yang memutuskan."
"Jimmy mau bund." Sahut Jimmy.
"Tapi Okta gak mau sama kamu." Ayah suka lihat Jimmy yang cemberut.
"Itu semua biar Okta yang mutusin." Amira menepuk punggung tangan Okta. Amira melanjutkan cerita.
"Setelah beberapa tahun Farrel lahir, Bunda hamil Kakak Jimmy, tapi perjodohan kami gagal karena anak dalam kandungan bunda Cowok, tapi sayang saat itu bunda mengalami keguguran."
"Ayah sangat merasa kehilangan, anak itu Ayah beri nama Lian." Ayah merangkul pundak Bunda.
Lian, apakah Lian yang selama ini bersama ku?Okta bicara dalam hati.
"Ayah, Bunda, orang yang bersamaku waktu kecil itu adalah Okta."
__ADS_1
"Takdir memang mempertemukan kalian." Kata Ayah.
"Anak anak kita selalu bersamanya." Amira berbicara lirih, Jimmy dan Okta hampir tidak jelas mendengarnya.
Cordelia, betapa beruntungnya anakmu, mendapatkan dua cinta dari anak-anakku. Amira bicara dalam hatinya.
"Besok Jimmy gak bisa antar, Ayah dan Bunda hati-hati." Jimmy mencium Ayah dan Bunda.
"Kamu juga sayang." Bunda memeluk dan mencium Jimmy.
"Kamu serius gak sama Okta?" tanya Ayah.
"Insya Allah yah, Jimmy yakin." Jimmy melirik Okta.
"Kalau begitu Okta, setelah lulus SMA, Ayah Bunda melamar kamu." Saguna memeluk calon mantunya.
"Nikah muda dong Yah, aku belum siap." Kata Okta.
"Ha ha ha, Iya kami nunggu kapan kamu siap." Ayah mengusap kepala Okta.
"Kami pamit , assalamualaikum." Jimmy dan Okta meninggalkan kediaman keluarga Saguna.
"Kak Farrel, Okta malam ini gak mau pulang, malam ini mau nginap di Apartemen, katanya kepalanya masih sedikit pusing. Ok Kak, makasih."
Jimmy diam-diam nelpon Farrel sewaktu Okta di ruang tamu ngobrol sama Bunda.
"Yank, udah malem aku capek, maaf gak bisa antar kamu pulang. Kata Kak Farrel kamu boleh nginap." Jimmy beralasan, mau berlama-lama dengan Okta.
"Ya sudah, aku ikut Kak Jimmy ke Apartemen." Okta pasrah.
Mereka memasuki Apartemen Jimmy. Dan duduk di ruang tamu.
"Yank, apa kamu menerima perjodohan kita?" Jimmy harap-harap cemas.
"Dari dulu aku memang suka sama Kak Jimmy, tapi belakangan Kak Jimmy suka main cewek, selingkuh di belakangku." Okta cemberut.
"Maafin aku Yank, itu di bawah alam sadarku. Tapi sekarang aku masih sama seperti yang dulu, cinta mati sama kamu."
"Apa Kak Jimmy percaya ada cinta di dua dunia?" tanya Okta.
"Maksudnya?" Jimmy bingung.
"Cinta di dunia nyata dan dunia lain." Kata Okta.
"Aku tidak peduli kamu cinta siapa di dunia lain. Aku ingin kamu mencintaiku di dunia ini. Dunia tempat kita hidup. Aku serius Okta!" Jimmy terus meyakinkan Okta.
"Makasih Kak Jimmy mau mengerti, Aku akan mencintaimu di dunia ini." Okta memeluk Jimmy.
"Makasih Yank, kamu juga mau mengerti, menerimaku kembali, aku akan berusaha untuk setia dan menjadi pacar sekali untuk selamanya dan seumur hidupmu, dan berusaha menjadi imammu di masa depan." Jimmy kembali mencium Okta.
Dan aku juga akan selalu mencintaimu Lian. Okta tersenyum memandang Lian.
Lian pun hanya memandang dan tersenyum melihat Okta terkasih dengan Jimmy Adiknya. Walau bagaimanapun Lian sadar, Lian hanya bisa mencintai, tapi tidak dapat memiliki. Karena dunia mereka sangat berbeda. Dia akan selalu mencintai dan menjaga Okta dengan caranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Sudah TAMAT....
...Mohon maaf kalo masih terlalu banyak kekurangan dalam ide cerita, penulisan cerita, jalan cerita, bahasa, semoga kedepannya saya akan terus berkembang. Mohon dukungannya 🙏🙏🙏....
__ADS_1