Cintaku Karena Kentut

Cintaku Karena Kentut
15. Diculik Dimas


__ADS_3

Farrel menceritakan rencananya pulang ke Negara A kepada Keenan. Dan Keenan pun ingin membantu Farrel yang sudah dianggapnya saudara itu.


"Okta jangan sampai tahu rencana kita." Keenan sangat mengkhawatirkan kondisi Okta.


"Gue cuman bilang mau liburan sekalian ketemu sama papa dan mama loe."


"Bang Keenan, Kak Farrel!" Jimmy tiba-tiba muncul di Apartemen Farrel.


"Okta ga ada disini, lagi jalan sama Dilfa." Kata Keenan.


"Ya sudah tau, ehhmmmm Bang, Kak, gue boleh ya ikut ke Negara A." Jimmy malu-malu.


"Ngapain disana?" Farrel sebenarnya tau alasannya, cuman gemes aja Jimmy sok-sok manja gitu.


"Ya ngapain kek, disuruh jagain Okta juga mau." Jimmy menggaruk kepalanya.


PLUUKK! Jimmy dilempar bantal sama Keenan." Gak usah dijagain, Bang Keenan, Farrel, Dilfa yang jaga."


"Boleh yaaa, boleh yaaa." Jimmy mengatupkan tangannya.


"Kalo mau ikut kita harus mau kerja." Kata Farrel.


"Boleh Kak, kerja apa?" tanya Jimmy.


"Noh di dapur banyak piring kotor, cucian juga belum disetrika, lantai belum disapu." Farrel niat ngerjain Jimmy.


"Ok Kak , laksanakan!" Jimmy hari ini jadi tenaga kerja suka rela.

__ADS_1


......................


Farrel, Keenan, Dilfa, Jimmy dan Okta sudah tiba di Negara A . Mereka menggunakan pesawat pribadi Tuan Arshaka. Sepanjang perjalanan Jimmy cuman tiduran. Dilfa dan Okta heran lihat Keenan dan Farrel cekikikan. Mereka berhasil ngerjain si Jimmy.


Tempat pertama yang mereka singgahi adalah rumah sakit.


"Tuan muda!" Pengawal yang ditugaskan Tuan Arshaka memberi hormat kepada Farrel.


"Dimana ruangannya?" tanya Farrel.


"Mari, silakan!" Pengawal itu menuntun mereka memasuki sebuah ruangan VVIP dimana ada seorang pria terbaring dengan infus, peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


Farrel menggandeng Okta. "Dek, ini Ayah."


Okta cuman diam. Ayah yang dulu selalu ada di sampingnya, tapi tidak menghiraukannya kini terbaring lemah tak berdaya. Apakah Okta harus marah, benci, sedih.


"Dilfa, Jimmy bawa Okta keluar!" Farrel mengerti Okta masih belum bisa menerima kenyataan.


Di seberang rumah sakit ada sebuah restoran. Dilfa, Okta, Jimmy makan siang di sana.


"Yank, selamat ulang tahun." Jimmy memberikan kado berwarna pink.


"Waaaaa makasih." Okta tak sabar membukanya. Ternyata isinya kalung liontin love berwarna merah.


"Apa kamu suka?" Jimmy memakaikannya di leher Okta.


"Makasih Kak." Okta mencium pipi Jimmy.

__ADS_1


" Nah ini dari Kak Dilfa." Sebuah kado yang cukup besar. Okta pun membukanya. Dan isinya sebuah tas ransel.


"Makasih Kakak ku chaaaayankkkk." Okta juga mencium pipi Dilfa.


Tak lama kemudian Farrel dan Keenan datang membawa cake ulang tahun untuk Okta.


"Makasih." Mata Okta berkaca-kaca. Memeluk dan mencium pipi Keenan dan Farrel.


"🎶Happy birthday to you, happy birthday to you🎶," Ternyata Mama Yasmine dan Papa Arya juga datang. Okta memeluk dan juga mencium mereka berdua.


Sambil makan mereka cerita-cerita. Melepaskan rindu kepada Mama dan Papa. Karena Papa mempunyai perusahaan di Kota A. Mau tidak mau harus berpisah dengan anak-anaknya.


Dari jauh ada yang memperhatikan mereka. "Cewek itu seperti tidak asing." Seorang pria mencoba mengingat.


Kemudian dia melihat cewek itu berjalan sendirian ke toilet. Pria itu menunggu di samping toilet. Beberapa menit Okta akhirnya keluar.


"Okta!"Pria tersebut memanggil.


Okta menolehkan wajahnya. "Kak dimas." Okta panik dan berteriak " tolong, to...loooong!"


Dimas menutup paksa mulut Okta, dan menyeretnya. Seorang pelayan melihat dan melaporkan ke keluarga Okta.


Dilfa, Jimmy, sempat melihat Okta tapi terlambat Dimas sudah tak terkejar.


Di dalam mobil Okta terus berontak, Dimas menutup hidung Okta dengan sapu tangan yang diberi obat bius. Dimas memperhatikan dari atas sampai ke bawah, Okta sekarang berubah sangat cantik. Dimas memutuskan untuk memiliki Okta bagaimanapun caranya.


"Kamu harus menjadi milikku." Kata Dimas

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2