
Jimmy berubah, dulu yang dikenal sebagai cowok setia mendadak jadi cowok playboy. Dalam seminggu sudah berapa kali jalan sama cewek, memang sih gak ada yang dibikin serius cuman teman buat jalan biar gak kesepian, tapi Jimmy menikmatinya.
Berbeda dengan Okta, meskipun ingatannya tentang Jimmy masih abu-abu, tapi sebagai seorang pacar memilih untuk setia. Jimmy kadang sengaja memamerkan kegombalannya merayu cewek dihadapan Okta. Ada rasa kecewa, Okta berpikir mungkin dulu Okta pernah melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat Jimmy sakit hati sehingga tingkahnya begini.
"Okta, kamu gak sakit hati lihat Kak Jimmy?" Via melihat kekecewaan di wajah Okta.
"Rasa kecewa pasti ada, tapi aku gak ingat apa apa tentang hubungan kami." Okta menghela napas.
"Apakah masih ada perasaan cinta dihati loe?" tanya Enny.
"Aagghhhh," Okta merasakan kembali sakit dikepalanya.
"Demi kebahagiaan bersama, aku putuskan untuk menyerah."
"Maksud loe?" Enny dan Via tak mengerti apa yang dimaksudkan Okta.
Mereka kemudian mengejar Okta yang berjalan sendiri kearah Jimmy.
"Maaf Kak Jimmy, bisa bicara sebentar." Okta memberanikan diri bicara pertama kali kepada Jimmy.
"Hmmm boleh, ada apa?" dengan santainya Jimmy menjawab.
"Boleh bicara berdua?" Okta menahan gugupnya.
Jimmy mencari tempat yang sepi untuk mereka berdua. "Ada apa?"
"Maaf Kak Jimmy, aku masih tidak mengingat apa yang terjadi diantara kita. Mungkin Kak Jimmy merasa asing atau merasa tak nyaman denganku, karena aku cuman tahu dari cerita Kak Dilfa dan teman-teman bahwa kita berdua menjalin hubungan." Okta memegang dadanya.
"Demi kebahagiaan bersama, aku ingin memutuskan hubungan kita, karena diantara kita mungkin tidak ada rasa. Setelah ini aku harap Kak Jimmy tidak menganggap aku musuh yang harus selalu dihindari, aku ingin kita berteman. Semoga Kak Jimmy menemukan kebahagiaan." Okta mengulurkan tangan."
"Maaf kalo aku ada salah dan makasih untuk semuanya Kak." Tak terasa air mata menetes di pipinya. Jimmy membalas uluran tangan Okta. Okta tersenyum dan berbalik meninggalkan Jimmy.
Deg, sesuatu yang panas mengalir di darah Jimmy.
"Kok gue sakit hati."
Okta kembali ke kelas, Via dan Enny menanyakan apa yang Okta bicarakan dengan Jimmy.
"Akhirnya legaaaaa, mulai saat ini aku jomblowati," Okta mengedipkan matanya ke Via dan Enny.
"Loe putus dengan Kak Jimmy?" Via dan Enny tak percaya.
"Iya demi kebahagiaan bersama, pulang sekolah ngemall yukkkk." Ajak Okta.
"Setujuuuuu." Mereka pun kompak.
......................
Tiga cewek cantik jalan-jalan ke Mall. Cuman mereka bertiga, tanpa pasangan, karena Via dan Enny ingin membuat Okta melupakan sakit hatinya. Mereka berkaraoke, main di Time Zone, shopping dan makan-makan.
Di saat bersamaan Jimmy melihat tiga cewek cantik tersebut. Jimmy sengaja jalan sendirian. Entah kenapa setelah diputusin Okta pengen jalan sendiri.
Setelah cukup puas jalan-jalan mereka memutuskan untuk pulang.
Tapi Okta meminta Enny dan Via pulang duluan. Okta pengen sendiri. Mau tidak mau Enny dan Via menyetujui. Mereka mengerti.
"Sampai rumah kabarin kami," Enny mengingatkan.
"Ok, bye." Okta melambaikan tangan.
Okta berjalan menyusuri jalan yang ramai. Tanpa dia sadari Jimmy mengikuti dari jauh dengan mobilnya.
Sampailah di sebuah taman kota di pinggir sungai. Okta duduk di kursi taman.
"Halo Kak Dilfa." Okta menerima panggilan telepon dari Dilfa.
__ADS_1
"Iya Kak, mungkin agak sorean aku pulang. Belum puas jalannya.
"Ok Kak, bye." Okta menutup telpon.
Okta kaget ada seorang cowok ganteng duduk di sampingnya.
"Maaf, apa kamu ingat aku?" tanya si Cowok.
"Maaf, apa kah kita pernah bertemu?" Okta pun bertanya.
"Iya kita pernah bertemu, waktu itu aku memberimu tiket nonton." Cowok itu mencoba mengingatkan hari mereka bertemu.
"Maaf, aku tidak ingat."
"Gak apa, oh ya kita belum kenalan. Nama ku Athar," Athar mengulurkan tangan.
"Okta," Okta membalas uluran tangan.
"Kamu sendiri?" Athar melihat kanan kiri .
"Iya sendiri." Jawab Okta.
"Aku juga sendiri, aku merindukan Adikku yang belum lama ini meninggal. Dia sering kesini." Athar cerita.
"Aku turut berduka cita."
"Dia mempunyai penyakit epilepsi, entah kenapa malam itu dia mengendarai mobil dan penyakitnya kambuh. Dia menabrak sebuah mobil. Dia meninggal di tempat kejadian." Athar mengeluarkan isi hatinya.
"Aku juga baru mengalami kecelakaan, tapi aku tidak mengingat kejadiannya." Okta juga bercerita.
"Apa kamu sekarang baik baik saja?" Athar memperhatikan Okta.
"Ya seperti yang kamu lihat, kadang kaki masih terasa nyeri, dan ingatanku sepenuhnya masih belum kembali." Okta berasa nyaman bicara dengan Athar.
"Maksud kamu amnesia?"
"Kamu sakit?" Athar melihat perubahan di wajah Okta." Biar aku antar kamu pulang, dimana alamatmu?" Okta tidak menjawab.
Jimmy yang melihat berlari, langsung mengangkat tubuh Okta." Maaf, gue yang antar dia."
Athar cuman bisa memandang kepergian Okta.
Jimmy mendudukkan Okta di kursi depan, dipasangkannya sabuk pengaman.
"Terima kasih." Suara Okta lirih terdengar di telinga Jimmy.
Jimmy mengantar pulang Okta.
"Dil, gue di depan rumah loe. Okta pingsan." Jimmy chat Dilfa.
Farrel mengeluarkan Okta dari mobil dan menggendongnya ke dalam rumah.
Okta sudah berada di kamarnya.
"Makasih sudah ngantar Okta, gak mampir dulu Jim." Dilfa berdiri di depan pintu rumah.
"Gue cape mau istirahat." Jimmy pun pamit.
Sepanjang perjalanan Jimmy masih mengingat Okta yang pingsan di mobilnya. Kenapa baru sekarang Jimmy merasakan kehilangan. Apa mungkin ini cuman perasaan sementara karena baru diputusin. Yah kalo dapat pengganti mungkin perasaan itu hilang pikir Jimmy.
Keesokan harinya, Okta bersiap pergi ke Sekolah.
"Lho kenapa sekolah, udah baikan?" Farrel memegang kening Okta.
"Kemarin cuman kecapean aja Kak. Oh iya, siapa yang ngantar aku kemarin?" Okta memasukkan roti ke mulutnya.
__ADS_1
"Jimmy yang ngantar." Farrel menyodorkan segelas susu untuk Okta.
UHUKKK! UHUKKK! Okta tersedak, lekas dia meminum susu yang disuguhkan Farrel.
"Makanya makan pake bismillah." Dilfa duduk di samping Okta.
"Kok bisa Kak Jimmy yang ngantar?" tanya Okta .
"Emang kemarin kamu sama siapa dek?" tanya Dilfa .
"Pergi ke Mall bertiga sama Enny dan Via. Pulangnya aku mau sendiri kak, sewaktu di taman aku kenalan sama cowok ganteng Kak. Kirain dia yang nganterin." Okta menghabiskan sarapannya.
"Hmmmm, Kak Farrel, Kak Dilfa, kemarin aku memutuskan hubunganku dengan Kak Jimmy."
Farrel dan Dilfa berpandangan.
"Aku gak ingat apa-apa Kak, aku lihat Kak Jimmy juga biasa aja. Jadi Kak, khususnya Kak Dilfa, aku mohon Kak Jimmy jangan di apa-apa in yaaaa." Okta memegang pipi Dilfa dengan kedua tangannya dan menggoyang goyangkannya.
"Kak Farrel antar aku ke sekolah." Okta berdiri mengambil tasnya.
"Sama Kak Dilfa aja." Dilfa mengambil kunci motornya.
"Kak Dilfa jemput Enny aja sana." Okta menolak.
"Bentar Kak Farrel angkat telpon dulu."
"Ayooo sama Kak Dilfa aja, Enny kan bisa ketemu di sekolah." Dilfa memaksa Okta.
"Gak mau!" Okta membuka pintu dan seseorang berdiri dengan ponsel ditangannya.
"Okta?" Orang itu kaget.
"Athar?" Okta sama kagetnya.
Farrel mendengar teman yang menelponnya memanggil nama Okta. Farrel menuju pintu.
"Kalian saling kenal?" tanya Farrel.
"Kemarin kami ketemu di taman Kak." Okta mengedip ngedipkan matanya.
"Ohhhhhhh," Dilfa dan Farrel menyahut tersenyum berbarengan menatap Okta.
"Teman Kak Farrel ganteng ya." Goda Farrel menyikut siku Okta.
"Udah ah, antar aku sekolah." Okta menggandeng Farrel.
"Sama Kak Dilfa aja Dek, Kak Farrel ada temennya tuh." Dilfa lagi-lagi maksa Okta.
"Ayoooo aku antar." Athar berjalan menuju mobilnya.
"Cepetan Kak, kapan lagi diantar Cowok ganteng." Okta berbisik
"Yeeee modusssss." Dilfa mencubit Okta
"Sakit Kak." Okta balas memukul.
"Yuuukk nanti telat Lho." KLIK! Farrel mengunci pintu rumah.
Okta duduk di kursi belakang persis belakang Athar, Farrel di kursi depan. Mereka pun on the way ke Sekolah Okta.
Athar curi-curi pandang .
"Fokus bro." Farrel menepuk pundak Athar .
"He he he ," Athar ketahuan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...