
Setelah mengantar pulang Via dan Enny, Ferdy mampir ke rumah Jimmy. Ferdy menaiki lantai dua dimana kamar Jimmy berada.
"Fer, Okta ...." Belum habis Jimmy mengucap kata Ferdy melayangkan pukulannya dan mengenai sudut bibir Jimmy.
Nata yang ada di sana berusaha menahan tangan Ferdy yang ingin kembali memukul Jimmy.
"Fer, sudah Fer, bukan cuman loe yang marah gue juga. Biarkan Jimmy menjelaskan masalahnya."
"Jim, gue pernah bilang kalo loe nyakitin Okta loe berhadapan dengan gue!" Ferdy mengeraskan suaranya.
"Maafin gue Fer, gue emosi, gue cemburu," kata Jimmy sambil menyentuh bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.
Nata mengambil ponsel Jimmy dan menunjukkannya ke Ferdy. Ferdy sempat kaget. Tapi dia yakin tak mungkin Okta melakukan itu.
"Gue mau nanya, apa yang dibisikin Ana ke loe?"
"Ana bilang Okta janjian sama Aldi di gudang belakang Sekolah. Dan Okta minta ini dirahasiakan dari gue. Untuk membuktikannya gue susul ke sana." Jimmy menjelaskan.
"Coba loe minta rekamana cctv ke bagian keamanan supaya tidak terjadi kesalah pahaman." Ferdy menyarankan.
Kurang dari 30 menit seseorang datang mengantarkan file CCTVsekolah. Butuh waktu beberapa menit akhirnya mereka menemukan video dimana Okta menuju toilet dan diberikan minuman oleh Ana. Kemudian Aldi muncul, Okta pingsan. Ana yang memotret mereka. Beberapa orang meangkat Okta menuju gudang Sekolah.
"Tuh kan apa gue bilang Ana biang keroknya." Kali ini Nata yang emosi.
__ADS_1
"Brengsek!" Jimmy mengepalkan tangannya. "Fer, Okta keadaannya gimana?"
"Dilfa bilang ini lebih parah dari bullyan Rini cs, dokter menyarankan Okta istirahat beberapa hari di rumah sakit. Kalo masih berlanjut disarankan Psikoterapi." Ferdy menerangkan kondisi Okta.
Jimmy terduduk tak terasa air matanya menetes, menyesal, seolah dunianya runtuh. Hanya karena rasa cemburunya Okta menderita. Salahnya kenapa langsung percaya tanpa meminta penjelasan.
"Fer, antar gue ke rumah sakit." Pinta Jimmy.
......................
Ferdy, Nata, Jimmy memasuki ruangan rumah sakit dimana Okta masih tertidur ditemani Dilfa yang duduk di sampingnya. Dilfa mengarah ke Jimmy maksud hati ingin melampiaskan amarah tapi melihat mata sembab Jimmy dan juga bibir yang membiru diurungkan niatnya. Ferdy dan Nata paham betul apa yang ingin dilakukan Dilfa. Mereka menahan langkah Dilfa.
"Kenapa bibir loe." Dilfa bertanya sinis kepada Jimmy.
"Gimana rasanya hah, sakit!" Dilfa mengeluarkan emosinya.
"Dil, gue ama Nata pengen kasih tahu sesuatu, sekalian ngajakin loe makan di kantin bentaran ya." Ferdy menarik Dilfa keluar supaya Jimmy bisa berduaan dengan Okta.
"Tapi Okta." Dilfa khawatir.
"Bentaran, ada Jimmy, yukkkk!" Nata mendorong tubuh Dilfa keluar.
Jimmy mendekat ke arah Okta. Berdiri di samping hospital bed. Digenggamnya jemari kekasihnya, tangan kirinya mengusap lembut rambut Okta, kemudian dia mengecup singkat kening dan bibir Okta. Okta merasakan perasaan aneh yang belum pernah dia alami sebelumnya. Perlahan Okta membuka kelopak matanya yang berat. Jimmy menyadari itu. Samar-samar terlihat bayangan, kemudian semakin jelas. Okta melihat Jimmy dan bangun memeluknya. Jimmy pun mengeratkan pelukannya dengan mata berkaca-kaca. Tapi cuman sebentar Jimmy merasakan kebahagiaan. Okta kembali mengingat perlakuan Jimmy yang membentaknya.
__ADS_1
Okta meronta berusaha melepaskan pelukan Jimmy, Okta berteriak menangis meminta maaf. "Maaf kak, Aku tidak salah, aku tidak salah, maaf." Okta terus mengulang kalimatnya.
Jimmy menangis, "Yank, kamu tidak salah, aku yang salah, maafin aku ya."
Tapi Okta tak merespon, Jimmy semakin panik. Jimmy menekan tombol yang ada di kamar Okta, tak berlangsung lama perawat dan dokter datang memeriksa.
"Silakan tunggu di luar." Seorang perawat mengantar Jimmy ke depan pintu.
Dilfa, Nata, Ferdy kembali tapi bingung melihat Jimmy menunggu di luar ruangan.
"Okta kenapa Jim?" Dilfa mengintip dari arah pintu.
"Okta sadar, jadi gue panggil perawat dan dokter tuk mencek keadaannya," Jimmy takut jujur kepada Dilfa.
Dokter memanggil keluarga pasien. "Untuk sementara pasien jangan bertemu dulu dengan orang yang membuatnya takut saat ini. Biarkan emosinya stabil."
"Baik, terima kasih Dok." Kata Dilfa.
"Gue permisi dulu Dil." Pamit Jimmy.
"Ya, makasih sudah jenguk Okta." Dilfa menepuk bahu Jimmy, amarahnya reda setelah mendengar cerita Ferdy dan Nata.
Dari dalam Okta menatap kepergian Jimmy.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...