
Jimmy melajukan motornya, selama perjalanan baik Jimmy maupun Okta hanya diam. Kurang lebih 20 menit mutar-mutar gak jelas Jimmy memutuskan ke Apartemennya.
"Yank kita istirahat disini dulu, masih pagi Mall, Cafe belum ada yang buka." Jimmy membantu melepaskan helm Okta.
Jimmy ditemani Okta masuk ke Apartemennya di lantai 20. Lumayanlah tempat tinggal untuk seorang Jimmy, ada ruang tamu lengkap dengan sofa dan televisi di depannya, 2 kamar tidur yang posisinya berseberangan, kamar mandi, dan juga dapur.
"Kak Jimmy tinggal di sini?" Okta melihat-lihat sekeliling.
"Iya, Dilfa, Nata, Ferdy juga sering ngumpul disini." Jimmy menunjukkan setiap ruangan ke Okta.
"Kamarnya ada dua." Tunjuk Okta.
"Yang ini kamar kamu, dan yang ini kamar aku." Jimmy membuka pintu kamar Okta.
"Maksudnya?" Okta masuk ke dalam kamar yang disediakan Jimmy untuknya.
"Ya kali aja Dilfa sudah gak betah di rumah karena asik pacaran sama Enny, biar kamu gak kesepian tinggal disini aja." Jimmy duduk, jempolnya sambil memainkan ponsel.
"Boleh lihat kamar Kak Jimmy, penasaran mau lihat dalamnya." Okta tanpa persetujuan masuk ke dalam kamar Jimmy. Semua yang ada di sana tersusun rapi, foto-foto Okta memenuhi dinding kamarnya. Ada satu foto yang menjadi perhatian Okta. Foto seorang bocah laki-laki. Okta berusaha mengingat.
"Kamu sudah ingat?" Jimmy masuk duduk di sofa di samping Okta.
"Ini siapa Kak?" Okta menunjuk foto.
"Foto aku waktu kecil . Apa kamu dulu pernah bertemu aku sewaktu kecil ?" Jimmy mencoba mengingatkan.
"Aku mempunyai masa kecil yang buruk Kak, banyak sekali memori yang terlupakan. Tapi aku merasa yang di foto ini tidak asing." Okta meletakkan foto itu ke atas meja nakas.
"Dulu aku pernah diculik, dan seorang gadis kecil tiba-tiba muncul dan menyelamatkanku." Jimmy mulai menceritakan pengalaman uniknya.
"Kamu tau bagaimana kami bisa keluar dari tempat sempit yang gelap di malam itu?" Okta menggelengkan kepala.
"Gadis kecil itu 'kentut' dan kami pun teleportasi." Jimmy ketawa saat cerita.
"Kak Jimmy tau siapa gadis kecil itu?" Okta menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Aku tak pernah lupa wajahnya walaupun bertahun-tahun tidak bertemu. Dan untungnya takdir mempertemukan kami kembali. Tapi sayang gadis itu tidak mengingatku." Jimmy membuka telapak tangan Okta dan memandanginya.
"Ohhhh jadi ini ceritanya kenapa Kak Jimmy pertama kali manggil ku 'kentut'." Wajah Okta memerah menahan malu.
"Sekarang kamu sudah ingat dengan bocah kecil itu?" Jimmy menunjuk foto kecil dirinya.
"Iya, ihhhh jadi maluuu." Okta menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Jimmy.
"Kenapa harus malu sih, gara gara kamu 'kentut' aku jadi mikiran kamu bertahun-tahun, dan aku juga suka sama kamu, dan terima kasih kamu juga nerimaku jadi pacar kamu." Jimmy memeluk Okta.
"Makan dulu dah laper." Jimmy mengajak Okta ke ruang tamu. Tadi Jimmy pesan makanan online.
"Kak Jim, boleh aku tau kenapa Kak Jimmy marah saat aku digudang sekolah?" Okta melap mulutnya.
__ADS_1
"Yang pasti itu semua kesalahpahaman." Jimmy menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Waktu kamu nemanin si Ana, aku nerima foto-foto kamu pelukan sama Aldi. Kamu tau yang ngirim foto dan yang motret kamu itu adalah orang yang sama yaitu Ana."
"Kak, apa pun yang terjadi di masa akan datang, masalah apapun itu kita bicarakan dan diselesaikan. Sakit Kak rasanya. Kalaupun nanti Kak Jimmy sudah bosan sama aku, asal Kak Jimmy jujur aku terima Kak." Ada perasaan sedih saat Okta mengatakan itu.
"Loh yank, kenapa ngomongnya gitu. Aku minta maaf waktu itu aku cemburu, itu semua salahku kenapa aku langsung percaya. Ini semua pengalaman pertamaku, kamu cinta dan pacar pertamaku. Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu." Jimmy menatap Okta.
"Aku dengar Kak Jimmy mau kuliah ke luar negeri."
"Iya keinginan Ayah dan Bunda." Jawab Jimmy.
"Udah kenyang, aku pengen jalan Kak, nonton, pokoknya seharian sama Kak Jimmy." Okta berdiri menuju dapur mencuci peralatan makan.
Jimmy menyadari Okta saat ini dalam suasana hati yang kurang baik.
"Di dalam lemari kamarmu, sudah aku siapin baju ganti, baju jalan, pokoknya semua lengkap. Aku mau ganti baju dulu." Jimmy menuju kamarnya.
"Dilfa, gue mau ajak Okta jalan, suasana hatinya lagi kurang baik." Jimmy melakukan panggilan telepon.
"Jangan malam-malam, awas loe!" Ancam Dilfa.
"Gue ajak nginep di Apartemen." Jimmy mematikan panggilan.
Okta membuka lemari, waw isinya baju cewek, satu persatu di coba Okta, akhirnya dia memilih pakaian simple gak ribet kaos putih motif dengan kombinasi celana jeans panjang dan sneakers putih.
"Itu semua yang ada di lemari siapa yang milih Kak?" Okta mulai curiga. "Apa jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa?" potong Jimmy.
"Kak Jimmy punya selingkuhan ya."
"Gak ada, semua aku beli untuk kamu, semoga aja kamu suka." Jimmy rada kesal jawabnya.
Okta memegang tangan Jimmy. "Aku hari ini bikin kamu kesal ya. Maafin ya Kak. Gak tau Kak setelah dengar Via cerita Ana suka sama Kak Jimmy, ada perasaan sakit di sini." Okta memegang dadanya. "Untuk sekarang aku masih belum siap kehilangan Kak Jimmy."
"Gak akan." Jimmy mengecup kening Okta.
"Udah ah aku mau nonton," Okta mendahului Jimmy keluar Apartemen. Jimmy mengejarnya.
Mereka tiba di sebuah Mall terbesar di Kota itu.
"Film apa Yank?" tanya Jimmy.
"Itu aja Kak kayaknya film romantis, Okta memilih film dengan judul 'Semoga Aku Jodohmu'."
"Aku beli cemilan dulu." Jimmy ngambil antrian.
Okta duduk menunggu, tiba-tiba ada yang menghampiri Okta. Cowok ganteng . Okta cukup lama memperhatikan.
__ADS_1
"Permisi, ada apa ya ?" Okta bertanya.
"Kamu sendirian?" Cowok itu juga bertanya.
"Aku lagi nunggu teman beli cemilan." Okta menunjuk ke arah antrean panjang.
"Ini ada dua tiket nonton, free ." Cowok itu memberikan dua tiket.
"Hmmm kamu gak nonton?" Okta ragu mau ngambil tiket.
"Nonton sendiri gak seru, lagi pula yang diajak udah nonton sama yang lain." Cowok itu menunjukkan kekecewaan.
Jimmy dari jauh melihat percakapan Okta dengan Cowok asing itu.
"Tolong diambil ya, sayang mubazir. Semoga sukses acaranya, makasih," Cowok itu menaruh dua tiket di tangan Okta, dan pergi meninggalkannya.
Rejeki anak Sholehah. Batin Okta.
"Siapa Yank?" Jimmy menghampiri dengan minuman dan cemilan.
"Ada yang ngasih tiket Kak,free." Okta nunjukin tiket ditangannya.
"Asiikkk film action ne, seru Yank."
"Yang romantis dulu Kak ." Okta dan Jimmy memasuki ruang Cinema.
Film yang mereka tonton saat ini mengisahkan cinta jarak jauh sepasang kekasih. Karena sang Cowok kerja demi masa depan mereka. Akan tetapi godaan seorang Wanita cantik memisahkan pasangan tersebut. Dan si Cowok memilih Wanita ketiga itu sebagai pengantinnya.
Okta terus meneteskan air mata, entah emang ceritanya sedih atau memang saat ini dia sedang memikirkan percintaannya apa bila Jimmy kuliah di luar negeri. Apa seperti cerita film itu.
Jimmy seakan mengerti, mungkin Okta tidak mau menjalin LDR.
Mereka lanjut nonton film ke dua film action. Cuman Jimmy yang nonton, Okta tertidur bersandar di bahu Jimmy.
"Aku antar pulang." Jimmy membukakan pintu mobil untuk Okta.
"Aku mau nginep di Apartemen Kak Jimmy."
"Jangan Yank, disunat Farrel aku ntar, "Jimmy menolak.
"Ya udah anterin aku pulang!" Okta merajuk.
"Dil, gimana ne . Okta gak mau pulang. Mau nginep di Apartemen gue." Jimmy nelpon Dilfa.
"Tumben gak biasanya dia begini. Untuk malam ini gue kasih ijin. Ingat batasan loe." Dilfa mengakhiri panggilan.
"Oke kita ke Apartemen." Jimmy mengemudikan mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1