
Di kediaman keluarga Arya.
Berbagai macam teror hantu berdatangan. Mereka sengaja dikirim Nenek Dimas. Mulai dari kuntilanak yang berterbangan, pocong berlompatan, tuyul berlarian. Papa, Mama, Keenan, Farrel, Dilfa, Jimmy tentu saja ketakutan.
Papa dan Mama membaca ayat suci Al-Qur'an. Dilfa dan Jimmy di tengah ketakutan membaca doa yang telintas saat ini di kepala mereka yaitu doa tidur dan doa makan.
"Hi hi hi hi....bacaannya sa.... ahhh," kuntilanak berbisik tepat di hadapan mereka.
"Aaaaaaaa...." Otomatis Dilfa dan Jimmy lari tunggang langgang.
Lagi-lagi gelang Farrel bergetar. Sesosok wanita berpakaian bak Putri kerajaan nan cantik jelita itu pun keluar.
"Mohon ijin tuan muda, aku ingin memusnahkan mereka." Sosok itu menundukkan kepalanya kepada Farrel.
"Iya, mohon bantuannya." Farrel pun menundukkan kepalanya.
SPLASH! SPLASH! SPLASH!
Jarum-jarum kecil melesat di udara. Semua yang ada merunduk.
Sosok yang bernama Alesha itu membalikkan serangan. Jarum-jarum kecil tadi dikirimkan kembali ke orang yang mengirimnya.
__ADS_1
"Kurang ajar, uhuk uhuk." Nenek Dimas mengeluarkan darah segar di mulutnya."Siapa makhluk ini?" kekuatannya melemah. Baru kali ini dia mendapatkan lawan yang sepadan.
Alesha membacakan ayat-ayat suci, seketika segala jenis hantu pun menjadi abu. Kemudian Alesha membentengi kediaman Papa Arya dengan pagar gaib. Untuk mengantisipasi serangan-serangan makhluk gaib yang berniat jahat.
"Semua sudah selesai, mohon pamit." Alesha pun menghilang.
"Farrel, Papa tidak menyangka Ibu tiri kamu berteman dengan iblis." Papa Arya dengan separuh napasnya yang masih merasakan ketakutan.
"Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya." Kata Farrel.
"Masalah membikin bangkrut Dimas, Keenan bisa tanganin Pa, tapi kalo soal beginian Keenan angkat tangan.: Ujar Keenan yang juga menstabilkan napasnya.
"Mama kepikiran bagaimana Okta." Mama Yasmine sedih.
"Dilfa, Jimmy, mereka menghilang," Farrel menyadari mereka tidak ada. Semua berpencar mencari.
Keenan masuk ke ruang baca.
KREEKK! Pintu lemari terbuka, Keenan mendekat perlahan, tampak bayangan hitam, pelan-pelan Keenan mendekat, semakin dekat, ternyata Dilfa dan Jimmy pingsan sambil berpelukan.
......................
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk uhuk," Nenek Dimas sambil memegang dadanya. "Ternyata tidak mudah mengalahkan anak Darian."
"Ibu baik baik saja?" Erina khawatir belum pernah melihat Ibunya terluka. Selama ini Ibunya yang selalu membuat orang terluka bahkan tidak segan untuk membunuh.
"Ibu akan beristirahat untuk beberapa hari ke depan. Kekuatan Ibu berkurang."Nenek Dimas masuk ke dalam ruangannya yang gelap.
"Jika kau ingin kekuatanmu kembali, korbankan perempuan yang bersama cucumu sekarang!" Perintah makhluk besar berbadan panjang menyerupai ular berkepala manusia.
"Kenapa harus dia, Ratu?"
"Karena dia memiliki kekuatan yang luar biasa." Ujar Ratu ular.
Nenek Dimas diam. Di satu sisi dia sangat menyayangi Dimas dan selalu menuruti kemauannya. Tapi di sisi lain dia ingin menguasai dunia dengan ilmu hitamnya. "Biarlah Dimas yang mengorbankan kebahagiaannya demi ambisi serakah sang Nenek. Toh wanita banyak yang lebih cantik." Nenek Dimas dengan senyum menyeringai.
Di Villa , Dimas selalu memandang penuh nafsu Okta, meskipun di bawah pengaruh pelet, Okta sama sekali tidak bisa tersentuh. Berapa kali Dimas hendak melecehkan selalu saja gagal. Ingin mencium pipi pun serasa ada yang mendorong tubuhnya tuk menjauh, cuman bisa berpegangan tangan.
Itu semua karena Lian. Lian belum bisa berbuat banyak karena tenaganya belum sepenuhnya pulih. Lian masih belum bisa menampakan diri.
"Okta, bersabarlah." Lian menatap Okta.
Okta mendengar suara Lian. Lian, selamatkan aku. Batin Okta.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...