
Di kelas X 1, ada yang mencari Okta.
Mereka adalah Rini cs, fans aliran kerasnya Dilfa. Hari ini jam pelajaran olah raga. Semua murid X 1 sudah kumpul di lapangan kecuali Okta yang masih mencari seragam olah raganya.
"Hei kamu, anak baru. Berani ya dekat-dekat sama Dilfa. Jangan macam-macam sama gue." Ancam Rini sambil menarik tangan Okta.
"Kak Dil...Dil...fa, e...emang ke...napa?" tanya Okta terbata-bata.
"Loe gak tahu, cuman gue yang boleh dekat dan memiliki Dilfa!" Rini meninggikan suaranya.
BRUUKK! Tubuh Okta didorong kuat oleh Rini, rambutnya dijambak, kakinya ditendang .
Tubuh Okta ambruk, terlintas diingatan masa lalunya saat Ibu tiri dan Kakak tirinya menyekap dan memukulnya di gudang.
"Aghhhh...jangan...ampun...." Teriak Okta tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai mengucur deras.
"Rin, gimana ini, buruan kabur mumpung gak ada yang lihat." Saras panik langsung angkat kaki bersama Rini dan 3 orang lainnya.
Tanpa mereka sadari seseorang merekam kejadian tersebut.
"Jim, gue ke kelas Okta dulu ya, baju olah raganya ada di dalam tas gue," kata Dilfa beranjak dari kursinya.
"Gue ikut, perasaan gue ga enak," susul Jimmy.
Di lapangan Dilfa tidak melihat Okta, lalu mereka memutuskan menuju ke kelas X 1.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Dilfa dan Jimmy melihat kondisi Okta yang tertunduk di lantai dengan tangan memegang lutut, mata terpejam, bibir bergetar seolah memohon sesuatu.
"Okta! Dek tenang dek, ini Kakak," Dilfa memeluk tubuh Okta, tangannya mengusap lembut punggung Okta.
"Ja...ngannn, le...pas...kann, aammpuuuunnnn," teriak Okta.
"Jim, panggil ambulan!" Dilfa dengan kepanikannya.
Spontan Jimmy mengeluarkan gelang yang ada di saku celananya, dipasangkannya ke tangan Okta.
Terjadi perubahan energi pada Okta, yang menyebabkan Okta merasakan sakit yang sangat diperutnya dannnnnnnnn BRUBUUTT! BOOOMMM! Kilatan cahaya muncul menyedot tubuh Okta, Dilfa, dan Jimmy.
......................
Lampu di ruang tengah kelap kelip sebentar nyala sebentar mati.
BRUUKKU! Ada yang jatuh.
"Dilfa, Jimmy, Okta," tatap Keenan tidak percaya.
"Bang Keenan tolongin Okta bang! Nanti aku ceritain," seolah Dilfa bisa membaca kebingungan Keenan.
Okta sekarang sudah merasa tenang setelah diberikan Keenan obat, dan beristirahat di kamarnya. Keenan juga sudah meminta ijin tuk Okta, Dilfa dan juga Jimmy melalui telepon ke sekolah.
"Ok, cerita kan!" Keenan minta penjelasan ke Dilfa dan Jimmy.
__ADS_1
"Tadinya aku mau ke kelas Okta ngasih baju olah raganya, eh tiba-tiba di kelas Okta histeris Bang, kayak dulu waktu dia diculik, dia teriak ja...ngannnnn, le....paskannnnn, ammmpuuunnn gitu Bang," cerita Dilfa.
"Pasti ada sesuatu yang memicu ingatan buruknya, tadi Bang Keenan lihat ada bekas tendangan di kakinya," terdengar Keenan menahan emosi sambil mengepalkan tangannya.
"Mama Papa gimana Bang?" tanya Dilfa.
"Untuk sementara jangan diberitahu dulu," jawab Keenan.
"Hmmm, maaf Bang Keenan, Dilfa, boleh gue nanya? Apa 8 tahun yang lalu Okta pernah diculik?" Jimmy masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"8 tahun yang lalu Mama dan Papa menemukan Okta dengan tubuh penuh luka lebam di jalanan." Cerita Bang Keenan
"Gini Bang 8 tahun yang lalu, gue pernah diculik. Gak tau datang dari mana tiba-tiba Okta muncul dihadapan gue keadaannya persis kayak Bang Keenan ceritain tadi."
"Kalo ditanya kenapa kami bisa kabur dari penculik, ya itu karna Okta 'kentut'." Kata Jimmy sambil mengangkat kedua tangannya membentuk angka dua menaik turunkan jarinya.
"Kentut, maksud kamu apa?" Keenan mengerutkan dahinya.
"Oh maksud loe, gara gara kentut Okta kita bisa sampai kesini ?" Sela Dilfa.
"Nah itu yang gue maksud," sahut Jimmy.
"Tunggu, jadi kalian kabur dari penculik karena kentut Okta bisa teleportasi, gitu?" tanya Dilfa lagi.
"Bingung kan loe, tapi loe baru aja kan ngalamin," ujar Jimmy.
__ADS_1
Keenan makin pusing dibuatnya. Mana ada kentut bisa teleportasi 🤣🤣🤣.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...