Cintaku Karena Kentut

Cintaku Karena Kentut
7. Horor


__ADS_3

Okta, Enny, Via, Ana dan anak-anak cewek yang lain mandi di waktu sore menjelang maghrib. Letak kamar mandinya berada di bangunan ujung dari lokasi tenda mereka. Kamar mandi di lorong sebelah kanan, sedangkan WC sebelah kiri.


"Bentar gue ke WC dulu, kebelet," Ana memegang perut sambil berlari.


Setelah selesai Ana bergegas menuju kamar mandi dimana teman temannya menunggu.


Baru beberapa langkah Ana melihat seseorang berdiri di depan lorong mengarah ke kamar mandi. Pakaian hitam, rambut panjang, cuman wajahnya tertutup rambut.


"Permisi saya mau lewat," Ana kembali melangkahkan kakinya.


Orang tersebut diam tidak ada pergerakan. Tak sengaja pandangan Ana mengarah ke bawah. Sambil berjalan menunduk Ana memperhatikan orang didepannya seolah-olah terbang, kakinya melayang ke udara. Ana merinding merasakan dingin di bagian lehernya. Setelah berhasil melewati Ana penasaran, perlahan dia menengok ke belakang dan orang tersebut menghilang. Dengan sekuat tenaga Ana berlari dan BRUUKK! menabrak Enny.


"An, loe kenapa?" Enny bingung melihat Ana yang ngos-ngosan.


"Set...setan ada setan," tunjuk Ana ke arah WC.


"Setannnn!" sontak anak anak yang mendengar lari ketakutan.


"Jangan nakutin," ujar Via


" Sumpah gue lihat sendiri." Ana mengangkat dua jarinya.


"Ayooooo balik ke tenda!" Via, Ana, Enny berlari ke luar.


Sementara itu Okta yang tidak mengetahui dirinya sendirian di kamar mandi, mencari ke tiga sahabatnya.

__ADS_1


"Yah ditinggalin, jahat mereka." Kesal Okta.


Sebelum menuju tenda, Okta melewati sebuah taman kecil. Dan di sana Okta bertemu dengan seorang cowok yang luar biasa tampan. Kulit putih, hidung mancung, badannya tinggi, kayak opa-opa Korea. Cowok itu mengulurkan tangannya memberi isyarat agar Okta ikut dengannya. Entah kenapa Okta menurut dan mengikutinya.


Aldi asik main gitar diiringi nyanyian dari teman-teman. Tangannya berhenti, fokusnya mencari suara merdu yang sedari tadi jadi backing vokal.


"Gaesssss apa an tuh diatas?" tunjuk Aldi ke atas pohon besar tepat dimana mereka saat ini.


Kompak mereka mendongak. Ternyata di atas ranting pohon ada seorang wanita duduk sambil mengayunkan kakinya.


"Aku cantik tidak?" sambil tersenyum wanita itu tiba-tiba turun dan membalikkan tubuhnya, ada banyak belatung dan lubang di bagian belakangnya.


"San...dal eh sun...sun...del bolong!" teriak Aldi dan tiga temannya, kemudian mereka pun pingsan.


Tidak hanya itu serangkaian teror horor juga dialami guru-guru. Ada yang mendengar suara tangisan bahkan ada yang mendengar suara ketawa wanita.


Keadaan sudah tidak terkendali.


Demi keamanan bersama, semua siswa di kumpulin di ruangan Aula.


"Enny dimana Okta?" Dilfa khawatir belum melihat Okta.


"Ya ampun, maaf Kak kami gak sadar Okta menghilang," Sesal Enny.


Dilfa mengambil ponsel mencoba menelpon Okta tapi tak ada jawaban.

__ADS_1


"Dilfa, mana Okta?" tanya Jimmy.


"Gak tau Jim, tidak bisa dihubungin." Dilfa mengajak Jimmy, Nata, Ferdy berpencar mencari Okta.


Dilfa trus menghubungi ponsel Okta, terdengar suara nada ponsel di rerumputan. Deg, jantung Dilfa mengambil ponsel Okta.


"Okta dimana kamu dek, duh jangan sampai kejadian lagi." Dilfa bersimpuh menangis sesenggukan.


Jimmy, Nata, Ferdy sangat menyadari betapa besarnya kasih sayang seorang Dilfa ke Adiknya Okta.


"Bang, Bang Keenan, Okta menghilang." Dilfa melakukan panggilan.


"Apaaaaaaa!" Keenan tersentak dari duduknya.


"Kenapa bro?" tanya Farrel.


"Okta menghilang." Jawab Keenan.


"Sini pegang tangan gue." Keenan memegang tangan Farrel.


"Bawa kami ke Camping Ground!" perintah Farrel.


Mereka pun teleportasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2