Cintaku Karena Kentut

Cintaku Karena Kentut
19. Tertangkapnya Erina


__ADS_3

Berita meninggalnya Darian terdengar Erina.


Ada rasa bahagia karena keinginannya untuk mendapatkan harta Darian akan terwujud. Sedangkan Dimas saat ini frustasi karena menghilangnya Okta. Dimas juga marah ketika mengetahui Okta akan dijadikan tumbal. Terlintas dipikiran untuk membalas perbuatan Neneknya.


Erina dan Dimas berencana menghadiri pemakaman Darian hanya sebatas formalitas saja. Tibalah Erina dan Dimas di pemakaman umum. Erina keluar dari mobil menuju tempat dimana Darian dimakamkan. Dengan air mata buaya Erina meratap di atas pusara. Suasana pemakaman memang terlihat sepi pada saat itu, karena pihak keluarga dan orang yang melayat sudah kembali ke rumah duka. Jadi tidak banyak yang melihat akting Erina.


Dimas hendak menyusul Erina tiba-tiba tangannya ditarik dari arah belakang.


"Okta," Dimas menatap bahagia.


"Sstttttt." Okta meletakkan telunjuknya ke mulut Dimas. "Ikut aku kak!"


Dimas dengan senang hati mengikuti.


Tak jauh dari lokasi pemakaman ada sebuah pondokan tempat biasanya orang menunggu atau sekedar melepas lelah.


"Okta kenapa kau meninggalkan aku?" tanya Dimas.


"Kak Dimas jahat, mengapa Nenek mau mencelakaiku. Apa aku menyakiti Kak Dimas?" Okta dengan manja memukul-mukulkan tangannya ke dada Dimas.


"Maaf, itu semua tanpa sepengetahuanku." Dimas menahan pukulan Okta.


"Kak, tega ya, masa aku mau dinikahin sama Genderuwo." Kata Okta.


"Hahhhh, masa sih." Dimas kaget.


"Emang kurang apa sih Kak Dimas bisa dibandingkan dengan genderuwo."


"Ya gak bisa dibandingin lah." Dimas sombong.


"Nenek gak sayang sama Kak Dimas kali ya, Kak Dimas sudah gak suka aku lagi?" Okta sok imut.


"Siapa bilang gak suka, sangat sangat suka malah." Dimas mentoel hidung Okta.


"Tau gak siapa yang membawa ku kabur dari Villa, itu si genderuwo."


"Trus kenapa kamu bisa ada disini?" Dimas curiga.

__ADS_1


"Aku pengen ketemu Kak Dimas, minta ijin sama Om Gen bentar."


" Om siapa?" tanya Dimas.


"Tuhhhhh." Okta menunjuk di belakang Dimas.


Dimas berbalik dan sontak melompat kaget melihat kepala besar bertaring tepat di atas kepalanya.


"Astaggaaaaaaaa !" teriak Dimas.


Makhluk itu pun menghilang. Tak lain adalah Lian yang sedang menyamar.


"Kak Dimas gak apa?" Okta seolah khawatir, padahal dalam hati mengumpat rasain loe, emang enak.


"Okta, apa kamu mencintai ku?" Dimas dengan napas tersengal.


" Eheeeem." Okta menggangguk.


"Baiklah, aku akan memberi tahu rahasia. Agar kamu terbebas dari makhluk berbulu itu." Dimas masih dengan napas tersengal.


"Apa itu Kak?" Okta mendekatkan diri ke Dimas.


"Trus Nenek?"


"Nenek akan hilang kekuatannya, dan kita bisa trus bersama tanpa ada gangguan makhluk berbulu dan sejenisnya." Dimas terlalu tergila-gila kepada Okta.


"Makasih Kak." Okta terpaksa memeluk Dimas. Dan Okta memberikan kode dengan mengacungkan jempolnya kepada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan teropongnya.


"Jim, wooyyy!" Dilfa menepuk pundak Jimmy.


"Harus ya pake acara peluk-pelukan gitu." Jimmy marah.


"Cieeeee yang cemburu, cuman akting Jim." Dilfa kembali menepuk pundak Jimmy.


Semua pembicaraan Okta dan Dimas terdengar oleh Dilfa, karena Okta menggunakan Earpiece yang terhubung ke smartphonenya.


Dilfa kemudian melakukan panggilan ke Keenan.

__ADS_1


"Bang, di kamar dukun ada patung ular berkepala manusia, harus dimusnahkan."


"Oke siap, ini bagian Bang Keenan dan Farrel. Jaga Okta." Keenan mengakhiri panggilannya.


Sesuai rencana, Okta ikut dengan Dimas. Dibuntuti Dilfa dan Jimmy ke kediaman Erina.


Sedangkan Erina disambut kedatangannya oleh Farrel dengan pasukan polisi yang menangkapnya. Erina dilaporkan Farrel karena terbukti melakukan pembunuhan berencana kepada Darian dan juga kasus penipuan.


"Nyonya Erina Dewi Sandra, anda ditahan karena kasus pembunuhan berencana dan juga penipuan terhadap Tuan Darian Dwiguna, ini surat penangkapannya." Kata salah seorang Polisi.


"Saya tidak melakukannya, mana mungkin saya melakukannya." Erina menolak ke kantor Polisi.


"Sebaiknya Anda ikut kami dan menjelaskannya di kantor." Polisi itu memerintahkan petugas yang lain untuk membawa Erina.


Erina masih berontak, tidak terima. Erina mencari Dimas namun tak kelihatan batang hidungnya. Dan matanya menatap tajam kearah Farrel yang tersenyum kemenangan.


Erina berada di dalam mobil patroli, ternyata disebelahnya ada Darian.


"Bu...bu...kan kah kamu sudah mati," Erina panik.


"Pak tolong buka pintunya!" Erina memukul kaca mobil.


"Bu Erina, diharapkan anda tenang." kata Pak Polisi di kursi depan.


Erina makin ketakutan melihat Darian disebelahnya yang cuma diam.


"Kenapa kamu belum mati, bukannya kamu sudah dikubur."


"Bu Erina, ibu bicara dengan siapa?" Pak Polisi bicara dengan tegas.


"Ini Pak, Mas Darian." Tunjuk Erina ke sebelah duduknya.


Pak polisi melihat kesebelahnya, "tidak ada siapapun."


"Ini Pak kenapa dia masih ada di sini, dia sudah mati." Erina makin takut melihat Darian menatap matanya. "Dia ku beri racun, dia ku masukkan ke dalam mobil dan mobilnya masuk kedalam jurang."


"Seharusnya kamu bersyukur sudah ketemu dengan Cordelia di alam baka." Erina tertawa. "Kamu tau yang menyebabkan kecelakaan Cordelia adalah aku Ha ha ha, kabel remnya putus, minyak remnya bocor. Dan kamu, kembali sana ke alammu!" Erina mengamuk seperti orang gila.

__ADS_1


Pak polisi melaporkan kejadian, bahwa Erina mengakui perbuatannya. Dan dengan kondisinya yang sekarang Erina akan diperiksa kejiwaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2