
Jimmy janji ketemuan dengan Ana di sebuah Cafe . Begitu juga Aldi janjian hari ini dengan Okta di Cafe yang sama. Padahal itu semua akal-akalan Jimmy dan sahabatnya untuk membalas mereka. Ana berdandan sangat cantik hari ini, dia mengira Jimmy akan berterima kasih kepadanya kemudian putus dengan Okta. Berbeda dengan Aldi, ada perasaan sakit di hatinya karena sudah menyakiti Okta.
Ana memasuki Cafe, mencari keberadaan Jimmy, dari jauh Jimmy melambaikan tangan, Ana menuju ke arah Jimmy.
"Udah lama nunggu Kak," Ana tersipu.
"Baru juga nyampe, hari ini kamu cantik," puji Jimmy. Memang cantik tapi berhati busuk, bisik Jimmy dalam hati.
"Kak Jimmy juga ganteng." Ana makin tersipu.
"Silakan di makan, maaf tadi aku pesan duluan."
"Makasih Kak." Ana memakan kentang goreng dan jus jeruk di atas meja.
"Cerita kan, berapa lama Okta menjalin hubungan dengan Aldi." Jimmy mencari kejujuran Ana.
Di ruang VVIP Aldi, Dilfa, Nata, Ferdy mendengarkan pembicaraan Jimmy dan Ana dari layar laptop yang ada di ruangan itu.
"Awal mereka jadian waktu di Camping Ground itu Kak. Kak Jimmy kan lihat waktu itu Aldi dan Okta berduaan." Ana ngarang cerita.
"Oh ya, apa alasan Okta selingkuh dari gue?"
"Sebenarnya Okta itu gak suka sama Kak Jimmy, mau nolak gak enak. Kan Okta banyak yang naksir Kak. Kalo sama Aldi mungkin Okta cinta kali Kak." Ana makin bikin Jimmy eneg, untung cewek kalo cowok sudah gue tusuk-tusuk kayak sate, batin Jimmy.
"Ternyata wajah cantik hatinya busuk ya." Kata Jimmy.
__ADS_1
"Gak semua Kak." Ana menyelipkan rambutnya.
"Kamu suka sama Kakak?" pancing Jimmy.
"Hemmmm, siapa yang gak suka sama Kak Jimmy. Tampan, pintar, tajir ." Uppsss Ana menutup mulutnya.
"Kalo Kakak gak tajir apa kamu masih suka?" Jimmy tajam menatap Okta.
"Masih suka Kak." Jawab Ana.
"Coba kamu lihat video ini!" Jimmy memberikan androidnya. Ana membuka dan melihatnya.
"Hemmm, heemmm, maaf Kak aku diancam Aldi." Ana gugup ketahuan.
"Bohong, Ana jangan ngibul loe." Tiba-tiba Aldi protes. "Ana suka sama loe Jimmy. Dia begitu terobsesi, bukan hanya Okta siapa saja yang suka sama loe bakalan disingkirin."
"Semua perbuatan loe gue bisa buktiin." Tegas Aldi.
"Benar, semua kejadian waktu itu gue dan Ana yang merencanakan. Tapi jujur setelah melakukan itu gue sangat menyesal."
Aldi berbalik ke arah Dilfa. "Loe Dilfa apa masih ingat dengan putri?"
"Putri, siapa?" Dilfa mencoba mengingat.
"Siswa korban bullyan yang bunuh diri." Jawab Aldi.
__ADS_1
"Loe siapanya putri?"
"Gue adiknya putri yang loe bully hingga bunuh diri." Aldi melorot eh melototkan matanya ke arah Dilfa.
Dilfa, Jimmy, Ferdy dan Nata kaget bukan main.
"Demi Allah gue gak pernah ngebully orang." Dilfa mengangkat dua jarinya. "Mereka saksinya," Dilfa menunjuk sahabatnya.
"Loe ada bukti Dilfa pelakunya?" Nata mengguncang tubuh Aldi.
"Gue cuman pernah dengar Kak Putri nyebut nama Dilfa." Aldi mengeluarkan sesuatu di dompetnya. Ternyata foto Putri.
Ana yang penasaran mengintip foto di tangan Aldi.
"Oh ini kakak loe." Tunjuk Ana. "Aldi gue memang jahat, tapi please kali ini loe percaya gue." Ana menarik nafasnya.
"Yang bully kakak loe Rini cs, gue bisa bawa saksi." Ana meyakinkan.
"Aldi, gue tau loe marah, tapi please cari tau dulu jangan langsung ambil keputusan yang membuat kesalahpahaman. Hari ini Loe fitnah gue. Mau gue laporin." Dilfa marah tak terima difitnah. "Loe melampiaskan dendam ke orang yang salah. Apa lagi itu ke adik gue!" Dilfa makin emosi.
"Ana karena loe, Okta harus menjalani terapi." Ferdy mengarahkan telunjuknya ke wajah Ana.
"Loe berdua gak ada yang melarang menyukai seseorang, cuman cara loe berdua yang salah." Nata memaki.
"Maaf gue minta maaf." Aldi berlutut dengan tangan mengatup. Ana juga ikutan berlutut. Entah hukuman apa yang akan mereka terima kemudian. Mereka cuman bisa pasrah.
__ADS_1
...Stop bullying. Cinta tak harus memiliki....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...