
Farrel, Keenan, Dilfa, Okta dan Jimmy akhirnya selamat. Para warga berdatangan melihat rumah Erina yang terbakar. Kebetulan saat itu menjelang Maghrib. Sebagian warga bisa melihat banyaknya penampakan di area kebakaran tersebut.
"Apa itu?" tunjuk salah satu tetangga.
"Anak kecil yang menangis," Warga yang lain menjawab.
"Orang apa bukan ya?" tanya warga yang lain.
Erina, Darian, Dimas dan Nenek dikenal warga tetangga yang baik. Sangat ramah terhadap tetangga. Akan tetapi betapa terkejutnya mereka, Ustad yang berada di lokasi mengatakan rumah ini penuh dengan korban tumbal siluman.
"Gak nyangka ya ternyata Neneknya Dimas dukun."
"Pantes az kekayaannya banyak."
"Jangan-jangan Bu Erina pakai pelet."
Bla bla bla, ya begitulah koment tetangga.
Petugas yang berwenang melakukan pemeriksaan, ditemukan banyak sekali tulang belulang, dan juga mayat yang masih baru , kemungkinan itu mayat Dimas dan Neneknya.
Waktu liburan berakhir, Dilfa, Okta dan Jimmy kembali ke Negara C. Farrel dan Keenan memutuskan tinggal di negara A karena banyak sekali yang harus mereka bereskan di sana. Masalah perusahaan Darian, kasus Erina, dan lain lain.
......................
Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Semua naik kelas tanpa kecuali. Hari ini Dilfa berbeda lebih rapi dan lebih wangi.
"Dek, hari ini Kak Dilfa pergi duluan." Dilfa memakai helmnya.
"Aku sama siapa Kak." Okta merajuk.
"Kan ada Jimmy." Dilfa menunjuk Jimmy yang baru saya masuk pekarangan rumah.
"Ya udah Kak Dilfa duluan yaaaa." Dilfa melaju dengan motor sportnya.
"Udah siap yank." Jimmy membuka kaca helm.
"Naik motor Kak, gak mau ah gerah." Okta malas naik motor sport .
"Biar cepat, yuukk nanti telat." Jimmy memasangkan helm ke Okta.
"Bentar Kak. KLIK!" Okta mengunci pintu. Kemudian naik motor Jimmy.
Jimmy melepaskan jaketnya, kemudian diikatkannya ke depan pinggang Okta. "Biar aman." Kata Jimmy.
Jimmy tak mau orang melihat paha mulusnya Okta. " Pegangan yank." Jimmy menoleh ke belakang.
"Harus ya." Goda Okta.
"Aku bukan Ojol yank." Jimmy meraih tangan Okta disilangkannya ke pinggangnya.
"Ih malu malu in." Bisik Okta
"Biar semua tau kamu ada yang punya." Jimmy menoleh ke belakang lagi dan muaaachh.
"Ihhhhhhh," Okta mencubit perut Jimmy.
"Awwwwwww," Jimmy menahan tangan Okta.
"Udah buruan jalan."
"Siapppppp." Jimmy meluncur ke sekolah.
Di parkiran sekolah.
__ADS_1
"Kak Dilfa, Enny." Okta heran melihat mereka berduaan.
"Hei Okta." Enny malu-malu.
"Kalian jadian?" tanya Okta.
"Baru seminggu." Dilfa juga malu-malu.
"Enny, kamu ya." Okta mencubit Enny.
"Jangan dek, pacar Kak Dilfa kan sakit." Dilfa memukul lembut Okta.
"Yeeeee gitu ya sama adek sendiri." Okta manyun.
Dilfa memeluk Okta dan Enny . "Kalian berdua orang yang Kak Dilfa sayangi."
"Eeetttt, pacar gue dipeluk-peluk." Jimmy menarik Okta dan mengajaknya masuk kelas.
Dilfa dan Enny mengikuti.
"Ihhhh gantengnya."
"Betah gue sekolah disini."
"Udah punya pacar belum?"
Biasalah siswa baru yang mengagumi Jimmy. Okta merasa bertambah banyak saingannya kali ini.
Jimmy menggandeng tangan Okta. Okta berusaha melepaskan tapi Jimmy malah mengeratkan genggamannya.
"Fansnya nambah banyak." Okta berbisik.
"Cemburu." Jimmy mendekatkan wajahnya ke Okta.
"Makasih, aku masuk kelas dulu." Okta menunggu Enny yang jalan berduaan di belakang mereka.
"Istirahat ketemu di kantin ya." Jimmy kembali ke kelas bareng Dilfa.
"Kakak ipar, siapa yang nembak duluan." Okta menggoda Enny.
"Masuk kelas dulu." Enny menaruh tas kemudian duduk di kursi.
"Gue yang nembak Kak Diifa." Okta mulai cerita.
"Whaattttt?" Okta tak percaya.
"Gue udah lama suka Kak Dilfa, cuman Kak Dilfa ngak pernah lihat gue."
"Nembaknya kapan?" Okta makin penasaran.
"Waktu kalian liburan ke kota A."
"Kak Dilfa gak pernah cerita." Okta mengingat banyak kejadian di kota A. Mana mungkin Dilfa sempat cerita.
"Gue sering chat Kak Dilfa nanyain kabar. Trus gue nanya tipenya Kak Dilfa yang kayak gimana. Kak Dilfa cuman cari seseorang yang mau ngertian dia, maksudnya ngerti bagaimana perhatian Kak Dilfa ke Adiknya yaitu kamu Okta. Kak Dilfa gak mau pacarnya cemburu lihat perhatian dan kedekatan dengan Adiknya. Kak Dilfa pasti menyayangi pacarnya."
"Trus kamu mau nerima perhatian Kak Dilfa selama ini ke aku? Kamu yakin gak cemburu?" Okta menyakinkan Enny.
"Okta, gue sayang sama loe, sahabat yang gue anggap kayak saudara, tentu gue bisa nerima Kak Dilfa." Enny juga meyakinkan Okta.
"Makassiiiihhhh." Okta memeluk Enny. "Jagain Kak dilfa, dia orang yang baik, jangan pernah nyakitin dia yaa."
"Haiiii gaesssss berpelukannnnn." Via masuk kelas dan ikutan berpelukan.
__ADS_1
"Emang kita Teletubbies." Okta dan Enny berbarengan.
"Ana mana ya?" Okta mencari sahabatnya Ana.
"Ana pindah sekolah." Jawab Via.
"Lho kenapa?" Okta tanda tanya.
"Via loe aja yang cerita." Enny malas dengan nama Ana.
"Duh gimana ya, gue takut loe nanti kenapa-kenapa." Via ingat bagaimana Okta waktu itu.
"Tunggu gue nanya Kak Dilfa dulu." Enny melakukan panggilan suara. Setelah mendapatkan persetujuan dari Dilfa, Enny memberi kode ke Via .
Via mengambil Napas kemudian membuang perlahan. " Loe masih ingat ketika Ana ngajak ke toilet. " Okta mengangguk. " Apa yang terjadi saat itu? Via mencoba mengorek informasi.
"Ana masuk toilet, sebelumnya ngasih minuman kaleng, trus ada Aldi." Okta sambil mengingat.
" Minuman itu dimasukin Ana obat tidur. Trus si Aldi kerja sama dengan Ana bikin loe putus dengan Kak Jimmy." Via emosi masih tak percaya selama ini dia berteman dengan orang yang bermuka dua.
Pantesan waktu itu mata terasa berat. Okta masih mengingatnya. " Trus kenapa aku berpelukan dengan Aldi." Okta masih mencari tahu.
"Pada hari itu Kak Jimmy, Kak Ferdy dan juga Kak Nata memeriksa CCTV, loe diangkat beberapa orang ke gudang belakang sekolah. Dan loe dibuat seolah-olah melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakuin bersama Aldi."
"Lalu dari mana Kak Jimmy tau?" Okta terus penasaran.
"Ana yang ngasih tau ke Kak Jimmy, loe lagi janjian sama Aldi dan Kak Jimmy membuktikan ke gudang belakang sekolah."
"Apa alasan Ana melakukan itu?"Okta makin bingung.
"Ana menyukai Kak Jimmy." Via melihat perubahan pada Okta.
"Okta, loe kenapa?" Via panik begitu juga Enny.
Untung hari ini jam kosong, gak ada kegiatan belajar mengajar di hari pertama sekolah.
"Yank." Tiba-tiba Jimmy masuk ke kelas Okta. Jimmy menghampiri. "Kantin yukk!"
"Bolos yuukkk!" Okta mengejutkan Jimmy.
"Ya bolos aja gak papa, sana buruan!" Enny mengedipkan matanya ke Jimmy. Via juga memberikan isyarat tangan ke Jimmy tuk segera pergi. Jimmy akhirnya mengerti.
Aldi masuk ke kelas dan melihat Okta. Ada rasa penyesalan dalan hatinya. Aldi perlahan mendekati tapi dihentikan Jimmy.
"Ngapain loe?" Jimmy berdiri dihadapan Aldi.
"Mau minta maaf sama Okta." Aldi menundukkan kepala.
"Bisa kamu jelasin kejadian hari itu Aldi?" Okta ingin mengetahui alasan Aldi tega berbuat jahat terhadapnya.
"Maaf Okta, maafin gue. Ya gue akui, gue emang suka loe. Gue ingin memiliki, dan semua itu di manfaatkan Ana. Gue kerja sama dengan Ana membuat putus hubungan kalian. Gue menyesal Okta." Aldi dengan penuh penyesalannya tulus meminta maaf.
"Kamu tau Al, akibat perbuatan kalian, Aku kehilangan kepercayaan orang yang ku sayangi. Apa kamu pernah merasakan kehilangan seseorang? Apa lagi orang itu orang yang kamu sayang. Rasanya teramat sakit." Okta menangis.
Jimmy memeluk Okta dan menenangkannya." Aldi cukup, tinggalkan kami!"
"Okta sekali lagi maaf." Aldi pun meninggalkan Jimmy, Okta, Enny dan Via.
"Kak Jimmy ajak Okta jalan-jalan." Kata Via.
"Yuukkk yank!" Jimmy menghapus air mata Okta dan merapikan rambutnya. Mereka pun meninggalkan sekolah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1