
Sedari pagi sikap Gery kembali ke mode galaknya. Mengingat kemarin Cinta masih saja belum bisa mengingat jika dia adalah Jeje, membuat Gery sedikit kesal.
Tapi didalam ruangannya, senyum Gery masih terkembang sempurna mengingat hari kemarin saat dia jalan berdua dengan Cinta.
Gery menyadari jika di dalam hatinya memang masih lekat nama Cinta tersemat di dalamnya.
"Dasar orang aneh. Apa dia itu punya kepribadian ganda ya? Kemarin sikapnya manis banget, sekarang galak lagi. Menyebalkan" gerutu Cinta setelah selesai dengan tugas paginya yang selalu saja ada sebuah kesalahan di mata Gery.
Tepat jam sepuluh, terlihat dua orang yang memaksa masuk dengan kawalan seorang bodyguard.
"Ada apa ini pak satpam?" tanya Cinta yabg melihat keributan itu mulai menghampiri meja kerjanya.
"Maaf bu Cinta, mamanya pak Gery datang dan memaksa masuk. Padahal saya sudah menyuruh beliau untuk menunggu sebentar saat saya melapor ke tempat Bu Cinta" kata security itu dengan wajah memelas.
"Oh, iya tidak apa-apa pak. Biar saya yang melapor ke pak Gery. Bapak bisa kembali ke tempat kerja bapak. Terimakasih ya pak" ujar Cinta dengan sopan.
Kini pandangan Cinta tertuju pada dua wanita yang bertampang angkuh di depannya. Dengan wajah ketus, wanita tua yang masih nampak elegan itu menatap sinis pada Cinta.
"Jadi, kamu sekretasis barunya anak saya? Kamu tahu siapa saya?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Iya ibu, saya sekretasis baru pak Gery. Dan saya baru melihat ibu hari ini, jadi saya tidak tahu siapa ibu ini" kata Cinta yang masih melekatkan senyuman di wajahnya.
"Saya itu ibunya Gery, dan sekarang saya mau menemui anak saya" kata mama Weni yang sudah akan menyelonong masuk.
"Tunggu sebentar ya, bu. Biarkan saya menghubungi pak Gery" ucap Cinta.
"Hei, sekretasis kampungan. Berani lo nahan tante Weni disini? Sudah siap jadi pengangguran ya lo? Dasar kampungan" ejek wanita muda yang sejak tadi sudah bertampang masam.
"Maaf ya mbak, saya cuma menjalankan tugas saya saja" kata Cinta dengan penuh kesabaran.
Seingatnya, istri pak Jimmy dulu nggak sesombong orang-orang di depannya ini.
"Sudah, kita masuk saja Alexa. Nggak usah perdulikan dia" kata mama Weni dengan malas saat menatap Cinta yang sebenarnya terlihat cantik di mata beliau.
"Ayo tante" jawab Alexa dengan angkuhnya saat melewati meja kerja Cinta.
"Tapi Bu, maaf..." belum sampai Cinta menyelesaikan ucapannya, Gery sudah membuka handle pintu dari dalam ruangannya dan melihat keluar.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" keluh Gery yang melihat segerombolan orang di depan ruangannya.
"Maaf pak, ibu ini memaksa masuk" ucap Cinta.
"Iya, tidak apa-apa Cinta. Biarkan saja beliau masuk, beliau ini mama saya" kata Gery, mama Weni sudah berdiri angkuh di samping anaknya.
"Tapi mama tidak seharusnya membuat keributan disini. Biarlah Cinta melakukan tugasnya untuk melapor padaku" kata Gery.
"Tuh kan, mas Gery saja nggak masalah kami datang. Kamu ini seharusnya tahu diri" kata Alexa sinis.
"Alexa, aku tidak suka kamu berkata kasar" ancam Gery.
Alexa hanya memalingkan muka saat ditegur seperti itu oleh pria yang disukainya di depan wanita lain.
Sedangkan Cinta berusaha menahan tawanya untuk mengolok balik Alexa.
"Ada perlu apa, ma? Ayo masuk ke dalam" ajak Gery sambil merangkul pundak mamanya.
__ADS_1
Sementara Alexa mengekor dan sempat melotot pada Cinta yang sudah berwajah mengejek.
"Awas lo ya" ancam Alexa dengan gerakan bibirnya.
Cinta hanya pura-pura takut saja untuk membuat wanita itu senang. Diapun menggelengkan kepalanya dan kembali dengan kerjaannya.
"Kamu kenapa Jum'at sore kemarin tidak jadi datang ke rumah mama, Gery? Alexa sudah menunggumu hingga larut" terdengar nada kecewa dari ucapan mama Weni.
"Maaf ma, aku lupa. Kerjaanku juga sedang banyak, Jum'at malam kemarin aku lembur" kata Gery beralasan.
"Mas Gery jahat, aku hubungi sejak dua hari kemarin juga nggak diangkat. Pesan juga cuma dibaca doang" kata Alexa dengan manjanya.
Gery selalu jengah dengan wanita manja sepertinya. Pasti sebentar lagi dia akan kena marah oleh mamanya.
"Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan sejak kemarin, Gery? Mama tanya teman-teman kamu juga nggak ada yang tahu kamu kemana" kata mama Weni.
"Aku di apartemen, ma. Kalau mama sudah tidak ada kepentingan, mama bisa segera pulang saja. Kerjaanku lagi banyak banget ma" kata Gery.
"Kamu ngusir mama?" bentak mama Weni.
"Aku hanya sedang sibuk, ma" Gery menekankan setiap perkataannya dengan tegas.
Kalau sudah mode begini, jangankan karyawannya, mama sendiri dibuat takut oleh Gery.
"Baiklah, nanti malam pastikan kamu pergi makan malam bersama Alexa. Jangan banyak alasan lagi" ancam mamanya.
"Akan aku usahakan" jawab Gery dengan malas. Apalagi melihat wajah Alexa yang bertampang sok imut, semakin membuat Gery muak saja.
"Yasudah, mama pergi saja. Tapi pastikan kamu tepati janji kamu malam ini, Gery" kata Mama Weni lagi.
"Semangat bekerja, mas Gery. Ini sekalian aku buatkan makan siang buat kamu" ucap Alexa sambil mengulurkan sebuah tas bekal yang sejak tadi ditentengnya.
"Terimakasih" ucap Gery datar.
Di luar ruangan, Mama Weni masih sempat untuk kembali mengunjungi meja kerja Cinta. Rupanya beliau belum puas.
"Kamu hafalkan wajah saya, dan ingat untuk tidak menahan saya saat ingin mengunjungi anak saya sendiri" kecamnya.
Cinta mengangguk dan tersenyum, lantas mengeluarkan ponselnya untuk memfoto Mama Weni.
Cekrek
bunyi foto dari kamera Cinta membuat kening Mama Weni berkerut bingung.
"Apa yang kamu lakukan?" bentaknya.
"Maaf Bu, saya hanya memotret wajah ibu agar saya tidak lupa dan saat ibu datang lagi kemari, saya punya foto ibu yang meyakinkan saya bahwa ibu adalah mamanya pak Gery" ucap Cinta santai dengan senyum lugu yang membuat Mama Weni semakin geram.
"Dasar cewek kampungan" Alexa masih sempat mengejek Cinta sebelum melangkah pergi.
Cinta hanya mengelus dadanya untuk menghilangkan amarah yang tersisa.
"Untung saja bu bos, kalau bukan... Hemm..." gerutunya sambil mengepalkan tangan.
"Semangat Cinta, setidaknya sampai denda kamu terbayarkan" kata Cinta lirih, menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Semua perbuatan itu tak luput dari pandangan Gery. Dalam hati pria itu merasa penasaran dengan perkataan Cinta yang menyebutkan tentang denda.
"Denda apa? Apa dia sedang dalam kesulitan?" gumamnya yang sudah melihat Cinta kembali bekerja dengan serius.
★★★★★
Beberapa wanita datang bergabung ke meja Cinta di kantin saat makan siang ini.
"Gue denger ada yang kena semprot bu bos ya tadi pagi" lagi-lagi telinga Cinta mendengar aksi bullying untuknya.
"Makanya jangan sok jadi orang, cuma sekretaris aja udah songong" kali ini Ratna yang berujar.
"Kalian ini ada masalah apa sih sama aku?" tanya Cinta santai.
"Kayaknya aku nggak pernah bikin masalah sama kalian deh" katanya lagi.
Ratna sebenarnya sangat menyukai Gery. Impiannya agar bisa menjadi sekretaris agar bisa lebih dekat dengan bosnya itu kandas setelah Cinta menduduki posisi impiannya itu.
Dan dia menghasut Nina dan Rosi agar berada di pihaknya untuk tidak suka pada Cinta.
"Hahaha, kita nggak ada masalah sama lo. Lo aja yang mukanya songong, nyebelin. Suka cari muka sama bos. Sampai-sampai kemarin si bos bisa datang ke kontrakan kumuh lo dan ngajak lo hang out, kan? Pelet lo ampuh banget" perkataan Ratna tak hanya membuat Cinta terkejut, tapi juga semua orang yang mendengar ucapannya.
"Seriusan lo, Rat?" tanya Rosi yang juga nampak kaget.
"Iya, pak bos itu kan galak banget. Gimana bisa coba dia luluh sama cewek kampungan kayak dia" jari telunjuk Ratna sudah sangat dekat dengan hidung Cinta.
"Ratna Palupi, staff accounting yang sudah lama ada fair sama pria bernama Surya Panjalu, seorang anggota dewan yang datang satu bulan sekali ke rumah kontrakan mewah kamu. Bekerja disini hanya karena rasa tertarik kamu terhadap Pak Gery yang baru satu tahun menjadi pimpinan di Subagya Corp" bisik Cinta di telinga Ratna.
Mendengar semua penuturan Cinta, membuat mata Ratna membola dengan sempurna.
"Dari mana lo tahu semua itu?" gumam Ratna tak kalah lirihnya, hatinya menciut mendengar apa yang Cinta ketahui dari dirinya yang selalu dia sembunyikan selama ini.
"Aku itu mafia, entah kamu percaya atau tidak, aku nggak perduli. Asal jangan lagi kamu main-main sama aku. Atau akan aku kuliti kamu hidup-hidup" masih berbisik, Cinta membuat Ratna membisu kali ini.
Hingga Rosi dan Nina dibuat bingung dengan tingkahnya yang terlihat sangat ketakutan.
Sedangkan Cinta kembali menikmati makan siangnya dengan tengang dan elegan.
"Wanita sialan" umpat Ratna yang sudah pergi dengan menghentakkan kaki, diikuti oleh Rossi dan Nina.
"Hihihi" Cinta terkekeh melihat perilaku Ratna yang ketakutan.
Darimana Cinta tahu semua ini? Ternyata Fellis mengenali salah seorang kerabat Ratna yang merupakan temannya.
"Untung aku kemarin cerita sama Fellis, ada untungnya juga kan kali ini" gumamnya senang.
Tinggal menggali info tentang Rosi dan Nina saja.
.
.
.
.
__ADS_1