
"Papa mau kemana?" tanya Gery saat baru saja menapakkan kakinya di rumah orang tuanya.
"Mau ke luar kota sebentar, ada yang harus papa kerjakan. Tumben sekali kamu pulang?" sekarang Papa Aldo yang heran, tumben sekali Gery mau pulang padahal hari masih sore.
"Bayu disini pa? Gery ada perlu sama dia. Sejak tadi Gery telpon tidak diangkat juga olehnya" jawab Gery, rupanya dia pulang hanya untuk mencari keberadaan Bayu.
"Dia papa suruh ikut sama papa ke luar kota. Pasti sekarang dia sudah menunggu papa di bandara. Memangnya ada perlu apa kamu sama dia?" tanya papanya.
"Tidak ada pa. Ehm, yasudah kalau begitu Gery balik ke apartemen saja" kata Gery yang mau undur diri.
"Buru-buru sekali. Kamu nggak mau ketrmu sama mama kamu dulu?" tanya Papa Aldo.
"Enggak deh pa, malas sekali kalau mama maksa Gery untuk dekat sama Alexa" jawab Gery.
"Kamu sepertinya serius mempunyai hubungan spesial dengan sekretaris kamu itu ya, Gery?" selidik Papa Aldo.
"Ehm, bagaimana menjelaskannya ya pa. Lebih baik papa segera ke bandara saja, pasti Bayu sudah menunggu. Gery mau pamit juga sama papa mau kembali ke apartemen saja" kata Gery yang masih belum mau jujur.
"Terserah kamu saja" jawab papanya.
"Gery, kamu itu belum masuk. Sekarang sudah mau kemana lagi?" teriak mama Weni yang berjalan bersisian dengan seorang wanita.
"Ish, ketahuan mama" gerutu Gery, Papa Aldo hanya tersenyum kecil sambil meneruskan langkahnya menuju mobil.
"Gery mau ke apartemen, ma. Tadi ada perlu sama papa tapi papa mau ke luar kota" jawab Gery malas.
"Jangan pulang dulu dong. Mumpung kamu disini, tolong kamu antarkan Alexa pulang ya. Seharian loh dia nemenin mama, kita masak bareng, nonton bareng, makan bareng" mulailah kehebohan sang mama membuat Gery sedikit memejamkan mata.
"Atau kamu ajak dia jalan-jalan dulu ya. Kasihan dia sendirian dirumahnya, nggak ada teman" ucap Mama Weni yang sudah mulai merengek sambil memegangi tangan anaknya.
"Gery sibuk, ma. Kerjaan Gery banyak" tolak Gery.
"Bohong kamu. Mama tadi ke kantor, tapi kamu nggak ada. Karyawan kamu bilang kalau kamu sedang mengunjungi sekretasis kamu di rumah sakit. Itu yang namanya sibuk?" mama Weni mulai merajuk.
Kalau sudah seperti ini, paari Gery tidak tega melihatnya. Bagaimanapun, anak lelaki pasti menyayangi ibunya.
"Gery ke rumah sakit itu untuk menanyakan jadwal, ma" kata Gery sambil melirik Alexa yang sejak tadi tersenyum padanya.
"Sudah kan? Sekarang, ajak Alexa pergi meski sebentar. Kamu itu, ini permintaan mama loh Gery" desak Mama Weni.
"Argh, baiklah. Biar aku antarkan dia pulang dulu" akhirnya Gery mau mengalah.
"Jangan langsung pulang, belikan sesuatu untuk orang tuanya. Kamu itu bagaimana sih" gerutu Mama Weni.
"Iya ma" ujar Gery sambil mempersilahkan Alexa masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan papa Aldo yang sudah pergi sejak tadi, hanya bisa mengasihani nasib anaknya.
Semoga tujuannya kali ini benar. Dalam benaknya sebagai orang tua, rasa bersalah itu masih saja melekat saat membiarkan anaknya menghadapi masa sulit sendiri sewaktu dia remaja dulu.
Alasan pekerjaan yang dia utarakan pada sang kakak saat menitipkan Gery, membuat Papa Aldo merasa bersalah hingga saat ini.
Dan sekarang, beliau berusaha menebus kesalahannya dengan satu langkah kecil yang mungkin nanti akan berdampak besar.
Perjalanan Papa Aldo terasa begitu cepat dengan semua memory sedih yang beliau rasakan.
Kini, ditemani Bayu, beliau telah sampai di sebuah rumah besar dengan desain lawas yang sangat terawat.
Rumah punden yang ditempati oleh sang kakak, Pramono Subagya. Tumah masa kecil yang beliau tinggali bersama keluarganya sebelum memutuskan pindah ke pusat kota, Jakarta bersama istrinya saat baru saja menikah dulu.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
ketukan ragu di lakukan oleh Pap Aldo, berharap tak mendapat sambutan negatif dari sang kakak setelah nanti pintu terbuka.
"Selamat sore, Assalamualaikum" sapa Bayu dari teras rumah.
Belum ada jawaban, sejenak papa Aldo melihat sekelilingnya. Suasana masih nampak sama, hanya warna catnya saja dan kursi teras yang telah diganti.
"Waalaikumsalam" akhirnya sebuah suara serak seorang pria terdengar dari balik pintu.
Setelah pintu terbuka, pria paruh baya yang ada di hadapan Papa Aldo masih bergeming. Memandang tak percaya pada keadaan di depannya.
"Aldo? Kamu datang sendirian?" tanya Pak Pram, nama sapaan dari Pramono.
"Iya mas, aku sendirian. Bagaimana kabarmu, mas?" tanya Papa Aldo.
"Seperti yang kamu lihat, aku masih sehat. Bagaimana kabar Gery? Apa dia masih suka membantahmu?" tanya Pram yang masih belum mempersilahkan adiknya untuk masuk.
"Oh, tentu. Masuklah, aku kira kau sudah tak mai lagi masuk ke rumah ini" sindir Pak Pram.
"Janganlah bicara begitu, mas" ucap Papa Aldo sambil mengekor pada kakaknya.
"Mas, siapa yang datang?" tanya seorang perempuan berhijab panjang yang datang dari dalam.
"Oh, rupanya kau yang datang Aldo? Dimana Weni?" tanya Bu Idah, istri Pak Pram.
"Weni dirumah, mbak. Aku sengaja datang sendirian. Bagaimana kabarmu, mbak?" tanya Papa Aldo berbasa-basi.
"Ah, sudah kuduga kalau dia masih tak mau kesini. Aku Alhamdulillah baik, tunggulah sebentar, akan aku siapkan minuman untuk kalian" ucap bu Ida.
"Tak perlu repot, mbak. Rencananya aku akan menginap selama beberapa hari disini, apa kau tidak keberatan?" tanya Papa Aldo meminta ijin, karena jika bertanya pada Pak Pram pasti beliau tidak akan mengijinkan.
"Tentu saja boleh. Kamarmu masih tetap sama. Aku selalu menyuruh bi Asih membersihkannya setiap hari. Apa Bayu juga akan menginap?" tanya Bu Ida yang juga sudah mengenali Bayu.
__ADS_1
"Terserah padanya" jawab Papa Aldo.
"Kau bisa saja menginap disini, Bay. Masih banyak kamar kosong disini, dulu almarhum orang tuanya Mas Pram sengaja membuat banyak kamar untuk menampung saudaranya yang datang" kata Bu Ida yang semakin membuat Papa Aldo merasa bersalah karena jarang sekali pulang.
"Itu terserah pada tuan, bu" jawab Bayu.
"Menginaplah barang semalam, Bay. Jangan kau dengarkan Aldo yang selalu menyuruhmu untuk bekerja. Nanti kau akan jadi orang yang gila kerja sepertinya jika selalu menuruti semua perintahnya" kata Pak Pram.
"Baiklah, pak" jawab Bayu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan istirahat dulu mas. Besok ada yang harus aku lakukan" kata Papa Aldo.
"Terserah padamu saja. Asalkan jangan berbuat onar" kata Pak Pram.
"Mas kira aku masih seorang pria labil? Aku sudah tua, mas. Pengalaman sudah mengajarkanku banyak hal" jawab Papa Aldo seraya memasuki rumah itu lebih jauh, menuju kamarnya yang dulu beliau tempati saat masih tinggal di rumah ini.
"Pergilah ke kamarmu sendiri, Bay. Istirahatlah, terimakasih atas kerja kerasmu" kata Papa Aldo.
Bayupun menurut, berjalan terus ke kamar yang sudah tersedia. Dengan arahan dari art Pak Pram.
Sedangkan di ruang tamu, bu Ida terdengar sedang menegur sang suami.
"Mas, janganlah terlalu keras padanya. Dia sudah bukan lagi anak kecil" kata Bu Ida.
"Bagiku dia hanyalah Aldo yang selalu semaunya sendiri, bu. Demi egonya sendiri, dia dengan teganga merebut kekasih dari sahabatnya, mengasingkan anaknya saat dalam masalah, memisahkan anaknya dengan gadis yang telah berhasil membuatnya berubah dan terakhir dia bahkan tak datang di pemakaman ibunya sendiri demi pekerjaannya" sesal Pak Pram.
"Semoga pengalaman membuatnya berubah. Berilah dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya, mas" saran Bu Ida, suaminya yang seorang purnawirawan ini memang sedikit keras sifatnya.
"Ya, semoga dia menjadi lebih baik, bu" kata Pak Pram.
.
.
.
__ADS_1