CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
kejujuran


__ADS_3

Hari berganti, setelah melalui serangkaian persiapan penting untuk kelancaran hari ulang tahun perusahaan Subagya Corp, akhirnya semua beres.


Besok adalah hari yang di nanti-nantikan oleh banyak pihak, terutama karyawan kantor karena mereka mendapat hiburan gratis. Apalagi kabarnya, acara itu akan diisi oleh banyak artis ibu kota.


Acara yang akan di gelar di sebuah hotel bintang lima itu sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat luas.


"Ci, nanti siang ikut saya keluar sekalian makan siang ya" ujar Gery setelah menyelesaikan meeting intern di area kantornya.


"Ehm, sepertinya nggak ada acara meeting keluar kantor deh hari ini pak" jawab Cinta heran, akhir-akhir ini sikap Gery sangat berbeda padanya. Lebih baik dan jarang sekali membentak.


"Memang tidak acara apapun, hanya ingin saja. Pokoknya kamu harus ikut saya" ucap Gery mengintimidasi, mereka berdua sedang berada di dalam lift kali ini.


Gery berdiri menghadap Cinta, membelakangi pintu dan berjalan pelan hingga Cinta mentok ke belakang dinding lift.


"Bapak mau apa?" tanya Cinta gugup, suasana begini mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia akan dilecehkan oleh Jimmy.


"Kamu pikir, saya mau apa?" tanya Gery yang sudah mengungkung Cinta dengan kedua tangannya yang memegang dinding.


"Bapak jangan macam-macam ya, gini-gini saya pernah belajar karate" ujar Cinta lirih, pandangannya terkunci oleh netra pekat milik Gery.


Pandangan yang sama seperti pertama kali Cinta ditatap penuh perasaan oleh Jeje. Saat pertama Jeje mengungkap perasaannya dulu.


Keduanya terdiam dan saling pandang, apalagi mereka hanya berdua saja di dalam lift itu.


Mereka tak sadar jika seseorang telah menekan tombol untuk membuka pintu lift dari luar, dan entah kebetulan macam apa, rupanya Ratna lah yang ingin menggunakan lift itu.


"Ups, sorry. Anggap saja saya tidak melihatnya" ucap Ratna sambil buru-buru memotret pemandangan Gery dan Cinta yang seolah sedang berbuat yang tidak-tidak di dalam lift saat berjalan masuk.


Melihat ada yang memasuki lift, Gery melepaskan pegangan tangannya dan bersikap dingin seperti biasa.


Sedangkan Cinta berusaha merapikan bajunya yang masih rapi. Dan jangan lupa sudah ada Ratna yang berdiri dengan senyum simpul karena berhasil mendapatkan foto yang sangat berharga. Foto yang bisa dijadikan uang.


"Setelah ini kita langsung berangkat ya, Ci" ujar Gery. Cinta hanya mengangguk tanpa jawaban.


Dan benar saja, keduanya hanya menaruh berkas dan segera turun dari ruangannya.


Cinta yakin akan semakin banyak gosip bertebaran setelah ini.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, pak?" tanya Cinta, pasalnya Gery menggunakan mobil pribadinya tanpa supir. Dia sendiri yang mengemudikan mobil itu dengan Cinta yang duduk manis di sebelahnya.


"Kita cari baju untuk acara besok. Pokoknya kamu harus tampil cantik dengan gaun yang bagus" kata Gery tanpa menoleh, masih sibuk dengan kemudinya.


"Tapi kan pak" belum juga Cinta menyelesaikan bicaranya, Gery sudah mengisyaratkan untuk diam.


Ternyata Gery membawa Cinta ke butik langganan mamanya. Irvan, desainer kondang langganan mamanya yang menyambut kedatangan Gery saat ini.


"Hallo tampan, uwah kamu datang bersama pasangan baru ya? Kemarin mama kamu juga pesan gaun buat seorang wanita yang nggak lebih cantik sih daripada yang ini" mulut nakal Irvan tak bisa membendung informasi apapun.


"Mama kesini?" tanya Gery heran.


"Iya, beliau juga pesan gaun terbaru aku buat dia, padahal sih kalau aku lihat-lihat masih cantikan yang ini deh. Benar, kalau yang ini dengan melihatnya saja aku sudah bisa terbayang gaun yang pantas dikenakan olehnya" ucap Irvan yang tahu diri.


"Saya memang ingin memesan gaun yang cocok untuknya. Tapi ingat, gaun itu jangan sampai mengekspos semua bagian tubuhnya. Karena saya tidak suka saat dia menjadi sasaran mata lapar para serigala" ucap Gery yang lagi-lagi mengingatkan pada Jeje.


Cinta masih terdiam, belum waktunya dia bertanya yang sebenarnya.


"Tapi saya butuh gaun untuk besok. Apa masih ada waktu jika kamu membuatkannya dulu?" tanya Gery.


"Engmh, memang tidak cukup waktu. Tapi tenang saja, mari ikut aku. Disana ada beberapa gaun keluaran terbaru dari butik ini" ucap Irvan sambil menggiring dua sejoli ke sudut ruangan tempat gaun-gaun terbaru dipajang.


"Silahkan kalian pilih-pilih dulu ya, aku tinggal sebentar" ucap Irvan yang meninggalkan Gery dan Cinta dalam suasana canggung.


"Kamu pilih daja gaun yang kamu mau, Ci" kata Gery yang berdiri di samping Cinta.


"Ehm, boleh saya bertanya sesuatu pak?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Tentu" jawab Gery singkat.


"Apa bapak kenal dengan Jeje?" mendengar pertanyaan Cinta membuat Gery sedikit terkejut.


Memang sejak awal dia ingin sekali berkata jujur, tapi saat Cinta sendiri yang menanyakan itu malah membuatnya sedikit gugup.


"Siapa Jeje?" balas Gery santai.


"Oh, baiklah kalau bapak tidak mengenalnya. Mungkin memang saya salah orang" ucap Cinta yang tak mau memperpanjang masalah ini.


Diapun meneruskan kegiatannya memilih baju meski dia sudah tak bisa berkonsentrasi.


"Apa menurut bapak gaun ini bagus?" tanya Cinta sambil mengangkat dua buah gaun ditangannya.


Satu gaun berwarna hitam panjang dengan belahan dada rendah, potongan yang cantik membuat gaun itu terlihat manis jika berada di tubuh Cinta. Dan gaun lain berwarna maron, gaun selutut dengan potongan sabrina. Gaun dengan potongan oval di bagian bawahnya, dan bentuk menyerupai rok tumpuk yang sangat cantik.


"Coba saja keduanya, nanti saya nilai" ucap Gery sambil menunjuk kamar pas. Dia sendiri duduk tenang di depan pintu kamar pas untuk menunggu Cinta berganti baju.


"Ehm, baju ini bagaimana pak?" tanya Cinta setelah berganti dengan baju pertama yang berwarna hitam.


Sedikit terpana, memang Cinta terlihat sangat menawan dengan baju itu. Tapi Gery tidak suka jika semua pria bisa melihat dada busung yang indah itu.


"Ganti saja, baju itu terlalu terbuka" Gery menilai baju pertama.


Sedikit manyun, Cinta kembali masuk ke dalam kamar pas dan mencoba gaun kedua.


"Kalau yang ini pak?" tanya Cinta.


Sungguh cantik, warna maron bertemu kulit putih Cinta semakin membuat gadis ini terlihat sempurna.


Potongan di bagian dada yang tidak terlalu rendah bisa disiasati dengan dua tali spaghetti yang menggantung di kedua pundak Cinta.


Bagian bawahnya juga tidak terlalu tinggi, hanya memperlihatkan lutut dan betis kecil Cinta.


"It's perfect. Ambil yang ini saja, dan pastikan kamu memakainya besok" puji Gery.


Tapi kali ini Gery sudah tidak tahan, pria itu malah menyusul Cinta ke dalam ruangan sempit itu.


"Eh, bapak ngapain?" tanya Cinta yang terkejut karena Gery yang tiba-tiba masuk. Untung saja dia belum membuat resleting bajunya.


"Ssttt, Ci. Ini aku, Jeje. Aku sudah tidak tahan untuk bersikap biasa padamu. Bagaimana bisa kamu tidak mengenaliku sejak awal kita bertemu, Ci?" Gery langsung menanyakan hal yang selalu dia herankan.


Tentu Cinta sangat terkejut, matanya sampai membola dan tangannya menutupi mulutnya yang menganga.


"Nggak mungkin, bapak bohong kan? Jangan cuma mengaku-ngaku menjadi Jeje setelah bapak membaca buku harian saya" kata Cinta sedikit emosi.


"No, I'm not lie" ucap Gery sambil memegang kedua tangan Cinta.


"Coba kamu perhatikan aku dengan baik, mungkin memang aku sedikit berbeda dengan yang dulu. Tapi masak sih kamu nggak bisa ngenalin aku?" tanya Gery sedikit mendesak.


Kini Cinta mengamati dengan seksama wajah Gery dengan jarak yang sangat dekat. Netranya menelusuri setiap garis wajah pria.


Memang hidung dan matanya masih sama, hanya tubuh saja yang berubah. Jeje sekarang lebih putih terawat dan sedikit kekar. Berbeda dengan Jeje dulu yang cungkring karena ketergantungan obat terlarang.


"Bagaimana kamu bisa berubah seperti ini? Dan kenapa kamu jadi cerewet sekali sih?" pertanyaan kedua Cinta membuat Gery sedikit terkekeh.


"Aku heran sama kamu, kenapa kamu sampai tidak yakin padaku, Ci? Aku masih Jeje yang dulu, Jeje yang selalu mengagumimu" ucap Gery sambil membelai sayang pada wajah Cinta.


Tanpa banyak kata, Gery mengecup lembut bibir pink Cinta. Kecupan yang lama-kelamaan terasa semakin dalam.


Merasakan kelegaan hati setelah meyakini perasaan masing-masing, membuat keduanya saling ingin melepas rindu yang


menggunung.


Lu.matan itu terasa tak cukup mewakili perasaan mereka. Hingga Cinta yang merasa kehabisan nafas mendorong dada Gery agar melepas pagutannya.

__ADS_1


Gery tersenyum melihat Cinta yang ngos-ngosan, dia yakin jika gadis itu setia karena ciumannya masih sangat amatir.


"Makanya, bernafas dong sayang" ucap Hery sambil mengelap sudut bibir Cinta yang basah.


Tentu kini wajah Cinta sudah sangat memerah, dia masih belum siap menerima semua kenyataan ini.


Ingatan tentang Alexa dan penolakan mama Gery membuatnya ragu untuk tetap bertahan menghadapi hari esok dan berjuang.


"Tapi keadaan kita sudah jauh berbeda, pak. Atau mungkin kisah Jeje dan Cici hanyalah sebuah cerita masa lalu yang harus dikubur dan hanya menjadi cinta monyet saja?" Cinta yang meragu memilih untuk memunggungi Gery dan menatapnya melalui cermin.


"Tidak ada yang berubah, Ci. Mungkin aku pernah mencari sosok yang sepertimu dalam diri wanita lain, tapi tetap saja aku tak bisa melupakanmu. Dan aku yakin kalau sebenarnya kamu pun masih memiliki perasaan yang sama denganku" Gery masih berusaha meyakinkan Cinta.


Sebenarnya dalam hatinya, Cinta sangat bahagia. Karena penantiannya tidak sia-sia. Kini, ternyata kepingan hatinya yang telah kembali tetap seperti hati yang dulu.


Tapi melihat kondisi jika cintanya adalah bosnya sendiri, membuat Cinta sedikit pesimis.


"Gery, where are you?" suara Irvan yang terdengar mencari Gery membuat Cinta gelagapan.


"Gimana ini?" tanya Cinta lirih, wajahnya sudah berubah takut sekarang.


"Tenang dan diam" jawab Gery sambil menunggu waktu, dan saat dirasa Irvan sedang mencarinya ke tempat lain, Gery segera keluar dan membiarkan Cinta mengganti pakaiannya.


"Hei, aku mencarimu sejak tadi. Kemana saja?" tanya Irvan yang menemukan Gery duduk ditempat semula.


"Mencoba pakaian, untuk apa mencariku?" tanya Gery.


"Apa sudah menemukan baju yang cocok? Atau perlu pilihan lainnya?" tanya Irvan.


Melihat Cinta yang keluar dari kamar pas dan membawa beberapa baju, Irvan jadi fokus padanya.


"Bagaimana cantik?" tanya Irvan.


"Sepertinya yang ini bagus" jawab Cinta sambil mengangkat gaun yang berwarna maron.


"Pilihan yang tepat, kamu pasti cocok dengan baju itu" kata Irvan.


"Tolong pilihkan baju yang serasi dengan itu untukku" kata Gery.


Dengan senang hati, Irvan melakukan perintah Gery. Pria gemulai itu tidak hanya membantu Gery memilih baju untuknya, tapi juga sepatu, tas dan juga aksesoris yang pantas untuk baju yang Cinta pilih.


Setelah itu, tak banyak obrolan yang Cinta buat dengan Gery. Dia masih terlalu syok dengan pengakuan bos galaknya itu.


Apalagi kejadian di dalam kamar pas tadi malah membuat Cinta semakin malu untuk bertatapan dengan Gery.


Gery juga tidak memaksa Cinta untuk langsung menerimanya. Dia tahu Cinta masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini.


"Berfikirlah, Ci. Tapi ingat jangan terlalu lama, karena aku tidak mau menunggu untuk kedua kalinya. Mau atau tidak mau, aku pastikan jika kamu akan tetap bersamaku" ujar Gery sambil memasuki ruangannya, membiarkan Cinta kembali ke meja kerjanya.


Hingga waktu pulang tiba, tak ada lagi interaksi antara Gery dan Cinta.


Tapi malam ini berbeda, saat Cinta mengecek ponselnya sebelum tidur, satu pesan membuat senyumnya merekah.


*Selamat tidur, Ci.


Pastikan besok kamu hadapi hari dengan hati yang sudah bisa menerimaku.


Sampai bertemu besok, bidadariku*.


Pesan manis dari Gery sebagai pengantar tidur. Meski perasaannya masih abu-abu, antara yakin untuk tetap bertahan atau mundur karena keadaan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2