
Kadang usia memang tak menjamin kedewasaan dalam berfikir untuk masalah hati.
"Sialan, dasar wanita gatal. Rupanya dia sengaja memanfaatkan kecelakaan itu untuk mencari perhatian dari Gery" geram Alexa yang tengah melihat video dimana Gery sedang menggendong Cinta dengan tawa riang dari keduanya.
"Memang dia itu sangat menyebalkan. Bahkan banyak juga pria lain yang sudah terpikat oleh wajahnya yang sok polos, Bu" ujar Ratna semakin membuat hati Alexa panas.
Sangat terlihat dari wajahnya jika Alexa tengah berusaha menahan amarahnya.
"Bahkan kepala HRD di kantor juga terpikat oleh Cinta, bu. Kemarin saya melihat dengan mata kepala saya sendiri jika Pak Pandu sedang berusaha mendekati Cinta dengan mengajaknya makan siang bersama saat pak Gery pergi meeting di luar kantor" kata Ratna.
Seutas senyum jahat terukir, mendapat informasi seperti itu lantas membuat otak licik Alexa segera menemukan ide baru.
"Kamu punya nomor ponsel Pandu?" tanya Alexa.
"Ada bu. Tapi untuk apa?" tanya Ratna heran.
"Bukan urusan kamu. Cepat berikan nomornya padaku" kata Alexa.
Meski dengan wajah cemberut, Ratna tetap memberikan nomor Pandu pada Alexa. Merasa menjadi calon istri dari pemilik perusahaan membuat Alexa merasa menjadi bos juga di perusahaan itu.
"Oke, sekarang kamu boleh pergi" usir Alexa setelah mendapatkan nomor Pandu.
Tanpa banyak kata, Ratna segera pergi tentunya setelah memastikan jika dia sudah mendapatkan bayaran dari hasil kerjanya untuk video kemarin.
Hatinya dongkol, tentu saja. Mendapat perlakuan seperti itu tentu membuatnya semakin membenci Alexa.
"Awas kau wanita jahat. Setelah kau berhasil menyingkirkan Cinta, maka giliranmu untuk aku singkirkan" gumam Ratna dalam hatinya.
Sedangkan Alexa, terlihat langsung sibuk dengan ponselnya. Dan sepertinya dia tengah menghubungi seseorang.
Masih di cafe yang sama. Sudah hampir satu jam Alexa menunggu seseorang di tempat duduknya.
"Maaf saya datang sedikit terlambat, bu. Jalannya agak macet" rupanya Alexa mengundang Pandu untuk datang menemuinya.
"Oh, tidak apa-apa, pak Pandu. Silahkan duduk" ujar Alexa xa dengan gaya yang sangat elegan.
"Boleh kita bicara langsung pada intinya, Bu? Ada apa bu Alexa mengundang saya kesini?" tanya Pandu, karena sejak dia diundang via telepon oleh Alexa, wanita itu tak memberitahukan padanya tentang maksud dan tujuannya.
"Oke, waktu saya juga tidak banyak" kata Alexa mengawali niatnya.
"Saya dengar, Pak Pandu sedang mendekati Cinta, ya? Sekretaris dari pacar saya, Gery" tanta Alexa.
"Maksud ibu apa ya? Dan sepertinya untuk hal itu adalah menjadi urusan pribadi saya" kata Pandu sedikit keberatan.
"Saya tidal bermaksud apapun terhadap anda, Pak Pandu. Hanya saja dari hasil pengamatan saya, sepertinya akhir-akhir ini Cinta terlihat sangat gencar untuk mendekati pacar saya. Dan saya tidak suka itu" kata Alexa.
"Dan sudah menjadi rahasia umum jika Pak Pandu memberikan banyak sekali perhatian terhadap wanita itu. Buktinya, Pak Pandu rela mencelakai diri sendiri untuk menyelamatkan Cinta" kini, Pandu tak bisa mengelak lagi dengan perkataan Alexa.
"Ehm, bagaimana kalau kita kerjasama untuk mempertahankan orang yang kita cintai?" tanya Alexa.
Mendengar hal itu, Pandu terdiam. Pria itu terlihat tertarik dengan tawaran dari Alexa jika mengenai kedekatannya dengan Cinta.
"Bagaimana, pak Pandu?" sekali lagi Alexa menegaskan saat Pandu tak juga menjawabnya.
"Ehm, menarik" ujar Pandu singkat.
"Kerjasama seperti apa yang ibu inginkan?" tanya Pandu.
"Saya punya rencana, Pak Pandu. Dan bagaimana jika kita lakukan rencana ini di akhir pekan, saat Cinta sudah bisa berjalan tanpa bantuan alat-alatnya" kata Alexa mulai menuturkan rencana liciknya, dan sialnya, Pa du terlihat sangat tertarik pada rencana Alexa.
"Hati-hati sayang. Kenapa kamu sudah tak memakai alat bantu jalan sih?" tanya Gery saat keduanya tengah berada di dalam lift pagi ini.
__ADS_1
"Sudah mendingan kok. Bahkan aku sudah bisa lari" kata Cinta berusaha mencairkan suasana.
"Jangan macam-macam kamu ya. Kalau nanti cidera lagi, aku pecat kamu jadi sekretaris" kata Gery dengan tampang datarnya.
"Huu, beraninya main ancam. Nanti kalau adik aku sudah lulus kuliah, dengan senang hati aku akan mengundurkan diri dari kantor ini" kata Cinta tak mau kalah.
"Dan aku akan langsung meminangmu, kita akan segera menikah dan memiliki banyak anak" kata Gery, lalu mengurung Cinta dalam kungkungannya.
Merasa berada dalam situasi yang aman, Gery yang mendapat lampu hijau untuk \*\*\*\*\*\*\* bibir pink kekasihnya itu tentu tak mau membuang banyak waktu.
Keduanya malah asyik memanfaatkan waktu singkat di dalam lift dengan saling memagut. Rasa cinta yang membuncah membuat keduanya sedikit lupa daratan.
Hingga saat seseorang membuka pintu lift, membuat keduanya menjadi kelabakan.
"Selamat pagi, pak" ujar Pandu yang ingin menumpangi lift yang sama. Dan pemandangan canggung di depannya tentu membuatnya mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Berusaha meredam amarah di dalam dada Pandu harus bersikap biasa saja meski cemburu membakar hati.
"Pagi, Ta. Sudah nggak dipakai alat bantu jalannya? Apa kaki kamu sudah membaik?" tanya Pandu berbasa-basi, sekedar mencairkan suasana.
"Sudah lebih baik, mas. Makasih. Bahu kamu bagaimana?" tanya Cinta.
"Kadang masih sedikit nyeri, tapi sudah terasa lebih baik" jawab Pandu.
Mendengar panggilan Cinta untuk Pandu membuat Gery mengernyit heran. "Apa katanya tadi? Mas? Romantis sekali panggilannya. Awas saja nanti kau, Ci" batin Gery sedikit geram.
"Sudah kok mas, rencanannya mau aku kasih ke kamu nanti sekalian makan siang. Tapi karena kamunya sudah disini, yasudah sekarang saja, ya" kata Cinta.
"Uwah, seharusnya aku lebih bersabar ya. Gagal niat kamu buat makan siang lagi sama aku, hehe" ujar Pandu yang membuat Gery semakin mengernyit masam.
"Oh, jadi kemarin mereka makan siang bareng rupanya" gerutu Gery dalam hatinya.
Dengan ekor mata yang tak lepas dari Cinta, Gery semakin merasa geram karena Cinta yang terlihat sangat asyik mengobrol dengan Pandu, bahkan hingga mereka sampai di lantai tempat ruangan Gery dan Cinta berada.
"Permisi" kata Gery singkat, melesat cepat dengan cara memisahkan Cinta yang sedang menanggapi segala obrolannya dengan Pandu.
"Eh, hati-hati dong Pak" kata Cinta yang hampir terjatuh karena terkejut dengan perbuatan Gery.
"Kamu nggak apa-apa kan, Ta?" tanya Pandu yang sigap menolong.
Sedangkan Gery yang semakin geram hanya bisa melanjutkan langkahnya tanpa mau menoleh pada mereka berdua.
Setibanya di meja kerja, Cinta segera memberikan dokumen yang Pandu minta, dan setelahnya Pandu langsung undur diri karena memang di akhir bulan tugas di divisinya sangat menumpuk.
Dan Cinta tentu harus menenangkan si bayi besar yang sedang merajuk di ruangannya.
"Pagi pak Gery" kata Cinta sambil memasuki ruangan Gery tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini? Sudah selesai urusan kamu dengan Mas Pandu mu itu?" tuh kan, sangat tidak pantas Gery yang bertubuh tinggi tegap malah ngambek begitu.
Cinta terkekeh kecil melihat kelakuan Gery. "Kamu cemburu?" goda Cinta.
"Kalau kamu tidak ada kepentingan, lebih baik keluar saja. Karena pekerjaanku sangat banyak" kata Gery yang semakin merajuk.
"Kamu ngusir aku? Oke, terserah kamu saja. Semakin dewasa sikap kamu nggak semakin baik tapi kok malah semakin kekanak-kanakan" giliran Cinta yang bersikap jutek.
Tanpa mau merendah, Cinta balik badan dan segera menuju ke meja kerjanya. Karena diapun punya pekerjaan yang juga tak sedikit.
Beberapa waktu berlalu, terlihat Zara datang ke ruangan Gery dengan membawa nampan berisi minuman dan sekotak makanan.
"Zara, sini" kata Cinta setengah berbisik saat Zara melewati mejanya.
"Kenapa bu?" tanya Zara.
"Kamu disuruh pak bos?" tanya Cinta.
"Iya, beliau menelpon pentri bawah tadi. Minta kopi dan roti sandwich langganan beliau, bu" jawabnya.
"Oh, yasudah. Terimakasih ya" kata Cinta yang tak berani menahan Zara lebih lama.
"Oke, cuma masalah sepele begitu tapi kamu sudah sangat marah padaku ya, pak Gery. Memangnya kamu pikir, aku akan merendahkan diriku hanya untuk mengemis agar kamu tidak marah lagi meski aku tak salah apapun?" gerutu Cinta yang merasa geram.
"Baiklah, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan luluh terlebih dahulu" katanya semakin geram.
Tapi tentu emosinya yang meninggi karena masalah pribadinya, tak membuatnya harus mencampur adukkan dengan masalah pekerjaan.
Cinta masih bersikap profesional dengan melakukan semua tugasnya sebagai seorang sekretaris dengan sangat baik.
Hingga saat menjelang makan siang tiba, terlihat seorang wanita cantik datang dengan membawa sekantong penuh berisi kotak yang Cinta yakini adalah makanan.
"Hei sekretasis gadungan, kali ini please jangan halangi jalan aki buat bertemu dengan calon suami aku. Karena dia sendiri yang menghubungiku untuk membawakannya makan siang. Pasti calon suamiku sedang rindu padaku. Jadi tolong, jangan halangi aku kali ini" kata Alexa dengan manjanya.
"Saya tidak mungkin berani menghalangi langkah ibu. Silahkan kalau mau masuk, tapi jangan lupa untuk mengetuk pintunya terlebih dahulu" jawab Cinta tak kalah manja.
Alexa jadi geram saat Cinta menirukan gaya bicaranya. Tanpa banyak kata, diapun beranjak ke arah tuangan Gery dan mengetuknya.
Terlihat Gery membuka ruangan dan tersenyum padanya, bahkan masih sempat untuk memeluknya singkat sebelum mempersilahkan Alexa masuk.
"Oke, kalau hanya karena masalah sepele seperti ini kamu sudah bersikap seperti ini, berarti rasa cinta di hatimu untuk hubungan ini masih perlu dipertanyakan, Je"
"Dan aku bukanlah Cinta yang dulu, gadis polos yang bisa kamu berikan janji murahan dan dengan yakinnya aku tetap menunggumu. Jika sikapmu sudah sangat berubah seperti ini, maka jangan salahkan aku jika akupun bersikap seperti kamu" geram Cinta.
Bisakah mereka keluar dari cobaan awal dari hubungan mereka hanya karena masalah sepele?
Kadang usia memang tak menjamin kedewasaan dalam berfikir untuk masalah hati.
.
__ADS_1
.
.