CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
rencana para orang tua


__ADS_3

"Pa, papa lihat sendiri kan bagaimana Gery bisa berubah jadi nggak profesional begitu gara-gara sekretaris barunya. Padahal kan acara ini masih setengah jalan, pa. Ayo dong pa, hubungi Gery. Suruh anak itu kembali kesini. Dia kan masih dibutuhkan disini pa" rengek Mama Weni yang melihat Gery sangat khawatir pada keadaan Cinta.


"Iya om, Tante benar. Kan acara ulang tahun perusahaan ini masih belum selesai, om" tambah Alexa dengan manja.


"Sudah, biarkan saja. Lagipula masih ada papa disini. Biarkan saja Gery menolong sekretarisnya itu. Lagipula kan itu juga sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga keamanan semua karyawan" ucap Papa Aldo tenang, sebenarnya dia sedikit penasaran juga pada Cinta.


Kenapa bisa Gery menjadi sangat perhatian pada lawan jenisnya seperti itu. Padahal akhir-akhir ini anak itu terlihat malas sekali kalau disuruh untuk berhubungan dengan wanita.


"Ih, papa ini bagaimana sih? Nanti kalau para wartawan menanyakan tentang mereka, kita harus jawab apa dong pa?" tanya Mama Weni lagi, beliau sangat tidak suka saat Gery cuek pada Alexa.


"Sudahlah ma, biarkan saja. Wartawan biar jadi urusan papa" kata Papa Aldo, dan jawaban itu sudah membuat Mama Weni dan Alexa terdiam. Tidak ada yang berani mendebati Papa Aldo.


Dan acara hari itu tetap berlangsung, dengan Papa Aldo yang menjadi mengambil alih jalannya acara sepeninggal Gery yang pergi membawa Cinta ke rumah sakit.


"Bawakan saya informasi mengenai Cinta, sekretarisnya Gery hari ini juga, Bay" perintah Papa Aldo pada orang kepercayaannya sesaat setelah acara perusahaan usai.


"Baik, pak" jawab Bayu patuh, anak dari mendiang sekretaris Papa Aldo ini sudah mendedikasikan diri untuk setia pada keluarga Subagya sejak kematian ayahnya.


Dan kesetiaannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Pekerjaannya rapi dan cepat, tak salah jika Papa Aldo sering sekali memberi tugas rahasia untuknya.


Setelah semua rangkaian acara selesai, tiba giliran para wartawan untuk mencari berita. Apalagi melihat Gery yang terlihat sangat mengkhawatirkan Cinta tadi membuat sebagian orang berspekulasi sendiri.


"Maaf pak, bagaimana keadaan Pak Gery dan sekertarisnya yang tadi mengalami insiden?" tanya wartawan yang sudah tak sabar untuk meliput berita.


"Mereka sedang dirumah sakit. Saya juga belum tahu kabar pastinya karena mereka memang belum memberi kabar lagi" jawab Papa Aldo.


"Sebenarnya apakah ada hubungan antara Pak Gery dengan sekretarisnya itu pak? Kenapa beliau harus turun tangan sendiri untuk menyelamatkannya?" tanya pemburu berita yang lain.


"Asalkan semua tahu ya, kalau orang spesial yang sedang dekat dengan anak saya itu adalah dia" tunjuk Mama Weni pada Alexa, yang merasa panas telinganya.


"Namanya Alexa, dan dia adalah wanita yang saat ini sedang dekat dengan anak saya" ucap Mama Weni, membuat Alexa semakin merasa diatas angin saja.


"Kalau ada berita miring seputar anak saya dan sekretarisnya itu, abaikan saja" kata Mama Weni lagi, beliau dan rombongan keluarga Subagya segera meninggalkan acara jumpa pers itu untuk menghindari pertanyaan yang lainnya.


Papa Aldi hanya diam saja menanggapi ulah Mama Weni kali ini, biarlah seperti ini dulu. Masih ada urusan lain yang harus beliau lakukan.



Sore hari di ruang kerja Papa Aldo, dengan sebuah amplop di tangannya, Bayu melaporkan hasil temuannya.



"Jadi, bagaimana Bay? Apa ada yang bisa kamu temukan?" tanya Papa Aldo.


__ADS_1


"Ada pak, ini data diri tentang Cinta. Lengkap, mulai dari masa kecilnya juga" ucap Bayu sambil menyerahkan berkas temuannya.



"Bagus, kerja kamu memang sangat cepat dan bisa diandalkan" puji papa Aldo sembari membuka data itu.



Terdengar gumaman kecil dari mulut Papa Aldo saat membaca berkas itu. Dan seringkali mata beliau nampak terkejut saat membaca data diri Cinta.



"Jadi, Cinta berasal dari Surabaya, Bay?" tanya Papa Aldo.



"Benar pak, setahu saya, Pak Gery dulu semasa SMA juga pernah bersekolah di tempat yang sama dengan Bu Cinta" ucap Bayu.



Tak menunggu lama, Papa Aldo segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.



"Hallo, oh adikku rupanya. Ada angin apa sampai membuatmu ingat pada saudaramu ini?" tanya seseorang di seberang sana saat sambungan telepon Papa Aldo tersambung.




"Saya selalu baik, ada apa menghubungiku?" tanya Pak Pram, kakak dari Aldo.



"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, kak. Mengenai Gery semasa sekolah dulu" kata Papa Aldo.



Terdengar suara de,sahan nafas kesal dari seberang sana. Memang di masa itu, Papa Aldo telah melakukan sebuah kesalahan dengan menyuruh Gery melanjutkan sekolahnya di Surabaya saat anak itu terkena masalah dengan obat-obatan terlarang.



"Mau menanyakan apa?" akhirnya Paman Pram mengalah, memang banyak yang harus pria itu perbaiki dari masa lalunya untuk menebus kesalahan pada Anak lelakinya.


__ADS_1


Dan semoga dengan langkah awal bertanya pada Pram adalah suatu kebenaran.



Malam hari selepas mengetahui semua tentang Cinta, membuat Papa Aldo sedikit tidak bisa tidur.


Ternyata Cinta adalah anak dari temannya semasa sekolah dulu di Surabaya.


"Papa kenapa sih, daritadi tidur bolak-balik melulu. Sudah kayak gorengan di dalam wajan saja" kata Mama Weni dengan kesal.


"Papa nggak bisa tidur, ma" ucap Papa Aldo.


"Kenapa? Ada masalah apa, pa? Apa tentang Gery?" tanya Mama Weni dengan wajah serius.


"Ya, dan kesalahan kita pada anak itu sudah terlalu banyak, ma. Jadi, papa harap mama jangan lagi menambahi bebannya dengan terlalu memaksakan Alexa untuk menjadi jodohnya" kata Papa Aldo.


"Jadi, menurut papa, Alexa itu bukan calon istri yang baik untuk Gery? Padahal dilihat dari segi manapun, dia itu wanita yang paling cocok lho pa" kata Mama Weni memulai argumennya mengenai Alexa.


"Selain cantik, dia juga berasal dari keluarga yang setara dengan keluarga kita, pa. Apalagi yang kurang darinya?" tanya Mama Weni yang sudah sangat cocok pada Alexa.


"Bagaimana kalau seandainya Gery punya pilihan lainnya? Apa mama tega membuat hatinya hancur lagi? Setelah dulu kita buang dia ke Surabaya pada saat dia sangat membutuhkan dukungan kita sebagai orang tuanya, kita malah menyuruhnya tinggal di luar kota. Dan setelah dia bisa bebas dari ketergantungannya pada obat terlarang dengan usahanya sendiri, kita malah ingin memaksakan lagi kehendak kita untuknya. Apa mama tega?" pertanyaan Papa Aldo sedikit membungkam mulut Mama Weni.


Memang dulu, beliau pun merasa terlalu kecewa pada Gery hingga keputusan untuk menyuruhnya tinggal di Surabaya malah membuatnya merasa menyesal kali ini.


"Terus maunya papa apa? Membiarkan Gery dengan sekretarisnya itu? Yang belum jelas asal-usulnya itu? Yang kita tidak tahu seperti apa kepribadiannya?" keluh Mama Weni.


"Setidaknya, biarkan Gery mencari pendamping hidupnya sendiri, ma. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukung selagi keputusannya benar" kata papa Aldo.


"Tau ah, pokoknya mama masih sangat setuju kalau Alexa dengan Gery" ucap Mama Weni sambil membelakangi Papa Aldo, sudah terlalu malas untuk berdebat.


"Bagaimana di kalau kita uji keduanya, ma? Kalau bisa tanpa sepengetahuan mereka, dan setelah itu kita bisa mengambil keputusan untuk tetap memilih Alexa atau setuju dengan keinginan Gery" kata Papa Aldo memberi ide.


"Ujian bagaimana, pa?" tanya Mama Weni yang mulai tertarik.


"Bukan hanya sebatas mereka saja, ma. Tapi keluarga mereka, kepribadian mereka, dan yang paling penting adalah hati mereka. Nanti Papa cari cara untuk memulainya. Pokoknya mama harus setuju saja dulu" kata Papa Aldo.


"Boleh deh pa, tapi mama tetap yakin kalau Alexa pasti menjadi pemenangnya" kata Mama Weni yakin.


"Kita lihat saja nanti, ma" ucap papa Aldo sedikit tenang.


Setidaknya ada alasan untuk membuat Mama Weni tidak lagi memaksakan kehendaknya tanpa ada landasan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2