
Meski sudah ditinggalkan oleh Gery, tak membuat niat Alexa surut untuk menunjukkan rasa cintanya.
Wanita itu bertahan menunggu Gery kembali ke kantornya sambil berjalan mengelilingi kantor itu untuk melihat-lihat kinerja karyawan Gery.
"Kamu denger nggak kalau kemarin pak Gery kebingungan waktu ngelihat si Cinta lagi sakit?" samar-samar terdengar obrolan para pegawai di ruang fotocopy.
"Iya, katanya kemarin pak Gery sampai pergi sendiri ke apotik buat beliin resep obat yang dokter berikan. Bahkan dokternya dipanggilkan secara pribadi sama pak Gery" komentar yang lain.
"Iya, malah dokter yang dipanggil itu dokter keluarga Subagya loh. Bukan dokter klinik kita" timpal yang lain.
"Padahal apa sih yang Pak Gery lihat dari Cinta?" suara pertama terdengar sangat tidak suka pada Cinta.
"Tapi memang Cinta itu cantik banget kan? Wajahnya yang polos kayak kemarin saja terlihat glowing dan cantik maksimal. Dia juga kan baik banget orangnya, nggak pernah bikin masalah sama yang lain. Kenapa kita jadi julid sama orang baik kayak dia?" salah satu suara terdengar membela Cinta, dan Alexa tidak suka mendengar itu.
"Ehm" Alexa berdehem saat sudah tak terdengar suara dari dalam ruangan itu.
Ketiga wanita disana terlihat terkejut melihat kedatangan Alexa. Dan Alexa tahu suara siapa yang tadi terdengar sangat tidak menyukai Cinta, dan wanita itu ingin sekali merekrutnya untuk bersama menjatuhkan Cinta.
"Ehm, saya permisi ya Bu" satu per satu wanita yang tadi sedang menggunjing Cinta pergi satu per satu.
Tinggal satu orang yang belum pergi, dan Alexa yakin jika wanita ini yang sangat tidak suka pada Cinta.
"Nama kamu siapa?" tanya Alexa.
"Saya Ratna, bu" jawab Ratna tegas, menemukan orang seserver membuatnya lebih merasa nyaman.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Alexa.
"Tentu, bu. Bu Alexa kan calon istrinya pak Gery. Semua orang di kantor ini tahu mengenai ibu" jawab Ratna sedikit menjilat, bermuka dua seperti kebanyakan karyawan kantoran.
Alexa tersenyum sinis, rasa bangga dalam hatinya meluap saat Ratna berkata bahwa dia adalah calon istri Gery.
"Kamu tahu siapa Cinta?" tanya Alexa.
"Siapa juga yang tidak tahu kalau Cinta itu suka menggoda Pak Gery, bu. Bahkan kemarin dia pura-pura sakit demi mendapatkan perhatian dari pak Gery" kata Ratna mulai menjelekkan Cinta.
"Sampai seperti itu? Kurang ajar" geram sekali Alexa mendengarnya.
"Bahkan Pak Gery secara langsung membelikan obat buat Cinta loh, bu. Saya rasa, bu Alexa harus ekstra hati-hati dalam menjaga pak Gery" kata Ratna.
"Bahkan dari saya sekalipun, bu" lanjutnya dalam hati.
"Ya, kamu benar. Wanita itu sungguh kurang ajar. Awas kamu nanti ya" kata Alexa yang sudah mengepalkan tangannya.
"Bisa saya minta tolong sama kamu?" Ratna senang dengan pertanyaan Alexa kali ini.
"Minta tolong apa Bu?" tanya Ratna.
"Ini nomor hape saya, laporkan setiap kejadian yang menyangkut Cinta dan calon suami saya. Apalagi kalau sampai terjadi sesuatu diantara mereka. Saya tidak pernah rela kalau sampai dia merebut Gery dari saya" kata Alexa sambil menyerahkan selembar kartu nama pada Ratna.
Dengan seringai yang tak kalah liciknya, Ratna tentu bersedia menjadi mata-mata Alexa.
Karena dalam hatinyapun, Ratna masih menyimpan rasa dengan sangat baik untuk bisa memiliki Gery.
Bukan dari segi kekayaannya, tapi saat hati sudah memilih, maka dengan cara apapun seseorang pasti akan berjuang untuk mendapatkan keinginannya.
Tak terkecuali Ratna yang sangat mengagumi sosok Gery hingga membuatnya ingin memiliki. Bisa dibilang jika diapun terobsesi pada pria tampan itu.
"Serahkan pada saya, bu. Tugas ini akan saya kerjakan dengan sangat baik" kata Ratna.
"Bagus, setiap berita yang kamu berikan tidak akan sia-sia. Karena saya tidak suka sesuatu yang percuma" kata Alexa dengan angkuhnya, dengan langkah gontai dia pergi meninggalkan Ratna yang masih harus menyelesaikan tugasnya.
"Dan kamu akan menjadi orang selanjutnya yang harus aku singkirkan juga, Alexa" gumam Ratna dalam seringainya.
Wanita dan hati yang sudah buruk, maka segala cara akan dilakukan. Meski mereka tahu jika langkah yang diambilnya adalah kesalahan.
★★★★★
"Terimakasih atas kepercayaan Pak Gery pada perusahaan kami untuk menghandle masalah saluran air di proyek yang sedang bapak garap. Saya harap kerjasama ini tidak akan berakhir hanya sampai disini saja nantinya" ucap Suga, dengan senyum sumringah pria yang tak kalah tampannya dari Gery itu sejak tadi sudah sering kedapatan tengah melirik Cinta.
"Ya, semoga ke depannya akan berjalan dengan sangat baik" balas Gery sambil menyambut ukuran tangan rekannya itu.
__ADS_1
"Ehm, silahkan dinikmati makan siangnya" ucap Suga, diatas meja memang sudah tersaji banyak makanan lezat yang sebenarnya sudah sering Cinta cicipi saat menemani Jimmy meeting dulu.
"Mbak Cinta ini sekretaris barunya pak Gery ya? Seingat saya, waktu awal-awal saya meeting dengan pak Gery, sekretarisnya pak Gery sedang hamil ya pak?" tanya Suga di sela-sela makannya.
"Iya pak, saya baru satu bulan ini menjadi sekretaris pak Gery" jawab Cinta, karena yang ditanya terlihat cuek sekali.
"Mbak Cinta ini masih single atau sudah berkeluarga?" tanya Suga lagi.
"Panggil Cinta saja, pak. Dan saya masih single" jawab Cinta dengan ramahnya.
"Lain kali, boleh dong kalau saya ingin mengajak Cinta untuk makan malam secara pribadi?" tanya Suga penuh harap. Harapannya sih ingin lebih dekat dengan Cinta.
Melihat yang ditanya hanya tersenyum sambil tersipu malu, membuat Gery merasa tak nyaman dan juga sedikit muak pada rekannya ini.
Gery sudah yakin jika Suga punya keinginan lain pada Cinta, karena sejak kemarin saat baru bertemu, cara pandangnya sudah lain. Sebagai seorang pria, Gery tentu bisa merasakannya.
"Maaf pak Suga, sebenarnya Cinta ini selain sekretaris saya, dia itu juga pacar saya. Jadi, saya harap Pak Suga jangan macam-macam sama pacar cantik saya ini" ujar Gery tanpa ekspresi apapun.
Sedangkan Cinta sudah melotot sempurna setelah mendengar penuturan tiba-tiba dari si bos galak yang sering sekali membentaknya saat ada si kantor.
"Hahaha, pak Gery ini ada-ada saja. Bapak tenang saja, saya tidak akan mempermainkan wanita secantik Cinta. Kalau Cinta mau, bahkan saya bersedia untuk segera meminangnya" kata Suga penuh percaya diri, dia menganggap ucapan Gery hanyalah candaan semata.
Gery sendiri sudah sangat geram dibuatnya, apalagi Cinta yang terlihat seperti sedang memberi peluang pada pria muda itu.
"Saya tidak main-main pak, bisa pak Suga tanyakan langsung pada Cinta kalau tidak percaya. Dia itu kekasih saya, pak Suga" ucap Gery sangat serius dengan penuh penekanan.
Cinta jadi teringat Jeje yang dulu sering sekali berdebat dengan teman-temannya untuk meyakinkan mereka jika Cinta adalah pacarnya.
"Dia itu kekasih gue" kata-kata dan intonasi yang selalu sama di telinga Cinta.
Hanya visual mereka yang kini terlihat berbeda. Cinta jadi mengamati dengan seksama wajah serius Gery dari samping.
Mata, hidung dan telinga Gery dan Jeje jadi terlihat sama dimata Cinta. Hanya saja tubuh tegap dan berkulit putih serta berotot itu sangat jauh berbeda dengan Jeje yang cungkring, sedikit hitam dan tak terawat dulu.
Apalagi rambut Jeje panjang dan sedikit awut-awutan. Sedangkan rambut Gery terpotong cepak dan rapi. Gery jadi terlihat sepuluh kali lebih tampan kali ini di mata Cinta.
Sadar akan kesalahannya yang terlalu memperhatikan Gery, membuat Cinta menggeleng-gelengkan kepalanya agar kesadarannya kembali penuh.
"But wait, nanti aku cari tahu deh biodatanya pak Gery" gumam Cinta dalam hatinya.
"Tapi, kenapa aku jadi kepo sama pribadinya pak Gery sih. Iya kalau benar, lah kalau salah kan bisa malu aku" Cinta masih berdebat dalam hatinya.
"Tapi kan pak Gery nggak tahu kalau sedang diselidiki, jadi nggak ada salahnya juga kalau aku cari tahu informasi tentang dia. Bisa lah aku tanya ke mas Pandu" rencana baru mulai masuk di otak Cinta.
"Duh, kenapa malah mikir kalau Pak Gery itu Jeje sih" keluh Cinta yang saat tersadar tengah dipandangi oleh dua pria di hadapannya ini.
"Ada apa pak?" tanya Cinta lirih, serba salah jadinya.
"Mbak, pak Gery tanya. Apa benar kalau mbak Cinta ini pacarnya pak Gery?" tanya sekretaris Suga yang jadi ikut kepo.
"Hah? Apa? Maaf, bagaimana?" tanya Cinta sedikit terkejut, apa-apaan maksudnya ini?
"Kamu itu pacar saya, iya kan Cinta?" Gery menekankan setiap perkataannya dengan mimik wajah yang seram.
Tentu saja tanpa pikir panjang membuat Cinta langsung mengangguk karena ngeri melihat ekspresi wajah bosnya ini.
"Bagus. Sekarang pak Suga percaya, kan?" tanya Gery dengan wajah lega.
"Uwah, saya langsung patah hati nih Cinta" ujar Suga dengan nada yang lucu, dengan tangan yang memegangi dadanya.
"Segera selesaikan makanmu, dan kita kembali ke kantor. Dan satu lagi Ci, jangan pernah berfikir untuk lepas dari saya" sebenarnya Gery mengucapkan itu dengan santai, buktinya Suga tergelak setelahnya. Seolah Gery sedang melucu.
Tapi hal itu malah terdengar serius di telinga Cinta. Dan apa yang dikatakan Gery tadi? Dia memanggil Cinta dengan sebutan "Ci"?
"Kenapa jadi mirip banget sama Jeje sih? Dulu kan dia panggil aku dengan sebutan Cici" gumam Cinta dalam hatinya.
"Terimakasih atas jamuan ya pak Suga, lain kali saya pasti akan menjamu anda. Sekarang kami permisi dulu" ucap Gery sambil menyalami rekan kerjanya.
"Tentu, terimakasih juga telah mempercayakan tender ini pada kami" balas Suga.
"Kami permisi pak, selamat siang" ucap Cinta tak kalah ramahnya.
__ADS_1
Dan segera menuju mobilnya yang terparkir dengan supir kantor yang sudah menunggu.
"Ehm, boleh saya tanya sesuatu pak?" tanya Cinta saat keheningan melanda perjalanan mereka.
"Hem" hanya deheman yang keluar dari mulut Gery, sebenarnya pria itu sedang sedikit nervous, pasti Cinta sudah menyadari siapa dirinya.
Dan Gery belum siap dengan keadaan yang akan terjadi nanti.
"Ehm, bapak dulu SMA nya dimana? Kalau kuliah kan di luar negri ya pak?" tanya Cinta sedikit ragu.
"Darimana kamu tahu kalau saya kuliah di luar negeri?" Gery malah bertanya balik.
"Dari teman-teman kantor sih pak. Ehm, tapi saya kok kepingin tahu SMA nya bapak dulu dimana ya pak?" tanya Cinta lagi.
"Di Mahardika" ucap Gery santai.
Cinta hanya manggut-manggut saja. Memang sih Mahardika kan memang SMA nya orang-orang kaya. Diapun tak jadi berfikir kalau Gery adalah Jeje.
Dan keheningan kembali melanda sampai mereka tiba kembali di kantornya.
"Setelah ini, tolong berikan print out dari hasil meeting kita tadi ya, Ci. Untuk masalah model iklan kemarin, tanyakan pada mereka kapan iklannya bisa dirilis. Kerja mereka lambat sekali" kata Gery sambil berjalan memasuki kantor.
"Baik pak" jawab Cinta yang kembali heran dengan sebutan Ci yang didengarnya.
Sedang berjalan santai, keduanya dikejutkan dengan Alexa yang datang saat mereka akan memasuki lift.
"Hai sayang, sudah kembali?" sambut Alexa dengan senyum mengembang.
"Kamu belum pulang juga?" tanya Gery heran, sudah cukup lama mereka pergi tapi Alexa masih bertahan juga rupanya.
"Aku kan nungguin kamu" ucap Alexa yang ingin bergelayut di lengan Gery, tapi malah di tepis.
Bahkan tanpa rasa malu, dia ikut masuk ke dalam lift yang menuju ke ruangan Gery.
Cinta hanya diam, bukan urusannya juga untuk ikut campur. Tapi Gery sering sekali meliriknya, mungkin dia sedang menjaga perasaannya.
"Mendingan kamu pulang ya, Alexa. Pekerjaan saya sedang sangat banyak. Kamu hanya akan mengganggu jika tetap ada disini" kata Gery.
"Kamu ngusir aku? Aku sengaja menunggu daritadi tapi kamu malah nyuruh aku pergi?" kata Alexa yang mulai merajuk.
"Saya tidak menyuruhmu untuk menunggu" kata Gery ketus.
Cinta malah ingin tertawa, sebisa mungkin dia menahannya. Tapi ya tetap saja bibir itu melengkung tertahan.
Alexa yang melihat itu dari dinding lift yang berkilau malah mencebik sebal.
"Setelah ini, kamu pulang saja. Atau kalau kamu tidak ada ongkos, biar diantar oleh supir kantor. Nanti akan saya konfirmasikan padanya. Karena pekerjaan saya sedang banyak, dan kamu hanya akan mengganggu jika tetap disini" perkataan Gery sudah mutlak, Alexa sudah tak bisa berkata-kata lagi.
Meski sebal, tentu dia harus menurut karena memang mereka tak ada hubungan spesial. Hanya Mama Weni saja yang ngebet, sedangkan Gery sebenarnya ingin menolak.
"Nggak usah, aku naik taxi saja" ucap Alexa yang sudah sangat merajuk.
"Baguslah" jawab Gery singkat.
Dan saat lift sudah terbuka, Gery kembali menekan tombol turun tanpa berniat mengajak Alexa keluar.
"Segera pergi dan jadilah anak yang baik" kata Gery dengan wajah datarnya.
Sedangkan Alexa tentu sangat kecewa dan malu pada Cinta yang menjadi saksi perbuatan Gery.
"Awas kamu Gery, akan kubuat kamu bertekuk lutut di hadapanku" tekad Alexa yang mungkin hanya sebuah mimpi.
.
.
.
.
.
__ADS_1