
"Aaahhh.... Sial!!!" teriak Gery yang memilih untuk mendinginkan hatinya di bibir pantai.
Sore menjelang, senja telah datang. Guratan jingga terlukis indah di langit sore Jakarta. Tepat di sebuah pantai yang cukup sepi hari ini. Cocok dengan suasana hati Gery yang penuh sesak.
"Aku cuma ingin kamu ngerti, Ci. Rasa di dalam hati ini cuma milik kamu. Tapi kenapa kamu nggak mau ngerti?" keluh Gery dalam hatinya.
Sesekali dia terlihat mengusap wajah tampannya dengan kasar dengan telapak tangan. Terlihat sekali jika dia tengah frustasi hanya karena masalah sepele.
Kepulan asap tipis terlontar ke udara saat bibir Gery puas menghisap puntung rokok yang tersemat di antara hari telunjuk dan jari tengahnya.
Ya, Geri tengah merokok sore ini sambil berusaha berfikir jernih. Sesekali memang dia suka menghirup asap nikotin saat fikirannya kalut.
"Apa mungkin caraku yang salah?" pikir Gery dalam bimbangnya.
"Kalau aku hanya dengan mendengar dia makan siang bersama saja rasanya sudah mendidih, apalagi Cinta yang sudah melihatku berpelukan dengan Alexa? Pasti itu akan terasa lebih menyakitkan baginya" kata hati Gery mulai terdengar saat pikirannya sedikit terbuka.
"Sekarang mari kita balikkan keadaan. Jika aku melihatnya berpelukan dengan pria lain, bagaimana perasaanku?" gumamnya lagi.
"Ah, sial! Aku memang salah. Tak seharusnya aku melakukan itu padanya" kesalnya pada diri sendiri dan kaki jenjangnya tergerak untuk menendangi pasir pantai yang tak bersalah.
"Sepertinya aku harus segera minta maaf padanya" kata Gery yang mulai bersemangat lagi.
Berharap masih banyak maaf tersimpan dalam batin Cinta untuknya.
Dengan sedikit tergesa, Gery segera beranjak dari tempatnya. Dan membawa jasnya di lengan.
Suasana sore sudah beralih kali ini. Semburat senja yang tadi terlihat memenuhi langit sore telah berubah gelap. Sudah mau malam rupanya saat Gery baru saja keluar dari parkiran dengan mobilnya.
"Aduh, aku lapar" gumamnya sambil memegangi perut. Memang emosi membuat siapa saja jadi mudah lapar.
Saat ekor matanya melihat seorang pria muda tengah berjalan sambil membawa keranjang di tangannya, dan menuntun seorang balita, entah mengapa hati Gery terketuk untuk melihat orang itu.
Gery menepikan mobilnya saat melihat si pria duduk sambil mengipasi dirinya dengan topi sambil duduk di trotoar jalan yang cukup sepi.
"Lagi jualan, mas?" tanya Gery pada pria itu.
"Eh, iya pak. Jualan roti" jawab si pria.
Gery mendekat dan melihatnya, tangannya terulur untuk mengambil sebuah roti rasa coklat kesukaannya. Lalu membukanya sambil ikut duduk bersama pria itu.
"Istri kemana? Kok kerja bawa anak?" tanya Gery.
"Istri saya baru saja meninggal pak, baru dua bulan ini amak ikut saya kerja" tutur pria itu bersedih.
__ADS_1
"Kenapa nggak cari istri baru pak? Biar anaknya ada yang jaga" tanya Gery, sepertinya pria itu sedikit tersentuh dengan kisah pria malang ini.
"Tidak pak, cukup satu kali saja cinta sama perempuan. Dan kalau jodoh saya sama istri cuma sampai segitu, selebihnya saya hanya ingin mengurus anak saya saja" ujar pria itu sedikit berkaca, namun dibungkus rapi dengan senyum kecut yang terlihat sangat kesepian.
Hati Gery bergetar mendengarnya, begitulah cinta yang tulus. Bahkan saat si wanita sudah berpulang, tak ada yang lain yang bisa menggantikan.
Kini, langkah Gery mantap menuju kediaman Cinta. Menggunakan mobil mewahnya, Gery tergesa untuk ingin segera sampai disana.
Setelah mendengar nasihat si pria malang, Gery memborong dagangannya dan memberi beberapa lembar uang untuk pria itu.
Untung saja saat sampai di rumah Cinta, wanita yang di carinya terlihat baru saja ingin memasuki rumah dengan menenteng kantong kresek di tangannya.
Tin... Tin...
Klakson dari mobil Gery menghentikan langkah Cinta yang sudah diambang pintu.
"Jeje? Ngapain dia kesini malam-malam begini?" gumam Cinta yang menunggu Gery turun dan melangkah mendekat ke arahnya.
Saat Gery sudah berdiri di dekat kekasihnya, dia malah mematung. Memandangi dengan lekat wajah cantik tanpa polesan makeup yang seharian ini membuatnya uring-uringan.
"Kamu ngapain kesini malam-malam begini?" tanya Cinta yang hanya melihat Gery terpaku dihadapannya.
Puas memandangi wajah Cinta, Gery segera memeluk kekasihnya dengan sangat posesif. Terlalu erat hingga Cinta merasa sulit bernafas lare ulah Gery.
Sekarang Gery malah menangkupkan kedua tangannya di wajah Cinta sambil mengamatinya sebentar sebelum bibirnya menyapu bersih seluruh permukaan wajah Cinta.
Awalnya Gery mengecup kening Cinta karena bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengannya.
Lalu menciumi kedua pipi, hidung, mata dan tentu bibir pink alami yang sejak tadi dirindukannya tak akan lepas dari pagutan Gery.
Sedangkan Cinta yang terlalu terkejut dengan perbuatan Gery masih belum bisa menghentikan aksi nakal kekasihnya itu meski kedua tangannya berusaha mendorong dada bidang sang kekasih.
Cinta kewalahan untuk mengimbangi pagutan Gery karena dia yang minim pengalaman.
Hingga sebuah suara dari dalam rumah terpaksa harus menghentikan perbuatan gila yang tengah Gery lalukan.
"Ta... mana makanannya? Aku laper banget nih" teriak Fellis sambil membuka pintu rumah.
Membuat Gery refleks menghentikan ciumannya dan mengelap bibir basahnya dengan jari jempol sementara Cinta malah terpaku di tempatnya.
"Eh, ada pak Gery. Maaf nggak dengar kalau ada tamu" ujar Fellis dengan senyumnya dan kini tengah memandang heran pada Cinta yang nampak bengong saja.
"Kamu kenapa, Ta? Sakit?" tanya Fellis yang lebih memilih untuk mengambil bungkusan dari tangan Cinta.
__ADS_1
"Yaudah, kamu lanjutin saja ya. Aku tinggal makan duluan. Dah Cinta" ujar Fellis tanpa mau menunggu rekasi Cinta karena dia sudah merasa lapar.
"Ci, maafin aku ya. Aku salah karena nggak percaya sama kamu" ujar Gery setelah kepergian Fellis dan kembali mendekap Cinta ke dalam pelukannya.
"Kamu bau asap rokok" keluh Cinta yang kesadarannya sudah kembali.
"Kamu ngerokok?" tanya Cinta setelah Gery melepas pelukannya.
"Iya tadi. Maafin aku ya" tutur Gery lagi.
Cinta mengangguk, tak dipungkiri jika sejak tadi pikirannyapun tak tenang karena Gery yang tak memberinya kabar.
Dan saat melihat lagi wajah sang kekasih telah berada di hadapannya, tentu Cinta merasa bahagia. Terlepas dari semua masalah yang tadi singgah.
"Aku janji nggak akan pernah lagi curiga sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, Ci" tutur Gery yang disambut senyuman hangat kali ini.
"Aku juga sayang sama kamu" tutur lembut Cinta.
"Sudah makan?" tanya Gery. Cinta hanya menggeleng pelan.
"Makan yuk. Sambil jalan-jalan malam" kata Gery sambil menggandeng tangan pacarnya.
"Boleh" jawab Cinta.
Untung saja tadi dia sudah mandi, jadi tidak perlu ganti pakaian lagi kalau hanya jalan-jalan sambil makan malam.
Saat duduk di dalam mobil, Cinta heran karena banyak sekali roti di jok belakang mobil.
"Banyak banget rotinya?" tanya Cinta.
"Iya, karena roti-roti itu aku sadar kalau kamu itu sangat berarti buat aku" tutur Gery sambil membukakan satu untuk Cinta.
"Maksudnya?" tanya Cinta sambil mengunyah roti yang Gery suapkan padanya.
"Ini roti penyadar kalau cintaku cuma buat kamu, Cinta" tutur Gery yang membuat pipi Cinta bersemu merah.
.
.
.
.
__ADS_1