CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
Masa lalu para orang tua


__ADS_3

Hari masih sangat pagi, masih juga pukul tujuh. Tapi papa Aldo sudah berada di sebuah cafe dua puluh empat jam yang berada di bibir pantai. Rupanya beliau sedang menunggu seseorang disana.


Papa Aldo sudah memesan segelas kopi susu dan roti panggang untuk sarapan. Tanpa Bayu disampingnya, karena pagi-pagi sekali anak muda itu sudah kembali ke Jakarta.


"Assalamualaikum, sepagi ini kau mengajakku bertemu, Al. Ada apa?" sapa seorang pria paruh baya seumuran Papa Aldo dengan tampilan sederhananya.


"Waalaikumsalam, hai Di. Apa kabar? Lama sekali kita tidak pernah bertemu. Silahkan duduk" jawab Papa Aldo sembari menawarkan buku menu.


"Tidak usah repot. Kalau hanya sebentar, biarlah aku langsung pergi setelah mendengar permasalahan darimu" ujar seseorang yang bernama Hadi, rupanya beliau adalah teman lama dari Papa Aldo.


"Pesanlah, Di. Sepertinya aku membutuhkan banyak waktumu hari ini" desak Papa Aldo.


"Baiklah" ujar lelaki itu, dan setelah menemukan keinginannya, beliau segera memanggil waitress untuk menyiapkan pesanannya.


"Ehm, untuk kejadian di masa lalu, aku sangat minta maaf padamu, Di. Dan maafkan lagi karena baru sekarang aku berani menemuimu untuk meminta maaf" ujar Papa Aldo.


"Hahaha, sudahlah. Lupakan semua kejadian di masa lalu kita. Toh aku sudah sangat bahagia dengan istri dan kedua anakku" ujar Pak Hadi.


"Lagipula, jika waktu itu kau tak membawa Weni pergi, mungkin kehidupanku tak akan sebahagia sekarang. Ya, memang aku akui jika aku sempat merasa hancur dengan kepergian wanita itu. Tapi berkat pengkhianatan kalian berdua, aku bisa menemukan Anggita, wanita sederhana yang penuh cinta dan kesabaran dalam menghadapiku yang putus asa" ujar Pak Hadi membanggakan istrinya.


"Ya, aku turut bahagia jika kau telah menemukan kebahagiaanmu. Jadi, apa kita bisa menjalin pertemanan seperti dulu?" tanya Papa Aldo penuh harap.


"Oh, tentu. Tidak ada lagi yang patut dipermasalahkan. Karena kita sudah bahagia dengan kehidupan kita masing-masing. Dan asal kau tahu, Al. Hasil pernikahanku dengan Anggita telah melahirkan seorang gadis cantik yang sangat tangguh, aku sangat bangga pada anakku" lagi, Pak Hadi membanggakan keluarganya.


Papa Aldo hanya bisa tersenyum dengan perhatian penuh pada temannya yang baru saja kembali ini. Beliau merasa senang saat sahabatnya ini sudah memberinya maaf.


"Pasti keluargamu sangat hangat, Di?" tanya Papa Aldo.


Kini, mimik wajah Pak Hadi sudah berubah. Tadinya raut wajah penuh kerutan itu sangat tegang dan tak ada aura persaudaraan, tapi kini wajah renta itu sudah mulai mencair. Segurat senyum terlintas saat beliau membayangkan anak gadis kebanggannya.


"Ya, aku punya sepasang anak. Si sulung adalah gadis yang sangat baik, dia mau menanggung biaya kuliah adik lelakinya meski harus merantau ke Jakarta. Aku selalu berharap untuk kebahagiaannya" ucap Pak Hadi, dan Papa Aldo tahu siapa gadis luar biasa yang dimaksudkan.


"Oh ya. Apa pekerjaannya di Jakarta?" tanya Papa Aldo.


"Dia seorang sekretaris" jawab Pak Hadi singkat, sambil merapikan pesanannya yang baru sampai.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Weni? Kamu sendiri, berapa anakmu?" tanya Pak Hadi.


"Weni baik-baik saja, kami hanya punya seorang anak lelaki yang sangat nakal" ujar Papa Aldo dengan senyum kecilnya, memang Gery masih saja nakal di matanya.


"Apa dia masih suka memaksakan kehendaknya? Hahaha. Tapi wanita itu sangat hebat, Al. Dia berhasil menghancurkan persahabatan kita yang sudah terjalin sejak kita sama-sama balita" ujar Pak Hadi, mengingat masa lalu mereka yang kurang enak.


"Tapi sudahlah, semua itu sudah menjadi masa lalu kita. Usia kita yang semakin tua mengharuskan kita untuk saling memaafkan agar saat kita pergi nanti, hanya kebaikan yang kita bawa" kata Pak Hadi.


Papa Aldo hanya bisa diam dengan semua ucapan Pak Hadi, beliau hanya bisa menjadi pendengar yang baik karena teman lamanya ini rupanya sedang memendam sebuah penyakit di dalam tubuhnya.


Meski Papa Aldo akui jika memang Hadi adalah pria berhati emas yang selalu memaafkan dan memiliki kesabaran ekstra.


Dan Papa Aldo bertekad untuk membahagiakannya di detik-detik terakhir kehidupannya. Sebagai permintaan maaf dan penebusan dosa atas kesalahan yang sudah beliau lakukan di masa lalu.


Dulu,


Aldo muda adalah seorang kaya yang tampan dan sedikit egois. Apapun yang dia inginkan harus tercapai, tak perduli bagaimanapun caranya.


Hadi, pria muda yang tak kalah tampan darinya adalah sahabatnya sejak kecil. Tapi kepribadiannya lebih sederhana dan hangat. Tak heran jika lebih banyak wanita baik yang mendekatinya.


Aldo memilih menjadi seorang pebisnis meski modal awalnya memang dari orang tuanya. Sedangkan Hadi berhasil menjadi seorang ASN dengan penghasilan rutin meski tak banyak.


Aldo tak terima kali ini saat hatinya sudah dipenuhi Weni, tapi malah Hadi yang dipilih.


Menggunakan kekayaan orang tuanya, Aldo berhasil menggagalkan rencana pernikahan Weni dan Hadi yang sudah dipersiapkan secara matang dan hancur di H-2 dari acara akad yang akan dilaksanakan.


Aldo dan Weni berselingkuh hingga membuat wanita itu hamil dan baru berani mengakui di waktu singkat acara pernikahannya akan di gelar.


Tentu Hadi marah besar, bahkan semua keluarga besarnyapun yang awalnya sudah seperti saudara, berubah memusuhi. Tak hanya memusuhi Aldo, tapi juga keluarganya juga terkena imbasnya.


Selepas kejadian itu, Aldo memboyong Weni ke Jakarta untuk memulai bisnis disana. Dan ternyata semua itu berhasil. Menjadikan Subagya Corp sebesar sekarang, dan bertambah besar di bawah kepemimpinan Gery.


"Berapa usia anakmu, Di?" tanya Papa Aldo.


"Tahun ini 24 tahun" jawab Pak Hadi singkat, sambil menikmati hidangannya.

__ADS_1


"Anakku akan menginjak 26 tahun. Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka? Aku janji akan menyayangi putrimu seperti aku menyayangi anakku sendiri" kata Papa Aldo menawarkan idenya.


"Apa kau yakin?" tanya Pak Hadi sambil mengernyitkan dahinya, sebenarnya banyak keraguan dalam hatinya mengenai Papa Aldo. Dan untuk mulai mempercayainya, tentu butuh waktu tak sedikit. Pak Hadi masih penuh pertimbangan.


"Sepertinya keluargaku sedang menerima karma dari semua perbuatanku dan Weni di masa lalu, Di" kata Papa Aldo mulai menceritakan masalah Gery muda semasa SMA, hingga kini, saat anak lelaki semata wayangnya itu terlihat sangat bucin pada seorang Cinta yang merupakan anak dari sahabatnya di masa lalu. Sahabat yang telah dikhianati olehnya.


Pak Hadi menyimak dengan sangat antusias pada semua jenis cerita yang berhubungan dengan anak gadisnya.


"Hengmh .. Cukup rumit sepertinya. Karena aku sangat yakin jika Weni tahu siapa keluarga Cinta, pasti ketidaksetujuannya pada hubungan Gery dan Cinta akan semakin besar" ujar Pak Hadi setelah mendengar semua cerita yang Papa Aldo utarakan.


"Itulah yang aku pikirkan. Padahal aku sangat ingin menebus semua kesalahanku yang sudah menelantarkan Gery dan mendapat perhatian dari anakmu. Dan Weni adalah kerikilnya kali ini, dia sangat ingin Alexa yang menjadi pendamping Gery" ujar Papa Aldo sedikit geram.


"Kalau menurut pendapatku secara pribadi, Al. Semua hal yang menyangkut kebahagiaan Cinta pasti aku setuju, hanya saja, untuk menyaingi Weni, jika masih ada kesempatan untuk mundur, lebih baik biarlah Cinta mencari pria lain" ucapan Pak Hadi membuat Papa Aldo terkejut.


Papa Aldo pikir jika temannya ini akan membantunya untuk mempersatukan kedua anaknya. Tapi rupanya rasa sakit hati di masa lalu masih membuatnya sedikit trauma untuk berhubungan dengan istrinya.


"Bagaimana cara untuk meyakinkan pria tua ini ya?" gumam Papa Aldo dalam hatinya sambil memandangi Pak Hadi dengan intens.


"Kenapa melihatku seperti itu? Bahkan kalau kau ingin memecat Cinta dari perusahaanmu, aku masih mempunyai dana pensiun untuknya jika Cinta harua kembali ke Surabaya. Seorang ayah tidak akan mungkin tega membuat anak gadisnya menderita, Al" kata Pak Hadi.


"Kau pikir aku akan menyakiti anakmu? Aku bahkan sedang memperjuangkan kebahagiaan anakku, Gery. Dan untuk itu aku sampai rela datang kesini hanya untuk menemui seorang tua bangka sepertimu, Di" kata Papa Aldo sedikit emosi.


"Tapi sepertinya kau tidak tahu kalau anakmu pun juga mencintai anakku. Dan sebagai seorang ayah, kau akan menyakiti hatinya jika menentang hubungan mereka. Padahal lau tahu sendiri bagaimana sakitnya patah hati" ujar Papa Aldo geram.


Tapi semua perkataan Papa Aldo tak membuat Pak Hadi emosi, justru pria itu malah tertawa terbahak-bahak setelahnya.


"Dasar orang gila, kenapa kau malah tertawa?" ejek Papa Aldo yang masih emosi.


"Kau ini, masih belum berubah rupanya. Dasar mulutmu penuh bisa" ujar Pak Jadi tanpa rasa emosi kali ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2