
"Dia itu sangat menyebalkan, aku kan hanya sedikit tegas, bukannya memarahinya. Kenapa juga dia harus menceritakan itu semua pada Pandu?" gerutu Gery yang sudah duduk manis di kursi kebesarannya.
Merasa kesal, Gery memilih untuk ke luar ruangan dan melihat meja kerja Cinta yang masih kosong.
"Masih sepuluh menit lagi. Mungkin dia masih menyelesaikan makanya" gumam Gery yang kini duduk diatas meja kerja Cinta.
Saat matanya memindai ke sekeliling, ada sesuatu yang menarik yang terlihat olehnya.
"Sepertinya aku mengenali buku ini" kata Gery yang sudah memegang sebuah buku kecil bersampul hitam dari meja Cinta.
Pria itu membuka lembar pertama dari buku itu dan menemukan sebuah foto usang yang rupanya adalah gambar dirinya sendiri.
"Dia masih menyimpannya" gumamnya dengan bibir melengkung sempurna, tampan sekali dia jika wajahnya senantiasa begitu.
Perlahan dia membaca beberapa baris di buku itu.
Jeje,
dia bilang kalau tidak suka nama aslinya. Dan akupun akan melupakan nama itu dan hanya memanggilnya dengan sebutan singkat ini.
Jeje,
aku baru tahu jika dibalik kesombongan, kejahilan, kenakalan dan sifat berandalnya itu, dia adalah sosok yang rapuh.
Dia membutuhkan banyak sekali kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan dari orang tuanya.
Dan aku janji untuk selalu menjadi orang yang akan memberinya kasih sayang itu.
Jeje,
entah seperti apa kehidupanmu disana, tapi disini kamu harus bahagia dan berubah menjadi orang yang lebih baik.
janji ya...
dan aku akan selalu membantumu
Cinta
Gery masih saja tersenyum saat membaca baris demi baris dari goresan tinta di lembar yang sudah sedikit usang.
Pria itu menerawang jauh, mengingat bagaimana perjuangan Cinta saat membantunya lepas dari pengaruh narkoba.
Ya, dia adalah pecandu saat masih usia SMA. Dan karena itulah, saat dia berada di kelas sebelas SMA, orang tuanya mengirimnya untuk melanjutkan sekolah di Surabaya. Di tempat pamannya yang seorang pensiunan perwira.
Orang tuanya berharap Gery mau berubah menjadi lebih baik dibawah asuhan kakak dari papanya itu.
Mendengar suara sepatu yang berjalan mendekat, Gery segera mengantongi buku kecil itu di dalam saku jasnya dan berdiri dengan angkuh untuk menyambut kedatangan Cinta yang berjalan sedikit tergopoh-gopoh.
"Kamu terlambat sepuluh menit di hari pertama kamu bekerja, Cinta" kata Gery menyulut pertikaian.
"Maafkan saya pak, tadi saya masih ke mushola dulu. Maaf ya pak" kata Cinta sedikit merengek.
"Oke, kali ini kamu saya maafkan. Seharian ini kamu sering sekali minta maaf" kata Gery yang beranjak dari tempatnya, memasuki ruangannya dengan sedikit deg-degan karena takut Cinta melihat buku yang dikantonginya tadi.
"Huft, untung orangnya lagi baik" gumam Cinta yang sudah duduk tenang dan melanjutkan pekerjaannya.
Sesuai jadwal, sore itu ada pemilihan artis untuk iklan produk baru di perusahaan Gery.
"Cinta, ikut saya" perintah Gery.
"Baik pak" Cinta menurut.
Berjalan di belakang bosnya, sampai menuju lift. Sebenarnya yang Gery inginkan adalah mereka berjalan bersisian.
Pria itu jadi ingat dulu saat mereka pertama jalan bersama. Cinta yang ditugaskan oleh pamannya untuk menemani Gery, gadis itu selalu membelanya dari anak-anak nakal yang tak kalah bandel darinya.
"Tangan kamu kenapa?" pancing Gery yang tahu kalau ada bekas luka di tangan kiri Cinta.
Luka yang Cinta dapatkan saat melindunginya dari serangan teman sekolahnya dulu. Dan inilah awal adanya rasa yang tumbuh di hati Gery untuk Cinta.
"Bapak tahu darimana kalau ada bekas luka di tangan saya?" tanya Cinta heran, sebegitu jelinya sang bos memperhatikan.
"Tadi saya tidak sengaja melihatnya" jawab Gery santai, dia hanya ingin Cinta segera tahu siapa dia sebenarnya.
"Jadi, itu kenapa?" Gery menegaskan lagi.
"Ehm, ini karena melindungi anak nakal dan tidak berhati" jawaban Cinta malah membuat keningnya berkerut.
"Maksud kamu? Kamu kecelakaan karena melindungi anakmu?" Gery memancing lagi.
Dia sampai heran pada Cinta, memangnya seberapa berbedanya dia di masa remaja dulu dengan sekarang? Sampai Cinta tak menyadari siapa Gery sebenarnya.
"Bukan anak saya pak, saya masih single. Luka ini karena teman sekelas saya dulu. Lupakanlah pak, hanya bekas luka" perkataan itu sebenarnya memendam arti, karena Cinta mengatakannya dengan kepala yang tertunduk dalam setelahnya. Dan gadis itu malah melamun.
Saat ingin bertanya lebih lanjut, rupanya pintu lift telah terbuka mereka harus ke aula serba guna untuk bertemu dengan beberapa artis disana.
Gery menarik tangan Cinta dan menggenggamnya erat saat gadis itu ingin berjalan di belakangnya. Hal itu membuat Cinta sedikit heran, tapi genggaman tangan Gery begitu erat saat dia berusaha melepasnya, dan tentu dia hanya bisa menurut meski perlakuan kecil itu sudah mencuri perhatian banyak orang.
"Pak, tolong lepasin. Nggak enak dilihat orang" suara Cinta seolah tertelan angin karena Gery hanya memandang lurus meski orang-orang sudah nampak heran.
__ADS_1
"Selamat siang Pak Gery, senang bisa bertemu dengan bapak" seorang pria paruh baya datang dan mengulurkan tangannya.
Tentu Gery harus melepas genggamannya pada Cinta karena harus membalas uluran tangan pria itu.
"Ya, selamat siang" balas Gery datar, dan Cinta lega kali ini.
"Maaf pak, ada tambahan satu calon artis yang akan mengikuti seleksi hari ini" kata pria itu.
"Silahkan saja, asalkan tidak ada unsur manipulasi disini" kata Gery tegas.
"Oh, tentu tidak pak. Ehm, dia bisa ikut audisi ini karena memang dia berbakat" kata pria itu dengan senyum mengembang sambil menunjuk seorang wanita yang sejak tadi berdiri di dekatnya.
Gery hanya melihatnya sekilas, lalu segera pergi dan kembali menarik tangan Cinta untuk mengikutinya.
"Tolong lepaskan, pak. Saya bisa jalan sendiri" kata Cinta lirih, karena sudah mendapat pandangan penuh tanya dari banyak teman kantornya.
Gery melepas pegangan tangannya saat sudah sampai di tempat duduknya. Rupanya sudah ada Pandu yang datang terlebih dahulu dan tentu dia juga melihat perlakuan tak biasa yang Gery berikan pada Cinta.
"Kamu duduk disini" perintah Gery saat melihat Cinta yang ingin sedikit menjauh.
Cinta menghela nafasnya, dan menuruti kemauan bos galaknya itu meski dengan berat hati.
Acara audisi telah dimulai. Cinta kini tahu jika pria yang tadi bernama Rizal rupanya adalah seorang sutradara, diapun duduk di deretan para penguji bersama Gery, Pandu, dan Cinta.
Sepanjang acara, Gery sering bertukar pendapat dengan Cinta. Semua tak luput dari pandangan Pandu.
Gery suka mendengar setiap jawaban dari Cinta yang bekerja secara profesional disini.
Menjelang pukul empat sore, audisi berakhir. Semua peserta sudah selesai menunjukkan bakatnya.
"Saya permisi ke toilet sebentar ya, pak" pamit Cinta.
Gery hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Ah, lega sekali" gumam Cinta setelah selesai dengan kegiatannya. Dia masih berada di bilik toilet saat mendengar ada yang baru saja memasuki toilet wanita.
"Eh, lo tahu nggak kalau sekertaris barunya Pak Gery tadi di gandeng lho waktu masuk ke aula" suara lebah mulai terdengar disini.
Cinta diam sebentar untuk mendengar kelanjutannya.
"Gue sih nggak lihat langsung, tapi kabarnya sudah beredar kemana-mana. Sekarang pertanyaannya, kok bisa ya pak Gery yang dingin itu perhatian banget sama si Cinta?" terdengar suara yang berbeda.
"Secara dia kan cantik, ruangan mereka juga dekat. Siapa tahu ada service plus-plusnya" kalimat yang sangat Cinta benci.
"Semua ini gara-gara ulah pak bos galak, lagian kenapa juga sih dia harus nuntun aku tadi, memangnya mau nyebrang apa. Kan jadi banyak gosip, kan" gerutu Cinta dalam hati.
"Mana mungkin, kalau gue rasa nih ya, si Cinta itu pakai pelet atau susuk mungkin buat menaklukkan para pria. Soalnya tadi yang gue lihat bukan cuma pak bos yang perhatian sama dia, Pak Pandu juga pandangan matanya kayak memuja gitu" kata suara pertama.
Cinta semakin tak suka, segala Pandu diikutkan dalam masalah ini.
"Atau memang dia masuknya lewat jalur VVIP kamar hot, hahaha. Targetnya dua orang penting. Makanya dia langsung jadi sekretaris" Cinta semakin geram saat mendengar suara ini.
"Sttt, nggak boleh negatif thinking deh. Siapa tahu memang iya" Cinta semakin geram, memang sih Gery itu keterlaluan.
"Sudah puas menggosipnya?" tanya Cinta yang sudah tidak tahan dengan suara dengungan itu.
Ketiga wanita yang tengah merapikan penampilannya itu menoleh serempak, tapi tak ada yang merasa kaget karena orang yang mereka gosipkan rupanya ada disini juga.
"Eh, doi ada disini gaes" ejek salah satu dari mereka.
"Mulut jahat kalian jangan sampai menyebar, ya. Kata-kata kalian sudah seperti virus yang bisa membuat seseorang dirugikan" kata Cinta yang ikut bercermin dengan mereka.
"Wajar sih kita semua beranggapan sama. Siapa yang nggak kenal Pak Gery yang dingin begitu. Dan lo yang baru aja masuk disini sudah diperlakukan special sama dia" kata yang lain.
"Itu cuma kebetulan saja, kalian nggak usah membesarkan begitu. Kalau kalian iri, nanti aku sampaikan sama Pak Gery langsung" kata Cinta sambil membaca satu per satu nama yang tertera di name tag mereka bertiga.
"Rosi, Nina dan Ratna. Divisi keuangan dan marketing. Oke, dengan senang hati akan aku sampaikan keluhan kalian" kata Cinta yang membuat ketiganya sedikit menciut.
"Jangan macem-macem lo ya, anak baru" bentak Ratna yang memulai senioritas untuk menakuti Cinta.
Saat Cinta berbalik untuk meninggalkan mereka, terasa celana di bagian kakinya dingin. Rupanya salah satu dari mereka menyiramkan kopi ke celananya.
Cinta menghentikan langkahnya dan berbalik, terlihat Sinta seolah merasa terkejut setelah menyiramnya tadi.
"Ups, sengaja. Makanya jangan cari gara-gara sama kita" ungkapnya.
"Kalian kan yang gosipin aku tadi" keluh Cinta yang hanya mendapat tertawaan dari mereka yang langsung pergi.
"Rasain lo" umpat mereka sebelum keluar dari toilet.
"Kayak anak abg aja. Memangnya masih musim ya pembulyan begini?" gerutu Cinta yang tak bisa menghilangkan bekas kopi di celananya yang berwarna abu muda.
"Loh, kenapa mbak Cinta?" tanya Zara yang membawa seperangkat alat untuk bersih-bersih.
"Orang iseng tadi numpahin kopi ke celanaku" keluh Cinta yang masih berusaha membasuh celananya dengan air.
"Ganti saja mbak, nggak bakalan bisa hilang kalau nggak dicuci" saran Zara.
Sedikit berfikir, Cinta menarik kelenturan bahan celananya menggunakan tangan.
__ADS_1
"Aku tahu" ucapnya sambil tersenyum saat ada ide dalam kepalanya.
"Tahu apa, mbak?" tanya Zara heran.
"Kamu ada gunting?" tanya Cinta.
Zara menyodorkan gunting yang selalu dia bawa di dalam peralatan tempurnya.
"Mau buat apa, mbak?" tanya Zara heran.
"Pinjam sebentar ya" kata Cinta yang kembali masuk ke bilik toilet.
Di dalamnya, Cinta membuka celananya dan memotong dengan sangat rapi hingga sebatas lutut untuk membuang bekas tumpahan kopi.
Setelahnya, Cinta memasukkan salah satu lubang celananya ke lubang yang lain hingga membentuk seperti rok span.
Beruntung celana itu menggunakan bahan lentur dan melar. Hingga tubuh ramping Cinta bisa muat saat dipaksa masuk ke dalam lubang celananya.
"Agak sesak sih, tapi lebih baik daripada kelihatan basah" gumamnya sambil keluar dari bilik toilet setelah membuang potongan celanannya ke tempat sampah.
"Uwah, mbak Cinta bawa baju ganti ya?" tanya Zara sambil membersihkan kaca toilet.
"Nggak. Nih guntingnya, makasih ya. Ehm, kamu punya peniti?" tanya Cinta.
"Sama-sama mbak, tapi saya nggak punya peniti. Kalau jarum pentul ada mbak, buat cadangan kalau jarum di hijab saya hilang" kata Zara.
"Boleh minta?" tanya Cinta.
"Boleh mbak" ucap Zara yang mengeluarkan sekotak kecil jarum.
Cinta menggunakan jarum itu untuk merapikan lubang di pinggannya yang merupakan lubang untuk kaki di celana yang dia kenakan sebagai rok.
"Selesai" kata Cinta tersenyum melihat tampilan barunya yang terlihat semakin cantik dengan span yang membentuk tubuh idealnya.
Meski sedikit sesak, tapi oke lah daripada memakai celana basah.
"Uwah, jadi seperti rok baru ya mbak" puji Zara.
"Makasih ya Zara, aku pergi dulu" pamit Cinta setelah merasa penampilannya sudah rapi.
Penampilan baru Cinta semakin memperlihatkan siluet tubuh sempurna idaman setiap wanita.
Di dalam aula, Gery yang sedari tadi mengkhawatirkan Cinta yang tak kunjung kembali dibuat terpesona dengan penampilan barunya.
Tapi saat melihat sekitarnya, banyak pandangan memuja dari para pria yang juga terlihat mengagumi Cinta, membuat hatinya jadi sedikit memanas.
"Kamu sengaja cari perhatian ya dengan mengganti baju yang seperti itu?" tanya Gery lirih setelah Cinta mendaratkan pan.tatnya di kursi.
"Terpaksa pak, tadi ada sedikit kecelakaan kecil" jawab Cinta santai, kalau saja bosnya ini tahu jika dia terkena bully gara-gara kelakuannya.
"Besok jangan memakai baju yang begini lagi. Saya tidak suka saat pandangan mata lapar para serigala itu ingin menerkammu" Cinta sedikit terheran dengan ucapan Gery. Dalam ingatannya, pernah ada seseorang yang pernah berkata begitu padanya. Tapi Cinta lupa siapa orangnya.
Jam kerja Cinta selesai pukul lima sore sebenarnya, tapi sedikit lebih lama karena acara audisi ini sedikit alot akibat sutradara yang keukeh dengan pilihannya. Sedangkan Gery ada pilihan sendiri.
Diskusi alot itu tentu dimenangkan Gery yang didukung banyak pihak. Hal itu membuat jam pulang Cinta molor hingga dia sampai ke rumahnya sudah hampir isyak.
"Hari pertama sudah lembur, Ta?" tanya Fellis.
"Iya, tadi ada acara audisi gitu di kantor. Ternyata jadi artis itu susah juga loh Fel. Persaingannya ketat dan banyak tercium aroma kkn" kata Cinta sambil mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.
"Cari apa, sih?" tanya Fellis.
"Bukuku ketinggalan di kantor, Fel" jawab Cinta yang nampak bingung.
"Aku ambil dulu deh" putusnya.
"Besok napa, Ta. Sudah malam gini" saran Fellis.
"Nggak bisa, Fel. Bukunya penting banget" akhirnya Cinta kembali ke kantornya.
Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh, jadi Cinta tidak takut. Di kantornya masih ada beberapa karyawan lembur dan tentunya ada petugas keamanan.
"Kok nggak ada juga sih" gumam Cinta setelah mencari di setiap sudut meja kerjanya.
"Aku yakin tadi ada disini kok" katanya lirih, tapi tangannya malah menyalakan komputer.
Dan entah mengapa dia malah melihat data karyawan perusahaan dan mempelajarinya satu per satu.
Rupanya Cinta sedang mencari data dari Rosi, Nina dan Ratna yang tadi telah mengusiknya.
"Dapat ya kalian, awas saja kalau sampai kalian masih mau bermain-main denganku" meski telah mendapatkan data mereka, Tapi Cinta masih betah dengan kegiatannya hingga sedikit melupakan waktu.
.
.
.
.
__ADS_1