CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
terlalu khawatir


__ADS_3

"Suster, suter.. Cepat tolong Cinta, kakinya berdarah" teriak Gery memasuki UGD sambil membawa Cinta dalam gendongannya.


Cinta masih mengernyit kesakitan, meski tak ada ucapan yang keluar karena keluhan, tetap saja terlihat jika lukanya sangat sakit. Keringatnya mengucur deras dan jemarinya mencengkeram jas Gery dengan sangat kuat.


"Tahan sebentar, Ci. Susternya sudah datang" kata Gery yang melihat beberapa suster datang dengan brankar yang didorong.


Sejak tadi, entah disengaja atau tidak, Gery sering sekali mengecup kening Cinta. Mencari kesempatan mungkin dia.


"Uwah, masih ada pecahan beling di dalam kulit mbaknya" ucap salah satu suster yang semakin membuat Gery merasa khawatir.


"Tolong tangani dia sebaik mungkin" kata Gery yang masih membuntuti dari samping.


"Tentu, pak. Sekarang tolong bapak tunggu diluar sambil menyelesaikan masalah administrasinya ya, pak" ucap salah satu suster dengan ramah.


"Mana bisa saya meninggalkannya dalam keadaan seperti ini" bentak Gery.


"Je, sudahlah! Kamu keluar saja dulu, ya. Pasti mereka menangani dengan baik. Tolong" ucap Cinta lirih.


Dan ajaib, Gery menurut kali ini. Segera dia pergi setelah memberi satu kecupan lagi di keningnya.


Para suster melihatnya dengan tersenyum, "ah, so sweet" batin mereka.


"Baiklah bu, sekarang dokter akan segera menangani ibu" ucap suster yang melihat kedatangan dokter jaga di UGD hari ini.


Serangkaian pemeriksaan awal dilakukan, mulai mengukur tensi, memeriksa kesehatan Cinta dan melihat luka yang Cinta alami.


"Sepertinya masih ada beling di dalam kulit ibu. Keluhan lainnya apa bu?" tanya dokter.


"Tempurung lutut saya sakit sekali dok" ucap Cinta yang masih saja kesakitan.


"Baiklah, kita keluarkan terlebih dahulu belingnya, lalu jita jahit lukanya. Setelah itu kita rontgen lutut ibu, ya" ucap Dokter sambil menjalankan tugasnya yang diawali menyuntikkan sesuatu di paha Cinta hingga kakinya mati rasa.


Cinta hanya rebahan sambil menutup matanya karena proses pengeluaran beling dan penjahitan itu masih terasa sedikit nyeri meski sudah diberi obet penenang.


Betisnya mendapat sepuluh jahitan, karena beling yang menancap cukup dalam dan menghasilkan luka yang lebar.


"Selesai" ucap dokter setelah selesai menjahit luka itu.


"Suster, tolong siapkan semuanya. Sepertinya kita butuh rontgen untuk tempurung lututnya" kata dokter.


"Baik dok" ucap salah satu suster, lalu segera pergi entah kemana.


"Sudah dokter" setelah beberapa saat, suster yang tadi ditugaskan untuk menyiapkan kebutuhan rontgen sudah kembali.


"Mari ibu Cinta, kita foto Rontgen dulu kaki ibu ya" kata dokter membiarkan dua orang suster mendorong brankar yang ditiduri Cinta menuju ke suatu ruangan.


Sementara diluar, Gery yang masih khawatir pada keadaan Cinta juga harus merasa geram karena ponselnya sejak tadi tak berhenti berdering.


"Hallo, ada apa ma?" akhirnya Gery mengangkat teleponnya.


"Kamu dimana Gery? Acaranya masih belum selesai, tapi kamu malah seenaknya pergi meninggalkan acara" tanya mama Weni setengah membentak.


"Ma, disana masih ada papa yang bisa menghandle semuanya. Juga banyak karyawan kantor yang tahu alur acaranya. Cinta sedang sakit, ma. Dia sendirian, dia lebih butuh Gery disini" kata Gery berusaha sabar.


"Tapi Gery, kamu bisa menunjuk seseorang untuk menjaganya. Tidak harus kamu, tolong kamu kembali kesini dan selesaikan acara ini dengan baik" Mama Weni masih saja ngotot.

__ADS_1


"Kalau mama mau, selesaikan saja sesuai keinginan mama" kata Gery sambil menutup panggilan teleponnya.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan Cinta sendirian, sedangkan disana banyak sekali orang" gerutu Gery.


Kembali dia melihat jam tangannya, waktu terasa sangat lama saat dia menunggu seperti ini.


"Kenapa lama sekali" keluhnya dengan cemas, dia mengingat bagaimana ekspresi wajah Cinta saat menahan rasa sakit sejak tadi. Dan itu semakin membuatnya merasa sangat bersalah.


"Aku harus segera mencari tahu kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti tadi" ucapnya seraya menelpon seseorang.


"Iya bos?" sapa sebuah suara saat sambungan telepon Gery terhubung.


"Coba kamu selidiki, kenapa bisa terjadi kecelakaan di acara ulang tahun perusahaan tadi pagi, sampai ada korban yang terkena imbasnya" perintah Gery pada seseorang disana.


"Siap bos" jawab pria itu.


Gery segera menutup sambungan teleponnya setelah selesai dengan perintahnya.


Melihat kembali jam tangannya, sudah lebih dari satu jam dia menunggu sendirian. Karena tidak sabar lagi, pria itu memasuki UGD tempat tadi Cinta sedang dirawat. Tapi ternyata tempat itu kosong, tak ada Cinta, juga brankar disana juga kosong.


"Sus, kemana pasien yang tadi dirawat disini?" tanya Gery pada suster jaga.


"Oh, yang kakinya luka itu ya pak?" tanya perawat itu.


"Iya, betul" jawab Gery.


"Pasien sedang dibawa ke ruang rontgen, pak. Mungkin sebentar lagi selesai, tolong bapak tunggu diluar saja ya, pak. Nanti akan kami kabari lagi" kata suster itu.


Mendengar itu, Gery sedikit lega. Sia kira Cinta pergi tanpa sepengetahuannya.


Dia pun segera keluar. Memang sebaiknya dia menunggu dengan sabar, sesabar Cinta yang selama ini tetap setia padanya meski tanpa kabar.


Hingga tak terasa tiga jam telah berlalu, terdengar suara panggilan menyebut namanya melalui pengeras suara.


"Keluarga pasien atas nama Cinta, dimohon memasuki UGD".


Gery sedikit mendongak, dan segera dia beranjak masuk ke dalam UGD.


"Loh, aku kira kamu sudah balik ke kantor, nggak tahunya masih disini, Je?" Cinta sedikit terkejut, sungguh dia tak meninggikan hatinya agar Gery tetap menunggui selama proses penanganannya dilakukan.


"Tentu aku nungguin kamu, sayang" ucap Gery, hengmh... rasanya cukup aneh saat bos galaknya itu tiba-tiba saja berubah manis dan memanggilnya dengan sebutan sayang.


Cinta hanya bisa terpaku, tak tahu harus bagaimana. Masih terlalu canggung untuk bersikap biasa saja.


"Ehm, bagaimana keadaannya dokter?" tanya Gery.


"Pasien sudah selesai ditangani, pak.emang tempurung lututnya sedikit retak, tapi tidak sampai pecah. Memang rasanya akan sangat sakit jika tempurung lutut mengalami cidera. Tapi sudah kami pasang gibs agar mengurangi pergerakan supaya bisa lekas sembuh" dokter menjelaskan dengan sangat bijak.


"Lantas, apa bisa segera pulang?" tanya Gery lagi.


"Saran kami, biarlah pasien menginap barang satu atau dua hari untuk keperluan observasi. Jika memang tidak ada keluhan lainnya nanti, maka pasien bisa pulang" jawab dokter.


"Baiklah kalau begitu, biar dia dirawat dulu disini" kata Gery yang selanjutnya membiarkan suster untuk mencari kamar inap setidaknya sampai besok, karena sepertinya Cinta sangat tidak mau kalau sampai menginap dirumah sakit.


"Padahal tidak usah menginap tidak apa-apa kok" gerutu Cinta saat suster dan Gery mendorong brankarnya ke ruang inap.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, dengarkan saja apa kata dokter. Yang penting kamu kan bisa sembuh dulu" kata Gery penuh kesabaran.


"Dengerin kamu ngomong tanpa ngegas gini rasanya aneh tahu nggak. Kayak kurang apa gitu" kata Cinta sedikit geli, mungkin telinganya sudah di setting untuk mendengarkan Gery dalam mode galaknya.


Gery hanya tersenyum kali ini, sambil tetap mendorong brankar itu ke ruang yang sudah Gery pesan.


Ternyata di perjalanan, secara kebetulan Cinta berpapasan dengan Jimmy. Pria tambun itu baru selesai medical check up rupanya.


Secara tak sengaja malah bertemu dengan bos besar pimpinan Subagya Corp yang tengah mendorong mantan sekretarisnya.


Dengan langkah perlahan, Jimmy mengikuti mereka, tentu tanpa sepengetahuan Cinta sampai gadis itu dibawa masuk kedalam kamar rawatnya.


"Kasihan sekali kamu Cintaku, sepertinya kamu habis kena musibah ya... Ehm, sepertinya besok aku harus mengunjungimu untuk memberi support sekaligus mengingatkan tentang kewajiban kamu. Pasti kamu senang kalau aku kunjungi, hehehe" gumam Jimmy dari jarak yang aman setelah tahu tempat Cinta dirawat.


Cinta sendiri sudah sampai dikamarnya, kamar dengan fasilitas serasa hotel. Terlalu berlebihan sebenarnya. Dalam hati dia sudah ingin komplen setelah suster pergi nanti.


"Kenapa nggak dikamar biasa saja sih, pak? Atau paling tidak, di kelas 1 deh. Nggak harus semewah ini. Gajiku sebulan bisa habis cuma buat numpang tidur semalam disini, pak" keluh Cinta yang mengira semua ini akan dipotongkan dari uang gajinya.


"Daritadi sepertinya telingaku sudah mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Jeje, kenapa sekarang panggil pak?" tanya Gery.


Cinta hanya mendengus, tapi mendengar Gery sedikit ngegas membuatnya tersadar jika dihadapannya ini masihlah atasannya.


"Oke, sorry. Maafin aku. Tapi semua ini tidak akan dibebankan ke gaji kamu, karena kamu kecelakaan kerja. Lagipula kamu pikir aku tidak mampu untuk memberimu fasilitas yang nyaman? Kamu lupa siapa aku?" tanya Gery.


"Ya aku tahu kamu orang kaya, cuma ya siapa aku sampai kamu rela melakukan semua ini?" rupanya Cinta masih merasa ambigu dengan status mereka.


"Ci, please. Kasih aku kesempatan untuk mewujudkan janji aku meski sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku masih yakin kalau kamu pasti juga masih menyimpan perasaan buat aku kan? Jadi, apa salahnya kalau kita berusaha untuk memulai lagi hubungan kita yang sempat tertunda dulu?" tanya Gery penuh keyakinan sambil menggenggam tangan Cinta dan menatapnya lekat.


Cinta masih terdiam, sungguh hatinya masih dimiliki oleh pria ini. Tapi melihat jurang pemisah yang sekarang terpampang nyata, membuat Cinta sedikit ragu.


"Mampukah aku melewatinya?" pikir Cinta.


"Apa yang membuatmu ragu, Ci? Sedangkan aku masih Jeje yang dulu, orang yang selalu menyayangimu" kata Gery.


"Aku nggak nyangka saja kalau kamu berasal dari kasta yang berbeda. Apalagi orang tua kamu sudah menyiapkan jodoh sesuai kriteria mereka. Dan pasti akan sangat sulit untuk melawan restu orang tua, Je" kata Cinta.


"Alexa maksud kamu? Dia itu kan pilihan mama, bukan pilihanku. Sejak awal aku sudah nggak suka sama dia. Sudahlah, dia itu maslah mudah, yang penting kamu harus tetap mau menerimaku. Kalau tidak, aku pecat kamu jadi sekretaris" ucap Gery sambil tersenyum.


"Oh, berani kamu mengancam aku ya?" tanya Cinta sedikit emosi.


"Tentu, aku pecat kamu dari sekretaris tapi langsung aku bawa ke KUA. Kita nikah" kata Gery.


"Huft, gombalan kamu receh banget" kata Cinta sambil tersenyum malu.


"Tapi pipi kamu merah" kata Gery sambil membawa Cinta ke dalam dekapannya.


Cinta tertidur setelah beberapa saat berbincang dengan Gery, mungkin juga karena efek obat penenangnya.


Hal itu Gery manfaatkan untuk memasang alat penyadap dibawah kolong ranjang Cinta, alat yang dipesannya beberapa waktu yang lalu saat Cinta masih ditangani dokter.


Entahlah, instingnya mengatakan akan tidak baik-baik saja. Apalagi Gery tahu Alexa adalah wanita yang cukup nekat. Gery hanya ingin memastikan keselamatan Cinta saja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2