
Kriuk...
Suara perut membuat keasyikan Gery membaca buku menjadi terganggu.
"Sampai lupa makan. Sebentar aku telepon OB saja untuk mencarikan makan" Gery terkekeh sembari memencet nomor OB untuk membelikannya makanan.
"Kenapa tidak ada yang menjawab?" gerutunya sambil melihat jam tangan.
"Sial, ternyata sudah selarut ini. Tentu semuanya sudah pulang. Lebih baik aku juga pulang" ujarnya yang sudah bersiap untuk mengenakan jas dan menyambar kunci mobil, tak lupa menenteng buku kecil bersampul hitam yang sudah membuatnya lo lupa waktu.
"Sebaiknya aku mampir dulu ke restoran untuk makan malam" Gery masih menggerutu sambil melangkah keluar dari ruangannya
Ceklek!
Cinta sangat terkejut saat mendengar bunyi pintu dari balik tubuhnya.
Seketika diapun berdiri dengan mata sedikit melotot dan melupakan layar komputernya yang masih menyajikan tampilan daftar karyawan.
"Cinta? Sedang apa kamu disini? Kenapa belum pulang?" tanya Gery yang juga terkejut, matanya yang melirik layar komputer juga bingung karena tak begitu jelas saat membaca data yang sedang Cinta geluti.
"Pak Gery? Bapak lembur?" Cinta bertanya balik karena belum mendapatkan alasan yang masuk akal, lagipula dia sudah memakai pakaian rumahan dan hanya dilengkapi jaket tipis.
"Sepertinya saya tidak memerintahkan kamu untuk lembur, jadi apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Gery lagi.
Ekor mata Cinta melihat sesuatu di tangan bos galaknya, sesuatu yang menjadi tujuannya datang ke kantor dan malah lupa setelah membuka data yabg diperlukannya.
"Itu kan buku milik saya, pak. Kenapa bisa ada sama bapak?" tanya Cinta yang tiba-tiba mendekat dan merebut buku dari tangan Gery.
"Iya benar, ini buku yang aku cari" gumam Cinta yang masih bisa Gery dengarkan.
"Kamu itu ngapain disini? Sedang apa? Melihat data karyawan? Untuk apa?" cerca Gery yang tak mau dianggap tukang kepo.
"Ehm, tadi saya sedang mencari buku ini pak. Tapi karena nggak ketemu juga, saya iseng mencari salah satu data karyawan yang katanya tetangga saya. Sampai bapak keluar ruangan barusan" kata Cinta sedikit berbohong, demi kebaikan.
"Benar begitu? Memangnya siapa tetangga kamu?" tanya Gery yang masih belum puas dengan alasan Cinta.
"Saya tidak tahu pak, soalnya dia kalau dirumahnya pakai nama panggilan. Saya tidak tahu nama aslinya" bohong Cinta lagi.
Gery menatap lekat mata coklat Cinta yang terlihat agak membesar. Mungkin Cinta grogi dan gugup.
Langkahnya juga semakin mendekat untuk membuatnya bisa lebih jelas melihat wajah yang selama ini dia kubur dalam angan.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu membuat Cinta semakin deg-degan. Wajah tampan Gery semakin terlihat sempurna dalam jarak sedekat itu.
Saat mata keduanya beradu dengan jelas, dalam hati Cinta merasa ada sebuah deguban yang sudah lama tidak dia rasakan. Deguban yang sama seperti saat dia ditatap oleh seseorang dari masa lalunya.
Sebuah netra hitam pekat dengan tatapan lugu juga pernah dia dapatkan dari seseorang yang bermata sama.
Seketika Cinta teringat akan Jeje, di saat perpisahannya dulu mereka juga beradu pandang dalam jarak sedekat itu.
Adu pandang itu berakhir saat Cinta tak sengaja menjatuhkan bukunya, hingga kakinya sedikit sakit karena Cinta hanya menggunakan sandal jepit.
"Aduh" keluh Cinta sambil mendorong dada bosnya yang berdiri cukup dekat dan masih betah menatapnya dalam.
Cinta berjongkok untuk mengambil bukunya dan sudah bersiap untuk berpamitan saja. Sementara Gery hanya tersenyum samar melihat Cinta yang sedikit bingung.
"Ehm, saya permisi pulang dulu ya pak. Sebenarnya saya kembali kesini cuma untuk mengambil buku ini saja. Ternyata bapak yang menyembunyikannya. Saya harap bapak tidak membacanya" kata Cinta sedikit ketus.
Tentu semua orang akan merasa malu jika buku hariannya dibaca oleh orang lain, bukan?
"Untuk apa saya membaca buku tidak berguna seperti itu? Pekerjaan saya terlalu penting daripada itu" tunjuk Gery pada buku yang sejak tadi membuatnya tersenyum tidak jelas.
__ADS_1
"Semoga bapak bukan pembohong ulung. Kalau begitu saya permisi" ucap Cinta tanpa senyuman seperti biasanya.
Gadis itu langsung saja pergi tanpa ingat untuk mematikan komputer kerjanya.
Gery hanya visa tersenyum kecil, "Masih saja suka marah-marah. Tapi kenapa dia bisa berubah feminim seperti itu ya?" gumamnya sambil mematikan komputer Cinta.
Sepanjang malam Gery jadi tenang, wajah cantik Cinta selalu terngiang-ngiang di benaknya.
Tawa renyahnya dulu saat mereka selalu bersama semakin membuat Gery ingin segera melihat lagi wajah yang kini berubah serius dan lebih dewasa.
Gery ingin sekali menghubungi Cinta malam ini, segera dia mencari ponselnya yang sejak tadi terlupakan.
"Kenapa banyak sekali telepon dari mama?" gumamnya saat melihat layar ponselnya.
"Ini juga nomor siapa?" batin Gery yang merasa sedikit khawatir akan terjadi sesuatu pada mamanya.
"Oh sial, aku melupakan janji makan malamku dengan Alexa. Pasti besok mama akan memarahiku" kata Gery yang benar-benar lupa dengan janjinya.
Sejak dia membaca buku harian Cinta tadi, sengaja dia menyetel ponselnya dalam mode silent.
"Ah, biarkan saja. Siapa juga yang mau dijodohkan dengan Alexa. Wanita manja itu sangat membuatku muak" keluh Gery yang mencari kontak Cinta di ponselnya.
Tapi tak ada jawaban apapun saat Gery mencoba menghubungi Cinta karena memang sudah lewat tengah malam.
"Pasti dia sudah tidur" gumamnya dengan kecewa.
Gery pun harus berusaha mengistirahatkan raganya setelah lelah bekerja.
★★★★★
Pagi menjelang, setelah selesai dengan ritual mandinya, Cinta segera mencari keberadaan Fellis untuk mengajaknya olahraga sekalian cari sarapan diluar.
"Ta, ada yang cari kamu di depan" ujar Fellis yang terlihat buru-buru saat memasuki rumah.
"Siapa Fel?" heran Cinta, karena seingatnya dia tidak ada janji dengan siapapun.
"Nggak tahu Ta. Aku lupa tanya namanya. Tapi dia ganteng banget, Ta. Gebetan kamu ya?" goda Fellis sambil memainkan alisnya.
"Aku nggak punya gebetan tuh, Fel" heran Cinta.
Fellis mengekorinya sampai ke ruang tamu, dia penasaran saja pada pria tampan yang tak pernah Cinta bawa ke rumahnya.
"Pak Gery? Ngapain?" Cinta cukup terkejut dengan kedatangan bosnya di rumah kecil ini.
Sangat terlihat jika pria itu merasa tidak nyaman.
"Hai, Cinta. Selamat pagi" senyum tampan yang baru kali ini Cinta lihat. Biasanya kan Gery selalu bertampang galak.
Fellis sampai terpesona melihatnya, dia sampai tidak sadar saat Cinta menepuk-nepuk pundaknya.
"Fel, kamu ngapain berdiri saja disini?" tanya Cinta dengan kesal saat Fellis yang tak juga menyahutinya.
"Eh, maaf. Apa Ta?" tanya Fellis sedikit malu.
Gery hanya tersenyum saja daritadi, entah kebahagiaan apa yang sedang menyerangnya.
"Kamu mau ikut kita jogging nggak?" tanya Cinta yang rupanya sudah melakukan perjanjian tanpa sepengetahuan Fellis.
"Eh, enggak Ta. Takut gangguin kalian aku" tolak Fellis yang masih malu.
"Bagus" gumam Gery semakin bahagia.
__ADS_1
"Yasudah, ayo berangkat pak" ajak Cinta santai.
Memang Cinta sudah rapi dengan baju olahraganya.
"Mau jogging di sekitaran sini saja pak?" tanya Cinta yang melihat Gery sudah menekan tombol untuk membuka kunci mobilnya.
"Panggil saja Gery tanpa tambahan pak, kita sedang diluar kantor Cinta" kata Gery.
"Nggak terbiasa sih pak, tapi akan saya coba" jawab Cinta.
" Kita joging di taman saja ya. Biar tidak jadi bahan tontonan tetangga kamu" kata Gery yang sudah menjadi pusat perhatian ibu-ibu komplek.
Rumah kontrakan Cinta memang sangat sederhana, tapi halamannya masih bisa menampung satu mobil jika ada yang berkunjung ke rumahnya.
"Eh, benar juga sih" Cinta sedikit terkejut karena banyak ibu-ibu yang menatap kagum pada Gery alih-alih sedang berbelanja di tukang sayur.
"Pagi buk" sapa Cinta sopan seperti biasanya.
"Pagi Cinta, pacar kamu ganteng banget ya" puji salah satu dari mereka.
"Ah, ibu bisa saja. Kita duluan ya bu" kata Cinta yang tak ingin membuat bos galaknya ini jadi tambah besar kepala.
Lihat saja, wajah putihnya sudah sedikit memerah mendengar pujian itu.
"Mau ke taman mana, pak?" tanya Cinta setelah duduk manis di mobil bosnya.
"Bisa nggak skip saja panggilan pak nya?" tuh kan, dia galak lagi.
"Sulit pak, ehm... Mas saja deh, biar nggak terkesan nggak sopan, mas" lidah Cinta terasa kelu untuk membiasakan panggilan itu.
"Baiklah, itu lebih baik" ucap Gery.
"Lagian ngapain sih mas, kenapa kamu repot-repot sekali pagi-pagi begini sudah berkunjung ke rumahku? Darimana juga kamu tahu rumahku dimana?" tanya Cinta.
"Saya tahu dari GPS, kan alamat kamu ada di surat lamaran kerja kemarin. Dan saya mengajak kamu berolahraga agar visa mengurangi tingkat keleletan kamu saat bekerja" alasan Gery yang sudah dia siapkan sejak semalam.
Dia sudah yakin jika Cinta akan menanyakannya.
"Apa kamu tidak senang diajak pergi oleh pria setampan saya, Cinta?" tanya Gery yang masih saja melihat wajah Cinta yang tertekuk.
"Mas Gery ini sangat percaya diri, ya" balasnya kesal.
"Apa kamu membaca buku harianku ya kemarin? Sampai kamu tiba-tiba mau mengajak aku pergi begini, mas?" tebak Cinta yang merasa Gery tiba-tiba bersikap aneh.
"Tidak, saya tidak membacanya. Kan tadi saya sudah bilang kalau ingin mengajakmu berolahraga supaya tingkat keleletan kamu itu berkurang" cibir Gery.
"Lagian buat apa saya membaca buku kamu itu? Lebih baik saya membaca buku bisnis untuk meningkatkan kepandaian saya dalam berbisnis" gerutu Gery yang sebenarnya tidak ingin Cinta mengetahui jika dia sudah menamatkan buku harian miliknya.
"Huft, iya. Semoga saja kamu nggak bohong" balas Cinta tak kalah kesal.
Diapun hanya memandang ke luar jendela karena bosnya ini sangat menyebalkan.
Sedangkan Gery hanya tersenyum kecil dengan perilaku Cinta yang memang terasa berubah.
.
.
.
.
__ADS_1