
Dengan hati yang diliputi amarah, Mama Weni meninggalkan kantor Gery dan kini beliau berencana menghubungi Alexa.
"Hallo sayang, kamu sedang sibuk?" sapa Mama Weni melalui ponselnya saat dalam perjalanan.
"Enggak kok tante, ada apa?" tanya Alexa.
"Kamu mau menemani tante ke butik? Stok baju tante sudah mulai habis" sebenarnya Mama Weni berencana untuk mempercepat proses pendekatan mereka.
"Ehm, bagaimana ya tante?" pikir Alexa akan sangat membosankan jika hanya menemani orang tua ini memilih pakaian.
"Kami tenang saja sayang, kamu boleh membeli juga kok. Sepuasnya" bujuk Mama Weni.
"Bukan begitu tante, tapi baiklah. Kalau begitu aku siap-siap sekarang ya Tante?" ucap Alexa merendah, padahal dalam hatinya dia sangat girang.
"Anak baik. Iya, tante dalam perjalanan kesana. Sampai jumpa sayang" ucap Mama Weni mengakhiri panggilannya.
"Iya Tante, aku tunggu ya" kata Alexa sambil menutup teleponnya.
"Bagus, dengan begini aku bisa sedikit memaksa Alexa untuk berjuang agar bisa cepat mengambil hati Gery sebelum anak itu benar-benar jatuh cinta pada perempuan rendahan itu" gumam Mama Weni yang merasa geram pada Cinta.
Padahal dalam hatinya, sebenarnya beliau mengakui betapa cantiknya Cinta meski tanpa polesan make up apapun seperti tadi.
Tapi egonya menutupi hal itu, kebanyakan hati nurani manusia tertutupi oleh rasa gengsi dan tidak jarang mereka melepas permata yang masih tertutup tanah dan lebih memilih batu kali.
Perjalanan singkat Mama Weni telah mengantarnya ke pekarangan rumah mewah, meski tak semewah rumahnya sendiri. Rumah milik keluarga Alexa.
Beliau sudah disambut oleh Alexa yang telah siap dengan dress ketat selutut dengan belahan dada rendah berwarna peach dan sepatu high heelsnya yang membuat penampilan Alexa semakin terlihat rupawan.
"Kamu cantik banget, Lexa" sapa Mama Weni setelah turun dari mobilnya.
"Iya dong, mau nganterin camer kan harus dandan yang cantik" ucap Alexa manja.
"Mama kamu lagi pergi?" tanya Mama Weni.
"Iya tan, mama lagi menemani papa meeting sama kliennya" kata Alexa.
"Yasudah, kita langsung pergi saja ya" ajak Mama Weni.
Alexa hanya mengangguk dan menerima uluran tangan Mama Weni yang mengajaknya pergi.
Mereka berdua kini sudah duduk mania dibelakang sopirnya.
"Lexa, sepertinya kamu harus sering-sering ketemuan sama Gery deh" ucap Mama Weni melancarkan rencananya.
"Aku sih senang sekali kalau bisa sering ketemu sama mas Gery, tan. Tapi bagaimana caranya? Dia kan cuek banget" keluh Alexa.
"Ehm, besok kamu kirim dia makan siang saja ke kantornya. Tante khawatir sama perhatian Gery untuk sekretaris barunya itu, kok sepertinya berlebihan banget. Tante jadi takut kalau anak Tante itu malah jatuh ke pelukan wanita itu" kata Mama Weni mengutarakan keluh kesahnya.
"Masak sih tan? Bukannya mas Gery itu cuek banget ya?" tanya Alexa.
"Atau mungkin perempuan itu yang suka mancing perhatiannya mas Gery, tan? Secara, siapa wanita di dunia ini yang akan menolak seorang Gery Arnold Subagya kan tante?" pancing Alexa.
"Makanya, kamu yang gercep dong sayang. Kasih perhatian terus ke anak tante yang badung itu, biar dia luluh sama kamu. Terus kalian bisa segera menikah deh" kata Mama Weni dengan menggebu.
"Pasti tante, aku akan berusaha untuk mengambil hati mas Gery sekaligus menyingkirkan perempuan sialan itu" ucap Alexa tak kalah semangatnya.
"Bagus, kamu jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi Tante kalau ada masalah dengan Gery ya, sayang" kata Mama Weni penuh harap.
__ADS_1
"Pasti tante" ucap Alexa dengan senyum liciknya.
Sudah ada banyak rencana buruk dalam otaknya agar bisa menjauhkan Cinta dari Gery.
Dan perjalanan mereka sudah mengantar keduanya ke depan sebuah butik ternama yang sering juga dikunjungi oleh sejumlah artis dan pejabat.
"Tante langganan disini? Kan ini butiknya para artis ya, tan?" tanya Alexa kagum.
"Iya sayang. Bahkan pemiliknya berteman baik dengan Tante" ucap Mama Weni bangga.
"Uwah, Tante keren" puji Alexa yang berjalan sejajar dengan mamanya Gery.
Calon mertua yang pastinya bisa dia banggakan pada teman-temannya kelak.
"Selamat datang Ibu Subagya" sambut seseorang saat Mama Weni dan Alexa baru saja memasuki butik itu.
"Hallo Van" sapa mama Weni sambil cipika-cipiki dengan laki-laki gemulai itu.
"Uwah, bawa siapa bu? Cantik sekali" ucap pria gemulai yang terkenal dengan nama Irvan itu.
"Ini calon mantu. Sekalian mau aku belikan baju pesta buat dia. Sebentar lagi kan ulang tahun perusahaan keluargaku, Van" ucap Mama Weni.
"Oh, kebetulan banget bu. Baru saja aku selesai mendesain sebuah baju pesta. Ibu boleh melihatnya kalau tertarik" kata Irvan.
"Kebetulan banget dong. Aku tentu tertarik sekali" kata Mama Weni senang.
Alexa hanya bisa tersenyum dan menampilkan keanggunannya.
"Uwah, nggak rugi deh aku ikut Tante Weni hari ini. Pasti baju itu harganya mahal banget" dalam hati Alexa sangat senang.
"Uwah, ini cantik banget. Pasti cocok di tubuh Alexa" ucap Mama Weni, kini beliau dan Irvan tengah melihat lekuk tubuh Alexa.
"Pasti cocok bu" ucap Irvan yakin.
"Baiklah, aku pesan ini ya Van. Ingat, jangan sampai dijual ke orang lain lagi" kata Mama Weni memperingatkan.
"Ibu jangan khawatir, seperti tidak tahu kinerja Irvan saja. Ayo kita ukur dulu say" ajak Irvan.
"Tapi Tan, itu kan pasti mahal" ucap Alexa sedikit terkejut, meski dalam hatinya audah tak sabar.
"Mahal itu untuk ukuran orang yang tidak punya uang kan, Alexa" jawab Mama Weni dengan sombongnya.
Kini Alexa diam dan membiarkan pria gemulai itu mengukur lekuk tubuhnya dengan baik. Diapun ingin gaun yang indah agar nanti Hery bisa terpana padanya.
"Sudah selesai. Tubuh kamu proposional sekali ya cantik" puji Irvan.
"Tentu dong, calon mantu siapa dulu" malah Mama Weni yang menjawab. Alexa jadi tambah GR jadinya.
"Jangan terlalu lama mengerjakannya, Van. Karena bulan depan acara ulang tahun perusahaanku digelar" ucap Mama Weni.
"Siap bu bos" ucap Irvan.
Setelah mama Weni yang juga memesan satu gaun untuknya sendiri, beliau dan Alexa melanjutkan acara hunting baju.
Alexa cukup puas dengan dua buah gaun dan sebuah tas mewah yang dibelikan mama Weni untuknya.
Rencanannya, dia akan memakai salah satu gaun itu itu untuk menemui Gery di kantornya besok.
__ADS_1
★★★★★
Keesokan harinya, jam sebelas siang Alexa sudah datang ke kantor Gery dengan sekotak bekal dan senyum terkembang.
Tepat saat Gery juga baru tiba dari meeting bersama Cinta yang rupanya duduk satu mobil dengannya.
"Hai mas Gery, aku datang membawakan makan siang buat kamu" ucap Alexa dengan senyum yang manis.
"Tapi aku akan keluar lagi setelah ini untuk meeting sekaligus makan siang dengan klien" tolak Gery sambil sesekali melirik ke arah Cinta yang bersikap biasa-biasa saja.
"Yasudah, aku ikut kamu saja menggantikan sekretaris kamu ini. Aku bisa kok" kata Alexa.
"Jangan dong" ucap Gery yang spontan begitu membuat tak hanya Alexa, tapi Cinta juga mengernyit bingung.
"Ehm, maksud saya. Ini pekerjaan, dan dia yang harus menemaniku" kata Gery lagi.
"Lagian kamu itu kalau kesini seharusnya bilang dulu lah, jangan langsung datang begini" kata Gery sambil meneruskan langkahnya, diikuti Cinta dan tak lupa Alexa yang sedikit merajuk.
"Tapi kan aku datang buat kasih surprise sama kamu, mas" kata Alexa dengan manja. Berusaha mencari perhatian seorang Gery.
Cinta hanya diam dan menggeleng lemah, "Ada cewek manjanya luar biasa begini" gumamnya dalam hati.
"Padahal kemarin mama kamu loh yang nyuruh aku datang buat bawain bekal" kata Alexa yang masih berusaha memberikan makan siang terbaiknya untuk Gery.
Saat sudah tiba di depan ruangannya, Gery mengambil kotak makan yang dibawakan Alexa dan celingukan mencari Cinta yang sudah duduk di tempatnya.
"Ini buat kamu saja, Cinta. Makan yang banyak biar kamu nggak sakit lagi, ya" ucap Gery dengan raut wajah yang berbeda dalam pandangan Alexa saat berbicara dengan Cinta.
"Tapi pak" kata Cinta tertahan karena buru-buru dipotong oleh Alexa.
"Kan aku membuat ini dengan sepenuh perasaan aku buat kamu, mas. Kenapa malah diberikan ke orang lain sih? Kamu nggak menghargai perasaan aku banget deh" keluh Alexa.
"Saya kan sudah bilang sama kamu kalau sebentar lagi saya meeting diluar sekalian makan siang. Kalau kamu tidak suka, bawa lagi makanan ini pulang bersama kamu" kata Gery sedikit membentak, dan melanjutkan langkah ke ruangannya sendiri.
"Sabar ya. Pak Gery memang galak" ucap Cinta sambil mengusap lengan Alexa.
Tapi perlakuan itu malah membuat Alexa merasa terkalahkan oleh Cinta. Padahal Cinta tidak merasa sedikitpun bersaing dengannya.
"Ini semua gara-gara kamu tahu nggak sih" geram Alexa sambil mengambil dengan paksa kotak makan yang ada diatas meja Cinta.
"Loh, kok jadi saya sih mbak?" tanya Cinta sambil menggelengkan kepalanya, tak menghiraukan Alexa yang berjalan dengan sedikit menghentakkan heelsnya saat memasuki ruangan Gery.
Tapi tak lama, ketenangan Cinta kembali terganggu saat Gery yang keluar dari ruangannya dengan Alexa yang masih mengekor.
"Kita berangkat sekarang, Cinta" ajak Gery.
"Baik pak" ucap Cinta yang sudah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dalam meetingnya.
Rupanya meeting kali ini meneruskan rencana kerja sama dengan PT Tirta Alam dengan Bapak Suganda yang lebih suka dipanggil Suga.
.
.
.
.
__ADS_1