CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
ada yang cemburu


__ADS_3

Seharian tak pulang, dan tiba kembali di rumah kakaknya saat senja sudah bergulir menjadi petang. Dan Papa Aldo langsung kembali ke kamarnya hanya untuk mengemas kembali barang-barangnya.


"Hei, mau kemana kamu?" tanya Pak Pram, kakak Papa Aldo.


"Urusanku sudah selesai disini, mas. Jadi, sepertinya aku mau pulang saja. Karena kau sendiripun sepertinya tidak suka kalau aku terlalu lama disini" ujar Papa Aldo layaknya anak kecil yang tengah merengek.


"Loh, kenapa buru-buru sekali Al? Mbak sudah menyiapkan makanan untuk kita semua. Ayo makan dulu. Mbak pasti marah kali ini kalau kamu tidak mau menyempatkan diri untuk makan bersama kami" sekarang kakak iparnya yang keberatan.


"Hengmh, baiklah mbak. Kalau permintaan darimu, aku pasti tidak bisa menolak" jawab Papa Aldo sambil beranjak ke ruang tengah, dimana meja makan besar berada disana dan membiarkan koper kecilnya berada di ruang tamu.


"Uwah, makanan kesukaanku semuanya ini mbak? Bisa naik kolesterolku ini, hehehe" kata Papa Aldo sambil terkekeh saat melihat semua sajian di atas meja.


"Bagaimana keadaan Gery? Aku kangen sekali sama anak itu" kata bu Idah.


"Dia baik mbak yu" jawab Papa Aldo singkat.


"Sudah lama sekali anak itu tak pernah datang kemari setelah kalian memaksanya pindah lagi waktu itu" lanjut bu Idah kembali mengenang masa lalu, saat dimana Papa Aldo masih dipenuhi ambisi tentang pekerjaan dan masa depan terbaik versinya unyuk Gery tanpa mau memikirkan hati anak lelakinya itu.


"Iya, nanti kalau ada waktu akan aku suruh dia datang kesini, mbak yu" kata Papa Aldo singkat.


Tak banyak lagi yang Papa Aldo lakukan di kampung halamannya. Karena malam itu juga beliau memutuskan untuk kembali ke kediamannya di Jakarta karena khawatir kalau-kalau istrinya akan semakin sulit dikendalikan dalam masalah perjodohan Hery dan Alexa.


★★★★★


"Lho, bu Cinta kok sudah masuk kerja? Memangnya sudah baikan, Bu?" tanya resepsionis saat melihat Cinta datang memasuki kantor dengan alat bantu untuk berjalan.


"Sudah baikan mbak, nggak enak sama pak Bos kalau kelamaan libur" jawab Cinta ramah.


Tumben juga resepsionis itu menegurnya, biasanya selalu bermuka jutek.


Dan apalagi ini?


Semua pegawai juga terlihat hormat pada Cinta. Setiap kali dia bertemu dengan pegawai lainnya, pasti mereka akan mengangguk dan tersenyum ramah. Tidak seperti biasanya.


"Sttt! Zara, sini" sapa Cinta saat melihat Zara tengah membersihkan koridor di dekat lift.


"Ada apa bu Cinta?" tanya Zara, dia selalu ramah pada Cinta. Bahkan hanya Zara lah satu-satunya pegawai yang mau berteman dengan Cinta sejak pertama kali masuk di kantor ini.


"Ra, kok aku ngerasa aneh ya sama orang-orang disini. Kenapa mereka jadi ramah banget sama aku?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Oh, tentu saja semuanya jadi ramah, bu. Soalnya sejak kejadian waktu ibu kecelakaan, banyak rumor yang mengatakan jika bu Cinta adalah kekasih dari pak Gery. Semua orang tahu bagaimana rekasi khawatir yang Pak Gery tunjukkan saat melihat bu Cinta kecelakaan" kata Zara mulai menjelaskan.


"Bahkan ada rekaman yang memperlihatkan bagaimana perlakuan Pak Gery terhadap bu Cinta selama mengantarkan ke rumah sakit. Adegan kecup-kecup kening sedang trending di grup wa pegawai disini loh, bu" tutur Zara sangat lepas.


"Hah? Siapa yang menyebarkan video seperti itu, Ra?" tanya Cinta heran, seingatnya tak ada seorang pegawaipun yang membuntutinya ke rumah sakit di hari naas itu.


"Saya juga kurang tahu, bu. Tapi menurut saya pribadi, saya sangat setuju jika Bu Cinta ada hubungan serius dengan Pak Gery. Daripada Pak Gery harus berhubungan dengan bu Alexa yang sombong itu" kata Zara setengah berbisik, takut ada yabg menguping sepertinya.


"Ssttt!! Kamu jangan mengada-ada, nanti ada yang dengar kan bisa jadi masalah Ra. Lagian aku nggak ada hubungan spesial kok sama Pak Gery" ucap Cinta.


"Ehem" deheman dari belakang Cinta dan Zara yang tengah mengobrol membuat keduanya terkejut setengah mati, karena mereka tahu itu suara siapa.


"Eh, pak Gery. Selamat pagi, pak" sapa Zara dengan kikuk, ketahuan sedang menggunjing si bos memang sangat mengerikan.


"Saya permisi dulu Bu" pamit Zara yang langsung ngibrit untuk meneruskan pekerjaannya.


"Eh, Ra.. " seru Cinta yang tak lagi di gubris oleh Zara.


"Kamu menghalangi lift ini, bisa kan ngobrolnya nggak di depan lift" kata Gery sambil menekan tombol naik, dan menuntun Cinta untuk memasuki lift saat pintunya terbuka.


"Jangan gini dong, Je. Nggak enak di lihat orang" keluh Cinta.


"Waktu jalan ke rumah sakit juga nggak ada siapa-siapa, tapi kenapa bisa ada video kita beredar di grup WA pegawai?" tanya Cinta.


"Oh ya? Aku baru dengar berita itu. Apa kamu anggota grup itu?" tanya Gery.


"Nggak, aku belum menjadi anggota grup itu. Mungkin karena banyak yang nggak suka sama aku jadinya aku nggak dimasukin disana. Tapi tadi aku dengar dari Zara. Dan memang sikap pegawai disini jadi agak aneh" kata Cinta.


"Biarkan saja. Tidak ada gunanya juga. Tapi aku akan mencari tahu siapa penyebar videonya" kata Gery santai.


Mereka berdua masih bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan saat berada di kantor. Sesuai kesepakatan keduanya.


"Seharusnya kalau masih sakit tidak perlu masuk kerja dulu, Ci" kata Gery yang sejak tadi memperhatikan Cinta melalui dinding lift.


"Nggak enak diam dirumah terus. Bosan. Kerjaan di kantor kan cuma duduk dan memperhatikan layar komputer, jadi lebih baik aku masuk kerja saja" jawab Cinta tak kalah santai, setelah mengetahui siapa Gery yabg sebenarnya membuatnya merasa lebih nyaman karena memang sudah terbiasa dengan sikap Gery yang tak begitu berubah sejak dulu, hanya fisiknya saja yang berubah. Sampai Cinta tak mengenalinya di awal pertemuan mereka dulu.


Sampai di lantai yang dituju dan pintu lift sudah terbuka, keduanya segera keluar dan berjalan menuju ruangan masing-masing.


Tapi Gery merasa tak sabaran saat melihat Cinta kesulitan dengan kondisi kakinya. Hingga pria itupun menggendong Cinta ala bridal style untuk mempersingkat waktu.

__ADS_1


"Aahh, Jeje. Ngapain sih? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" keluh Cinta sambil berusaha untuk berontak.


"Diam, nanti kamu jatuh. Bisa tambah parah kaki kamu ini" kata Gery yang sukses membuat Cinta terdiam.


"Ternyata kamu berat juga ya, padahal badan kamu terlihat kecil" goda Gery dengan senyum samar, sangking samarnya bisa dikatakan jika itu bukanlah sebuah senyuman.


"Makanya nggak usah sok-sokan mau gendong aku kalau nggak kuat, lagipula aku masih bisa jalan sendiri kok meski tanpa bantuan kamu" balas Cinta sambil mencubit kecil pada lengan Gery.


"Aahh .. Itu sakit sekali, Ci. Kami tahu kan kalau aku nggak suka kalau dicubit" keluh Gery aras reaksi Cinta.


"Makanya jangan ngatain dong" kata Cinta sedikit emosi, sudah manyun saja bibir merahnya.


Cup!


Bola mata Cinta membulat saat Gery mengecup singkat bibirnya.


"Apaan sih, kalau ada yang lihat bagaimana?" kata Cinta sambil memukul pelan dada Gery yang kini sudah tersenyum lebar.


"Nggak ada orang, sayang. Kamu parnoan banget sih" kata Gery sambil menurunkan Cinta di kursinya dengan hati-hati.


"Banyak mata yang kita tidak tahu, Je. Kamu harus hati-hati" kata Cinta mengingatkan.


"Akan kubuat perhitungan pada siapapun yang mengusikku. Kamu tenang saja" kata Gery.


Dan ternyata, memang semua yang terjadi sejak kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu baru saja keluar dari dalam lift, dilihat dengan jelas oleh Pandu, sang pimpinan HRD di perusahaan itu.


Darah di dalam tubuhnya terasa mendidih melihat semua kejadian itu.


Sejak pertama kali bertemu dengan Cinta, rupanya sudah ada perasaan khusus dalam hatinya. Dan melihat kedekatan Gery dan Cinta di depan kedua matanya membuat rasa cemburu menguasai relung hati Pandu.


Tangannya terkepal sambil tetap bersembunyi di dinding pembatas ruangan Gery dengan pentri di lantai itu.


"Kenapa setiap wanita dengan mudahnya bisa jatuh ke pelukanmu, Gery sialan. Tapi tidak untuk kali ini. Karena aku pun akan terus berjuang untuk bisa memiliki Cinta, bagaimanapun caranya" geram Pandu dengan pandangan nanar melihat senyum yang terus terkembang di kedua insan itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2