
Jum'at sore, di rumah besar keluarga Subagya.
"Pa, anak kamu itu belum sampai juga ya?" daritadi Bu Weni, mamanya Gery nampak cemas karena sampai menjelang pukul delapan malam, anaknya belum juga pulang.
"Belum ma" jawab pak Aldo, papa Gery sambil menyeruput kopi dan melanjutkan membaca koran hari ini.
"Duh, Gery ini bagaimana sih. Dia kan sudah janji mau pulang kesini malam ini pa. Gery bilang mau untuk menemani Alexa makan malam dengan kita malam ini. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga sih" mama Weni masih menggerutu.
"Coba kamu telepon saja dulu, ma" saran papa Gery.
"Sudah pa. Mama tuh sudah menelpon anak itu berkali-kali, tapi nggak diangkat juga" keluh mama Weni yang masih nampak memegang ponselnya dengan wajah cemas.
"Haduh, si Alexa telepon mama nih pa. Gimana dong?" tanya mama Weni.
"Angkat saja, ma. Lagian kamu suka banget jodohin Gery, padahal anaknya nggak mau" kata papa Aldo santai.
"Huh papa nih" kesal mama Weni sambil mengangkat panggilan di ponselnya.
"Malam sayang" sapanya pada Alexa.
"...."
"Ehm, maaf ya sayang, Gery masih di kantor. Sepertinya dia sedikit sibuk, tapi pasti sebentar lagi dia sampai kok" kata Mama Weni tidak enak hati.
"...."
"Iya, kamu tunggu ya" pinta mama Weni dengan tidak enak hati.
"...."
"Duh, gimana ini pa. Masak mau di cancel sih? Maunya mama tuh, malam ini biar si Gery bisa lebih mengenal Alexa lebih jauh. Biar besok mereka kencan gitu loh pa. Mama tuh pingin mereka segera menikah" gerutu Mama Weni setelah mematikan ponselnya.
"Mama nggak usah memaksakan kehendak mama, deh. Bisa frustasi tuh si Gery kalau mama nambahin beban dia" kata Papa Aldo dengan bijak.
"Pokoknya mama sudah sreg sama Alexa ini, pa. Dia tuh keluarganya selain selevel dengan keluarga kita, dia juga gadis yang baik" mama Weni masih saja ngotot.
"Tapi ingat ma, jangan sampai Mama membebani Gery" merasa penasaran, papa Aldo pun masih akan mencari tahu terlebih dahulu mengenai seluk beluk keluarga Alexa sebelum merestui hubungannya dengan Gery.
Mama Weni diam, beliau tidak berani membantah perkataan suaminya. Lalu keduanya saling terdiam, masing-masing melanjutkan kegiatannya sendiri.
"Selamat malam nyonya, maaf ada tamu" kata seorang art yang mengantarkan seorang wanita muda.
Kebetulan kedua orang tua itu sedang bersantai di teras rumah.
"Alexa, uwah. Tante senang sekali kamu datang kesini" kata mama Weni menyambut kedatangan calon menantunya.
"Malam tante, aku datang sendiri kesini. Gery lama sekali nggak jemput aku, yasudah aku datang deh. Nggak apa-apa kan, tan?" tanya Alexa manja sambil cipika-cipiki dengan Mama Weni.
"Malam om" sapa Alexa sekedarnya saat mendapati papa Aldo disana juga.
"Nggak apa-apa dong sayang. Justru tante senang banget kalau kamu kesini. Ayo duduk, kita tunggu saja Gery disini" ajak mama Weni.
Alexa menampilkan senyum termanisnya, "Nggak apa-apa ngambil hati orang tuanya dulu, nanti pasti aku visa juga ngambil hati anaknya" gumam Alexa dalam hati.
"Bagaimana kabar mama kamu, Alexa? Tante terakhir bertemu ya waktu ngenalin kamu sama anak tante itu. Ehm, sudah hampir tiga minggu kami nggak bertemu" mama Weni mencoba untuk berbasa-basi.
"Baik tante. Mama dan Papa kirim salam buat keluarga disini, semoga semuanya selalu sehat kata mereka" jawab Alexa dengan sangat baik.
"Ini sekalian Lexa bawakan kue buat Gery sih sebenarnya, tan. Hehe... Tadi aku sama mama bikin sendiri lho" kata Alexa yang menyerahkan sekotak kue pada mama Weni.
"Hengmh... Dia baik sekali kan, pa. Pasti Alexa sudah mempersiapkan makan malam hari ini ya sayang?" tanya Mama Weni dengan senyum mengembang.
"Om dengar, orang tua kami bisnis kayu ya di Kalimantan?" tanya Papa Aldo.
"Iya om. Bisnis Papaku berjalan dengan sangat baik" jawab Alexa.
"Perusahaan kalian punya kebun kayu sendiri atau sebagai penyalur dari warga sana, atau bagaimana Alexa?" tanya Papa Aldo lagi.
"Alexa kurang paham sih om, karena Alexa tidak begitu suka dengan bisnis papa. Biasanya Alexa lebih suka dengan bisnis kecil-kecilan mama di bidang kuliner" jawabnya.
__ADS_1
Papa Aldo hanya mengangguk mendengar jawabannya, beliau akan mencari tahu sendiri tanpa melalui Alexa.
"Tuh kan pa, Alexa ini menantu idaman banget kan. Sudah cantik, hobinya masak lagi. Pasti nanti si Gery bisa tambah gemuk kalau jadi suaminya Alexa, pa. Karena setiap hari disuguhi makanan enak. Iya kan sayang" puji Mama Weni.
"Tante bisa saja" ucap Alexa malu-malu, tapi dalam hati jadi berbunga-bunga.
Sudah hampir satu jam mereka bertiga berbincang di teras rumah. Hingga hawa dingin membuat Papa Aldo merasa tak nyaman lagi.
"Papa sudah kedinginan, ma. Sepertinya juga sudah kelaparan" kata Papa Aldo yang daritadi hanya menyimak saja perbincangan dua wanita di hadapannya.
"Sudah hampir jam sembilan, pantas saja papa lapar" papa Aldo berdiri sambil melihat jam tangannya.
"Gery ini kemana sih, kenapa nggak pulang juga. Padahal dia sudah janji loh sama tante, Lexa. Sebentar tante telpon dulu, ya"ama Weni kembali berusaha menghubungi nomor Gery, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Coba biar Lexa saja yang menghubungi Gery, tan. Siapa tahu dianya mau mengangkat. Boleh Lexa tahu nomor ponselnya Gery?" tanya Alexa.
"Oh tentu" jawab Mama Weni, beliau memberikan nomor ponsel Gery pada Alexa.
Dan selanjutnya, Alexa pun berusaha menelpon Gery. Tapi hasilnya tetap sama, tidak diangkat.
"Yasudah, kita makan saja duluan ya Alexa. Tante sudah lapar, dan tante juga yakin kalau kamu juga sudah lapar kan? Lain kali bosa tante suruh Gery untuk menemui kami dam meminta maaf, ya" bujuk mama Weni yang merasa tidak enak hati atas perlakuan Gery malam ini.
"Iya tante" jawab Alexa masih dengan senyum manisnya.
Tapi dalam hatinya, Alexa sungguh sangat kecewa pada Gery malam ini.
Diapun bertekad untuk mendapatkan Gery bagaimanapun caranya. Karena dia sudah jatuh hati pada pandangan pertama saat Mama Weni memperkenalkan mereka beberapa Minggu yang lalu.
Dengan langkah sedikit malas, Alexa mengikuti Mama Weni ke meja makan untuk menikmati makan malam yang dikiranya akan romantis.
"Sialan, malah makan malam sama orang-orang jompo" keluh Alexa dalam hatinya. Tapi di luarnya, dia masih bisa mengembangkan senyuman untuk tetap bisa menarik hati calon mertuanya.
★★★★★
September, sembilan tahun silam.
Tanpa banyak kata, dia masuk ke kelasku dan memperkenalkan dirinya sebagai Jeje.
"Sebutkan nama kamu dengan benar" perintah bu guru pagi tadi.
"Nama gue, Jeje. Bu guru" jawabnya sangat tidak sopan.
Bu guru hanya menghela nafas, dan akhirnya menyuruh Jeje duduk di bangku kosong di belakangku.
Aku sangat tidak suka padanya, dia itu suka sekali menjahiliku.
Kembali Gery dibuat tertawa saat membaca buku harian Cinta yang tadi dia sembunyikan.
"Gue sebodoh itu ya waktu itu. Dan akhirnya, malah gue suka sama lo, Cinta" gumam Gery yang masih meneruskan bacaannya.
Hingga dia tak menyadari jika di luar, langit sudah sangat menghitam dan semua karyawannya sudah pulang. Sengaja dia mengheningkan suara ponselnya, dia masih ingin bernostalgia dengan masa lalunya.
Kembali Gery merasa penasaran dengan sebuah judul di dalam buku itu.
Desember, akhir tahun yang manis.
Siang itu aku menemukan seorang murid tergeletak tak berdaya di gudang sekolah.
Entah apa yang dia lakukan disana, tapi badannya gemetaran. Apa dia sakit?
Aku yang sedang sendirian merasa kasihan, siapapun dia, aku harus menolongnya.
Dan ternyata itu adalah Jeje,
cowok kurus itu sedang menutup mata dengan tubuhnya yang dingin dan gemetar.
Ada apa?
"Hei, kamu kenapa? Sakit?" tanyaku saat melihatnya masih tersadar.
__ADS_1
Dia hanya tertawa dan menggeleng.
"Pergi lo, nggak usah sok perhatian sama gue" perkataannya sangat menusuk hati. Tapi mana bisa aku ninggalin orang sakit begitu.
Tapi kalau dilihat-lihat, dia itu cukup tampan. Pantas saja cewek populer di sekolah ini sering caper sama dia.
"Rumah kamu dimana? Ayo aku antarkan kamu pulang" aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Gue bilang pergi, nggak usah sok perduli sama gue" bentaknya dengan penuh emosi.
"Kamu tuh sudah sakit masih saja songong" kataku, tapi kini tanganku bergerak untuk mencari tahu dimana dia tinggal.
Dari dalam tasnya, aku melihat sebuah alamat di sebuah formulir dari sekolah.
Alamat yang aku tahu, karena ayahku adalah karyawan di pabrik asbes milik orang yang ada di alamat itu.
"Kamu kelihatan sangat pucat dan menggigil" kataku yang sudah tak mendapat banyak respon dari Jeje.
Segera aku membopongnya, memang suasana sekolah sudah agak sepi. Karena sudah dari satu jam yang lalu bel pulang sudah berdenting. Dan aku memang tak melihat cowok kurus ini sejak jam istirahat kedua.
"Kamu pegangan yang erat ya" perintahku sambil menautkan kedua tangannya di tas ransel yang aku pakai, setelah berhasil menaikkannya diatas motorku.
Mana mungkin aku menyuruhnya memegang pinggangku, selain risih juga kan nggak enak dilihat orang meski dia sedang sakit.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam, tapi lama-lama terasa semakin berat saja karena dia bersandar di pundakku dan sepertinya tertidur.
"Huft, membahayakan" batinku.
Sampai di rumahnya, rupanya bos dari ayahku sendiri yang membukakan pintu dan terlihat cukup terkejut.
Bukan karena melihat Jeje yang sakit, tapi karena aku yang mengantarkannya.
"Terimakasih telah membantu membawa keponakan saya pulang" kata bos ayah dengan sopan dan tegas, sangat terlihat aura nya yang seorang purnawirawan.
Setelah hari itu, aku dan Jeje jadi sering bertemu dan jadi lebih dekat.
Dibalik sikap jahilnya, dia hanya seorang cowok rapuh yang butuh perhatian.
Bibir Gery melengkung sempurna, dia teringat saat terakhir mereka bertemu sekaligus jadi perpisahan mereka berdua.
Matanya terpejam saat mengenang peristiwa sakral itu.
Saat dimana dia sudah menjalin hubungan back street dengan Cinta, tapi lagi-lagi orang tuanya memaksa Gery untuk kuliah di luar negri.
"*Aku janji akan selalu setia sama kamu, Cinta. Kamupun juga harus janji untuk tetap menjaga hatimu dan menungguku datang untuk menjemputmu" ucap Gery yang masih remaja.
Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu sedang merayakan hari perpisahan mereka di sebuah pantai.
"Aku janji, Je. Selama kamu setia, aku akan pastikan untuk tetap menunggumu" kata Cinta yang sedikit berair mata.
Kedua remaja itu saling mengikat janji, dan disaksikan deburan ombak. Keduanya saling menautkan bibirnya sebagai salam perpisahan.
Tak ada nafsu, hanya ingin mengungkapkan luapan rasa cinta yang menggenang di hati keduanya.
Ciuman pertama bagi Gery maupun Cinta.
Dan rasa itu masih membekas di hati Gery sampai saat ini. Meski di luar negri, dia telah banyak mengkhianati Cinta dengan mencari sensasi ciuman yang sama dengan Cinta.
Tapi dia tak bisa menemukannya.
Dan kini dia kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya, mungkinkah Cinta masih memiliki rasa itu?
Atau dia malah sudah memiliki kekasih*?
.
.
.
__ADS_1