
"Terimakasih ya mas, kamu sudah menepati janji kamu untuk makan malam denganku".
Malam ini Alexa terlihat sangat cantik dengan balutan busana yang elegan membungkus tubuh proporsionalnya.
Gery mengajak Alexa makan malam di sebuah restoran mewah yang sudah direservasi sebelumnya oleh Mama Weni.
"Semua ini sudah mama rencanakan. Berterimakasihlah padanya, jangan padaku" jawaban Gery sedikit membuat Alexa down.
Tapi tentu tak membuat niatnya untuk meneruskan perjodohan ini kian surut. Semua dia lakukan bukan hanya karena obsesinya untuk mendapatkan pria setampan Gery, tapi juga demi bisnis keluarganya.
"Tentu, nanti aku pasti akan berterimakasih pada tante Weni. Sepertinya beliau sangat ingin kita segera menikah" kata Alexa dengan senyum terkembang.
Gery mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan Alexa yang menurutnya sangat konyol.
"Sayangnya aku masih tidak ingin menikah. Sudahlah Alexa, tidak usah membahas masalah pernikahan. Aku datang kesini hanya karena ingin menghormati mamaku yang sudah repot menyiapkan semua ini" kata Gery yang kembali fokus dengan makanannya.
Alexa sedikit cemberut setelahnya, tapi dia memutar otak agar tetap ada obrolan menarik diantara mereka.
"Ehm, tadi sewaktu aku datang ke kantormu bersama tante Weni, kami dihadang oleh sekretaris kamu mas. Dia menghalangi keinginan kami untuk menemuimu" Alexa mulai mengadukan perbuatan Cinta.
"Maksudnya, Cinta?" tanya Gery datar.
"Iya, siapa lagi. Aku sih memakluminya, soalnya kata tante Weni dia masih baru ya kerja di kantor kamu, mas?" tanya Alexa.
"Ya, belum satu minggu" jawab Gery.
"Tadi dia sempat memarahi kami loh, mas. Tapi tentu aku tidak terpancing emosi, aku ngerti kok kalau kerja sama kamu memang harus tegas" kata Alexa mengadu.
"Oh iya? Gadis sesopan Cinta bisa memarahi mamaku?" tanya Gery tak percaya.
"Dia? Sopan? Hahaha. Yang benar saja kamu, mas. Bahkan dia sempat memaki kami tadi pagi. Dan dengan tidak tahu malunya dia mengusir kami yang jelas-jelas datang dengan dikawal oleh bodyguard. Untung saja kamu cepat datang, kalau tidak, bisa-bisa bodyguard tante Weni sudah memberinya pelajaran" keluh Alexa penuh kebohongan.
"Apa benar seperti itu?" tanya Gery lirih, sebenarnya dia tidak percaya dengan perkataan Alexa. Hanya saja, memang Cinta yang dulu adalah gadis tomboy yang tak kenal takut.
Jika sudah merasa terancam, dia pasti membangkang. Tapi dibalik sikapnya yang begitu, sebenarnya Cinta sangat baik dan telaten.
Buktinya dia bisa menuntun Gery hingga sembuh dari kecanduannya.
"Apa mungkin Cinta masih tetap seperti dulu? Atau semua ini hanya kebohongan Alexa?" batin Gery mulai berdebat.
"Biarlah nanti akan aku cek di cctv" kata Gery masih dalam hatinya.
"Aku tidak bohong, mas. Serius, tadi pagi kami sempat diusir sama sekretaris kamu yang sok kecantikan itu. Belum tahu dia kalau aku ini calon istri kamu" Alexa masih saja mendumel untuk mengutarakan semua uneg-unegnya.
"Aku rasa terlalu cepat untukmu mengartikan kedekatan kita sebagai calon pengantin. Jangan menyimpulkan jika aku bersedia menjadi calon suamimu dengan bersedianya aku makan malam denganku kali ini" kata Gery tegas, dia masih ingin memperjuangkan perasaannya untuk Cinta yang sempat dia khianati.
Dan ternyata takdir kembali mempertemukan mereka berdua. Gery yakin jika ini bukanlah kebetulan semata, pasti ada campur tangan Tuhan di dalam alur cerita cintanya kali ini
"Bisakah kamu menerima perjodohan ini, mas? Jika kamu masih belum memiliki perasaan padaku, setidaknya berusahalah untuk kedua orang tua kita" saran Alexa yang masih sangat ingin menjadi nyonya Subagya.
"Aku tidak bisa berjanji padamu. Tapi jangan salahkan aku jika nanti akhirnya kamu akan terluka" kata Gery santai, seolah tanpa beban saat berkata begitu. Dia bahkan tak memperdulikan perasaan Alexa.
"Aku akan bersiap untuk hal terburuk, mas. Tapi aku juga tidak pernah pupus harapan untuk mengharapkan kesediaanmu menerima perjodohan ini" jawab Alexa, gadis inipun sangat ingin memperjuangkan Gery sebagai suaminya. Demi diri sendiri dan keluarganya.
__ADS_1
Dan selanjutnya, Gery sudah sangat tidak berselera untuk berbincang dengan Alexa. Gadis ini terlaku ambisius dan sangat terlihat obsesinya untuk mendapatkan Gery.
"Bagaimana kalau kita minum wine dulu sebelum pulang, mas?" Alexa sungguh ingin membuat kenangan indah dengan Gery.
"Ini bukan akhir pekan, dan aku tidak ingin mengacaukan jadwalku esok hari jika aku mabuk malam ini. Dan lebih baik, sekarang aku mengantarmu pulang" tolak Gery dengan tegas.
"Huft, Ayolah mas. Ini masih jam sepuluh malam. Masak kamu sudah mau tidur sih?" rengek Alexa.
"Kalau kamu masih ingin minum, lakukan saja. Tapi bersiaplah untuk pulang sendiri" kata Gery yang sudah mengangkat tangannya untuk meminta bill pada waitress.
"Heh, baiklah. Kita pulang saja" akhirnya Alexa mengalah, biarlah dia berusaha lagi lain hari.
Meski dengan wajah suram, Alexa telah berhasil diantarkan dengan selamat ke rumahnya.
Tanpa banyak kata untuk berpamitan, Gery segera saja pergi setelah memastikan Alexa sudah turun dari mobilnya. Bahkan pria itu tidak membantu Alexa untuk membukakan pintu..
Perlakuan Gery semakin membuat Alexa geram, tapi tentu dia harus terus bersabar demi bisa memuluskan rencananya untuk menikahi Gery.
"Bagaimana Alexa? Sukses dinner kamu malam ini?" tanya papa Alexa begitu melihat putri semata wayangnya pulang
"Dia itu sangat dingin, pa. Tapi sepertinya hatiku sudah jatuh cinta padanya, jadi aku akan berusaha" kata Alexa dengan penuh percaya diri.
"Bergeraklah dengan cepat, perusahaan papa sangat butuh banyak dana. Karena ulah kamu dan mama kamu yang sangat suka berfoya-foya, papa harus mengambil dana perusahaan dalam jumlah yang sangat banyak terutama untuk acara ulang tahun kamu kemarin" keluh Danuarta, papa Alexa.
"Untuk acara kecil begitu saja papa masih perhitungan sama aku? Aku ini anak papa apa bukan sih?" rengek Alexa sangat manja.
"Masalahnya, keuangan perusahaan papa sedang buruk, Alexa. Bisa nggak sih kamu dan mama kamu itu sedikit saja bersikap sederhana" kata papa Alexa yang sudah putus asa dengan kelakuan istri dan anaknya.
"Mama juga, ngapain pulang selarut ini? Kasih contoh yang tidak baik sama anak gadis" kata papa Alexa sedikit geram.
"Kenapa? Papa nggak suka? Kalau papa keberatan, silahkan papa angkat kaki saja dari rumah ini" balas mama Alexa tak kalah sengit.
Memang semua harta yang dimiliki oleh keluarga Alexa adalah warisan dari keluarga mamanya. Sedangkan papa Alexa dulu adalah karyawan di perusahaan keluarga mamanya yang kebetulan dicintai oleh mamanya dan direstui oleh kakek Alexa.
Jadilah papa Alexa menyandang sebagai orang kaya setelah menikah dengan mama Alexa yang semata wayang, sama seperti Alexa.
"Mama selalu begitu, nggak pernah menghargai papa sebagai kepala rumah tangga" kata papa Alexa geram, semakin tua, bukannya semakin bahagia tapi malah semakin terkena tekanan batin karena kelakuan istri dan anak manjanya.
"Kamu sudah numpang hidup enak saja seharusnya bersyukur, dan berusahalah mempertahankan bahkan memperbesar perusahaan papa aku. Bukannya membuat perusahaan bangkrut. Kalau sudah begini, harapan kita cuma Alexa. Dan sejak tadi itu, aku lagi ada perkumpulan dengan ibu-ibu sosialita. Akupun sedang berusaha mendekati Bu Weni demi melancarkan rencana untuk menikahkan Alexa dengan Gery. Sedangkan kamu apa, pa? Apa yang bisa kamu lakukan? Dasar tidak berguna" Mama Alexa menumpahkan segala emosinya.
"Ayo kita pergi saja, Alexa" kata Mamanya sambil menarik tangan Alexa ke lantai dua.
Sebenarnya Alexa selalu merasa kasihan saat papanya tak berdaya seperti itu. Tapi dia kesal juga jika papanya tidak bisa memenuhi keinginannya.
Dan jalan satu-satunya untuk memperbaiki semua ini adalah berusaha keras untuk bisa menjadi istri Gery.
★★★★★
Pagi harinya, di kantor Gery.
"Cinta, apa benar kemarin kamu mengusir mama saya dengan kata-kata yang kasar?" Gery menghentikan langkah Cinta yang sudah selesai dengan tugasnya dan sudah bersiap keluar ruangannya.
"Mengusir? Saya pak?" tanya Cinta menegaskan.
__ADS_1
"Tentu kamu, siapa lagi?" jawab Gery acuh.
"Mana berani saya mengusir tamu bapak? Saya hanya menegur merek untuk menunggu sebentar karena saya akan melapor pada bapak, tapi mereka memaksa hingga bapak sudah keluar ruangan sebelum saya melaporkan pada bapak. Dan saya berani bersumpah bahwa saya tidak pernah mengusir mereka apalagi dengan kata-kata kasar" Cinta menceritakan kejadian kemarin dengan kesal.
Baru juga kenal, tapi tingkah orang kaya di kantor ini sudah membuatnya geram.
"Apa kamu yakin?" tanya Gery sekali lagi, meski dia percaya, dia hanya ingin membuat Cinta semakin kesal. Lucu saja melihat wajah Cinta yang kemerahan menahan amarah.
"Terserah kalau bapak tidak percaya. Bisa bapak tanyakan pada bodyguard mamanya pak Gery" kata Cinta yang masih saja kesal.
Gery tersenyum kecil, sangat kecil hingga Cinta yang memandanginya sejak tadi tak bisa melihat itu. Lantas dia berdiri dan berjalan perlahan menuju ke arah Cinta yang berdiri sambil cemberut.
Melihat Gery yang berjalan semakin mendekat, membuat Cinta ikut berjalan mundur hingga terbentur pegangan sofa.
Dengan tatapan tulus, Gery menatap lekat mata Cinta hingga membuat jantungnya sendiri berdegub kencang. Tapi tidak dengan Cinta, wanita itu malah merasa risih karena teringat kejadian dengan Jimmy.
Tak banyak kata, Gery hanya meniup ujung kepala Cinta dan mengacaknya pelan. Lalu memegang kedua bahunya sambil berkata "Iya, aku percaya padamu. Meski semua yang keluar dari bibirmu adalah kebohongan, maka aku percaya dengan kebohonganmu".
Setelah mengucapkan hal itu, Gery balik kanan dan bersikap biasa saja. Seolah tak terjadi apapun dan kembali berkutat dengan laptopnya yang masih menyala.
Sedangkan Cinta masih saja tercengang. Tak ada yang pernah berkata dan berani melakukan hal seperti itu selama hidupnya kecuali satu orang, yaitu Jeje.
Masa lalu berkelebat dalan benaknya, hingga suara bentakan kembali terdengar.
"Kamu niat bekerja atau tidak? Cepat kembali ke tempatmu dan kerjakan pekerjaanmu" bentak Gery meski sebenarnya tidak tega. Tapi dia masih ingin membuat Cinta ingat dengan sendirinya.
"Memangnya sejauh apa perbedaanku yang sekarang dengan masa lalu? Hingga dia tak juga ingat denganku yang sebenarnya" gumam Gery kesal juga.
"Ehm, iya pak. Maaf" ucap Cinta sambil berlalu dari hadapan Gery dengan tergesa-gesa.
"Mungkinkah?" tanya Cinta dalam hatinya saat dia sudah duduk cantik di kursinya.
Hingga suara notifikasi di ponselnya mengharuskan dia membuyarkan lamunannya.
Jangan melupakan kewajibanmu untuk membayar denda ya, Cintaku.
Ini sudah satu minggu dan tak ada kabar darimu.
Aku merindukanmu, hahaha
"Dasar bos genit. Masih saja dia menyebalkan. Ya Tuhan, semoga aku bisa segera membayar denda itu" gumam Cinta.
"Ehm, apa aku pinjam sama pak Gery ya? Tapi kan aku masih terlalu baru bekerja di sini. Masak iya aku sudah boleh meminjam uang sebanyak itu ke perusahaan? Aduh, pusing" keluh Cinta yang membuat mood nya jadi turun.
Tapi tentu dia harus tetap semangat agar hutangnya pada Jimmy bisa segera lunas.
.
.
.
.
__ADS_1