CLBK Dengan Bosku

CLBK Dengan Bosku
posesif


__ADS_3

"Aku meeting sama Bayu saja hari ini. Kamu baik-baik di kantor, ya. Kalau mau makan siang, suruh saja OB buat beliin. Kamu jangan capek-capek biar kaki kamu cepat sembuh" kata Gery sebelum pergi meeting di luar kantor.


"Satu lagi, nanti sore aku anterin kamu pulang" imbuhnya bahkan sebelum Cinta menjawab perkataannya.


"Iya, kamu meeting yang benar ya. Good luck" kata Cinta sambil mengerlingkan matanya.


"Thank's, sayang" kata Gery yang kini sempat-sempatnya memberi satu kecupan di kening Cinta.


Dan selalu saja, ada sepasang mata tidak suka yang berhasil melihat kedekatan mereka dan mengabadikan momen itu pada ponselnya untuk mencari pundi-pundi rupiah dengan temuannya.


"Beruntung banget gue, dapat foto beginian. Kan bisa buat nambahin saldo e-wallet gue buat belanja online" sambil bersembunyi di balik dinding, Ranta tersenyum girang dengan jari tangan yang sibuk dengan layar ponselnya untuk mengirim foto itu pada Alexa.


Beberapa saat berlalu, setelah memastikan jika Gery sudah pergi, maka dengan santainya Ratna menghampiri meja Cinta untuk menyerahkan dokumen dari divisinya.


"Happy banget yang berhasil ngedeketin pak bos" mulai deh Ratna mengibarkan bendera perang.


"Nggak usah banyak bicara, ada perlu apa kesini?" tanya Cinta yang masih belum bagus mood nya untuk meladeni.


"Nggak ada perlu sih kalau sama pegawai rendahan kayak kamu, cuma karena pak bos lagi keluar, ya nitip dokumen ini buat dikasih tanda tangannya" kata Ratna sambil menaruh dokumen yang dia maksud diatas meja kerja Cinta dengan cukup keras.


"Ingat ya, Cinta yang lugu, dokumennya saja yang ditandatangani, nggak perlu sekalian tubuh kamu yang diberi tanda sama pak bos" lagi, Ratna berujar sangat tidak pantas.


Cinta hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, untuk beradu otot tentu dia masih kesulitan mengingat kakinya yang terluka.


"Saya bukan kamu ya Ratna, yang bisa ditandai oleh banyak pria berduit meskipun pria itu sudah berkeluarga. Saya bahkan masih bisa menjaga keperawanan saya hingga saat ini. Entah bagaimana denganmu" kata Cinta tegas dengan volume tak terlalu nyaring.


"Sialan kamu wanita ja.lang" balas Ratna yang tersindir telak. Entah darimana Cinta tahu semua informasi pribadinya yang bahkan tak diketahui oleh seorangpun di kantor ini.


"Ja.lang teriak ja.lang. Kalau urusan kamu audah selesai, lebih baik kamu segera pergi dari sini. Karena aku masih sangat sibuk" usir Cinta dengan gaya elegannya.


Mendengar itu, Ratna semakin emosi tiap kali melihat Cinta. Dan tanpa kata permisi, wanita itupun segera pergi.


Cinta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan rekan kerjanya itu. Heran saja Cinta, karena sejak awal seingatnya tak pernah mencari lawan di tempat ini. Tapi malah lawan seperti Ratna ini bisa timbul dengan sendirinya.


Sepeninggal Ratna, Cinta meneruskan pekerjaannya yang memang sedikit menumpuk gara-gara dirinya yang absen beberapa hari.


Hingga tak terasa, sudah waktunya makan siang. Dan Cinta masih belum sadar jika Pandu tak datang mengingatkannya.


"Siang Cinta yang cantik" kata Pandu yang datang dengan dua kotak dalam satu kantong kresek di tangannya.


"Eh, pak Pandu. Maaf nggak nyadar kalau bapak datang" kata Cinta sedikit terkejut, dan mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Sudah waktunya makan siang, Cinta. Lagipula kita cuma berdua saja, jadi jangan panggil aku dengan sebutan Pak dong" kata Pandu sambil menaruh kresek bawaannya diatas meja.


"Iya, mas Pandu. By the way, makasih banget ya waktu itu sudah nolongin aku yang hampir ketimpa tiang lampu. Bagaimana keadaannya mas Pandu?" tanya Cinta yang memang belum mengucapkan hal itu pada Pandu.


"Aku nggak apa-apa kok, Ta. Kamu tenang saja. Lelaki kan memang harus kuat" jawab Pandu sambil menirukan gaya atlet angkat berat.


Cinta hanya tersenyum melihat kekonyolan yang Pandu buat.


"Ini aku bawain makan siang buat kamu. Pasti kamu belum makan kan? Dan pasti kamu lupa waktu" kata Pandu yang sudah mendudukkan dirinya di depan Cinta.


"Iya, aku nggak nyadar kalau sudah waktunya makan siang. Kerjaanku numpuk, mas. Kamu juga seharusnya nggak perlu repot-repot begini. Kan aku jadi merasa nggak enak" kata Cinta yang menghirup aroma lezat dari kotak makanan di hadapannya, dan seketika membuat perutnya berbunyi merdu.


Kriuuk...


Suara perut Cinta tertahan karena tekanan tangan yang spontan Cinta lakukan.


"Tuh kan, perut nggak bisa bohong" kata Pandu dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


"Hehehe, jadi malu aku. Dasar perut nggak bisa dikondisikan" kata Cinta malu.


"Nyantai saja sih sama aku. Yuk makan dulu, sebentar aku ambilkan minum" kata Pandu.


"Eh, nggak usah mas. Biar aku ambil sendiri saja" kata Cinta sambil berusaha bangkit dari tahtanya.


"Sudah, nggak usah. Kamu duduk yang cantik saja disitu, kaki kamu pasti masih sakit kan" ujar Pandu melarang, dia sendiri langsung ke pentri untuk mengambil dua gelas air untuknya dan untuk Cinta.


"Loh kok belum dibuka makanannya? Katanya lapar?" tanya Pandu setelah kembali membawa dua gelas air.


"Nungguin kamu, mas. Nggak enak kalau duluan" jawab Cinta.


"Yasudah, sekarang kita makan ya" kata Pandu dengan senyum manisnya, senang rasa hatinya saat Cinta berkata jika gadis itu tengah menunggunya.


"Andai saja kamu tetap menungguku dan membuka hatimu untukku, Cinta" gumam Pandu dalam hatinya, dengan pandangan penuh pada Cinta yang tengah lahap menikmati makanan yang sengaja dia bawakan.


"Makan mas, jangan lihat aku terus. Nanti aku tersedak loh" tegur Cinta yang merasa tengah diperhatikan.


"Eh, iya. Habisnya kamu cantik banget sih" kata Pandu sedikit malu karena ketahuan sedang memperhatikan.


Setelah makanan mereka habis, Pandu membuang dua kotak bekas mereka ke tempat sampah.


"Mau kemana, Ta?" tanya Pandu saat melihat Cinta yang berusaha berdiri dengan alat bantunya.


"Mau ke mushola dulu, mas. Mumpung masih keburu waktunya" jawab Cinta sedikit terburu-buru karena sudah hampir jam dua siang.


"Ayo aku antar. Aku juga mau sekalian solat, soalnya tadi belum sempat" kata Pandu senang, sekali lagi bisa bersama Cinta.


"Ayo" jawab Cinta singkat. Dan keduanya pun segera pergi ke tempat yang dituju, dengan Pandu yang terlihat sabar membantu Cinta berjalan.





Tapi dengan sabar, Pandu masih saja menunggu dan juga mengantarkan Cinta kembali ke tempat kerjanya.



"Kemana dia pergi?" gumam Gery saat melihat kursi Cinta masih kosong, tapi ada dua buah gelas kosong diatas mejanya.



"Apa tadi dia bersama seseorang?" masih bergumam, Gery sudah merasa tidak enak.



Apalagi saat dia mendengar langkah kaki yang kian mendekat dan juga suara canda tawa dari orang yang sedang dipikirkannya.



Hatinya semakin memanas saat melihat kedatangan Cinta yang dibantu oleh Pandu. Bahkan keduanya terlihat sangat akrab di mata Gery.



"Oh, rupanya Pak Gery sudah kembali. Maaf saya sedikit terlambat mengantar Cinta kembali, karena bapak tahu sendiri jika kondisinya masih belum pulih betul" kata Pandu mendadak formal saat melihat atasannya menatap tajam, dalam hatinya Pandu merasa sangat senang karena berhasil menunjukkan kedekatannya dengan Cinta.


__ADS_1


"Segera kembali kalau urusan kalian sudah selesai" kata Gery masih dengan pandangan tajamnya pada Cinta.



"Aku pergi dulu ya, Ta. Besok kita makan siang bareng lagi" kata Pandu dengan sengaja agar Gery semakin panas.



"Saya permisi, pak" kata Pandu dengan senyum senangnya.



"Aku kan menyuruhmu agar OB saja yang membelikan makanan. Bukannya malah makan dengan lelaki lain" mulailah kecemburuan itu tersalurkan.



Cinta menghela nafas pelan sebelum menjawabnya, dia masih yakin jika akan sedikit sulit untuk membuat Gery kembali merasa tenang.



"Dia tiba-tiba muncul dengan dua kotak makanan, dan kebetulan aku sedang sangat lapar tadi. Mana mungkin aku menolak rizki yang sudah di hadapan mata" kata Cinta yang meneruskan langkah tertatihnya dan duduk dengan nyaman.



"Kamu kan bisa beralasan kalau sudah menyuruh OB untuk membelikan makanan" kata Gery tegas, masih merasa tak terima.



"Terus aku mati kelaparan, gitu? Cuma masalah makan saja kenapa harus diributkan sih, Je? Kita kan sudah bukan anak abg yang nggak bisa menahan emosi" kata Cinta yang merasa sikap Gery terlalu berlebihan.



"Tapi aku nggak suka kalau ada pria lain yang mencoba menarik perhatian kamu, Ci" kata Gery melemah, dia sadar jika sikapnya berlebihan.



"Itu tandanya, kamu nggak sepenuhnya percaya sama aku. Masak sih kamu masih ragu setelah tahu kalau aku memilih sendiri dan menunggu kamu meski tanpa kabar dari kamu?" pertanyaan Cinta berhasil membungkam mulut Gery.



Dia sadar jika dirinyalah yang berkali-kali mengkhianati Cinta. Seketika Gery melunak.



"Maafin aku ya sayang. Aku terlalu takut kalau kamu menjauh" kata Gery sambil memegang kedua tangan Cinta dan berjongkok di hadapannya.



Cinta hanya tersenyum dan mengangguk. Rasa Cinta di dalam hati membuat seseorang dengan mudah menjadi pemarah, dan dengan mudah pula membuat orang itu lunak seperti jelly.



Dan Gery memeluk wanitanya dengan posesif kali ini. Dan memberikan sebuah kecupan singkat sebelum kembali meneruskan pekerjaannya.



.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2