
Sejak mendapat pesan dari Jimmy, seharian ini Cinta jadi sedikit lebih pendiam. Hingga pulang kerja sore itu, tak banyak interkasi yang Cinta lakukan dengan bosnya.
"Murung banget wajahnya, Ta. Ada masalah?" tanya Fellis yang peka pada perubahan sikap sahabatnya.
"Aku bingung Fel, tadi dapat pesan dari Pak Jimmy untuk segera membayar dendaku ke perusahaan dia. Jumlahnya kan banyak banget, Fel" keluh Cinta yang tak berselera dengan makan malamnya.
"Aku ada sih tabungan, tapi nggak banyak Ta. Cuma sepuluh juta, kalau kamu mau, boleh kok kamu pinjam dulu buat nyicil ke pak Jimmy" kata Fellis dengan tulus.
"Jangan ah, Fel. Kalau nanti kamu ada kebutuhan mendadak nanti malah bingung sendiri. Nanti deh coba aku pinjam sama bos aku di kantor" tolak Cinta dengan halus.
"Nggak apa-apa kok kalau memang kamu butuh, lagian uangnya nganggur kok di bank" ucap Fellis.
"Nanti deh Fel. Kalau memang mendesak, aku kabari kamu ya. Makasih kamu sudah jadi sahabat terbaik aku" ucap Cinta sambil memeluk Fellis.
"Yasudah, setelah makan langsung istirahat saja ya Ta. Biar energi kita full untuk menghadapi hari esok" kata Fellis.
Cinta mengangguk dan tersenyum, beruntung dia memiliki teman sebaik Fellis. Selalu ada disaat susah maupun senang.
Tapi setelah selesai dengan segala rutinitas di hari ini, Cinta masih belum juga bisa mengistirahatkan dirinya.
Sejak tadi dia hanya membolak-balik tubuhnya diatas ranjang tanpa bisa menemukan posisi ternyamannya.
"Duh, kenapa jadi nggak bisa tidur sih" gumamnya kesal.
Sebenarnya gajinya sebagai seorang sekretaris Jimmy waktu itu sudah cukup besar, tapi Cinta belum bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung karena masih harus membantu orang tuanya membiayai kuliah sang adik.
"Apa aku coba bicara sama pak Gery saja ya? Tapi dia kan galak banget. Belum tentu dikasih pinjam, pasti sudah dimarahi duluan" gerutu Cinta yang masih saja berguling-guling diatas kasurnya.
"Ahhh .. Pusing" jeritnya sedikit tertahan.
Hingga membuat pagi ini Cinta harus sedikit kesiangan karena sejak semalam dia yang susah tidur.
"Fellis, kenapa nggak bangunin aku sih?" keluh Cinta sambil berlarian ke kamar mandi, sedangkan sahabatnya sidah rapi dan tengah menikmati sarapannya di kursi ruang tamu.
"Aku sudah bangunin kamu ya. Sejak jam lima pagi malah! Kamu bilang iya sebentar lagi, sebentar lagi" teriak Fellis karena Cinta sudah berada di kamar mandi.
Mandi secepat kilat, tak berdandan sedikitpun tapi tentu Cinta membawa perlengkapan make up nya di dalam tas.
"Ayo Fel, buruan berangkat" ajak Cinta yang terburu-buru saat memakai jaketnya.
"Sarapan dulu, Ta. Ada roti isi diatas meja, kasihan perut kamu kalau belum diisi" ujar Fellis mengingatkan.
"Iya" jawab Cinta sembari menyambar roti yang sudah Fellis buatkan untuknya.
Masih dengan mulut penuh, Cinta sudah menaiki motornya dan bersama Fellis melaju menuju tujuannya masing-masing.
Sampai di kantornya, ternyata Gery sudah stand by di kursinya.
"Duh, tumben banget sih pak Gery sudah datang" gumam Cinta yang masih belum melepaskan jaketnya.
"Kamu terlambat, Cinta" kata Gery dengan tubuh yang belum menghadap pada lawan bicaranya, masih duduk dengan memunggungi Cinta yang gelagapan.
"Maaf pak, tapi ini masih belum jam setengah sembilan lho pak. Sepertinya masih belum terlambat" jawab Cinta, sebenarnya bukan dia yang telat tapi Gery yang sengaja kepagian karena kemarin yang didiamkan oleh Cinta.
"Kamu sudah berani membantah rupanya, ya" kata Gery sambil menerbitkan senyum smirknya.
Dan mulai memutar kursi kerjanya untuk menatap lawan bicaranya.
"Saya tidak membantah, pak. Hanya mengingatkan bapak saja" jawab Cinta tanpa rasa takut.
Gery menatap wajah polos Cinta, cukup lama dia melihatnya dan diapun mulai berfikir.
"Sepertinya ada yang berbeda darinya" gumam Gery dalam hati.
"Kamu sedang sakit?" tanya Gery yang mulai sedikit khawatir.
Mengingat tadi dia memang belum sempat memakai make up, muncullah sebuah ide curang di dalam otak Cinta.
"Ehm, iya pak. Saya merasa sedikit pusing, Ehm... Sepertinya saya terkena vertigo" keluhnya penuh drama.
"Biar saja sekali-kali aku kerjain balik kamu, pak. Maafkan saya ya pak" gumam Cinta yang berusaha sebisa mungkin menahan tawanya.
__ADS_1
Kini salah satu tangan Cinta mulai memegang kepalanya, berakting sedikit boleh lah. Mungkin begitu yang sedang Cinta pikirkan.
"Kamu benar lagi sakit?" kini Gery benar-benar merasa khawatir.
Pria itu segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Cinta.
"Sedikit saja kok pak, agak pusing gitu" keluh Cinta yang sebenarnya merasa mengantuk, bukannya pusing.
"Biar saya panggilkan dokter saja ya" kata Gery yang segera membimbing Cinta untuk duduk di sofa.
"Eh, bapak ngapain? nggak usah repot-repot segala pak. Nanti juga sembuh sendiri kok" kata Cinta yang merasa tidak enak dengan perlakuan Gery yang tiba-tiba berwajah bingung begitu.
"Sudah ya, kamu diam terus nurut sama saya. Sekarang kamu rebahan saja di sofa ini, pejamkan mata saja kalau memang masih pusing. Biar saya panggilkan dokter buat kamu" perkataan Gery membuat Cinta yang sudah rebahan kini duduk tegak lagi.
"Eh, jangan pak.. Nggak usah panggil dokter. Ehm, nanti juga hilang sendiri kok pusingnya, bapak nggak usah khawatir. Biasalah pak kayak gini" kata Cinta bingung.
"Kamu nurut sama saya, diam dan tidur saja" nah kan kena bentak lagi sama Gery.
"Tapi janji nggak usah panggil dokter ya pak" Cinta juga masih bersikeras dan tak mau rebahan.
"Kamu nggak sedang membohongi saya kan?" tanya Gery dengan alis terangkat sebelah.
"Mana berani saya bohong, pak. Saya memang pusing, tapi kan nggak harus panggil dokter segala pak. Soalnya saya kan masih belum gajian pak, masak saya sudah harus kasbon? Istirahat sebentar saja ya pak, nggak usah panggil dokter. Nanti bisa manja pak penyakitnya" panjang lebar Cinta mencari alasan agar tak dipanggilkan dokter.
"Baiklah, kamu tidur saja" akhirnya Gery mengalah, tapi rupanya diapun punya rencana sendiri.
"Terimakasih ya, pak. Ehm, tapi bapak kembali ke tempat duduk bapak saja, saya malu kalau tidur diawasi begini, pak" ucap Cinta tulus, dia memang sedang butuh waktu untuk memejamkan matanya.
Gery tak menjawab ucapan Cinta, hanya saja dia segera beranjak agar gadis ini bisa beristirahat dengan tenang.
Meski sedikit malu, rupanya rasa kantuk mengalahkan rasionalnya. Tanpa aba-aba, Cinta sudah jatuh ke alam tidurnya.
Mendengar suara nafas yang halus dan teratur membuat Gery yakin jika Cinta sudah terlelap.
Ternyata diam-diam Gery mengirim pesan pada dokter pribadinya untuk datang memeriksa kondisi Cinta.
"Kenapa kamu belum bisa mengingatku, Ta? Memangnya seberapa jauh perbedaanku yang dulu dengan sekarang sampai kamu lupa padaku?" gumam Gery yang sudah menjulurkan tangannya untuk merapikan anak rambut di wajah Cinta sambil duduk berjongkok di dekatnya.
Mungkin terlalu lelap, hingga Cinta tak menyadari segala perlakuan manis yang Gery tunjukkan padanya.
Belum tahu saja Gery apa penyebab sampai Cinta enggan berbusana ketat lagi. Entah apa yang akan dia lakukan kalau tahu alasan Cinta yang kini selalu memakai celana panjang.
Masih betah memandangi wajah teduh Cinta, Gery sampai tidak tahu jika mamanya juga tengah memperhatikannya.
"Ehm, kamu sedang apa Gery?" tanya Mama Weni yang sudah bersedekap dan memandang tak suka.
"Mama? Kapan mama datang? Kenapa tidak mengabariku dulu?" dengan sangat gugup Gery salah tingkah saat dipandangi seperti itu oleh ibunya.
"Sejak kamu memandangi wanita tidak jelas itu, sampai mama datang tapi kamu tidak tahu" kata Mama Weni dengan nada marah.
"Bisa tolong kecilkan volume suara mama? Dia sedang tidak enak badan, ma. Gery hanya menyuruhnya istirahat saja" kata Gery sambil mempersilahkan mamanya untuk duduk.
Belum lagi mengeluarkan segala kemarahannya, mama Weni harus menahan sejenak amarahnya saat mendengar suara ketukan di pintu.
"Sebentar aku buka pintu dulu ya ma" pamit Gery.
Mama Weni tak menjawab, tapi malah ikut memperhatikan wajah cantik Cinta yang tengah pulas.
"Sebenarnya dia itu cantik, tapi kan nggak selevel sama keluarga kami. Aku harus tetap fokus pada Alexa, dia pilihan terbaik" kata Mama Weni dalam hatinya.
"Iya dok, dia yang sedang sakit" lamat-lamat suara Gery yang datang bersama dokter membuyarkan lamunan Mama Weni.
"Sepertinya orang spesial ya nak Gery?" tanya dokter Burhan, dokter keluarga Subagya.
"Bukan dokter. Dia hanya sekretarisnya anak saya" ucap Mama Weni sedikit ketus.
Dokter Burhan hanya manggut-manggut saja tanpa berniat mencampuri urusan pribadi keluarga itu.
Nyatanya semua keributan itu tak membuat tidur Cinta terganggu, dia masih betah menutup matanya dengan nyaman.
"Maaf nak Gery, saya harus memeriksa keadaannya menggunakan stetoskop ini" dokter Burhan meminta izin sebelum melakukan tugasnya.
__ADS_1
"Silahkan dokter" kata Gery.
Ketenangan tidur Cinta terganggu saat dokter tengah memeriksa keadaannya.
"Ehm, apaan sih Fel" ucap Cinta yang belum sepenuhnya tersadar.
"Fel, jangan main-main deh. Pergi sana, ganggu saja" kata Cinta sambil menepis tangan dokter yang sedang memeriksanya.
"Cinta, kamu sudah bangun?" suara bariton Gery membuat kesadaran Cinta dipaksa datang sepenuhnya.
Diapun segera duduk dan melihat ke sekelilingnya dengan kikuk.
"Hah? Ada ibunya pak Gery juga? Ada dokter segala lagi. Aduh, pak Gery ini ngapain sih" keluh Cinta dalam hatinya, dengan tampang melongo sempurna.
"Biar saya periksa tekanan darah kamu dulu ya. Kamu rileks saja" kata dokter Burhan yang melihat wajah bingung Cinta.
Tak bisa berkutik, Cinta hanya membiarkan apa saja yang dokter itu lakukan padanya.
"Tekanan darahnya memang rendah, nak Gery. Nanti saya tuliskan resep yang harus ditebus. Dan saran saya, kamu jangan terlalu banyak begadang ya, Cinta. Dan juga jaga pola makan, hindari stress berlebih meski pekerjaan kamu menguras tenaga dan perhatian" saran dokter untuk Cinta.
"Iya, terimakasih ya dokter" ucap Cinta sedikit gugup.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya bu Weni dan nak Gery. Ini resepnya. Permisi" ucap dokter Burhan setelah menjulurkan secarik resep pada Gery.
"Terimakasih dok" ucap Gery.
"Semoga cepat sembuh, Cinta" dokter Burhan masih sempat mendoakan Cinta sebelum pergi.
Cinta hanya menyunggingkan senyum terbaiknya tanpa bisa menjawab ucapan sang dokter, entah mengapa diperhatikan seperti itu oleh Mama Weni membuat lidahnya menjadi kelu.
"Kamu ngapain tidur di ruangan anak saya?" tanya Bu Weni sepeniggal dokter Burhan.
"Ma, kan sudah aku bilang kalau Cinta ini sedang sakit. Kalau kesehatannya terganggu, maka pekerjaan Gery juga akan terganggu kan ma. Wajar saja lah kalau Gery biarkan dia istirahat sebentar disini" Gery tentu membela Cintanya.
"Memangnya tidak ada unit kesehatan di kantor sebesar ini? Kamu jangan memanjakan dia ya Gery. Nanti lama-lama dia bisa ngelunjak" sindir bu Weni.
"Sudahlah ma, tidak usah diperpanjang. Ada apa mama kemari?" tanya Gery mengalihkan pembicaraan.
"Suruh dia keluar, mama tidak mau dia juga dilibatkan dalam urusan keluarga kita" kata bu Weni yang masih melihat Cinta duduk tenang di tempatnya
"Oh, maaf kalau saya mengganggu. Permisi ya pak, terimakasih sudah mengizinkan saya istirahat" ucap Cinta tang segera berlalu meski belum mendengar izin dari bosnya.
Gery hanya bisa bernafas kasar, rupanya utusan wanita masih saja serumit ini.
"Mama tidak suka ya kalau kamu terlalu perhatian sama sekretaris baru kamu itu" ucap Mama Weni langsung pada intinya.
"Aku kira tidak ada yang istimewa dari semua perlakuan aku, ma" ucap Gery santai.
"Nggak ada yang istimewa kamu bilang? Memangnya sebelum ini, kamu pernah mengizinkan karyawan kamu tidur di ruangan ini sambil diperhatikan sedalam itu olehmu? Memangnya pernah selama ini ada karyawan yang kamu panggilan dokter keluarga kita? Bukannya sudah ada dokter umum untuk semua karyawan kamu? Kenapa tidak kamu panggil saja dokter umum di perusahaan ini? Kenapa harus dokter Burhan?" mulailah kecerewetan Mama Weni memarahi anaknya.
"Aku harap, cukup mama mengatur hidupku. Sejak masa sekolah, kalian selalu memaksaku untuk menuruti semua keinginan kalian. Hingga saat aku terpuruk oleh obat terlarang, kalian sebagai orang tuaku malah membuangku ke tempat yang jauh. Dan saat aku sudah bisa bangkit sendiri tanpa kehadiran kalian, kembali kalian paksa aku untuk kuliah di luar negri. Dan sekarang, mama mau memaksaku lagi untuk mengikuti semua perjodohan yang mama buat? Heh?" meski tanpa amarah, nyatanya Mama Weni malah tak bisa berkutik saat Gery mengutarakan semua isi hatinya.
Beliau malah merasa sangat bersalah saat ini. Memang tak seharusnya dulu beliau membiarkan Gery merasa terbuang saat ada dalam masa terburuknya.
Nalurinya sebagai seorang ibu jadi terusik dan tak bisa berkata-kata.
"Pokoknya mama tetap nggak mau kalau sampai kamu jatuh hati lada wanita yang nggak selevel sama kita" ucap Mama Weni yang segera beranjak pergi meski belum mendengar pembelaan lebih lanjut dari anaknya.
Berjalan dengan angkuh saat keluar dari ruangan Gery, Mama Weni masih sempat berhenti sejenak di depan meja Cinta yang sudah sibuk dengan pekerjaannya.
"Saya harap kamu jangan sampai bermimpi untuk bisa mendekati anak saya. Ingat kalau kamu itu cuma sekretasis dan amak saya itu bos kamu. Jadi, jaga etika kamu saat bekerja" ucap bu Weni yang terus berlalu setelah berkata begitu pada Cinta.
Cinta hanya menggelengkan kepalanya tanpa berniat menjawab ucapan orang yang sedang emosi.
"Mungkin memang semua orang kaya seperti itu" gumam Cinta yang memilih tak ambil pusing dan tetap meneruskan pekerjaannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.