
Tok... Tok... Tok...
"Masuk".
Cinta masuk ruangan bosnya setelah mendapat izin.
"Permisi pak, ini berkas yang butuh tandatangan dan ini yang butuh pengecekan dari bapak. Dan ini jadwal bapak hari ini" ucap Cinta sambil memberikan dua tumpuk berkas dan selembar kertas pada bosnya.
"Bacakan agenda saya" kata Gery tanpa mau melihat ke arah Cinta.
"Baik pak" kata Cinta sambil menarik nafas.
"Jam sebelas nanti ada meeting dengan pak Suganda dari PT Tirta Alam untuk membahas proyek baru pembuatan kolam renang di dekat mall Center sekaligus makan siang bersama".
"Jam dua sore nanti akan ada seleksi artis untuk iklan dari produk susu cair baru. Sudah pak, hari ini jadwal meeting bapak cuma dua saja" kata Cinta mengakhiri laporannya.
"Untuk daftar artis dari produk barunya apa sudah ada?" tanya Gery.
Cinta sedikit bingung untuk menjawab, maklum lah, kan ini hari pertamanya kerja. Jadi, dia mengecek lagi setumpuk berkas yang tadi dibawanya sebelum menjawab pertanyaan Gery.
"Lelet sekali, saya cuma bertanya daftar artisnya apa sudah ada?" kembali Gery sedikit membentak.
"Maaf pak, saya cari dulu berkasnya" jawab Cinta yang masih melihat satu per satu map berwarna-warni diatas meja Gery.
"Ketemu" gumam Cinta tanpa senyuman.
"Ini pak, daftar artis yang akan ikut seleksi nanti sore" ucap Cinta sambil menyodorkan sebuah map.
"Lain kali periksa dulu berkas apa saja yang akan kamu berikan pada saya. Jadi saat saya butuh satu berkas dengan segera, kamu nggak lelet begini" kata Gery ketus.
Sementara Cinta yang berdiri di belakangnya sudah menirukan ucapan Gery dengan gerakan bibir untuk mengejek bos galaknya itu.
Tidak tahu saja Cinta jika tempat pensil diatas meja kerja bosnya bisa memantulkan bayangannya.
"Kamu meledek saya?" tanya Gery datar saat tak mendapat sahutan.
"Tidak pak. Mana berani saya meledek bapak" jawab Cinta sedikit gelagapan.
"Sekarang kamu keluar, pelajari berkas kerjasama perusahaan kita dengan PT Tirta Alam dengan baik. Nanti kamu ikut saya meeting dengan mereka" kata Gery.
"Oh, siap pak. Segera saya kerjakan. Kalau begitu saya permisi dulu" kata Cinta.
"Hemm" hanya deheman yang Cinta dapatkan.
Gadis itupun segera keluar dan mencari berkas kerjasama dengan PT Tirta Alam. Cinta bertekad untuk membuktikan bahwa dia adalah sekretaris yang baik dan cekatan, bukan lelet seperti yang Gery katakan padanya tadi.
"Pokoknya aku harus buktikan sama pak bos kalau aku adalah sekretaris yang pantas di perusahaan ini. Semangat Cinta, kamu pasti bisa" Cinta menyemangati dirinya agar bisa memberi kesan terbaik bagi bos galaknya.
Diapun mempelajari dengan seksama berkas dari PT Tirta Alam dengan sangat serius, sampai dia tak menyadari jika sudah hampir jam sebelas.
"Ayo pergi sekarang" kata Gery yang tiba-tiba sudah berada di depan meja kerja Cinta.
"Eh, apa pak?" tanya Cinta gelagapan.
"Sekarang kita pergi meeting. Kamu ini selain lelet juga tuli ya?" Gery sedikit membentak Cinta yang langsung bangkit dari duduk nyamannya.
"Oh, iya pak. Siap. Kita berangkat sekarang" ucap Cinta sambil memasukkan beberapa benda penting ke dalam tasnya dan juga membawa berkas dan sebuah laptop di tangannya.
"Mari pak" ucap Cinta dengan senyum kikuk, melihat wajah Gery yang masih sedikit melotot membuatnya harus memberinya ekstra senyuman tercantik untuk mengambil hati bos galaknya.
Hery hanya melengos melihat wajah Cinta, dan meneruskan langkah kakinya menuju parkiran karena sudah ditunggu oleh supirnya disana.
"Hei, mau kemana?" tanya Gery yang melihat Cinta pergi berlawanan arah dengannya.
"Mau ambil motor pak. Kita kan mau pergi, motor saya ada disana" kata Cinta sambil menunjuk pada motornya.
"Cg, kamu itu katanya pernah jadi sekretaris. Tapi masalah begini saja tidak mengerti. Kalau urusan kantor, sebagai sekretaris saya maka kamu bisa pergi semobil dengan saya" Gery menjelaskan dengan bentakan.
"Baik pak" ucap Cinta sambil menunduk, dia melangkah ke arah Gery berada untuk memasuki mobil yang sama dengan bosnya.
"Duduk di belakang, siapa yang menyuruhmu duduk di sana?" kembali Gery membentak saat Cinta membuka pintu depan mobilnya.
Mendengar itu, Cinta menghela nafasnya dengan kasar sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kesal. Lalu berusaha melengkungkan kembali senyumnya untuk pak bos.
"Baik pak, maaf" kata Cinta yang kini duduk dengan tidak nyaman di samping Gery yang masih saja bertampang masam.
"Untung ganteng, coba kalau kayak pak Jimmy. Hemm... pasti sudah aku pukul pakai sepatu juga" gumam Cinta dalam hatinya sambil memandangi wajah Gery.
"Kenapa? Kamu keberatan duduk disini?" ucap Gery datar saat melirik Cinta yang terlihat sedang menatapnya.
"Oh, nggak ada apa-apa kok pak. Bapak ganteng" ucap Cinta sambil cengengesan, diapun mengusap dadanya yang berdegub karena ketahuan sedang menatap horor pada bosnya.
__ADS_1
Sampai di tempat meeting, ternyata klien mereka sudah datang terlebih dahulu.
Dengan senyum merekah, mereka menyambut kedatangan Gery dengan penuh semangat.
"Silahkan duduk pak" ucap Pak Suganda, klien Gery yang ternyata masih sangat muda. Cinta kira beliau sudah tua kalau dilihat dari namanya.
"Maaf saya terlambat" ucap Gery yang membalas uluran tangan Suganda.
"Lebih baik segera kita mulai saja meetingnya" kata Suganda.
Sepanjang jalannya meeting, terlihat rekan kerja Gery itu sering sekali curi pandang lada Cinta yang fokus pada pekerjaannya kali ini.
"Saya kira kita sudah menemukan kesepakatan untuk kerja sama kita. Untuk selanjutnya, bapak bisa menghubungi sekretasis saya untuk mengatur jadwal pertemuan kita saat akan meninjau langsung proyek ini" kata Gery.
"Oh, tentu. Boleh saya meminta nomor anda bu Cinta?" tanya Suganda.
"Oh, tentu pak Suganda. Ini kartu nama saya, silahkan anda hubungi untuk urusan bisnis" Cinta menyodorkan selembar kartu nama.
"Panggil saja saya Suga" ucap Suganda yang lebih suka dipanggil Suga.
"Oh, iya. Baik pak Suga" kata Cinta yang ingin tertawa. Dalam pikirannya Cinta malah melihat wajah Suga rapper dari grup band Korea saat melihat wajah Suganda.
"Ehem, kalau begitu kami permisi dulu pak Suga. Saya rasa meeting kita sudah selesai" ucap Gery membuyarkan keakraban Cinta dan rekannya.
"Bukannya kita sekalian makan siang disini pak?" cegah Suga.
"Saya ada meeting penting lagi, jadi makan siangnya lain kali saja. Kami permisi" kata Gery terburu-buru. Membuat Cinta bingung karena belum selesai membereskan pekerjaannya.
"Permisi ya Pak Suga" kata Cinta.
"Lain kali kita makan siang ya, Cinta" kata Suga yang masih terdengar di telinga Gery, dan entahlah, hal itu membuat hati Gery merasa terbakar.
Melihat Cinta yang hanya tersenyum tanpa mengiyakan, membuat Gery sedikit merasa senang.
"Ayo cepat Cinta. Kamu itu lelet sekali" lagi-lagi Cinta mendapat bentakan dari bosnya.
"Iya pak, iya. Sebentar, sabar sedikit dong" akhirnya Cinta membela diri dan berjalan dengan terburu-buru.
"Hem, baru pertama ikut meeting sudah tebar pesona kamu ya" komentar pertama dari mulut Gery saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Siapa yang tebar pesona pak? Kan Pak Suga tanya nomor ponsel saya juga untuk kelancaraan urusan perusahaan, bukan karena urusan pribadi saya pak" kata Cinta sambil menghentikan kegiatannya yang sedang merapikan barangnya.
"Terserah bapak saja" pasrah Cinta.
Sampai di kantor, Cinta sudah enggan menunggu bosnya. Cinta langsung keluar dan menuju ke kantin kantor saja karena memang masih jam makan siang.
Biar saja nanti dimarahi, yang penting perutnya harus diisi dulu agar siap dengan kecerewetan pak bos barunya.
Kantin kantor itu terlihat mewah, seperti sebuah restoran saja. Karena saat Cinta datang dan duduk di salah satu kursi, sudah ada seseorang yang membawakan menu untuknya.
"Mau pesan apa mbak?" tanya pelayan kantin yang biasa dipanggil bu Sum.
"Ehm, Jus Jeruk dua sama rice bowl ayam geprek level lima ya bu" jawab Cinta setelah melihat daftar menu.
"Panggil saja saya buk Sum, mbak pegawai baru ya disini?" tanya bu Sum.
"Iya bu. Baru hari ini masuk kerja" jawab Cinta sambil tersenyum.
"Ditunggu sebentar ya, mbak" ucap bu Sum, Cinta hanya mengangguk dan mengedarkan pandangan untuk melihat isi dalam kantin kantornya yang terlihat ramai di jam makan siang seperti ini.
"Hai Cinta, kamu sendirian? Boleh saya duduk disini?" tanya seseorang yang bergabung di mejanya.
"Pak Pandu, silahkan duduk" jawab Cinta.
"Panggil saja Pandu, kita sedang break" kata Pandu.
"Mana bisa, masih di kantor kan pak" jawab Cinta.
"Rasanya kok tua banget kalau dipanggil Pak. Ehm, mas saja deh" tawar Pandu.
"Bolehlah, Mas Pandu. Hehe" kata Cinta yang sudah bisa tertawa.
"Silahkan mbak pesanannya, Mas Pandu mau pesan apa?" tanya Bu Sum yang baru melihat kedatangan Pandu.
"Uwah, canggih nih. Baru duduk sudah dikasih minum" kata Pandu yang melihat dua gelas es jeruk diatas meja.
"Maaf mas Pandu, itu pesanan mbak Cinta. Mas Pandu pesan sendiri, ya" kata bu Sum.
"Oh gitu, hehe. Yasudah, saya pesan yang sama kayak punya dia bu Sum" kata Pandu.
"Mas Pandu yakin? Kan Mas Pandu nggak suka pedas" kata Bu Sum.
__ADS_1
"Jangan dikasih cabe ding, Bu Sum" kata Pandu.
"Oh gitu, tunggu sebentar ya mas" kata Bu Sum.
"Maaf ya mas Pandu, bukannya pelit. Tapi aku lagi butuh yang dingin buat hatiku yang panas, juga butuh yang pedas buat bikin mood aku balik lagi" kata Cinta yang sudah menyeruput segelas jus jeruknya hingga tandas.
"Oh, santai saja. Memangnya kenapa sama hati kamu?" tanya Pandu.
"Pak Gery itu memang suka marah ya mas?" tanya Cinta sambil celingukan, takut yang dibicarakan sedang disekitarnya.
"Nggak juga, ya kadang saja marah. Kalau nggak ada kesalahan ya nggak mungkin marah lah, Ta" kata Pandu sambil tersenyum saat melihat wajah lucu Cinta.
"Masak sih? Kok baru setengah hari aku kerja sama dia sudah ratusan kali kena marah sih, mas. Apa dia lagi PMS ya" kata Cinta.
Mendengar itu, Pandu malah tertawa. Hingga membuat beberapa karyawan yang sedang makan jadi melihat ke arahnya.
"Sttt, mas Pandu jangan keras-keras kalau tertawa" kata Cinta memperingatkan Pandu.
"Oh iya, sorry... sorry... " kata Pandu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Sedangkan Cinta kembali menikmati makan siangnya. Rasanya sangat nikmat saat rasa pedas bergoyang di lidahnya, hatinya yang sejak tadi memanas seolah terkikis bersama buliran keringat yang keluar dari dahinya.
"Makanan pedas selalu membuat mood ku kembali on, mas" komentar Cinta saat Pandu memandanginya saat makan.
"Pak bos yang bikin mood kamu turun ya?" tanya Pandu yang juga sedang menikmati makanannya sendiri.
Cinta hanya mengangguk, dia masih sibuk dengan nasinya sambil sesekali meminum jusnya saat merasa kepedasan.
"Ah, nikmat sekali. Rasa pedasnya sepedas bentakan Pak Gery" kata Cinta setelah selesai dengan ayam gepreknya.
Tanpa dia sadari, ternyata yang sedang dibicarakannya sudah ada di belakangnya.
"Segera kembali kalau sudah selesai" kata Gery dari balik tubuh Cinta.
Mendengar itu, tentu tubuh Cinta menegang saat dia sibuk mengelap ingus dan keringat dari wajahnya.
Cintapun menoleh dengan slow motion tak lupa memamerkan senyum terbaiknya.
"Hehe, baik pak" jawab Cinta yang masih sedikit syok.
Gery segera pergi setelah mengatakan hal itu pada Cinta. Niat awalnya untuk sedikit melunak dan membuat Cinta nyaman jadi hilang karena mendengar ucapan Cinta, apalagi dengan adanya Pandu yang satu meja dengannya.
"Pantas saja terdengar hening, rupanya ada pak bos" gumam Cinta yang melihat sekelilingnya juga sedang menatap penuh kekaguman pada bosnya. Terutama pandangan para wanita.
"Memang sih pak Gery itu tampan, tapi galaknya itu loh. Kalau nggak ingat lagi butuh uang, mungkin aku sudah cari kerjaan di tempat lain mas" gerutu Cinta yang masih sibuk dengan tisu.
"Kamu yang sabar dong. Nanti aku sedih kalau kamu pergi" kata Pandu jujur, tapi terdengar lucu di telinga Cinta.
"Ada-ada saja kamu, mas. Yasudah, aku ke toilet dulu ya. Terus balik ke ruangan, soalnya sudah ditunggu sama pak bos galak" kata Cinta sambil terkikik.
Pandu hanya melambaikan tangan dan mengisyaratkan agar Cinta tetap semangat.
Sampai di toilet, Cinta merapikan make up dan penampilannya sebelum kembali bekerja. Sudah ada dua orang pegawai wanita yang juga sedang merapikan penampilan mereka.
"Baru juga haru pertama kerja, sudah caper sama kepala HRD. Sampai-sampai big bos rela loh nyamperin ke kantin. Hebat ya teman baru kita, Nin" Cinta berhenti saat mendengar sindiran pedas dari mulut rekan kerjanya.
"Iya, nggak heran sih. Memang cantik orangnya, tapi siapa tahu isinya Ros" balas temannya.
"Kalian ngomongin saya?" tanya Cinta yang memang tak suka melarutkan masalah.
"Nggak tuh, GR banget kamu" kata Rosi yang ada di toilet bersama Nina.
Melihat ketidaksukaan rekannya, lebih baik Cinta pergi daripada membuat semakin banyak masalah.
Apalagi sudah ditunggu oleh pak bosnya yang galak.
"Nggak bosnya, nggak karyawannya, semua menguji kesabaranku. Tapi aku nggak akan menyerah, paling tidak sampai hutangku sama pak Jimmy lunas, lah" kata Cinta lirih, sambil melangkah ke ruangannya untuk kembali bekerja.
"I'm coming pak Gery yang galak" gumam Cinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1