
"Dasar berandal berani sekali kau
melakukan itu padanya!!" teriak Taeyong lalu memukul Junho hingga jatuh.
"Siapa kau!" tanya Junho bingung.
"Cepat habisi dia!" kata Taeyong marah.
Taeyong tampak sangat khawatir kemudian menggendong Beomgyu.
"Biarkan dia tetap hidup, dia harus di hukum! Dan hancurkan apartemennya!" kata Taeyong lalu pergi.
Doyoung mengisyaratkan pada bodyguard bodyguard itu, dan mereka pun memukuli Junho dan menghancurkan apartemennya. Setelah itu Junho di bawa ke rumah Beomgyu dalam keadaan lemah.
Keesokan harinya Beomgyu terbangun dengan kepalanya yang terasa pecah.
"Beomgyu kau sudah sadar..." ujar Taeyong sedikit lega.
"Ayah... aku di rumah?" tanya Beomgyu.
"Iya... ayah sudah menyelamatkanmu, jadi tenanglah, hal ini tidak akan terjadi lagi..."
"Apa yang terjadi? Maksud ayah apa?" tanya Beomgyu kebingungan.
"Apa kau lupa? Semalam kau di culik!!" kata Taeyong
Beomgyu semakin kebingungan, kemudian Junho di seret masuk. Betapa terkejutnya Beomgyu melihat Junho terluka di seluruh tubuhnya dan hampir tak sadarkan diri.
"Hyeong! Apa yang ayah lakukan padanya, dia temanku! Kenapa ayah memukulinya!!" teriak Beomgyu sangat khawatir.
Meskipun tubuhnya terasa sangat lemas Junho menyentikan jarinya di dahi Beomgyu kemudian pingsan
"Hyeong! Sadarlah!!" teriak Beomgyu sambil mengguncang Junho, kemudian dia beralih memandang bodyguard bodyguardnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu! Cepat angkat dia ke ranjang, panggil juga dokter!"
Bodyguard bodyguard itu langsung mengangkat Junho ke ranjang dan Doyoung memanggil dokter. Saking khawatirnya Beomgyu tidak mau meninggalkan Junho yang sedang diperiksa.
"Semuanya normal hanya luka luar, saya akan memberikan salep dan obat antibiotik, sekarang saya akan membalut lukanya dulu." kata dokter Taeil
"Baik dokter, terimakasih..." ujar Taeyong
"Kalau begitu saya pergi dulu..." ujar dokter Taeil setelah membalut luka Junho
"Sekertaris Kim, antar dokter Taeil ke depan," ujar Taeyong
"Baik tuan," jawab Doyoung.
Taeyong beralih memandang Beomgyu yang sejak tadi duduk dipinggir ranjang.
"Beomgyu ayo makan dulu, kau belum makan sejak kemarin," kata Taeyong.
"Tidak, aku akan menunggu Junho hyeong sadar!" jawab Beomgyu
"Baiklah, tapi kau harus makan nanti,"
"Kenapa?" tanya Doyoung penasaran.
"Kau selidiki anak itu, aku ingin informasi lengkapnya sesegera mungkin!" kata Taeyong.
"Ok, aku akan segera menyelidikinya," jawab Doyong.
NOTE // Doyoung dan Taeyong bicara informal jika hanya mereka berdua, karena mereka adalah teman sejak SMA bahkan Doyoung pernah menyukai Taeyong dulu namun cintanya bertepuk sbelah tangan.
Beomgyu mengoleskan salep di lebam yang ada di wajah Junho sembari bergumam,
"Maaf,,, seharusnya aku mendengarkanmu, kalau saja aku tidak minum semalam, kau tidak akan seperti ini, maaf hyeong..." gumam Beomgyu sedih.
"Siapa suruh jadi anak keras kepala." jawab Junho
__ADS_1
Beomgyu kaget lalu mengguncang Junho.
"Kau sudah sadar, sejak kapan!" kata Beomgyu lega.
"Tubuhku masih sakit, jangan mengguncangku sekeras itu," ujar Junho masih lemas.
"Maaf maaf..."
"Air,," kata Junho
"Baiklah, tunggu sebentar..." ujar Beomgyu lalu menuangkan air kemudian membantu Junho meminumnya.
"Maaf, karena aku kau jadi begini, ayahku tidak bermaksud memukulimu, dia begitu karena dia pikir kau penculik,"
"Aku tau, tapi ayahmu tidak berpikir panjang, bagaimana mungkin seorang penculik tinggal di apartemen dan membawa korbannya ke sana, apalagi mengira orang setampan diriku adalah penculik,"
"Dia begitu karena mengkhawatirkanku,,"
"Kenapa kau membuatnya khawatir..." tanya Junho
Taejeong menunduk tak menjawab.
"Kau tau dia mengkhawatirkanmu lalu kenapa kau tidak pulang,"
"Baiklah aku menyesal,"
"Berjanjilah kau tidak akan kabur lagi, juga jangan minum minuman keras."
"Ya ya baiklah..."
.
.
.
__ADS_1
.
.