Cupu Berubah Jadi Suhu

Cupu Berubah Jadi Suhu
Tulip


__ADS_3

"Ayah, cepatlah sembuh, aku sangat rindu dengan semua kasih sayang mu," Tulip memandang wajah kepala suku yang terlelap dengan sendu, sudah hampir dua tahun ini sang ayah terbaring lemah diranjang, waktu itu ia menggunakan kekuatan terakhirnya saat diserang suku kala, yaitu membuat sebuah perisai pelindung untuk tempat tinggalnya yang megah.


Tangan halus nan lembut milik tulip menggenggam erat tangan keriput sah ayah, cairan bening tak henti menetes dari kedua mata indah itu, saat melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan.


Dulu laki laki yang tengah terbaring lemah itu sungguh kuat dan tak terkalahkan, akan tetapi karena kelicikan suku kala yang memberikan racun mematikan untuk sang ayah, jadilah ia seperti sekarang ini, itupun karena Peony yang selalu berusaha memberikan perawatan intensif setiap hari, jika tidak, maka sang ayah sudah kehilangan nyawa sedari dulu.


Awalnya kepala suku kala mengundang kepala suku bunga dan meminta kelima putrinya untuk dijadikan istri, akan tetapi dengan tegas orang tua tersebut menolak, ia beralasan putri putrinya belum cukup bekal untuk menjadi istri dari seorang kepala suku yang hebat seperti suku kala. Namun tentu saja, bukan itu alasan sebenarnya.


Setelah mendapatkan penolakan, kepala suku kala merasa tersinggung, maka dengan penuh kemarahan diam diam ia menuangkan racun kedalam minuman yang disuguhkan, kepala suku bunga tentu saja tak menaruh curiga, dengan senang hati ia pun meminum teh sari bunga tersebut. Namun setelah itu ia pun merasakan seluruh anggota tubuhnya melemah, seiring dengan hal tersebht kepala suku kala pun menyeringai.


"Kau akan mati secara perlahan, lalu semua putrimu akan menjadi milikku, karena tanpa perlindunganmu mereka lemah!"


Ucapan kepala suku kala saat itu, kemudian ia memperlihatkan botol kecil penawar racun nya, "Jika kau menyerahkan kelima putrimu, maka penawar ini kuberikan secara percuma, ha ha ha...!"


Tentu saja kepala suku bunga menolak, ia sangat tahu perangai kepala suku kala yang baru saja diangkat, sangat tempramen, jahat dan buruk rupa, ia tak ingin para putrinya diserahkan kepada orang orang seperti itu, masih ada suku lain yang lebih baik.


Maka dengan sisa kekuatannya kepala suku bunga meloloskan diri, dan ketika sampai di tempat nya, ia pun segera membangun perisai besar untuk melindungi tempat tinggal serta semua penduduk yang ada disekitar mereka, namun hal tersebut sangatlah menguras tenaga sang kepala suku, hingga akhirnya ia ambruk dan tak sadarkan diri hingga saat ini.


Peony tidak bisa berbuat apa apa, selain menekan peredaran racun itu setiap harinya, karena yang dibutuhkan sang ayah adalah penawar racun tersebut.


"Ayah, aku dan yang lain akan berusaha merebut penawar itu dari kepala suku kala, bagaimana pun caranya," ucapnya penuh keyakinan.


Tak lama Tulip mendengar pintu ruangan tersebut dibuka, ia pun menoleh, dan tampaklah iris yang berjalan dengan anggun menghampirinya.


"Kak iris," sapanya, yang kemudian disambut pelukan hangat oleh sang kakak

__ADS_1


"Bagaimana ayah?" meskipun iris tahu keadaan sang ayah, akan tetapi ia berharap ada kabar baik setiap dirinya bertanya.


"Masih seperti biasa, ayah belum membuka mata," jawab tulip lirih


Iris menghela nafas, "Kita membutuhkan kekuatan pemimpin seorang laki laki, sedangkan disini ayah terbaring lemah, tidak ada lagi yang bisa diandalkan," keluh iris ia menatap ayahnya sendu


"Kak iris terlahir untuk jadi pemimpin hebat, aku percaya Kaka bisa melindungi kita semua," tulip berusaha menyemangati sang kakak, yang terlihat lelah.


"Mungkin kau benar, akan tetapi kita tetap membutuhkan pria, dan untuk itu aku menemuimu," tutur iris, menatap dalam manik indah tulip


"Maksud kakak?" tulip mengerutkan kening


"Kau ingat, aku pernah bercerita tentang penglihatanku akan datangnya orang orang asing yang gagah dan perkasa, lalu salah satu diantaranya akan menjadi pemimpin suku bunga?" iris berusaha mengingatkan tulip, yang kemudian diangguki gadis cantik itu


"Sekarang mereka berada disini," ucap sang ketua memberi tahu


"Kau benar, mereka tiba sejak siang tadi," iris pun mengangguk dan membenarkan


"Aku tidak mengerti, jelaskan padaku 'kak," pinta tulip


Iris menghela nafas, kemudian menceritakan semua tentang kedatangan para pria tersebut.


"Apakah kak iris yakin mereka orangnya?" wanita cantik itu benar benar merasa ragu


"Ya, kalau diperhatikan dari postur tubuh serta semua ciri ciri yang pernah kulihat, mereka memang orangnya," iris memang sangat yakin.

__ADS_1


"Aku punya sebuah rencana, kuharap kau akan setuju," ujar iris


"Apa itu 'kak?" tulip sungguh penasaran


"Aku ingin, kita berlima menikah dengan salah satu diantara mereka, jika penglihatanku benar, maka laki laki tersebut akan menjadi pemimpin terkuat dan tak terkalahkan," iris berkata tegas dan sangat serius, hingga tulip merasa syok dibuatnya


"Apa?! yang benar saja 'kak, aku belum ingin menikah!" tulip menolak mentah mentah


"Apa kau ingin dinikahi kepala suku kala?" iris menaikkan sebelah alisnya.


Mendengar hal itu tulip merinding, jangankan menikah, Membayangkan saja ia tak sanggup, mungkin hanya orang tidak waras yang mau dinikahi oleh kepala suku kala.


"Lalu, apakah kakak sudah berbicara dengan yang lainnya tentang hal ini?" tanya iris kembali


"Belum, tapi aku yakin mereka akan setuju, pria ini sangat tampan rupawan, tubuhnya bagus juga sangat kokoh, dan aku melihat Peony pun sudah tertarik padanya," iris tersenyum


"Apakah dia punya kekuatan?" tulip menyelidik


"Sepertinya tidak, akan tetapi jika dia berlatih, pasti kekuatan Nya akan hebat, aku bisa merasakan energi kuat dalam tubuh pria itu, mungkin saja belum terbuka," iris menganalisa


"Aku jadi penasaran, setampan apa dia? dimana pria itu?" tanya iris lagi, ia ingin sekali menemui pria yang membuat Peony tergoda.


"Tadi sedang kuperintahkan keempat bunga untuk membantu mereka berganti pakaian, agar penampilannya Sama seperti pria suku bunga," ujar sang ketua iris "Mungkin sekarang sudah selesai," sambungnya.


"Ayo kita lihat, calon suami kita," iris menggenggam tangan sang adik erat, dengan senyuman menawan di bibirnya, kemudian mereka berdua keluar dari kamar sang ayah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2