
Sesampainya dikamar besar, tulip membantu raja untuk merebahkan tubuh kekar tersebut di ranjang, dan setelah itu ia pun ikut naik, lalu duduk bersila disamping sang suami.
Istri raja tersebut kemudian membersihkan noda darah yang tersebar di tubuh serta sudut bibir laki laki tampan itu, tulip merasa prihatin, sebab luka luka nya cukup banyak.
"Shhhh," raja mendesis menahan sakit, ketika tulip membersihkan luka tusuk yang cukup dalam pada bagian perut, serta Luka gores di wajahnya, belum lagi tulang iganya patah.
"Lukamu parah sekali," Ujar tulip, sambil terus membersihkan luka di tubuh suaminya.
"Benda apa yang mereka gunakan untuk melukaimu?" tulip merasa penasaran.
"Tidak, salah satu penjaga itu memukul dadaku, lalu menusuk perutku menggunakan kuku tajam nya, kemudian menggores wajahku, saat aku berusaha untuk melawan," balas raja. Tersengal sengal, akibat sakit yang dirasakan.
Menanggapi hal tersebut tulip hanya mengangguk, kemudian ia merogoh sesuatu dari kantong mutiara yang masih tersampir di bahunya.
"Aku akan menggunakan obat serbuk dari berbagai campuran bunga herbal dan mutiara tujuh mata, aku yakin kau akan pulih dengan sangat cepat, namun kuingatkan, pengobatan ini akan terasa sangat sakit, jadi tahan 'ya," ungkap tulip, ia menatap lekat raja.
"Baiklah, terserah kau saja," ucap lelaki tampan itu pasrah.
Setelah itu tulip segera menaburkan serbuk tersebut ke setiap luka yang ada ditubuh suaminya, lalu sebagian lagi diseduh dan diminumkan, kemudian ia memejamkan mata sambil meletakkan dua telapak tangan nya di dada sang suami.
__ADS_1
Tulip berkonsentrasi dan memusatkan energi penyembuhan ke tubuh raja.
"Arghh!!"
Raja berteriak kesakitan, bulir bulir keringat membasahi tubuhnya, proses penyembuhan ini begitu menyiksa, dan yang terasa paling menyakitkan adalah proses menyambung kembali tulang iga yang patah.
Wanita cantik itu tetap berkonsentrasi, meski teriakan raja menggema di dalam kamar tersebut.
Kita tinggalkan tulip dan raja, kini iris, Dahlia, Lily dan juga Peony tengah berada di dalam kamar sang ayah, satu persatu dari mereka menghadap, meskipun sang ayah dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Ayah, aku telah kembali dan selamat," Iris menggenggam tangan sang ayah, ia menatap pria tua yang kini terbaring dengan tak berdaya itu dengan berkaca kaca.
"Ayah, Lily rindu sekali, kapan ayah bangun?" ujar Lily dengan sendu.
"Ayah, ada seseorang di penjara bawah tanah yang memberiku kekuatan, katanya ini untuk suamiku, semoga setelah kuberikan amanat ini, dia akan menjadi pemimpin hebat tak terkalahkan, dan tentunya bisa merebut penawar racun ditangan Sakalamanji," Peony berucap dengan lirih.
Tentu saja ucapan Peony barusan membuat tiga saudari lainnya saling pandang tak mengerti.
"Apa maksud ucapanmu Peony?" iris berkerut kening
__ADS_1
"Ya, katakan Pada kami," Sambung Dahlia menyetujui.
Peony tercenung beberpa saat, ia lupa belum menceritakan kejadian yang menimpanya di ruang bawah tanah, kemudian wanita itu pun segera menceritakan semuanya tanpa terlewat. Meski dengan sedikit malu malu, ketika menceritakan bagaimana caranya memberikan kekuatan itu kepada raja.
"Jadi, maksudmu, kekuatan itu baru bisa diberikan kepada raja jika kalian melakukan hubungan suami istri, begitu?" Iris memastikan, yang kemudian diangguki Peony.
"Apakah tubuhmu sudah pulih sekarang?" sambung iris lagi.
"Masih lemas kak, tapi tidak terlalu, mungkin nanti aku akan meminta ramuan kerang emas kepada tulip, supaya tubuhku kembali segar dan bugar," Balas Peony.
"Hmm, memang begitu seharusnya, Dan sekarang aku telah memutuskan, kalian dengar 'ya,"
"Sehubungan dengan yang dialami Peony, dan kita sangat membutuhkan seorang pemimpin laki laki di suku bunga ini, maka aku memutuskan, Peony akan menjadi yang pertama menghabiskan malam bersama raja!" Iris berucap yakin dan lantang, meskipun sebenarnya ia ingin menjadi yang pertama, namun demi kekuatan itu, ia rela mengalah.
Dahlia, dan Lily saling pandang, namun tidak dengan Peony, wanita itu sangat kaget.
"Kalian setuju?" Tanya iris memastikan.
"Baiklah, aku setuju saja," balas Lily dan Dahlia.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...